Zricho melangkah memasuki gedung perusahaannya. Langkah Zricho tegas, wajahnya datar tanpa emosi—dia melangkah dengan kekuasaan yang dia miliki, dengan otoriter yang membuat siapa pun patuh. Di belakang dirinya, sang sekretaris melangkah, tak setegas Zricho. Namun, cukup membuat beberapa karyawan menunduk sopan kepadanya, mengingat posisi Aldi tak kalah penting dari Zricho.
Saat memasuki lift, Aldi berdiri di samping sang atasan. Dia membuka notes digital di ponselnya, dia membaca dengan teliti terlebih dahulu jadwal yang telah dia siapkan untuk sang atasan.
"Pak, jam 08.00 wib nanti akan ada rapat dengan pihak pemegang saham. Lalu pukul 13.00 wib nanti ada makan siang bersama klien, dan pukul 16.00 wib Bapak harus mengecek beberapa dokumen dan menandatangani," ujar Aldi memberitahu.
"Terima kasih." Hanya dua kalimat, tetapi cukup menunjukkan posisi Zricho sebagai atasan.
Perusahaan Nutrifoods, adalah perusahaan yang bergerak di bidang kuliner dan makanan cepat saji, maupun camilan, dan minuman. Perusahaan yang berdiri lebih dari 15 tahun dan menjadi perusahaan besar. Perusahaan itu sekarang dipegang oleh Zricho selaku pewaris utama.
Zricho memasuki ruangannya, dia duduk di kursi kebesarannya. Tak lama Aldi masuk dengan beberapa berkas di tangannya, asistennya itu langsung meletakkan berkas itu di hadapan Zricho.
"Ini berkas yang sudah direvisi, Pak. Silakan dicek terlebih dahulu," ucap Aldi.
Zricho tak menjawab, dia langsung memeriksa berkas itu. Sementara itu, Aldi masih berdiri dengan meja kerja Zricho sebagai pembatas di antara keduanya.
***
Seorang wanita dengan blus sutra di bahunnya menatap Dias yang duduk di sofa dengan tangan memegang tongkatnya. Tatapan kesal bercampur amarah, tangan terkepal sebagai bentuk menahan diri.
Penampilan wanita itu cukup mewah, blus sutra berwarna netral dia padukan dengan rok span berwarna putih. Lalu sepatu hak tinggi semakin menunjang penampilannya, dengan tas kulit buaya yang dia sampirkan di bahu.
"Mama jangan gila deh! Kenapa Mama bisa nyuruh Zricho gantiin Jazziel menikah? Apa selama ini kurang bertanggung jawab Zricho atas hidup cucu b******n Mama itu?!" teriaknya, napasnya sedikit memburu.
"Alea, cukup! Kamu tidak ada hak mengatur keputusan Mama. Mau ditaruh di mana harga diri kita, kalau Zricho tidak menggantikan Jazziel? Kita akan jadi perbincangan di kalangan atas, Alea!" sahut Dias.
Alea, wanita yang berstatus sebagai ibu kandung Zricho itu terkekeh pelan. Dia tahu betul, menikah ke keluarga kaya seperti Teriaz berarti juga mempertahankan harga diri, apa pun yang terjadi. Lalu sekarang, anak semata wayangnya harus menikahi pasangan dari keponakannya sendiri. Rasanya ini terlalu tidak adil bagi sang putra.
Dias berdiri, dia memandang tajam sang menantu. Wanita paruh baya itu melangkah mendekati Alea, sorot matanya tak berubah menjadi teduh. Dias berjalan pelan dengan tubuh bertumpu pada tongkat mahal hadiah sang cucu—Zricho.
"Akan selalu ada yang dikorbankan, Alea. Anakmu setuju itu artinya kamu pun setuju, terima Elara dengan baik. Perlakukan dia dengan baik," cetus Dias, nadanya datar tanpa emosi.
Alea menghela napas. "Iya, Ma," sahutnya tak ingin membantah lebih jauh.
Dias berlalu dari sana, berjalan menuju kamarnya. Sementara itu, Alea memilih untuk duduk di sofa. Setelah kembali dari berlibur bersama sahabatnya, dia justru mendapati kabar bahwa sang putra telah menikah dengan pasangan ponakannya sendiri.
Menarik napas panjang, Alea mengambil ponselnya—menghubungi Zricho untuk mengetahui alasan sang putra menerima ide gila dari mertuanya.
***
Di depan lorong operasi, suasana selalu tegang. Ada rasa takut, gelisah, cemas, khawatir, dan satu harapan menjadi satu. Namun, kali ini berbeda—lorong itu dikuasai amarah seorang wanita paruh baya dengan daster dan rambut yang diikat asal.
Dia menunjuk dokter di hadapannya dengan mata merah menyala—amarah wanita itu menggebu, sedangkan seorang pria memilih diam membiarkan sang ibu memaki dokter spesialis di hadapan mereka.
"Saya tidak mau tau, Dok! Menantu saya harus lahiran normal, bukan caesar! Lahiran normal menandakan dia wanita sejati," teriak wanita, urat-urat lehernya menonjol.
Elara langsung memejamkan mata, menahan diri untuk tidak berbuat kasar saat itu juga. Mata perempuan itu terbuka, dia menatap wanita asing di hadapannya dengan sedikit kilatan marah.
"Saya tidak peduli, karena keselamatan pasien juga penting. Satu lagi, Bu! Normal atau caesar tidak bisa dijadikan status atau standar dari wanita!" tegas Elara.
"Dokter tau apa, ha?! Emang dokter sudah menikah?!" Sahutan itu membuat Elara menarik napas panjang.
"Dok, istri saya harus normal. Tolong ikuti perintah Ibu saya," celetuk pria dengan kaos lusuh.
Elara menoleh dengan cepat, matanya memindai penampilan pria di hadapannya. Dia berdecak cukup keras, raut wajah Elara berubah dingin, tatapan perempuan itu berubah tajam.
"Saya hanya butuh kalian menandatangi persetujuan tindakan, tapi kalian semua bebal! Bagi kalian nyawa bayi lebih penting, kalian pikir nyawa istri atau menantu kalian itu hanya patung?!" Napas Elara menggebu, matanya semakin berkilat tajam. "Saya akan mengambil tindakan tegas, tanpa persetujuan kalian!" putusnya akhirnya.
Elara menghela napas, lalu membalikkan tubuh dan berjalan memasuki ruangan operasi. Perempuan itu mengabaikan teriakan dari pedamping pasien.
"Dokter sialan! Dokter sok tau! Saya akan mengambil tindakan hukum karena ini!" teriak wanita itu.
Elara menoleh, dia tersenyum sinis untuk sesaat. "Dari penampilan kalian, kalian jelas orang miskin. Kalian tidak punya kuasa untuk bawa hal benar ke jalur hukum," tangkas Elara mampu membungkam mereka.
Kasus sama sudah berulang kali Elara alami, dia sudah tak asing dengan kepercayaan bodoh mengenai wanita harus melahirkan normal. Sebagai seorang dokter, nyawa pasien tentu di atas segalanya, bahkan aturan tradisi sekaligus.
Pintu ruangan operasi tertutup. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya di kursi tunggu, dia memukul-mukul pahanya—melampiaskan rasa kesal karena keinginannya tak bisa terwujud. Wanita itu menoleh, menatap sang putra yang tengah menjambak rambutnya sendiri.
"Ibu 'kan sudah bilang jangan nikahin Erni, tapi kamu sama sekali nggak mendengarkan Ibu, Bagus! Lihat istrimu sekarang, melahirkan normal saja dia tidak mampu. Apa yang harus Ibu sampaikan ke orang-orang di kampung?!" sentaknya.
Pria bernama Bagus itu menghela napas, dia melangkah mendekati sang ibu dan berjongkok di hadapan sang ibu. Tangan pria itu bertumpu pada paha sang ibu, menatap penuh hormat wanita yang melahirkan dan membesarkannya.
"Maaf, Bu. Bagus bakalan kasih pelajaran ke Erni setelah dia melewati masa nifas, Ibu tenang aja, ya," jawabnya.
Wanita itu menghela napas, lalu mendengus. Dia membuang muka dengan ekspresi masam, seolah kalimat sang putra tak cukup untuk menenangkan dirinya.
"Harusnya kamu menikahi pilihan Ibu, Bagus!"
"Maaf, Bu. Nanti Bagus ceraikan Erni dan menikahi pilihan Ibu, kalau itu bisa buat amarah Ibu ke Bagus ilang."
Pada dasarnya, patriarki berasal dari perempuan itu sendiri. Perempuan yang memupuk, memelihara, dan menjaga itu. Pria hanya hasil dari apa yang perempuan itu bentuk. Dan tidak seharusnya, seorang ibu ikut campur rumah tangga anaknya.