bc

90 hari bersama CEO buta

book_age18+
249
IKUTI
1K
BACA
family
drama
bxg
wild
like
intro-logo
Uraian

Bagi Lexsa, hidup hanyalah hitungan hari. Vonis dokter membuatnya sadar bahwa waktu yang ia miliki tak lebih dari tiga bulan. Bukannya menghabiskan sisa hidup untuk dirinya sendiri, Lexsa justru memilih menjadi sukarelawan di sebuah panti rehabilitasi tunanetra — tempat ia bertemu Davin, seorang pria buta yang angkuh, dingin, dan galak.Davin selalu menolak bantuan, menutup diri dari semua orang, seakan dinding tinggi mengelilingi hidupnya. Namun Lexsa, dengan kelembutan dan keteguhan hatinya, terus berusaha menembus benteng itu. Hari demi hari, pertemuan mereka berubah dari pertengkaran kecil menjadi percakapan panjang yang diam-diam menghangatkan hati.Namun, Lexsa menyimpan rahasia besar — kenyataan bahwa setiap senyum dan perhatian yang ia berikan adalah bagian dari perpisahan yang perlahan mendekat. Dan ketika Davin mulai membuka hati, waktu justru semakin kejam menghitung mundur.Mampukah cinta yang lahir dalam gelap bertahan, ketika cahaya yang mereka punya nyaris padam?

chap-preview
Pratinjau gratis
Sisa waktu
Di dalam ruang rawat yang remang dengan aroma antiseptik yang tajam, Davin duduk di atas tempat tidurnya. Detak jantungnya berpacu lebih cepat daripada biasanya, seolah menandai detik-detik paling berharga dalam hidupnya. Setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelapan, hari ini adalah hari yang menentukan—hari di mana dunia mungkin akan kembali terbuka di hadapannya. Seorang dokter dengan wajah penuh ketelitian tengah berdiri di sisi kanan, sementara seorang suster muda tampak berhati-hati membuka perban tebal yang menutupi kedua mata Davin. Setiap lilitan kain yang terbuka membuat d**a Davin kian sesak oleh harapan. “Bersiaplah, Tuan Davin. Cahaya pertama mungkin akan sedikit menyilaukan,” ucap dokter itu lembut. Davin hanya mengangguk kecil. Tangannya menggenggam erat selimut rumah sakit yang menutupi pahanya. Ia berusaha menenangkan diri, namun jantungnya berdegup seakan melompat keluar. Perban terakhir akhirnya terlepas. Cahaya putih dari lampu neon di langit-langit menyentuh retina yang sudah lama terkubur dalam gelap. Samar-samar, hanya siluet kabur yang terlihat. Davin berkedip beberapa kali, matanya terasa perih, namun perlahan dunia mulai menampakkan wujudnya kembali. Garis-garis cahaya menjadi bentuk. Bayangan berubah menjadi nyata. Air mata mengalir tanpa bisa ia cegah. “Aku… aku bisa melihat…” bisiknya parau, nyaris tak percaya. Suster yang sejak tadi mendampingi tersenyum hangat. “Selamat, Tuan. Operasinya berhasil.” Davin menoleh dengan gemetar, mencari wajah yang paling ia rindukan. “Lexsa?” panggilnya lirih. Namun tidak ada jawaban. “Apa suster tahu… di mana kekasihku, yang selalu menemaniku selama ini?” “Iya,” jawab sang suster pelan. “Beliau keluar sebentar.” Hati Davin terasa kosong seketika, padahal ia sudah begitu siap melihat senyum yang selama ini hanya bisa ia bayangkan. Dokter menepuk pundaknya. “Penglihatanmu mungkin masih butuh waktu untuk benar-benar stabil, tapi kau bisa berterima kasih pada kekasihmu. Dia yang paling gigih memastikan kau mendapat perawatan terbaik.” Setelah itu, dokter dan suster berpamitan keluar ruangan. Namun sebelum meninggalkan tempat, suster menyerahkan sesuatu. “Tuan, kekasih Anda menitipkan ini.” Sebuah secarik kertas lipat sederhana. Davin menatapnya penuh rasa ingin tahu, lalu dengan tangan bergetar ia membuka lipatan itu. Aroma samar parfum yang begitu ia kenal terhembus dari kertas tersebut. Jemarinya menyusuri huruf-huruf yang ditulis tangan, setiap lekukan tinta terasa seperti bisikan yang datang dari hati Lexsa. Dear Davin.. Aku tahun saat kau membaca surat ini maka kau pasti sudah dapat melihat, aku ingin ucapkan selamat atas keberhasilan operasimu. Davin, maafkan aku karena aku harus pergi, selama ini aku berbohong padamu, aku sama sekali tidak mencintaimu. Aku menerima cintamu karena aku kasihan padamu yang buta, saat itu aku berjanji akan berada disisimu selama kau buta dan sekarang kau sudah melihat waktunya bagiku untuk kembali pada kekasihku yang sesungguhnya. Maafkan aku Davin, jangan mencariku semoga harimu menyenangkan. Davin menutup mulutnya dengan tangan gemetar. Air matanya jatuh deras, kabur kembali pandangannya yang baru saja pulih. Dunia yang ia harapkan penuh warna terasa runtuh seketika, berganti rasa perih yang tak tertahankan. “Tidak… Lexsa… jangan tinggalkan aku…” suaranya pecah di antara isak. Bayangan masa lalu menyerbu benaknya. Malam-malam ketika Lexsa dengan sabar membacakan buku untuknya. Tangan hangat Lexsa yang menggandengnya menyeberang jalan. Suara tawa Lexsa yang menjadi cahaya di kegelapan. Semua itu kini terasa seperti kenangan yang perlahan menjauh. Ia ingin bangkit, ingin mencarinya, tapi tubuhnya masih lemah. Davin hanya bisa meremas surat itu erat-erat, seolah dengan begitu ia bisa menahan Lexsa agar tetap di sisinya. Flash Back 90 Hari yang lalu.... Lampu putih di langit-langit ruangan rawat itu menyilaukan mata ketika Alexsa perlahan membuka kelopaknya. Aroma antiseptik menusuk hidung, suara beep pelan dari monitor detak jantung mengiringi kesadarannya yang kembali. Ia merasa kepalanya berat, tubuhnya lemah seolah baru kehilangan seluruh tenaga. Pandangannya berkeliling mencari sesuatu atau lebih tepatnya, mencari dua sosok yang sangat ia butuhkan saat ini. Tapi ruangan itu sepi. Hanya ada meja kecil di samping ranjang dengan segelas air yang setengah penuh, tirai putih yang bergoyang lembut terkena angin dari pendingin ruangan, dan kursi kosong di dekat pintu. Tidak ada tanda-tanda ayah atau ibunya disana. "Mama… Papa…” Alexsa berbisik lirih. Tidak ada jawaban. Rasa cemas merayap di dadanya. Perlahan ia menyingkap selimut, menggerakkan kakinya turun dari ranjang. Langkahnya goyah, lututnya hampir tak sanggup menopang tubuhnya, namun dorongan untuk menemukan orang tuanya lebih kuat dari rasa lemas yang mendera. Lexsa membuka pintu perlahan, berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang berbau obat-obatan. Lampu-lampu neon di langit-langit memantulkan cahaya pucat di lantai keramik putih. Perawat berlalu-lalang, suara roda brankar berderit samar di kejauhan. Alexsa menuruni lorong menuju lobi rumah sakit, satu tangan berpegangan pada dinding agar tidak jatuh. Di sudut ruang tunggu lobi, ia melihat kedua orang tuanya. Dari belakang, ia mengenali postur Ayahnya yang tegap namun kini tampak merosot, bahunya sedikit membungkuk. Di sebelahnya, Ibunya duduk diam dengan punggung sedikit membungkuk ke depan, jemarinya saling meremas gelisah. Langkah Alexsa melambat. Dari jarak ini saja, ia sudah bisa merasakan aura kesedihan yang memancar dari kedua orang tuanya, seperti kabut kelabu yang menggantung di udara. Saat ia hendak mempercepat langkah, suara yang sangat ia kenal itu terdengar. Isakan pilu, tangis dari Ibunya. "Kenapa harus dia, Kenapa harus Lexsa… Kenapa harus anak kita…” Suara Nyonya Celin gemetar. Alexsa membeku di tempat. Suara itu menusuk jantungnya, membuat dadanya terasa sesak. Ia berdiri terpaku, mendengarkan dengan jantung berdegup kencang ia tahu bahwa saat ini kedua orang tuanya sedang membicarakannya. “Kita harus kuat, Celine. Jangan sampai Lexsa tahu. Kita akan buat dia bahagia di sisa waktunya…” Suara rendah dan berat menahan emosi yang nyaris tumpah terdengar dari Tuan William. Kata-kata itu menghantam keras ke d**a Lexsa. Dunia Lexsa seolah berhenti berputar. Kepalanya berdengung, pikirannya kosong, hanya kalimat itu yang terus terulang di telinganya. Sisa waktunya? Apa mungkin penyakitnya sudah separah itu hingga kedua orang tuanya membicarakan sisa waktunya. Tanpa sadar, jemari Lexsa meremas ujung gaunnya sendiri. Ada rasa panas di ujung matanya, namun air mata itu tak jatuh. Ia tak sanggup melangkah mendekati kedua orang tuanya, tak sanggup melihat wajah orang tuanya dalam keadaan seperti itu, terpuruk tanpa adanya sebuah harapan. Alih-alih menyapa, Lexsa memutar badan. Kakinya terasa berat, tapi ia memaksakan diri kembali menyusuri koridor kembali menuju ruang rawatnya. Setiap langkah terasa asing, seperti ia sedang berjalan di dunia yang berbeda — dunia yang baru saja merenggut semua harapan masa depannya. Sesampainya di ruang rawat, Lexsa duduk di tepi ranjang. Tangannya meremas seprai putih, matanya menatap kosong ke lantai. Pikirannya bergolak, mencoba menolak kenyataan yang baru ia dengar. Namun bagian terdalam hatinya tahu, itu bukan kebohongan fakta tentang waktu hidupnya yang semakin menipis. Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat. Pintu terbuka, dan Tuan William serta Nyonya Celin melangkah masuk. Nyonya Celin tersenyum lembut kearah Lexsa “Sayang, kau sudah bangun? Maaf Mama tadi keluar sebentar.” Tuan William mengangguk membenarkan "Apa kau membutuhkan sesuatu sayang? Mau minum? Mau makan?” Tanya Tuan William. Mereka berusaha tersenyum, seolah tak ada yang salah. Tapi Alexsa melihat jelas mata Ibunya yang sedikit bengkak, dan sorot mata Ayahnya yang meredup seperti menahan badai. Alexsa menarik napas panjang, memaksakan senyum cerah di wajahnya tak ingin kedua orangnya semakin sedih dan hancur jika melihat kesedihan di wajahnya. “Aku baik-baik saja, Ma Pa. Hanya haus sedikit. Tadi aku pikir kalian ke mana, ternyata di luar." Lexsa berbicara ringan, bahkan sedikit bercanda, seperti tak pernah mendengar percakapan di lobi tadi. Hatinya remuk, tapi ia memilih menyembunyikannya. Jika orang tuanya ingin membuatnya bahagia di sisa waktu, maka ia pun akan melakukan hal yang sama untuk mereka, berpura-pura tidak tahu, dan tertawa bersama menyembunyikan ketakutan saat ia mengetahui fakta ia sebentar lagi akan tiada.Di dalam senyum itu, ada luka yang menganga. Tapi untuk saat ini, ia akan menyimpannya rapat-rapat. Tuan William menuangkan air ke gelas, lalu menyodorkan kearah Lexsa. “Minum dulu. Jangan sampai dehidrasi, nanti pusing lagi.” ucapnya Lexsa menerimanya dengan senyum tipis. Jemarinya yang masih lemah memegang gelas itu hati-hati, tangannya gemetar bahkan untuk mengangkat gelas ia membutuhkan tenaga ekstra berlahan Lexsa meneguk air dalam gelas. Air yang dingin sedikit menenangkan tenggorokannya, tapi tak mampu menghapus rasa berat di dadanya. Nyonya Celin duduk di tepi ranjang, membelai rambut Alexsa lembut seperti dulu saat ia masih kecil ia memandangi wajah Lexsa yang nampak pucat, emosi akan kesedihannya nyaris tumpah namun ia berhasil menahannya. "Tadi Mama sempat ngobrol dengan dokter… katanya kau harus banyak istirahat. Jangan terlalu banyak berpikir yang berat-berat.” Lexsa hanya mengangguk. Ia tahu Ibunya itu berusaha terdengar biasa saja, namun suara yang sedikit bergetar itu mengkhianati perasaannya. Sorot mata Nyonya Celin tetap menghindar dari tatapan Lexsa, seolah takut rahasia itu akan terbongkar hanya dengan sekali pandang. Lexsa tersenyum ceria dalam kepura-puraan “Kalau begitu, mulai besok Mama harus membawakan ku majalah lucu atau novel ringan. Agar pikiranku selalu senang." Nyonya Celin melebarkan senyum terpaksa di bibirnya "Tentu saja, akan Mama bawakan semua novel dan majala lucu kesukaanmu." Tuan William duduk di kursi dekat ranjang, mencoba mengalihkan suasana. “Jika kondisimu sudah membaik nanti, dan kau sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit bagaimana jika kita pergi liburan. Mari kita pergi liburan ke Negara manapun kau inginkan Lexsa." Ajak Tuan William membuat Lexsa sedikit terdiam, Lexsa menarik nafas dalam lalu menatap kedua orang tuanya dengan pandangan serius. "Pa, alih-alih mengajakku liburan bisakah Papa dan Mama mengabulkan satu permintaanku?" Tanya Lexsa, ia berpikir inilah kesempatannya untuk mewujudkan keinginannya sebelum ia pergi untuk selamanya. "Tentu saja sayang, katakan apa keinginanmu?" Tanya Nyonya Celin. "Aku ingin menjadi pekerja sosial di tempat rehabilitas untuk penyandang tuna netra." Jawab Lexsa agak ragu. spontan mata Nyonya Celin melotot ia tidak menyangka bahwa Lexsa akan mengajukan permintaan yang sulit. "Tidak Lexsa, Mama tidak akan mengizinkanmu pergi." Tolak Nyonya Celin. "Ma?" Lexsa meraih tangan sang Ibu lalu menggenggamnya erat "Sebelum aku pergi aku sangat ingin menikmati hidupku sebagai relawan merawat para pasien tuna netra, tolong kali ini kabulkan permintaanku. Aku janji akan mengabari kalian 24 jam, tolong izinkan aku hidup mandiri dan melakukan hal yang ku impikan." Pinta Lexsa. "Tapi Lexsa...." Ucapan Nyonya Celin terhenti ketika Tuan William menyentuh bahunya. "Baiklah Lexsa kau boleh pergi." Ucap Tuan William membuat Lexsa nyaris bersorak. "Terimakasih, Papa memang yang terbaik." ucap Lexsa penuh semangat dan senyum senang. Tak terima akan keputusan sang suami Nyonya Celin langsung menarik tangan Tuan William menyeret suaminya itu meninggalkan ruangan rawat milik Lexsa. Sementara Lexsa segera meraih ponselnya ia memutar lagu kesukaanya berjudul senja yang dinyanyikan oleh Davin, dan setahu Lexsa Davin saat ini sering mengajar musik di panti rehabilitas tuna netra yang ingin Lexsa kunjungi nantinya. "Kita akan bertemu," Ucap Lexsa tak sabaran ingin segera bertemu idola yang selama ini ia kagumi meski tidak perna melihat sosok Davin namun Lexsa sudah jatuh cinta pada suara khas Davin yang indah. Bersambung!...

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

WAKTU YANG HILANG

read
43.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.5K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook