Elara membuka pintu dengan cepat, dia bahkan berani untuk membanting pintunya. Elara menatap datar pria yang berstatus ayahnya, dia tetap tenang meskipun pria di hadapannya tengah dalam keadaan marah, rahang yang mengeras—mata yang berkilat penuh amarah. Elara tetap mempertahankan wajah datarnya, menghadapi ayahnya dalam kondisi marah bukan hal pertama. Elara sudah menghadapi pria itu selama 25 tahun dia hidup. Elara menyandarkan punggungnya di tembok, menatap Darma dan Laras dengan malas, lalu satu anak kecil laki-laki berusia sepuluh tahun yang merupakan adik tirinya. "Berisik! Papa mau apa, sih?" tanya Elara, nadanya tak ramah—terlalu dingin untuk percakapan dengan seorang ayah. "Apa kamu bisa bersikap baik ke mamamu, Elara?! Mama Laras yang selama ini merawat kamu, bukan mamamu yang

