Elara menahan napas, tatapan tajam Zricho berhasil membuat dirinya tak berkutik. Elara menelan kasar air liurnya, dia membuang muka saat wajah Zricho semakin dekat. Perempuan itu berusaha mendorong d**a Zricho untuk menjauh, tetapi sedikit pun Zricho tak berkutik.
Zricho menekan bahu Elara agar perempuan itu tak terlalu banyak bergerak. Mencengkeram rahang Elara, dia mengarahkan wajah perempuan itu agar menghadapnya. Kepala Zricho menunduk, menatap tajam sosok perempuan yang kini telah resmi menyandang status nyonya Teriaz.
"Jangan pernah bermain-main dengan pernikahan ini, Elara. Saya hanya menikah satu kali dalam seumur hidup saya," tukas Zricho dengan penuh penekanan.
Elara mengembuskan napas kasar, dia mendengus kesal. Perempuan itu menghempas tangan Zricho yang mencengkeram rahangnya—kedua tangan Elara berada di pinggang, kepala perempuan itu mendongak—menatap sinis Zricho yang justru terlihat menggemaskan di mata pria itu. Tubuh pendek Elara rasanya terlalu tak sebanding dengan tubuh Zricho yang menjulang tinggi.
"Kita ini menikah tanpa cinta, Om! Apa yang Om harapun, ha?!" sentak Elara, nadanya kesal dan napasnya sedikit terengah.
Zricho menarik pinggang Elara, memeluknya dengan erat—seolah tak akan membiarkan Elara menjauh dari hadapannya. Dia juga menekan tubuh Elara sehingga tubuh Elara dan dirinya menempel sempurna. Elara yang berusaha berontak diabaikan, pria itu hanya menatap tajam perempuan kecil di hadapannya. Perempuan yang seharusnya menjadi istri dari ponakan yang telah dia rawat sejak kecil.
"Saya suami kamu, Elara. Panggil saya Mas!" Itu bukan kalimat yang bisa Elara bantah, dia tahu betul. Akan tetapi, Elara tak akan mau tunduk semudah itu pada sang suami.
"Mas? Enggak akan! Aku—"
Mulut Elara terkatup, matanya melotot kecil—terkejut, dengan mata mengedip perlahan. Pikiran Elara kosong, rasa asing dari benda kenyal dan tebal yang baru saja menempel di bibirnya terasa begitu asing. Menyentuh bibir sendiri, Elara lalu mendongak—menatap Zricho dengan pandangan bingung, seolah dia tengah hilang arah sekarang.
"Jika kamu tetap memanggil saya Om, maka saya akan menghukum kamu," bisik Zricho, suara pria itu rendah dan dia dengan sengaja meniup ujung telinga Elara yang membuat perempuan itu mendesis.
Elara segara tersadar. Dia menatap sinis Zricho, perempuan itu memukul d**a Zricho berulang kali dengan wajah kesal. Namun, bagi Zricho itu bukanlah apa-apa, hanya pukulan dari tangan mungil yang tengah mencoba membuatnya takut.
"Nyari kesempatan banget, sih?!" protes Elara, matanya melotot lucu.
"Kamu istri saya sekarang, Elara." Zricho mengedikkan bahu, wajahnya terlihat menyebalkan di mata Elara. "Saya berhak, bahkan melakukan lebih."
Mata Elara semakin melotot mendengar ucapan terakhir Zricho. Dia mendengus, melepas paksa pelukan Zricho pada pinggangnya. Perempuan itu lantas membalikkan badan—membelakangi Zricho, dia melipat tangannya di depan d**a—enggan menatap sang suami.
"Jalankan peran kamu sebagai istri, meskipun saya membenci kamu." Kalimat bernada datar itu diucapkan Zricho dengan suara rendah, lalu dia pergi keluar dari kamar pengantin dengan santai—tanpa rasa bersalah.
Sementara itu, Elara melongo—dia menunjuk diri sendiri dengan ekspresi bodoh yang terlihat menggemaskan secara bersamaan. Perempuan itu menghentakkan kaki berulang kali di lantai, kedua tangan Elara terkepal di kedua sisi tubuhnya.
"Benci aku?! Emang aku ngapain dia, sih?! Dia pikir aku mau gitu nikah sama dia?!" sembur Elara dengan kesal.
***
Sinar matahari menelusup masuk melalui celah tirai dari kamar royal suite itu. Cahayanya memantul ke dinding putih polos, membawa hangat ke dalam kamar yang cukup dingin karena pendingin ruangan.
Tak ada apa pun yang terjadi di kamar pengantin malam itu, pasangan yang baru saja resmi berganti status itu hanya tidur dalam satu ranjang yang sama, tanpa adanya drama layaknya cerita novel. Semua berjalan sebagaimana semestinya.
Elara melenguh, dia membuka kedua mata perlahan. Hal pertama yang menyambut matanya adalah sosok Zricho yang baru keluar dari kamar mandi, rambut pria itu setengah basah—airnya menetes membasahi tubuh telanjangnya. Elara buru-buru menutup mata, dia juga mengangkat tangan dan menempelkannya di depan mata. Jantung perempuan itu berdebar kencang, untuk kedua kalinya dia melihat pemandangan seindah ini.
"Aduh, gila. Jazziel bahkan enggak sekeren itu badannya," batin Elara, sedikit kagum.
Perempuan itu membuka sedikit celah di antara jarinya, lalu mengintip Zricho yang tengah mengusap rambutnya dengan handuk. Mulut Elara terbuka—menganga kecil melihat pemandangan yang sungguh memanjakan mata di pagi hari.
"Ini dijamin panjang umur, sih," gumam Elara, suara perempuan itu lirih.
"Saya tahu kamu sedari tadi melihat saya," celetuk Zricho seraya meletakkan handuk kecil di tempatnya.
Elara melotot kecil, merasa malu karena ketahuan. Dia menurunkan tangan perlahan, lalu menyengir. Perempuan itu mengubah posisi menjadi duduk, dia menarik selimut hingga sebatas d**a, lalu memegang erat ujung selimut.
"Maaf ya ganggu O—Mas, maksudnya," katanya sembari cengengesan dengan wajah tak bersalah.
Zricho hanya melirik sekilas, tak ada ekspresi berlebih di wajah tampan pria itu. Dia berjalan menuju cermin, melihat pantulan dirinya yang sudah rapi dengan setelan kantor.
Elara melihatnya, lekat dan intens. Meskipun tak pernah bertegur sapa sebelumnya, tetapi Elara tahu betul jika Zricho merupakan seorang Direktur dari perusahaan yang bergerak di bidang produksi makanan cepat saji.
"Mas ke kantor hari ini?" tanya Elara dengan nada penuh hati-hati, seolah takut menyinggung pria yang kini menjadi suaminya.
"Iya." Zricho mengangguk. "Nanti akan ada supir yang menjemput kamu, kamu akan diantar ke rumah kita. Barang kamu juga sudah di sana," lanjutnya.
Kepala Elara mengangguk perlahan dengan ekspresi bingung, merasa asing dengan perlakuan Zricho yang sedikit hangat. Elara masih diam di atas ranjang, dia menatap Zricho yang tengah menata rambutnya, lalu pria itu keluar dari kamar tanpa mengatakan apa pun.
Berdecak sebal, Elara mendengus. Perempuan itu menyibak selimut dengan kasar.
"Pamitan kek, apa gitu?! Dikira aku patung kali, ya?!" celotehnya.
Kaki kanan Elara lebih dulu menginjak lantai, dia lantas turun dari ranjang. Perempuan itu melangkah menuju meja rias, melihat wajahnya di depan cermin dengan tatapan kesal. Hari pertamanya menjadi istri terasa monoton dan juga sedikit menyebalkan, karena sikap Zricho.
"Sehat-sehat mentalmu, Ra!" ujarnya menyemangati diri sendiri.
***
Kafe yang tengah ramai di kalangan gen z itu tampak ramai setiap harinya. Desain kafe yang cukup estetik dengan banyaknya spot foto dan lampu-lampu LED yang begitu cantik menghiasi setiap sudut. Terkadang lagu-lagu yang tengah viral pun terdengar mengalun dari speaker tersembunyi, menambah vibes menyenangkan dan tak ketinggalan zaman.
Di salah satu meja, dua orang perempuan duduk berhadapan. Di hadapan mereka sebuah matcha latte dan cokelat panas tersaji, lalu ada dua buah ponsel dengan merk ternama yang harganya mencapai puluhan juta—tergeletak dengan layar gelap begitu saja.
"Dia enggak mau cerai atau nikah kontrak, El." Helaan napas itu terdengar dari mulut seorang perempuan dengan cardigan abu-abu yang dipadukan celana jeans.
Ciela menggeleng tak habis pikir. "Iya jelas, dong, Ra. Siapa sih yang mau nikah buat cerai? Kamu nih jangan kebanyakan nonton drama pendek China sama baca novel deh, otak kamu jadi tercemar dan agak-agak tau!" keluh Ciela sebagai respons.
"Ya, siapa tau dia mau?" Elara mendengus, bibirnya maju beberapa sentimeter. "Lagian nikah juga tanpa cinta, tapi kok dia nolak, sih?" lanjut Elara sedikit kesal.
Ciela menghela napas lelah. Dia mengambil cangkirnya, menyesap pelan cokelat panas yang dia pesan. Perempuan itu meletakkan cangkirnya perlahan, lalu tatapan Ciela mengarah pada Elara—serius, tetapi tetap tenang.
"Ya berarti dia waras, Ra. Nggak ada orang yang mau nikah cuman untuk coba-coba, ya, Ra. Iya, paham kalian nikah karena keadaan, tapi jangan jadiin candaan. Papamu apa nggak bakal makin ngomel dan marah nanti? Yang waras aja deh, Ra," cetus Ciela dengan suara pelan dan lembut, mencoba sabar menghadapi Elara.
Bahu Elara melemas. Perempuan itu melipat tangan di atas meja, ekspresinya berubah lusuh dengan tatapan pasrah. Ciela yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala, sudah tak heran dengan Elara yang terlalu banyak drama.
"Ini takdir kamu, Ra. Pasti ada alasan kenapa semua ini terjadi," ujar Ciela, tanpa merasa lelah mencoba membuat sahabatnya mengerti.
"Takdir yang terlalu mempermainkan aku, El. Gimana kalau aku dan dia sampai kapan pun nggak saling cinta? Percuma pernikahan ini tanpa pondasi," sahut Elara, suaranya lemah dan sedikit bergetar.
"Dari mana kamu menyimpulkan akan selamanya? Kalian baru sehari menikah, kita enggak tau kedepannya," sanggah Ciela.
"Kan kalau seandainya." Elara mengulang ucapannya dengan penuh penekanan, tatapannya kini berubah serius—berhasil membuat Ciela terdiam beberapa saat.