Ever terbelalak ketika mendengar ucapan Demon beberapa saat yang lalu. Apa maksud laki-laki ini? Mengapa dia mengatakan bahwa dirinya akan membuat Ever jatuh cinta lagi kepadanya dan tidak akan pernah melepaskan gadis itu lagi? Apakah sebelum ini… dirinya pernah mencintai Demon?
Ever mendorong tubuh Demon dan masih berusaha menentang tatapan laki-laki itu. Melihat itu, Demon menaikan satu alisnya. Tubuh laki-laki itu memang tersentak kebelakang, namun hanya beberapa langkah saja.
“A… apa maksud lo ngomong begitu?” Ever bertanya dengan suara terbata. Degup jantungnya yang meliar membuat gadis itu tidak bisa berbicara dengan normal, seperti biasanya. Sial! Kehadiran Demon benar-benar membuatnya tidak bisa berkutik!
“Gue rasa lo paham maksud gue apa, Ever….” Demon kembali maju untuk mendekati Ever, namun langkahnya terhenti ketika melihat gadis itu memajukan sebelah tangannya. Ever seakan memberi perintah kepada Demon agar tidak kembali mendekatinya.
“Berhenti disana, atau gue akan teriak!” seru Ever.
Demon mengulum senyum. Sinar matanya menyorotkan kerinduan yang amat sangat akan gadis yang berdiri di depannya ini. Demon berpikir sejenak. Kenapa dia baru menyadari arti pentingnya Ever bagi dirinya, justru ketika gadis itu tidak bisa mengingat apapun tentang dirinya. Dunia memang terkadang tidak adil.
Lalu… bagaimana dengan Evelyn? Apa yang harus laki-laki itu katakan pada Evelyn? Walau bagaimanapun juga, Evelyn adalah cinta pertamanya. Gadis yang dia pertahankan mati-matian meskipun ayahnya menentang hubungan mereka berdua bahkan sampai mencelakai dirinya dan gadis itu. Semudah itukah dirinya berpaling dari Evelyn kepada Ever, disaat Evelyn ternyata masih hidup?
Tidak! Dia bukan laki-laki pengkhianat. Tetapi… perasaan tidak bisa dibohongi, bukan?
“Oke,” kata Demon memecahkan keheningan yang tercipta diantara mereka. “Gue akan pergi sekarang. Tapi, lo inget baik-baik omongan gue tadi, ya! Gue akan buat lo jatuh cinta sama gue untuk yang kedua kalinya, dan kali ini, gue nggak akan melepaskan elo lagi! you’ll be mine!”
Setelah berkata demikian, Demon mengedipkan sebelah matanya lalu memutar balik tubuhnya. Laki-laki itu kemudian melangkah menjauhi Ever dan akhirnya hilang di tikungan jalan. Tinggallah Ever berdiri termenung akibat perkataan Demon barusan.
“Mimpi apa gue ya? Kenapa gue bisa ketemu sama orang kayak dia? Inget juga nggak, main ngomong kalau dia bakalan buat gue jatuh cinta lagi sama dia!” Ever menggelengkan kepalanya lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu. “Dasar sableng!” gerutunya pelan.
Ever sama sekali tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang mengawasi tingkah lakunya, tidak jauh dari tempatnya berdiri.
***
Keesokan harinya, Ever memutuskan untuk berangkat lebih awal ke sekolah. Tadinya dia ingin mengajak Titan agar ikut bersamanya, namun gadis itu tidak tega kalau harus menyeret sahabatnya itu ke sekolah pagi-pagi sekali. Lagipula, Ever juga sebenarnya memerlukan waktu untuk sendiri dan memikirkan semua keanehan yang dialaminya akibat ulah Demon.
Hhh… mengingat laki-laki itu lagi entah kenapa membuat Ever merasa deg-degan. Sebenarnya, sekuat apa pengaruh laki-laki itu bagi dirinya? Mengapa rasanya ada ikatan batin yang kuat antara dirinya dan Demon?
Bukannya bermaksud kepedean atau apa, tetapi, menurut Ever, Demon selalu ada disaat dia membutuhkan bantuan. Beberapa hari yang lalu, ketika Ever masih berada di rumah sakit, Demon tiba-tiba saja datang dan menemukannya sedang berdiri di atap gedung rumah sakit. Untung saja laki-laki itu datang, karena mendadak dirinya merasa dunia sedang berputar-putar dan tiba-tiba saja dia sudah berada didalam kamar. Kata para suster yang memeriksanya, dirinya pingsan dan Demonlah yang membawanya ke kamar serta menungguinya sepanjang malam. Memang sih, setelah sadar, orang pertama yang dilihatnya adalah laki-laki itu.
Kalau sebelum ini dirinya memang mempunyai ikatan hubungan dengan Demon, kenapa dirinya tidak bisa mengingat laki-laki itu sama sekali? Tetapi, Ever bisa mengingat orang tuanya, juga Titan.
Ever terkejut ketika dia menyadari bahwa dia sudah berada di depan gerbang sekolahnya.
“Wah… udah nyampe gue. Sampai nggak sadar gini,” gumam Ever lalu segera berjalan menuju kelasnya. Jarum jam baru menunjukan pukul enam lewat lima belas menit. Keadaan sekolah masih sepi, dan keadaan langit yang mendung membuat koridor sekolahnya menjadi sedikit menyeramkan.
Ever menelan ludah susah payah. Kelasnya masih belum terlihat namun gadis itu sudah merasakan bulu kuduknya meremang. Tengkuknya terasa dingin dan gadis itu merasa seperti ada seseorang yang berjalan di belakangnya. Namun, Ever terlalu takut untuk sekedar menoleh dan memastikan bahwa sesuatu yang berjalan di belakangnya itu memanglah manusia, bukan jin penunggu sekolahnya.
Ever mempercepat langkahnya. Ketika kelasnya sudah terlihat, gadis itu mengubah jalan cepatnya menjadi setengah berlari.
“Akhirnya… sampai juga gue di kelas….” Ever mengelus d**a dan mengatur napasnya yang sedikit tersengal.
“Lo ngapain jam segini udah di sekolah?”
Satu suara berat itu mengejutkan Ever. Gadis itu refleks memutar tubuhnya dengan cepat dan menemukan Demon berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. Nyaris saja gadis itu berteriak karena ketakutan.
“Elo ngagetin gue!” jerit Ever keras. Gadis itu mengelus dadanya dengan kasar dan berusaha menormalkan degup jantungnya.
“Maaf… gue udah nyoba buat deketin lo tadi, tapi lo jalannya kayak orang yang mau ngambil gaji. Ya udah, gue diem aja di belakang lo,” jelas laki-laki itu.
Ever menyipitkan mata dan mengerutkan keningnya. “Jadi yang tadi jalan di belakang gue itu elo?”
Demon mengangguk dan menahan senyum. “Iya… emang lo pikir apaan?”
“Gue pikir jin penunggu sekolah!” ketus Ever. “Eh, tapi bukannya elo emang sebangsa itu, ya? Demon means iblis… iya, kan?”
Demon hanya tersenyum simpul dan mengangkat bahu tak acuh. Sudah tidak ambil pusing dengan ungkapan-ungkapan aneh yang dilontarkan Ever tentang dirinya. Sejak sebelum Ever hilang ingatan, Demon mungkin sudah ribuan kali mendengar hal itu. Laki-laki itu berjalan melewati Ever dan meletakan ranselnya di atas mejanya. Disusul kemudian laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya di atas kursi.
Ever yang bingung hanya mengikuti langkah Demon dan berjalan menuju mejanya.
“Lo kenal… Evelyn?”
Pertanyaan Demon itu membuat Ever menoleh dan menatap ke arahnya. Demon tidak memandang gadis itu. Laki-laki itu hanya menatap mejanya dengan tatapan kosong.
“Lo tau tentang Evelyn dari mana?” Ever balas bertanya. Karena setahu gadis itu, Evelyn tidak mempunyai sanak saudara. Ever dan keluarganya menemukan Evelyn dalam keadaan tak sadarkan diri di pinggir jalan dengan sekujur tubuh penuh dengan luka.
“Gue… gue pacarnya….” Demon berkata lagi dengan nada lirih.
Kening Ever mengerut.
“Lo pacarnya Evelyn?”
Demon mengangguk.
“Kalau lo pacarnya Evelyn, kenapa lo bilang ke gue kalau lo bakalan bikin gue jatuh cinta lagi sama lo? Sebenarnya, bentuk hubungan lo sama gue itu kayak gimana, sih? Kenapa lo kenal sama gue, sedangkan gue nggak ingat apapun tentang elo? Gue bahkan tau elo dari Titan, juga tentang laki-laki bernama Frazio itu….”
Demon kini menatap Ever dengan tatapan yang getir. Senyum yang tercetak dibibir laki-laki itu juga bukanlah senyum yang terlihat menyenangkan. Senyum itu lebih kepada senyum terpaksa. Melihat itu entah kenapa membuat Ever ikut bersedih.
“Gue… gue pacarnya Evelyn. Dia cewek yang bisa membuat gue lupa bahwa ada ribuan cewek diluar sana yang mungkin lebih cantik dan lebih baik dari dia. Sayangnya, bokap gue menentang keras hubungan kami, bahkan sampai tega mencelakakan kami berdua….”
Ever terkesiap dan menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Tidak menyangka akan mendengar sebuah kisah yang menyedihkan dari mulut Demon. Demon memalingkan wajahnya ketika melihat tatapan iba dari kedua mata Ever. Dia paling tidak suka dikasihani. Ketika laki-laki itu melanjutkan lagi ceritanya, Ever bisa mendengar nada frustasi dalam suara berat laki-laki itu. Kedua tangan Demon bahkan mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih.
“Mungkin… mungkin dulu gue mencintainya. Sampai-sampai gue rela melakukan apa saja demi dia. Bahkan disaat gue mendengar kabar bahwa dia sudah tiada, gue merasa separuh nyawa gue ikut pergi bersamanya… dan waktu gue ngeliat lo untuk pertama kali, gue ngerasa terpuruk! Elo membangkitkan semua kenangan gue sama dia! Gue akhirnya memutuskan untuk menjaga jarak sama lo dan bersikap dingin ke lo tanpa alasan yang jelas. Begitu gue tau kalau dia ternyata masih hidup, gue senang bukan main…. Gue merasa kembali hidup. Tapi, disitulah letak kesalahan gue. Entah kapan tepatnya, elo sudah menguasai pikiran dan hati gue… kehadiran lo membawa pengaruh yang cukup besar bagi gue. Dan detik itu juga gue sadar… bukanlah Evelyn yang gue mau, melainkan… lo! Gue mencintai lo, Evera Gracia, sepenuh hati gue.”
Sambil berkata demikian, Demon kembali menatap kedua mata Ever. Begitu dalam, menyelami dunia gadis itu. Ever sendiri tercekat di kursinya. Gadis itu tersihir dalam tatapan mata Demon. Cara laki-laki itu menatapnya begitu menghanyutkan. Begitu membuat gadis itu merasa tenang dan nyaman. Ever bahkan tidak tahu lagi bagaimana cara bernapas yang benar. Ever sangat yakin saat ini dia tidak berani mengambil napas karena terkejut dengan pengakuan yang diberikan oleh Demon beberapa saat yang lalu.
Astaga! Apakah ini memang benar terjadi? Bagaimana bisa Demon mengatakan dengan mudah bahwa dia mencintai Ever, padahal status laki-laki itu adalah pacar dari Evelyn? Pacar dari orang yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri?
“Cuma itu yang mau gue bilang.” Kali ini Ever bisa melihat senyum Demon tidak lagi dipaksakan seperti di awal tadi. Senyum itu kini lebih rileks dan hangat. “Gue cuma mau mengatakan hal yang sejujurnya sedang gue rasakan. Gue bukanlah cowok pengkhianat. Gue nggak akan meminta lo untuk jadi pacar gue disaat gue masih menjalin hubungan dengan cewek lain. Lagipula, gue nggak mau merusak hubungan pertemanan lo sama Evelyn. Gue cukup tau diri,” lanjut laki-laki itu.
Meskipun rasanya seperti membunuh sebagian dari diri gue. Rasanya sangat menyakitkan, batin Demon lagi.
Ever tidak tahu harus berkata apa. Pengakuan ini begitu tiba-tiba. Dia tidak bisa mengingat apapun mengenai Demon, dan jujur saja, hal yang baru saja terjadi diantara dirinya dan laki-laki itu membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
“Wah, kalau gitu, gue juga harus ngaku dong, ya?”
Satu suara bernada tajam itu membuat Demon dan Ever menoleh dan mendapati Frazio tengah berdiri di ambang pintu. Punggungnya disandarkan di daun pintu dan kedua tangannya terlipat di depan d**a. Sorot matanya tajam dan dingin terarah pada Demon. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang terkesan angkuh.
Ever heran melihat sikap Frazio itu. Beberapa kali bertemu dengan Frazio membuat Ever tahu bahwa sikap laki-laki itu sangatlah ramah. Tapi sekarang, sikap ramah yang selalu ditunjukan oleh Frazio seolah lenyap. Dan hal ini membuat Ever sedikit merasa takut tanpa sadar. Gadis itu tiba-tiba berdiri dari duduknya, diikuti oleh Demon.
Frazio melangkah dengan pelan namun pasti ke tengah-tengah kelas.
“Kemarin juga gue ngeliat adegan pengakuan cinta lo. Sangat menjijikan, tau nggak?” Frazio tertawa mengejek.
Perlahan, Demon maju ke depan Ever dan berdiri tepat di depan gadis itu. Dilihat dari sikap Frazio saat ini, bukan tidak mungkin laki-laki itu bisa menjadi gelap mata.
“Ini murni urusan lo sama gue, jangan lo melibatkan Ever,” ucap Demon sama dinginnya. Dia bisa merasakan bahwa dibelakang tubuhnya, Ever sedang berdiri ketakutan.
Frazio makin tertawa keras. Digeleng-gelengkannya kepala. Kemudian, Frazio mengambil satu tarikan napas panjang dan membuangnya dengan keras. Matanya melumat tajam mata Demon. Kedua tangannya sudah tidak terlipat di depan d**a, melainkan mengepal dengan kuat di kedua sisi tubuhnya.
“Mau jadi pahlawan kesiangan, lo, hah?! Denger ya Demon, gue cinta sama Ever! Gue nggak akan biarin lo dapetin dia. Apa-apaan lo?! Udah punya cewek, masih mau macarin Ever! Gue nggak akan ngebiarin Ever jadi milik lo, nggak akan!”
“Dapetin?! Lo bilang, DAPETIN?!” seru Demon sama kerasnya dengan ucapan yang dilontarkan Frazio tadi. “Ever bukan barang, jaga omongan lo! Lo pikir dia itu nggak punya hati, apa?! Omongan lo tadi pasti bikin dia sakit hati!!”
Tiba-tiba, Frazio maju ke depan dan langsung menarik kerah kemeja Demon, menjauhkan tubuh Demon dari depan Ever. Sudah muak dia dengan semua ulah Demon yang menurutnya ingin menjadikan Ever miliknya. Apa-apaan laki-laki itu? Sudah punya pacar tapi masih mencoba mendekati Ever?!
“Gue… nggak… akan… biarin… Ever… jadi… milik… lo, NGGAK AKAN!”
Frazio menekankan semua kalimat yang keluar dari bibirnya dengan tegas. Dan dengan gerakan cepat, Frazio menghajar Demon dengan keras. Ever menjerit tertahan ketika melihat Demon jatuh tersungkur dan langsung mendekati laki-laki itu.
“Frazio! Elo udah gila!” seru Ever sambil membantu Demon yang sedang menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
“MINGGIR, LO!” bentak Frazio pada Ever, membuat gadis itu terlonjak kaget. Rasa sakit langsung menyerangnya ketika Frazio menarik pergelangan tangannya agar menjauhi Demon. Entah apa yang sudah merasuki pikiran Frazio hari ini. Tanpa sadar, Frazio mendorong tubuh Ever hingga gadis itu terjatuh dan menjerit pelan.
Melihat itu, amarah Demon kontan bangkit. Laki-laki itu tidak memperdulikan rasa sakit di wajahnya dan langsung menghajar Frazio. Frazio terjatuh, namun Demon memaksa laki-laki itu berdiri dan menghajarnya lagi. Terus seperti itu, hingga akhirnya Ever menahan tubuh Demon agar dia berhenti memukuli Frazio.
“Demon, berhenti!” seru Ever keras. Namun Demon seakan sudah kehilangan kesadarannya. Dia terus saja memukuli Frazio.
“Sekali… lagi… elo… nyakitin… Ever… gue… akan… bunuh… lo! GUE AKAN BUNUH LO!”
“DEMON!”
Teriakan Ever kali ini berhasil membuat Demon kembali ke alam sadarnya. Laki-laki itu mengatur napasnya yang tidak terkontrol. Dengan sentakan keras, dia melepaskan cekalannya pada kerah kemeja Frazio. Frazio memejamkan mata menahan rasa sakit disekujur tubuhnya. Frazio menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya, hidung dan pelipisnya.
Demon membalikan tubuh dan berjalan keluar kelas. Begitu sampai diambang pintu, Demon berhenti. Tanpa membalikan tubuh, Demon berkata, “Kali ini… kali ini lo bisa lolos. Kalau sampai gue denger lo ngomong yang aneh-aneh tentang Ever, gue nggak akan jamin lo bisa bernapas detik itu juga!”
Ever menatap kepergian Demon dengan tatapan sedih.
***
Evelyn duduk dengan gelisah. Orang yang ditunggunya belum juga tiba. Beberapa jam yang lalu seseorang meneleponnya dan memintanya untuk bertemu di tempat ini. Evelyn juga tidak mengenali siapa si penelepon karena dia tidak menyebutkan identitasnya. Dia hanya mengatakan mengetahui semua tentang dirinya, Demon dan Ever. Dia juga bilang dia mengetahui nomor Evelyn melalui ponsel Ever yang dipinjamnya.
Namun, sudah setengah jam Evelyn duduk di kafe ini, orang yang memintanya untuk bertemu belum juga datang. Setengah kesal, Evelyn bangkit dari duduknya dan berniat untuk pulang ke rumah.
“Evelyn, bukan?”
Evelyn yang sudah berjalan beberapa langkah terhenti dan menoleh. Di depannya berdiri seorang laki-laki dengan tampang yang… mmm, berantakan?
“Ya… lo yang ngajak gue ketemuan beberapa jam yang lalu itu?”
Laki-laki itu mengangguk lalu duduk di tempat yang diduduki Evelyn beberapa saat lalu. Evelyn mengikuti laki-laki itu dan duduk di hadapannya.
“Lo pacar Demon, kan?”
Evelyn mengangguk dengan ragu.
“Gue mau menawarkan kerja sama dengan lo. Tertarik?”
“Kerja sama dalam hal apa?”
“Memisahkan Demon dan Ever. Gimana?”
Evelyn mengerutkan kening dan menyipitkan matanya menatap laki-laki itu.
“Keuntungan buat lo apa ngelakuin hal ini?”
“Gue suka sama Ever dan gue benci sama cowok lo yang sok jadi pahlawan kesiangan itu! Karenanya, gue mau mereka berpisah. Gue ngerasa keberuntungan akan berpihak ke kita berdua. Ever hanya bisa mengingat masa lalu tertentunya saja, kan? Lo juga dekat dengan dia, kan? Tadi pagi gue nggak sengaja dengar Demon sudah mengakui kalau dia mencintai Ever, meskipun dia sudah memiliki elo.”
Mendengar itu, hati Evelyn terasa diiris. Demon ternyata benar-benar sudah melupakan kisah cinta mereka. Semudah itukah? Setelah apa yang dikorbankannya selama ini atas nama cinta? Setelah hampir meregang nyawa karena ayah laki-laki itu tidak menyetujui hubungan mereka?
Tapi… sanggupkan Evelyn memisahkan mereka? Sanggupkan gadis itu menorehkan luka di hati Ever? Dia tahu bahwa sebelum hilang ingatan, Ever sudah menyukai Demon, meskipun Ever tidak pernah menceritakannya. Demi Tuhan, Evelyn juga seorang gadis, sama seperti Ever, dan dia bisa mengetahui perasaan Ever itu. Biar bagaimanapun, dia bisa hidup karena pertolongan Ever dan keluarganya. Tapi… rasa cintanya pada Demon begitu besar.
“Bagaimana? Bersedia? Gue yakin Ever pasti akan mau menuruti permintaan lo kalau lo menyuruh dia untuk menjauhi Demon.” Laki-laki itu menatap Evelyn tepat di manik mata gadis itu.
“Siapa elo sebenarnya?” tanya Evelyn mengalihkan pembicaraan. Sudah dia putuskan, dia akan mengikuti permainan laki-laki ini. Tapi, dia juga harus mengetahui siapa orang di depannya ini.
Laki-laki itu tersenyum tipis dan mengulurkan tangan kanannya.
“Frazio. Teman sekolah Ever dan Demon. Salam kenal, Evelyn!”
***
“Elo harusnya nggak usah ladenin si Frazio, Mon!”
Demon menghentikan kegiatannya menyalakan mesin motornya dan membuka kaca helm-nya. Laki-laki itu memandang Ever yang berdiri disamping motornya dengan wajah kesal.
“Terus? Gue harus diam aja gitu ngeliat dia ngedorong lo sampai jatuh gitu? Lo pikir gue gila?”
“Ya… tapi kan….”
“Udah deh, gue tau apa yang gue lakuin! Gue nggak akan ngebiarin orang yang gue sayang dijahatin sama orang, paham?”
Nada otoritas dalam suara Demon membuat Ever mengangguk ragu. Kemudian, laki-laki itu menutup kaca helm-nya dan menggas motornya. Sedetik… dua detik… tiga detik, Demon tidak juga pergi dari hadapan Ever. Ever memiringkan kepala dan mengerutkan kening.
“Kok lo belum pergi, Mon?” tanya Ever bingung.
Demon menghela napas yang hanya bisa didengarnya sendiri, lalu membuka kaca helm-nya.
“Lo kenapa nggak naik-naik, sih?” tanya Demon balik. Setengah tidak sabar dengan ulah Ever.
“Hah?”
“Buruan naik. Bentar lagi hujan. Gue mau nganterin lo pulang!”
Ever mencibir dan membuang muka. Nih orang niat nggak sih mau ngaterin gue pulang? Suaranya ketus banget gitu, keluh Ever dalam hati.
“Ever!”
“Iya… iya… bawel lo, ah!” gerutu gadis itu pelan. Kemudian, Ever mulai duduk di boncengan motor Demon.
“Udah?”
“Udah!”
Demon kembali menutup kaca helm-nya dan mulai menjalankan motor Ninja-nya meninggalkan parkiran sekolah.
***
Apa yang harus gue lakukan?
Permintaan kerja sama yang dilakukan oleh Frazio masih terngiang di benaknya. Dia memang sudah menyetujui permintaan laki-laki itu, tetapi dirinya masih bingung. Tindakannya ini nantinya akan membuat orang-orang yang disayanginya menderita.
Tapi… kalau dia tidak melakukan hal ini, dia akan kehilangan Demon seutuhnya. Dan dia tidak bisa kehilangan laki-laki itu. Dia terlalu mencintai Demon, dari dulu sampai sekarang.
Evelyn menghela napas dan menatap langit gelap di atas sana. Tidak ada bintang dan bulan yang terlihat malam itu.
Akhirnya, gadis itu sudah memantapkan diri. Apapun akan dia lakukan, asalkan Demon tidak meninggalkannya.
“Maaf, Ever, gue hargai pertolongan lo dan keluarga lo… tapi, gue nggak bisa ngebiarin Demon jatuh cinta sama lo. Gue nggak akan pernah bisa kehilangan Demon. Nggak akan bisa!” tandas Evelyn pada dirinya sendiri.
***
Pukul setengah tujuh pagi, Ever sudah bersiap-siap berangkat ke sekolah. Titan tadi meneleponnya dan mengatakan akan berangkat bersama dengan Ever. Maka Ever menunggu kedatangan gadis itu di ruang makan sambil mengunyah roti bakar dengan isi selai cokelat kacang kesukaannya.
“Ev….”
Ever menoleh dan melihat mamanya tersenyum ke arahnya.
“Ya, Mah?”
“Tuh… Titan udah nunggu diluar. Baru saja datang.”
Ever mengangguk dan membersihkan meja makan. Kemudian, Ever tersenyum pada mamanya dan mencium punggung tangan sang mama.
“Ever berangkat dulu ya, Mah….”
“Ya, Sayang, hati-hati ya….”
Ever mengangguk dan segera menghampiri Titan yang sudah menunggunya di teras rumahnya.
***
Ketika takdir sudah menghampiri, siapa yang bisa menyangkalnya? Ketika takdir sudah menghampiri, siapa yang bisa mengubahnya? Takdir antara kita mungkin sudah ditetapkan seperti ini….
Demon memasuki kelasnya dengan terheran-heran. Keadaan kelas sangat ramai. Di pojok belakang, Demon melihat Frazio. Keduanya saling tatap dengan pandangan dingin dan tajam. Tatapan yang saling membunuh antara yang satu dengan yang lain.
Demon mengedarkan pandangannya lagi. Matanya bertemu pandang dengan mata Ever. Laki-laki itu tersenyum yang dibalas dengan canggung oleh Ever. Kemudian, Demon melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya.
“Ada apaan sih, Ndo? Kok kelas ribut banget?”
Ando, salah seorang teman Demon yang terkenal playboy menoleh dan memberikan senyum khas-nya. Menurut kabar yang terdengar, Ando sedang dekat dengan salah seorang siswi di kelasnya yang juga musuh bebuyutan dari Ando sendiri.
“Katanya mau ada murid baru, Mon. Cewek sama cowok. Denger-denger sih kembar.”
“Ooh….” Demon manggut-manggut sambil membulatkan mulutnya. Ketika dilihatnya Ando masih menatapnya dengan cengiran lebar, Demon kembali buka suara. “Lo nggak usah pamerin senyuman playboy lo itu ke gue, deh, Ndo! Gue masih doyan cewek!”
“Dih, minta ditabok ya, lo?” Ando menoyor kepala Demon dengan kesal, membuat Demon terbahak.
Tiba-tiba, suasana kelas mendadak hening. Sang wali kelas memasuki ruangan dengan gaya yang menurut sebagian murid terkesan dibuat-buat. Setelah meletakan buku-bukunya di atas meja, sang wali kelas menatap seluruh murid yang ada di kelas itu dengan senyum lebar.
“Anak-anak… hari ini kita kedatangan murid pindahan dari Makassar. Mereka berdua akan bergabung dengan kita mulai hari ini.”
Sang wali kelas menyuruh murid baru tersebut untuk masuk ke dalam kelas dengan satu tepukan keras.
Semua mata memandang kedua remaja yang berlainan jenis itu dengan sorot kekaguman. Meskipun berbeda jenis kelamin, namun wajah keduanya sangatlah mirip. Seisi kelas memang sudah mendapat bocoran bahwa murid baru yang akan bergabung dengan mereka adalah anak kembar, tetapi mereka tidak menyangka bahwa keduanya akan begitu serupa.
“Perkenalkan anak-anak, mereka adalah Regina Maharani dan Dimas Matahari. Keduanya pindahan dari Makassar.” Sang wali kelas memperkenalkan kedua murid barunya itu dengan bangga.
Tanpa disangka, Demon dan Ever sama-sama berdiri dari tempat mereka. Keduanya menatap Regina dan Dimas dengan mata terbelalak. Begitu juga dengan Regina dan Dimas.
“Rere?”
“Dimas?”
Demon dan Ever saling pandang ketika mengetahui bahwa keduanya telah berbicara secara bersamaan. Regina dan Dimas hanya tersenyum melihat Ever dan Demon.
“Halo, Mon, lama nggak ketemu….” Regina tersenyum manis. Begitu juga dengan Dimas yang maju mendekati Ever dan langsung memeluk gadis itu.
“Apa kabar, Ev?” tanya Dimas di telinga Ever.
***