Kafe di sekitar rumah sakit itu tampak ramai, tidak hanya oleh pengunjung luar rumah sakit, tetapi juga oleh beberapa tenaga kesehatan. Suasana kafe itu terasa tenang dengan suara musik ballad yang memenuhi ruangan dengan dekorasi estetik.
Suara tawa terdengar dari beberapa meja, bersamaan dengan suara berbisik yang berasal dari meja lain. Beberapa pelanggan adalah anak sekolahan yang baru saja pulang ataupun mereka yang tengah istirahat dan sekolahnya berada di dekat kafe.
Elara duduk di dekat jendela, dia mengaduk matcha pesanannya. Di hadapan perempuan itu, ada Ciela yang duduk rapi dengan pakaian santai yang terlihat modis. Perempuan yang berprofesi sebagai desainer yang sedang naik daun itu tampak cantik dengan riasan sederhana di wajahnya.
"Perlakuan suamimu nggak buruk 'kan ke kamu?" Ciela melontarkan pertanyaan itu, wajahnya mengkerut bingung dengan nada penasaran—menunjukkan dia khawatir dengan sang sahabat.
Elara menggeleng pelan, sedikit lemas dengan wajah memelas yang membuat Ciela semakin bingung.
Bahu Elara turun perlahan, wajahnya semakin lesu. Dia mengangkat gelasnya, lalu menyeruput matcha favoritnya dengan ogah-ogahan.
"Mulut tuh orang tajem banget. Dia bilang, dia benci aku. Emang aku ngapain dia?! Aku bahkan nggak lakuin apa pun, kayak di drachin yang ngejebak orang biar bisa nikah sama cowok kaya." Celotehan itu diucapkan dalam satu tarikan napas, temponya cepat, tetapi cukup jelas di telinga Ciela.
Ciela menghela napas, dia memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya dengan santai. "Mungkin karena dia jadi pengantin pengganti? Makanya dia benci kamu," kata perempuan itu menduga.
Elara diam sejenak, lalu mengedikkan bahu pertanda tak tahu. Dia tak pernah tahu pasti, karena obrolan dirinya dan Zricho bahkan tak pernah cukup penting.
"Entah, aku juga nggak tau," jawab Elara akhirnya.
Ciela memegang dagunya. Wajah perempuan itu tampak serius, dia tampak sedang memikirkan sebuah kemungkinan yang mungkin saja terjadi.
"Nggak ada yang mencurigakan gitu? Kayak dia punya pacar, jadi dia benci akhirnya malah nikah sama kamu," kata Ciela.
"Apa ya?" Elara berpikir sejenak, sampai akhirnya dia menjentikkan jari ketika mengingat sesuatu. "Dia larang aku masuk ke pintu warna biru di rumah! Tapi aku nggak tau itu pintu ada di mana, padahal rumahnya enggak besar-besar banget," lanjut Elara.
"Ya udah! Aku mau cari tau aja pulang dari RS, nggak bakal tau kalau nggak dicari tau," ujar Ciela mengusulkan.
Elara diam, menimang saran yang diberikan sahabatnya. Beberapa saat kemudian, dia tersenyum—senyum misterius yang membuat Ciela juga tersenyum samar.
***
"Pak, ini data mengenai restoran kita. Ada kenaikan omset sekitar 10% bulan lalu." Seorang pria dengan pakaian rapi menyerahkan dokumen dan meletakkannya di atas meja.
Zricho segera mengalihkan pandangan, dia menatap sekretaris sekaligus asisten pribadinya—Aldi dengan lekat.
"Bagus." Satu kata itu meluncur dari mulut Zricho, tak ada ekspresi berlebihan di wajah tampan pria itu.
Aldi mengangguk dengan senyuman tipis, sudah terbiasa dengaqn Zricho yang cenderung kaku dan cuek. Pria itu lalu memberikan dokumen dengan map biru tua kepada Zricho.
"Data tentang istri Anda, Pak. Dia merupakan dokter muda yang lulus dengan nilai terbaik. Di usianya yang ke-25 tahun, dia sudah berhasil menjadi dokter spesialis kandungan," jelas Aldi dengan nada pelan dan stabil.
"Tapi—"
"Tapi?" Zricho mendongak—mengalihkan pandangan dari dokumen tentang Elara, menatap Aldi dengan serius.
"Ternyata tuan Jazziel hanya menjadikan dia sebagai taruhan semasa kuliah dulu," lanjut Aldi, lalu menundukkan kepala.
Zricho mengangguk pelan. Dia meletakkan dokumen itu sedikit kasar. Punggung pria itu bersandar pada kursi kebesarannya, dia menatap Aldi dengan mimik wajah serius.
"Ah, jadi itu alasan anak itu melarikan diri di hari pernikahannya sendiri?" Suara dingin Zricho memecah ruangan direktur itu.
Kepala Aldi mengangguk patah-patah, pria itu menundukkan kepala dengan kedua tangan saling bertaut berada di depan tubuh.
"Sudah temukan keberadaan Jazziel?" tanya Zricho dengan tangan kanan memutar pulpen.
Aldi menggeleng pelan. "Belum, Pak. Anak buah kita masih mencari keberadaan tuan Jazziel," sahutnya.
"Oke." Singkat, padat, dan cukup jelas.
"Apa Bapak keberatan?" Aldi mengangkat kepala, dia menatap segan Zricho yang menatap heran dirinya. "Bu Elara ... dia—"
"Cukup! Jangan dibahas," potong Zricho.
Aldi mengangguk paham. Setelah berpamitan, dia segera pergi dari ruangan Zricho.
Sementara itu, Zricho menarik napas panjang. Dia membuka laci meja kerjanya, mengambil sebuah bingkai foto. Mata tajam pria itu memandang sayu bingkai itu, sedangkan tangan kanannya mengelus bingkai itu dengan gerakan perlahan. Ada luka, ada rindu, dan ada sedikit harapan yang tak pernah semesta restui di balik tatapan pria itu.
"Kamu bahagia sekarang?" ujarnya pada angin, nadanya sendu dan matanya memerah.
***
Elara berdecak sebal, dia hampir memutari seluruh rumah ini. Namun, dia sama sekali tak menemukan sebuah pintu yang sang suami maksudkan. Elara menunduk, memegang lututnya yang terasa nyeri. Setelah pulang dari rumah sakit, perempuan itu langsung beraksi mencari pintu yang Zricho maksudkan. Namun, sampai detik ini—pintu itu tak juga dia temukan.
"Ini rumah nggak terlalu besar, tapi sumpah capek banget! Di mana sih pintunya?!" kesal Elara, dia berdecak sekali lagi.
Saat Elara akan kembali melangkah, dia mengurungkan niat. Dari arah berlawanan, salah satu asisten rumah tangannya melangkah ke arahnya. Elara langsung menegakkan punggungnya, dia memaksa ekspresi manis yang tidak mencurigakan.
"Bu, Ibu cari apa? Daritadi Ibu muter-muter," kata Maryam dengan ekspresi bingung.
"Ini kalau aku bilang pasti bakal ditahan, pasti!" ujarnya dalam hati, dia mengangguk dengan mata terpejam dan bibir bawah yang digigit pelan.
Elara membuka mata. "Cuman mau lihat-lihat rumahnya, bagus ya," katanya.
Maryam tersenyum manis, dia mengangguk. "Banget, Bu. Kalau gitu saya ke dapur ya, harus siapkan makan malam," jawab Maryam sekaligus pamitan.
Elara mengangguk dengan senyuman lebar yang membuat matanya menyipit. Setelah kepergian Maryam, dia menghela napas lega. Elara mengusap d**a naik-turun.
"Untung. Ah, aku belum cek halaman belakang," katanya.
Dia segera pergi ke halaman belakang, terkadang Elara akan mengendap layaknya maling di rumah sendiri.
Di halaman belakang, Elara terperangah saat menemukan sebuah pintu yang Zricho maksud. Dia menoleh ke kiri dan kanan, pun ke belakang untuk memastikan kondisi aman. Setelah dirasa aman, dia berdecak kagum seraya menepuk tangan heboh.
"Beneran ada?! Pintu terlarang ya dilarang dibuka sama suami kanebo kering itu?!" seru Elara, tak percaya.
Dia berdeham, menormalkan mimik wajah. Teringat tujuannya, Elara segera melangkah mendekati pintu tersebut. Saat sudah di depan pintu, dia mengusap pintu itu—tekstur halus dan sedikit dingin Elara rasakan di tangannya. Dia berdecak berulang kali, perempuan itu menerka apa yang ada di dalam sana.
"Ada apa ya? Apa mas Zricho nyimpen ceweknya di dalam?" kata Elara pada diri sendiri.
"Ah!" Elara segera menggeleng dan mengusir berbagai kemungkinan yang ada di pikirannya. "Kalau nggak dibuka mana tau."
Tangan Elara terulur, dia memegang gagang itu. Saat akan menekan gagang pintu itu, tangannya ditarik dengan kasar. Elara meringis kuat—matanya bahkan sampai terpejam, dia berusaha melepaskan cengkeraman pada pergelangan tangannya. Akan tetapi, semakin kuat juga cengkeraman itu mencengkram pergelangan tangannya.
"Apa kamu tidak paham bahasa manusia, Elara?!" Suara dingin Zricho dengan sedikit bentakan berhasil membuat Elara terkesiap. Matanya langsung membulat saat mendapati sang suami dengan mata memeran dan wajah mengeras—menatapnya seakan ingin mencabik tubuhnya.