Bab 8. Menyakiti

1010 Kata
Zricho keluar dari mobil mewah miliknya. Pria itu menghela napas panjang, sebelum akhirnya kaki panjang pria itu melangkah menuju pintu masuk dengan langkah lebar. Ekspresi wajah pria itu datar, tatapan matanya tajam—menatap jalannya. Dia tak perlu mengetuk pintu, Zricho langsung mendorong pintu besar itu dan masuk ke dalam. Hal pertama yang dia lihat adalah Maryam yang berlari tergesa-gesa ke arahnya. Langkah Zricho terhenti, dia menatap datar salah satu asisten rumah tangganya itu. Langkah kaki Zricho terhenti, dia menanti Maryam berbicara. "Pak, ibu belum makan dari pagi," kata Maryam melapor, wajahnya cemas. Zricho berdecak pelan. "Siapkan makanan, biar saya yang antar ke dia," titah pria itu. Maryam mengangguk, dia segera pergi dari hadapan sang majikan. Sementara itu, Zricho mendengus dan kembali melangkah memasuki rumah. Zricho melangkah dengan nampan berisi beberapa menu, mulai dari nasi putih, cumi saus tiram, cah kangkung, dan tempe goreng. Tidak lupa segelas air putih juga ada di nampan. Zricho berhenti di depan pintu. Dia menatap datar pintu yang tertutup rapat itu. Saat menekan gagang pintu, didapati pintu itu terkunci dari dalam. Berdecak kesal, dia mengambil kunci cadangan yang dia simpan diam-diam di balik vas di dekat kamar. Zricho membuka pintu itu perlahan, dia menghela napas panjang mendapati lampu kamar mati. Menyalakan lampu, dia melangkah mendekati ranjang. Menatap datar punggung Elara yang tampak tenang di balik selimut. Meletakkan nampan itu di atas nakas, Zricho lalu duduk di sisi ranjang. Dia menepuk bahu Elara, mencoba membangunkan sang istri. "Elara bangun! Kamu harus makan." Suaranya tak tinggi, tak juga lembut. Terlalu dingin untuk seorang suami yang tengah membangunkan iatrinya. Elara tetap memejamkan mata, dia berusaha untuk tidak bergerak meskipun dia mendengar jelas suara dingin Zricho yang memecah malam. Decakan kasar meluncur dari pria itu. Dia membalikkan tubuh sang istri dengan sedikit kasar, memandang tajam wajah tenang Elara yang masih memejamkan mata. "Saya tahu kamu tidak tidur, Elara. Buka mata kamu!" Zricho berdiri secara spontan, suara pria itu meninggi. Elara tersentak dalam posisinya. Dia membuka mata dengan perasaan takut menguasai, netra perempuan itu langsung menatap wajah Zricho yang mengeras. Tanpa diminta, dia langsung mengubah posisi menjadi duduk—memeluk erat selimut yang menutupi tubuhnya. "Makan!" titah itu. Elara menatap nampan itu, kepala menggeleng ragu. "Aku nggak laper, Mas," jawabnya sedikit gugup. "Saya tidak mau tahu, Elara. Kamu harus makan, saya tidak mau mengurus mayat kamu jika kamu mati," tegas Zricho, terlalu menusuk. Elara tersenyum miris. Dia segera menggeser tubuh menuju tepi ranjang, duduk dengan kaki menjuntai. Dia meraih piring kaca itu, menatap tak minat makanan yang sebenarnya cukup menggiurkan itu. "Apa aku emang nggak pernah berarti untuk siapa pun, Tuhan?" tanya Elara di dalam hati. "Jangan manja. Habisi makanan kamu!" Zricho menatapnya datar, lalu pergi dari kamar begitu saja. Elara memandangnya dalam diam, ucapan Zricho berhasil menorehkan sebuah luka di dalam hatinya. Dia menyendokkan makanan dengan tak minat, memakan masakan itu dengan berlinang air mata dan hati yang berdenyut nyeri. *** Pagi datang dengan gemuruh yang cukup berisik, tetapi Elara sudah siap dengan pakaian rapi dan cardigan yang membungkus tubuhnya agar tak dingin. Meskipun waktu masih menunjukkan pukul 06.30 wib, tetapi dia sudah cukup rapi pagi ini. Perempuan itu menuruni tangga perlahan, terlalu berhati-hati—seolah takut mengganggu siapa pun sepagi ini. Sesekali dia akan melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, seolah tengah bertarung dengan waktu. Saat sudah di lantai dasar, Elara melihat Sarti yang tengah membersihkan rumah. Perempuan itu tersenyum, seolah tak terjadi apa pun kemarin malam. Seakan luka dan patah hatinya sembuh dalam semalam. "Ibu mau ke mana sepagi ini?" tanya Sarti seraya menghentikan kegiatannya mengelap meja di dekat tangga. "Oh, itu. Saya ada urusan, tolong nanti sampaikan ke mas Zricho, ya, Bi," jawab Elara mempertahankan senyumannya. Tanpa menanti jawaban wanita paruh baya itu, Elara berjalan meninggalkan Sarti. Sementara itu, Sarti menatap sang majikan dengan tatapan yang sulit dimengerti. Tempat itu tampak tenang, tetapi tenang yang mengandung pilu. Elara melangkah menyusuri setiap makam, sampai dia berhenti di sebuah makam bertuliskan nama "Ayunia Larasati" dengan gundukan tanah yang masih basah bekas hujan subuh tadi. Berjongkok, Elara menarik napas panjang—lalu berusaha tersenyum semanis dan seikhlas mungkin. Tangan perempuan itu terulur, mengusap batu nisan itu dengan tatapan yang sulit dimengerti. "Aku nggak tau makna pulang, Ma. Sejak kecil aku dibiasakan sendiri, enggak ada satu pun yang denger suaraku sampai akhirnya aku terbiasa ngobrol sama diri sendiri." Dia terkekeh, sedikit memperbaiki posisinya. "Sekarang aku udah nikah, Ma. Aku pikir aku bakalan nikah sama orang yang aku cinta, nikah dan bangun rumah tangga meski aku takut, tapi dia yakinin aku, Ma. Ternyata dia sama kayak yang lain, kayak kalian yang selalu ninggalin aku dan biarin aku sendiri. Akhirnya aku nikah sama orang yang nggak aku kenal, orang yang bahkan tanpa ragu nyakitin aku." Elara terdiam sejenak, suaranya parau, mata perempuan itu memerah. Gerimis mulai turun, tetapi Elara tetap di tempatnya—perempuan itu hanya sedikit mendongak dan kembali menatap gundukan tanah di hadapannya. Tatapan perempuan itu berubah—kosong, seolah tak ada kehidupan dan tak ada nyawa di dalamnya. "Aku pulang, ya, Ma. Aku nggak bisa lama, karena di sini pun tetep sakit rasanya," ucapnya, lalu berdiri perlahan. Perempuan itu tersenyum untuk terakhir kali. Lantas melangkah meninggalkan area kuburan, dia mengusap air matanya—membiarkan hujan menyamarkan tangisnya. Elara tersenyum pada penjaga kuburan, tanpa mengatakan apa pun—dia pergi begitu saja. Di tempat berbeda, Zricho mengerutkan keningnya saat tak mendapati keberadaan sang istri. Pria itu menuruni tangga dengan pakaian rapi, bersiap pergi ke kantor. "Bi, Elara ke mana?" tanya Zricho saat melihat Sarti tengah menyapu di dekat dapur. Sarti menghentikan kegiatannya. "Ibu ada urusan, Pak. Tadi bilang ke saya dan suruh sampein ke Bapak," jawabnya. "Urusan?" Zricho berdecak keras. "Perempuan itu ada urusan apa sepagi ini? Alasan saja!" sambungnya, menusuk. Sarti menggelengkan kepala, dia menunduk hormat—lalu kembali melakukan pekerjaannya. Sementara itu, Zricho melangkah menuju meja makan. Seakan tak ada Elara pun tak masalah, Elara benar-benar hanya istri di atas kertas yang tak perlu dia jaga. "Sial, perempuan itu benar-benar merusak pagiku. Kenapa nenek harus menyuruhku bertanggung jawab atas apa yang tidak aku lakukan!" kesalnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN