"Ini enggak papa kok, cuman aku genggamnya kekuatan waktu panik kemarin." Elara tersenyum paksa, mata perempuan itu menyipit. Alea memandang Elara dengan mata memicing, mencari kebohongan yang mungkin diucapkan oleh sang menantu. Tatapan Alea langsung beralih pada sang putra, tetapi Zricho telah lebih dulu memalingkan wajah. Alea tersenyum lebar. Dia membawa tangan Elara ke atas pangkuannya, memegang tangan itu sembari mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. Dia menatap Elara, lekat dan lembut—tatapan yang tidak pernah Elara rasakan sejak dulu. Lalu, saat ini—dia melihat tatapan itu, tatapan yang membuat dirinya membeku—terjebak di antara rasa haru sekaligus rasa asing. "Tatapannya lembut banget," batin Elara. "Kalau anak Mami nyakitin kamu, jangan ragu untuk sampein ke Mami, ya?

