Elara menatap pantulan dirinya di cermin, perempuan itu tersenyum puas melihat tubuhnya dibalut dengan blouse simpel berwarna netral dan bawahan senada, tidak lupa dengan sepatu hak kecil yang menopang kaki kecil perempuan itu.
Elara mengambil parfum—menyemprot pelan di seluruh tubuhnya, aroma vanila yang bercampur dengan sedikit aroma bunga menyatu dengan aroma kamarnya. Perempuan itu terlihat bersemangat dan begitu rapi di pagi hari, Elara memancarkan energi positif ke sekelilingnya.
"Nah, cantik!" ujarnya perempuan itu merasa puas.
Kepala Elara tertoleh, dia melihat Zricho yang masih tertidur pulas. Untuk sejenak, Elara terdiam—lalu membuang napas kasar. Perempuan itu melangkah mendekati ranjang, dia duduk di tepi ranjang.
Menatap lamat wajah polos sang suami yang tengah tertidur, Elara mengusap pipi Zricho dengan lembut. Saat pria itu merasa terganggu dan melenguh pelan, Elara segera menarik tangan—dia mengusap dadanya, tak menyangka menyentuh Zricho akan terasa begitu menegangkan.
"Mas, bangun! Ini udah pagi, lho. Emang Mas nggak ke kantor?" Suara cempreng Elara bergema, berhasil mengusik tidur Zricho.
Zricho membuka mata perlahan. Melihat itu, Elara langsung berdiri—dia sempat menatap sang suami cukup lama, memastikan pria itu sudah benar-benar terbangun. Lalu, Elara keluar dari kamar tanpa mengatakan apa pun, meninggalkan Zricho yang masih mengumpulkan nyawa di dalam kamar dengan wajah mengantuk.
Di bawah, aroma roti panggang dengan selai cokelat dan kacang menguar—memenuhi ruang makan itu. Segelas s**u dan secangkir kopi hitam tertata di atas meja. Aroma kopi hitam khas favorit Zricho itu menyatu dengan aroma roti panggang.
Elara menata semuanya, agar terlihat presisi dan juga rapi. Di tengah meja, beberapa buah berada dalam tempatnya. Apel, anggur, pisang, jeruk, dan mangga. Semua buah yang Elara tahu jarang sekali disentuh sang suami, tetapi entah mengapa selalu ada di atas meja—mungkin sebagai pemanis.
"Kata bi Sarti, dia nggak suka buah, tapi ini ada buah. Pajangan doang kali, ya?" Begitulah ucapan Elara kala itu.
Suara langkah kaki yang mengisi rumah minimalis itu langsung mengalihkan perhatian Elara. Perempuan itu tersenyum begitu tipis menyambut Zricho yang sudah rapi dengan setelan kantornya—sebuah kemeja putih yang dibalut jas berwarna biru navy dan celana kain senada, pun sepatu pantofel mahal yang ada di kakinya.
Zricho menarik kursi dengan sedikit kasar, lalu duduk di tempatnya. Mata tajam pria itu menatap menu sarapan yang tertata rapi di atas meja, lalu meraih menatap Elara yang sudah duduk dan tengah memainkan ponselnya.
"Ini buatan kamu?" tanya Zricho.
"Iya," sahut Elara, tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel. Nada suaranya tenang, tanpa ada emosi apa pun.
"Ternyata kamu jalanin peran kamu dengan baik," cibir Zricho, wajah pria itu datar dan nada suaranya dingin.
Elara langsung mendongak, dia mengalihkan pandangan dari ponselnya. Perempuan itu meletakkan ponselnya di samping piring, dia melipat tangan di atas meja—menatap sang suami dengan tatapan kesal.
"Maksud kamu apa ya ngomong begitu?" tanya Elara, nadanya kesal dan raut wajah kesalnya tak bisa dia kondisikan.
Pria itu mengedikkan bahu tak peduli sembari menggigit roti panggang dengan selai kacang favoritnya. Dia sama sekali tak melihat wajah kesal sang istri—pipi yang menggembung, mata yang melotot, dan bibirnya yang terus saja mengeluarkan sumpah serapah dengan suara lirih.
"Yang saya tahu kamu secinta itu ke Jazziel, wajar saya bertanya, 'kan?" Perkataan Zricho itu membuat Elara mendengus kesal, tetapi pria itu sama sekali tak peduli—dia justru meraih tisu dan membersihkan mulutnya dengan gaya elegan.
Zricho meraih cangkir porselen itu, panas kopi masih bisa dia rasakan, walaupun suhunya mulai sedikit dingin. Dia menyesap kopinya pelan, ada rasa pahit yang sama sekali tidak mengecewakan. Kepala Zricho mengangguk pelan, dia merasakan ada yang beda dari rasa kopi yang dia minum pagi ini.
Meletakkan cangkirnya perlahan, dia menatap Elara. "Saya baru tahu, perempuan seperti kamu juga pandai membuat kopi," katanya, terdengar menyindir.
"Mas tuh kenapa, sih?! Suka banget nyindir aku, baru juga dua hari jadi istri Mas udah naik darah aja aku!" sembur Elara dengan nada kesal dan pipi menggembung.
"Saya tidak menyindir kamu, tetapi jika kamu tersindir itu urusan kamu."
Jawaban menyebalkan Zricho membuat Elara menahan napas untuk sejenak. Tangan perempuan itu terkepal—menggenggam erat garpu dan sendok yang ada di tangannya. Dia mendongak—menatap kesal Zricho yang lebih tinggi karena pria itu sudah berdiri sejak beberapa menit lalu.
"Terserah, Mas!" ketus Elara.
Zricho tak memberikan respons berlebihan. Dia mengambil dompetnya di dalam saku celana, lalu mengeluarkan sebuah kartu hitam yang Elara tahu betul apa fungsi dan kegunaan kartu itu.
"Uang bulanan kamu ada di sini semua, terserah untuk apa. Untuk keperluan rumah tangga dan gaji pekerja di rumah ada di kartu ini." Zricho dengan mudahnya memberikan dua kartu pada Elara.
Elara berhenti mengunyah, kepala perempuan itu masih mendongak dengan mulut sedikit terbuka dan memperlihatkan sisa roti yang belum dia telat. Perempuan itu menerimanya, tanpa ragu dan tanpa drama tangan bergetar.
"Oke, makasih, Mas. Kirain bakal kayak yang lagi viral," kata Elara setelah dia mengendalikan ekspresinya.
"Saya berangkat dulu. Kamu bisa pakai mobil sendiri, 'kan?" Zricho menatap lekat sang istri yang kembali menghabiskan sarapan miliknya.
Kepala Elara mengangguk, pelan dan terlihat lucu. Dia sama sekali tak menatap sang suami. Zricho mengangguk, dia segera mengambil ponselnya dan berjalan meninggalkan ruang makan dan Elara sendirian di sana.
***
Aroma lavender dan obat-obatan samar tercampur di udara. Pendingin ruangan bekerja konstan, menjaga suhu agar tetap stabil dan sejuk. Ruangan itu begitu bersih dan rapi, seolah sebutir debu pun tak boleh menetap di ruangan itu.
Di ruangan itu, ada banyak kabar yang dibagi: kabar bahagia yang mampu menciptakan tangis haru ataupun kabar duka yang membawa pulang kekecewaan.
Barang-barang di ruangan itu disusun dengan presisi. Meja kerja di sebelah kanan dengan komputer dan map rekam medis yang tersusun rapi. Tidak jauh dari meja kerja, ranjang periksa dengan kain putih bersih melapisinya ada di dekat dinding, lalu sebuah mesin ultrasonografi dengan layar menghadap dokter.
Lampu pemeriksaan di ruangan itu menyorot seorang wanita yang terbaring di atas ranjang. Di sisi ranjang, Elara berdiri dengan tangan yang dilapisi handscoon memegang fetal doppler. Elara menatap layar monitor dengan tatapan tenang, seolah apa yang dia lihat bukanlah kali pertama. Napasnya tetap tenang, tidak berat dan tidak juga terburu.
Di layar monitor, kursor itu tidak menemukan apa pun, bukan karena alatnya rusak, bukan juga karena usia kehamilan terlalu muda.
"Bu." Suara lembut Elara memecah keheningan, dia menatap wanita yang menjadi pasiennya dengan hangat.
"Saya hamil 'kan, Dok? Saya yakin saya hamil, Dok. Saya udah telat dua bulan," jawabnya, ada sedikit harap dan nada antusias yang Elara dan Mia—perawatnya tangkap.
"Iya." Elara menjawab, tanpa ada kebohongan, tetapi ada jeda sejenak di suaranya. "Ibu memang benar, tapi kehamilan ini tidak ada di rahim, janin Ibu tidak ada di rahim," lanjut Elara, suaranya tertahan di tenggorokan.
Wanita 29 tahun itu terdiam, menatap tak mengerti ke arah Elara. Wajahnya bingung bercampur rasa takut, jantungnya berdetak kencang—seolah tahu ini adalah kabar buruk untuk dirinya dan keluarga.
"Janinnya tumbuh di saluran tuba, kalau dibiarkan saluran itu bisa pecah. Ibu bisa mengalami pendarahan," jelas Elara, dia menatap pasiennya dengan tatapan menyesal—seolah dia gagal menyelamatkan satu nyawa.
Mata pasien itu berkaca-kaca, dia memandang Elara dengan tatapan kecewa. "Jadi kehamilan ini nggak bisa dilanjut, Dok?" Dia bertanya, meski suaranya bergetar dan terlalu pelan.
Elara mengangguk, dia tak menghindari tatapan wanita malang di hadapannya.
Detik itu juga, tangis seorang wanita yang akan menyandang gelar ibu pecah. Harapan, kebahagian yang akan dirajut dengan sang suami harus terhenti di tengah jalan. Dia menangis kencang tanpa peduli di mana dia berada, menyalahkan takdir dan Tuhan.
Untuk kesekian kalinya juga, Elara menjadi saksi dari kabar duka yang tak pernah bisa dia ubah menjadi kabar bahagia. Perempuan itu masih berdiri di tempat yang sama, dengan d**a yang terasa terhimpit dan mata yang memanas.
Elara dan perawatnya diam, memberikan ruang untuk pasien mereka menangis. Tak ada suara, hanya suara tangis yang memenuhi ruangan itu. Elara menatap pasiennya, ikut berduka mengenai kabar tidak mengenakkan itu.
"Ternyata menjadi seorang Ibu memang impian semua perempuan, ya."