"Kurang ajar mulut kamu, Elara!" Teriakan Saras berhasil membuat Elara tersentak, perempuan itu bahkan tanpa sadar mundur beberapa langkah. Namun, Elara dengan cepat mengendalikan diri—ekspresi perempuan itu kembali tenang, datar dan terjaga. Dia menatap bahu Saras yang naik turun bersamaan dengan napasnya yang memburu, diam-diam Elara tersenyum puas—merasa bangga berhasil membuat wanita berusia 64 tahun itu marah membuat Elara merasa senang. "Tante?" Elara menutup mulutnya, berlagak kaget. "Kenapa Tante teriak? Gimana kalau nenek dengar dan bangun?" ujarnya dengan nada dibuat-buat khawatir. Wajah Saras semakin keras, ada satu urat kecil di pelipisnya yang berdenyut kecil—pertanda emosi Saras berada di puncaknya. Tangan Saras terangkat ke udara, melayang—nyaris mengenai wajah Elara jik

