Elara menundukkan kepala, tangan perempuan itu saling bertaut di depan tubuh—meremasnya dengan keras. Pergelangan tangan kanan Elara memerah—warnanya cukup mencolok dengan rasa perih menjalar di sekitarnya. Elara tak berani berkutik, meskipun kakinya terlalu sakit karena berdiri lama. Akan tetapi, dia tetap mencoba mempertahankan posisi dengan baik.
Di hadapan Elara, Zricho berdiri dengan tatapan marah. Sorot mata pria itu berapi-api, tangannya masuk ke dalam saku celana dalam kondisi terkepal. Suara napas yang memburu dan sedikit keras itu berhasil membuat kamar utama terasa lebih dingin dan mencekam. Udara malam yang hadir dari luar membuat suasana kamar terasa lebih menusuk dari biasanya.
Elara mengangkat kepala perlahan, mata perempuan itu mengerjap lambat berulang kali. Ekspresi wajah memelas Elara sama sekali tak melunakkan amarah Zricho sedikit pun. Elara memilin jari-jarinya, bibir perempuan itu terlipat ke dalam dengan tatapan sendu dan bersalah bercampur menjadi satu.
"Maaf," kata Elara, suaranya pelan, lirih, dan cukup kecil. Namun, Zricho cukup mendengarnya.
Embusan asap rokok membuat Elara terbatuk beberapa saat, dia mengibaskan tangan di depan wajah. Dia baru tahu jika suaminya adalah seorang perokok.
Sementara itu, Zricho masih tenang—duduk di sofa di hadapan Elara. Jarinya menjepit sebuah rokok mahal, meski asapnya membuat sang istri merasa sesak, tetapi Zricho sama sekali tak peduli dengan hal itu.
"Uhuk ... Mas, udah!" tegur Elara, mata perempuan itu memerah.
"Atas dasar apa kamu mengatur saya, Elara? Kamu bahkan tidak mendengarkan perintah saya." Suara dingin Zricho menyeruak di antara asap rokok dan dinginnya udara malam.
"Saya melarang kamu memasuki pintu berwarna biru, apa kamu tidak paham?! Di mana telinga dan otak kamu, Elara?!" Suara yang tadinya pelan berubah menjadi bentakan bernada tinggi, berhasil membuat Elara tersentak dan terkesiap.
Detak jantung Elara berpacu liar, seolah dadanya dipukul dari dalam. Suara bentakan itu—tajam, kasar, dan masih berdengung di telinganya, meskipun mulut Zricho sudah kembali terkatup rapat. Napas Elara tersendat, untuk sejenak dia lupa caranya bernapas.
Tangan Elara terkepal, kuku-kuku panjangnya menusuk telapak. Bulir-bulir dingin pecah di keningnya, pandangan Elara mulai memburam, keseimbangannya hilang—dia bahkan nyaris terjatuh, jika saja terlambat mengambil kendali atas tubuhnya.
Tatapan Elara berubah kosong. "Mas bentak aku?" tanya Elara, nadanya tak percaya.
Zricho berdiri, lugas dan cepat. Dia menarik tangan Elara cukup kuat, tubuh mereka nyaris menempel. Tangan Elara dicengkeram kuat di udara, sedangkan tangan satu lagi memeluk erat pinggang ramping sang istri. Mata Zricho masih berkilat amarah, aura pria itu bahkan mampu menekan Elara sejak tadi.
"Kamu yang berulah, kamu yang merasa tersakiti, huh?" cibir Zricho dengan suara rendah.
"Mas ...! Sakitt!" ujar Elara, meringis tertahan dengan mata terpejam.
Zricho seolah buta dan tuli. Dia semakin kuat mencengkeram pergelangan tangan Elara, tatapan pria itu juga semakin tajam dan dingin. Seolah Elara baru saja melakukan kesalahan fatal yang tak pantas mendapatkan sebuah maaf.
"Kamu harus tahu, Elara. Saya benci pembangkang!" tegas Zricho sebelum akhirnya memgempaskan tubuh Elara membuat perempuan itu nyaris terjatuh.
Elara berusaha berdiri—menyeimbangkan kembali bobot tubuhnya. Dia menatap Zricho lekat, tatapan kecewa dan marah menyatu di mata perempuan itu. Menahan napas sejenak, dia terkekeh lirih—menertawakan nasibnya sendiri.
"Bunuh aku sekalian, Mas! Bunuh!" hardik Elara, suaranya pecah meskipun bergetar.
Zricho menatap datar sang istri, tanpa mengatakan apa pun dia pergi meninggalkan kamar utama. Suara mesin mobil yang Elara dengar membuat tangannya kembali terkepal.
Tubuh Elara merosot ke lantai, dia menjambak rambutnya sendiri—menangis tanpa suara. Dadanya terasa dihantam dari dalam, rasa takut, gelisah, dan kecewa bercampur membuat jambakan Elara pada rambutnya semakin kuat.
Perempuan itu memeluk lututnya sendiri, dia masih tak menyangka jika takdir masih belum berpihak sedikit pun padanya.
"Tuhan, aku capek."
***
Sarti berulang kali mondar-mandir di depan pintu kamar utama. Dia sudah mengetuk pintu itu sejak pagi, tetapi sang pemilik kamar sama sekali tak memberikan respons, selain sebuah perintah untuk pergi.
Meremas gelisah tangannya, kali ini Sarti datang bersama Maryam. Kedua wanita berbeda usia itu saling pandang, lalu mengangguk. Kaki mereka melangkah mendekati pintu, kembali mengetuk dengan tempo sedikit lebih keras dari biasanya.
"Bu, ayo makan dulu. Ibu belum makan lho dari pagi, nanti Ibu sakit," kata Maryam sembari berteriak.
Hening. Tak ada jawaban dari dalam. Maryam dan Sarti menghela napas panjang. Keduanya tentu tahu ada pertengkaran kemarin malam, tetapi mereka sama sekali tak menyangka jika pertengkaran kemarin membuat sang tuan tak pulang ke rumah dan sang nyonya tak keluar dari kamar.
"Bu, udah Maryam masakin makanan enak, Ibu pasti suka. Ayo, Bu," teriak Sarti, berusaha membujuk sang majikan.
Di dalam kamar, tubuh Elara masih terbalut selimut. Dia membuka mata perlahan, tatapan sayu itu memancar ke seluruh kamar. Wajahnya pucat pasi dengan ekspresi kosong. Elara mengeratkan selimutnya, dia masih tertidur dalam posisi menyamping.
Suara-suara dari luar kembali terdengar, perempuan itu diam—tak merespons. Kepala Elara terasa berat dengan perut bergejolak, dia merasa mual dan merasa perutnya sakit dan perih. Elara terkekeh miris, dia semakin mengeratkan selimutnya. Matanya dipaksa terpejam, lalu bulir bening jatuh membasahi bantal dengan motif bunga itu.
"Aku capek, capek sama semuanya."
Kembali ke luar ruangan, Maryam dan Sarti saling pandang. Wajah keduanya khawatir, tatapan mereka terus tertuju pada pintu yang dikunci dari dalam dan kunci cadangannya sudah diambil Elara kemarin malam.
"Kayaknya kita harus nelepon bapak, Ibu bisa sakit kalau kayak gini," kata Maryam mengusulkan.
Sarti mengangguk setuju. Mereka terburu-buru menuruni tangga untuk menghubungi Zricho dengan telepon kabel.
Jari Sarti bergerak cepat menekan setiap nomor yang dia hafal di luar kepala, lalu menempelkan telepon itu di telinganya. Tak sampai lima menit, telepon itu diangkat—suara berat dan serak Zricho terdengar dari seberang sana.
"Pak, ini ibu enggak mau makan. Saya dan Maryam takut ibu sakit, Pak. Bapak tolong pulang dan bujuk ibu, ya."
Panggilan itu dimatikan sepihak, tak ada jawaban sama sekali. Sarti membuang napas, lalu meletakkan telepon itu ke tempatnya. Dia menatap Maryam, lalu menggeleng lesu pertanda tak ada harapan.
"Kita harus usaha lagi. Ibu bisa masuk rumah sakit kalau kayak gini," kata Maryam cemas.
Di sebuah apartemen mahal, seorang pria mengepalkan tangan setelah mendapatkan telepon dari rumah. Dia membuang tubuhnya ke sofa dengan kasar, pria yang hanya mengenakan celana pendek itu menghela napas panjang, lali memejamkan mata.
"Sialan! Drama sekali perempuan sial itu!"