Elara memandang bangunan di hadapannya, didominasi warna putih dan dikelilingi oleh tanaman hias yang berada di dalam pot. Pandangan perempuan itu menilai menyeluruh rumah yang bisa dikatakan tak terlalu besar dan tak terlalu kecil itu—cukup untuk dua sampai tiga orang di dalamnya.
Di dalam hati, Elara mengagumi selera Zricho yang bisa dikatakan begitu sederhana, tetapi cukup terlihat berkelas dan mahal. Mungkin memang karena pria itu terbiasa hidup mewah sejak dia kecil, rumah sesederhana ini pun rasanya terlihat mewah. Padahal Elara sendiri mempunyai desain rumah impian sejak dia menginjak bangku sekolah menengah pertama.
Elara menoleh ke belakang, dia melihat pria dengan pakaian supir yang tengah menuruni koper dan beberapa barang bawaannya. Perempuan itu berdeham pelan, niatnya menarik atensi pria paruh baya itu.
"Pak Bondan, di sini ada pembantu enggak?" tanyanya.
"Ada, Bu. Bapak naruh dua pembantu, satu khusus untuk bersihin rumah, satu khusus masak. Untuk cucian biasa dibawa ke laundry sama pembantu," sahut Bondan, kepalanya menoleh ke belakang—menatap sang majikan.
Elara mengangguk mengerti. Dia sedikit bergeser, memberi ruang untuk sang supir melangkah lebih dulu dan membawa barangnya. Sementara itu, Elara melangkah pelan—setiap langkah perempuan itu, seolah tengah mengenali setiap sudut rumah.
"Selera dia bagus, ya. Enggak kayak selera cowok," ungkap Elara tanpa merasa curiga.
Rumah itu tidak besar, tetapi tertata dengan presisi yang tenang. Dinding-dinding berwarna netral memantulkan cahaya alami dari jendela-jendela tinggi, membuat ruangan terasa lapang tanpa perlu banyak ornamen. Tangga kayu dengan pegangan besi hitam berdiri anggun di sisi ruangan, sederhana, tetapi jelas dipilih dengan pertimbangan estetika. Tidak ada kemewahan yang berisik—semuanya hadir dalam bisu yang berkelas.
Elara berhenti sejenak di ruang tengah. Matanya menyapu sofa berpotongan tegas, meja rendah dengan permukaan marmer pucat, serta satu lukisan abstrak yang digantung tanpa bingkai berlebihan. Rumah ini tidak berusaha memamerkan apa pun, tetapi justru di situlah kesan mahal itu bersemayam: pada kepercayaan diri untuk tetap sederhana.
Dia tersenyum tipis. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan, seolah rumah ini dibangun bukan untuk dipuji, melainkan untuk ditinggali. Untuk pulang. Dan tanpa dia sadari, Elara mulai merasa seolah dirinya memang seharusnya berada di sana.
"Keren, rumahnya buat aku ngerasa pulang. Vibes-nya itu lho, nenangin," ucap Elara membuat Pak Bondan tersenyum mendengarnya.
"Mari saya antar ke kamar, Bu," kata Bi Surti sembari membungkuk hormat dan mengarahkan tangan kanannya ke tangga.
Elara mengangguk tanpa rasa sungkan. "Terima kasih, Bi. Di sini Bibi yang masak?"
"Bukan, Bu. Maryam yang masak, kebetulan dia lulusan SMK jurusan tata boga, jadi rasa masakannya enggak usah diraguin," jelas Bi Sarti.
Kepala Elara mengangguk, wajahnya seakan tengah mencoba memahami struktur rumah ini, lalu kedua sudut bibir perempuan itu terangkat. Sepertinya dia akan nyaman tinggal di rumah yang berhasil menarik dirinya untuk menetap sedikit lebih lama.
***
Malam datang, sedikit berisik dengan suara gemuruh dan kilat yang menyambar. Beberapa orang memilih untuk meneduh sejenak di warung-warung kopi pinggir jalan atau sekadar warteg yang masih beroperasi. Beberapa lagi, memilih tetap menjalankan kendaraan dengan jas hujan yang melindungi tubuhnya, dan beberapa ada di dalam mobil—mengendara dengan tenang, dengan kecepatan pelan. Tak sedikit juga yang memilih menerobos, berlari dengan tas yang menjadi pelindung kepala.
Malam ini, Jakarta terasa sedikit lebih sibuk dari biasanya. Meskipun hujan, tetapi Jakarta seakan tak pernah punya waktu untuk istirahat. Semesta seolah melarang Jakarta untuk mengambil napas sejenak, agar semuanya kembali tenang dan lenggang.
Di kafe-kafe, orang-orang tidak merasa terusik. Suara musik masih terdengar mengalun—suaranya beradu dengan gemuruh di luar sana. Akan tetapi, orang-orang di dalamnya justru bertepuk tangan dan menggerakkan kepala mengikuti irama musik. Aroma kopi, burger, cokelat panas, dan berbagai jenis hidangan dari yang berat sampai ringan menyatu di udara—membawa hawa lapar di tengah dingin yang menusuk.
Di tempat berbeda, di kediaman Zricho dan Elara—perempuan itu keluar dari kamar. Dia mengeratkan cardigan yang dia kenakan, bertepatan dengan dia yang menutup pintu, Zricho kembali dari kantor dengan penampilan yang sedikit berantakan—jas pria itu tersampir di bahu lebarnya. Elara menatap pria itu sekilas, lalu bergeser dan membiarkan Zricho masuk ke dalam kamar.
Elara terdiam untuk beberapa saat. Perempuan itu menekan gagang pintu, lalu masuk ke dalam kamar. Dia melihat sang suami yang duduk di sofa dengan wajah keruh—guratan lelah itu bisa Elara lihat. Dia berdeham pelan, lalu melangkah mendekati Zricho dan berdiri di hadapan pria itu.
"Mas capek ya?" tanya Elara, dia mencoba untuk berbasa-basi.
Elara tak mendapatkan balasan berlebih, hanya dehaman pelan. Hal itu sedikitnya berhasil membuat Elara merasa kesal, tetapi perempuan itu tak begitu peduli. Dia memilih duduk di samping Zricho, mengabaikan tatapan tajam pria itu.
"Setelah mandi, Mas langsung makan aja. Maaf aku enggak nunggu Mas, aku udah kelaperan banget," ujar Elara, dibarengi sebuah cengiran di akhir.
Zricho mengangguk pelan, kembali memberi respons yang tak terlalu berlebihan. "Tidak masalah," jawabnya.
Zricho meletakkan jasnya di sofa, pria itu langsung berdiri—dia berencana akan ke kamar mandi dan membersihkan diri. Namun, baru saja melangkah beberapa langkah—suara lembut dan sedikit cempreng milik Elara telah lebih dahulu menghentikan langkah Zricho.
"Desain rumahnya bagus, ini Mas yang desain sendiri?" tanya Elara penasaran, wajahnya tampak jelas menanti jawaban dari sang suami.
Zricho nyaris kehilangan keseimbangan karena posisi kakinya. Untuk sejenak tubuh pria itu sedikit menegang, tetapi dia telah lebih dulu merilekskan tubuhnya, sebelum Elara sempat sadar dengan apa yang terjadi pada respons tubuh sang suami.
Pria itu mengusap kasar wajahnya, kepala Zricho lantas mengangguk—kaku dan ragu, berhasil membuat Elara menaruh curiga untuk sejenak.
"Beneran kamu, Mas?" tanya Elara, sedikit ada nada curiga di suara perempuan itu.
"Iya, untuk apa kamu banyak bertanya? Intinya saya tidak membuat kamu menjadi gelandangan, Elara," kata Zricho sedikit sinis.
Elara sempat tersentak beberapa saat, tetapi dia langsung mengedikkan bahu tak peduli.
"Ya, sebagai istri emang salah nanya, ya? Padahal aku mau puji selera kamu bagus, lho. Bikin aku betah tinggal di sini, walau aku punya rumah impian," jawab Elara, nada perempuan itu datar tanpa ada emosi apa pun di dalamnya.
Zricho menghela napas panjang. Pria itu lalu memutar tubuh menghadap istri kecilnya, dia menatap Elara dengan serius—seolah apa yang akan keluar dari mulutnya harus didengarkan dengan baik oleh Elara.
"Ada pintu warna biru, kamu jangan pernah masuk ke sana!" titah Zricho, seperti sebuah larangan mutlak yang tak boleh Elara bantah.
"Emang kenapa?" Satu alis Elara terangkat, dia memandang aneh sang suami. "Kamu nyimpen sesuatu?" sambungnya dengan mata memicing.
"Nurut." Zricho mendengus, lalu membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Elara mendengus pelan saat pintu kamar mandi ditutup sedikit lebih keras. Dia memutar malas bola matanya, tetapi ada sedikit raut penasaran yang menempel di wajah cantik perempuan itu.
"Emang di rumah ini ada ya pintu warna biru? Terus kenapa aku enggak boleh masuk?" tanyanya pada diri sendiri.