Tabrakan kedua

1053 Kata
Udara di ruang HRD panti rehabilitasi tuna netra terasa hangat, bercampur aroma samar kertas dokumen dan pewangi ruangan yang lembut. Tirai tipis di jendela bergoyang pelan, membiarkan cahaya pagi menembus masuk, membuat debu-debu kecil di udara tampak berkilau. Lexsa duduk di kursi tamu berlapis kain biru tua, tangan di pangkuan, mencoba menahan senyum yang sedari tadi nyaris tak bisa ia sembunyikan. Di hadapannya, seorang wanita bertubuh gempal dengan rambut dikuncir setengah sedang merapikan beberapa berkas. “Baiklah, Lexsa,” katanya sambil melirik ke arah Lexsa dari balik kacamata tebalnya. “Kami senang sekali ada yang mau menjadi sukarelawan di sini. Dan kalau kau mau… kau bisa mulai hari ini juga.” Senyum Lexsa langsung merekah. “Serius, Bu? Ibu tidak sedang berbohong bukan?" suara Lexsa terdengar sedikit lebih nyaring dari yang ia maksudkan, tapi ia tak peduli. Jantungnya berdebar karena rasa lega bercampur antusiasmenya, akhirnya salah satu impiannya telah terwujud. Wanita itu mengangguk sambil tertawa kecil melihat reaksi Lexsa. “Serius. Kami selalu butuh tenaga tambahan, apalagi yang punya semangat seperti dirimu, sekarang kau boleh pergi, carilah ruang pengajar disana akan ada orang yang mengarahkan tentang pekerjaanmu nantinya.” Lexsa berdiri, merapikan tas selempang di bahunya, namun sebelum ia benar-benar melangkah pergi, tatapannya kembali ke wanita HRD itu. Ada sedikit keraguan di wajahnya sebelum ia memberanikan diri bertanya, “Maaf, Bu… sebelumnya saya pernah dengar dari berita, katanya penyanyi sekaligus penulis lagu terkenal—yang namanya Senja—sering datang ke sini untuk mengajar musik. Apa itu benar?” Wanita bertubuh gempal itu menghentikan gerakan tangannya sejenak, lalu tersenyum. “Ah, Senja. Ya, benar sekali. Dia sudah beberapa kali datang ke sini. Anak-anak sangat senang kalau dia datang, apalagi dia sabar sekali mengajar.” Mata Lexsa langsung berbinar. “Apakah hari ini dia ada kelas mengajar Bu?" “Ya.” Wanita bertubuh gempal itu mengangguk mantap. “Hari ini dia memang ada jadwal mengajar. Di kelas dua, lantai dua.” Lexsa hampir melompat kegirangan. “Kelas dua di lantai dua?” ia mengulang seperti memastikan, tapi senyumnya tak pernah hilang. Wanita bertubuh gempal itu hanya tertawa melihat ekspresi Lexsa. “Betul. Tapi hati-hati kalau naik tangga, ya. Lantai dua sedikit ramai kalau sedang jam kegiatan.” Ucapan itu seolah angin lalu bagi Lexsa. Ia langsung mengucapkan terima kasih dengan suara riang dan bergegas keluar. Lorong panti menyambutnya dengan cahaya lampu neon putih yang kontras dengan hangatnya cahaya di ruang HRD tadi. Lantai keramiknya licin dan berkilau, suara langkah kakinya berpantulan di dinding. Hatinya berdebar-debar. Bayangan bisa bertemu langsung dengan Senja membuat langkahnya semakin cepat. Ia membayangkan wajah penyanyi itu, suaranya, dan betapa memukaunya ketika lelaki itu bermain piano di acara televisi yang pernah ia tonton meski tidak menampilkan wajahnya “Mungkin aku bisa berbicara dengannya… atau sekedar bisa melihat wajahnya itu sudah cukup bagiku” batinnya, membayangkan sosok senja sebagai sosok lelaki hangat, ramah dan baik. Lexsa berbelok menuju tangga dengan semangat penuh. Tapi justru di sanalah takdir memutuskan untuk memberinya kejutan yang sama sekali tak ia duga. Semuanya terjadi sangat cepat. Dari ujung lorong, Lexsa sudah berlari kecil. Tapi di belokan menuju tangga, langkahnya terlalu cepat dan ia tak sempat mengerem. Tiba-tiba, dari arah berlawanan, seorang lelaki baru saja akan menaiki anak tangga kemudian Braak! Tabrakan itu cukup keras. Lexsa terdorong ke belakang dan langsung terduduk di lantai. Lelaki itu sedikit oleng, tapi yang lebih parah adalah buku-buku yang lelaki itu bawa baik tebal, tipis, bahkan ada beberapa lembaran kertas terhempas ke lantai, berhamburan di sekitarnya. “Aduh!” Lexsa meringis, menahan rasa sakit di lututnya. Tangannya refleks meraih buku terdekat. “Ma—maaf! Aku tidak sengaja… aku—” Kalimatnya terputus saat ia menengadah. Pandangannya langsung membeku. “Oh. Tidak. Lagi-lagi…” gumamnya lirih, seakan dunia sedang mengerjainya. Lelaki di depan Lexsa itu berdiri diam tatapan kosongnya sangat familiar. Alis lelaki itu sedikit terangkat, rahangnya mengeras begitu mengenali suara dan aroma parfum milik Lexsa. "Sialan!" Lexsa bergumam pelan saat mengenali sosok lelaki itu, lelaki itu Dia adalah orang yang sama… lelaki yang pernah Lexsa tabrak di depan lift apartemennya beberapa waktu lalu. Bahkan baju kasualnya hari ini—kemeja hitam dengan lengan digulung—membuatnya terlihat persis seperti di ingatan Lexsa kemarin. Lexsa bisa merasakan darahnya berdesir cepat. “Dia pasti akan marah lagi…” bisiknya nyaris tanpa suara, sambil mulai memunguti buku-buku itu dengan tangan gemetar. Lelaki itu menghela napas dalam “Kau lagi,” katanya datar, namun ada nada tak percaya di ujungnya. “Aku… aku minta maaf. Sumpah, aku tidak lihat kalau—” Lexsa berusaha memberi penjelasan suaranya terdengar seperti anak kecil yang tertangkap basah. Suasana di lorong itu mendadak terasa menekan. Suara orang-orang dari kejauhan terdengar sayup, langkah kaki lewat di ujung lorong, tapi Lexsa hanya fokus pada lelaki itu. Wajah lelaki itu terlihat dingin tapi tak sepenuhnya terlihat marah, alih-alih marah lelaki itu lebih seperti heran kenapa mereka bisa bertemu lagi, dan dalam keadaan seperti ini. Lexsa menyerahkan beberapa buku ke tangan lelaki itu berusaha menghindari kontak mata meski Lexsa tau lelaki itu tak dapat melihatnya namun tetap saja Lexsa merasa tak nyaman. Saat jari mereka bersentuhan sebentar, ia bisa merasakan detak jantungnya makin tak karuan. “Kalau kau mau lari, pastikan jalannya kosong,” lelaki itu akhirnya berkata, suaranya tenang tapi menusuk "Disini hampir semuanya dihuni oleh orang-orang berkebutuhan khusus di bagian mata, jadi tolong jangan berlari takut kau akan menabrak anak-anak disini." Lexsa menundukan kepalanya merasa menyesal. “Iya… aku janji Tidak akan menabrak kau lagi,” ujarnya lirih. Lelaki itu mengambil buku terakhir yang diserahkan Lexsa lalu berjalan pelan menaiki anak tangga, sementara Lexsa di belakang lelaki itu terlihat membentangkan tangannya takut lelaki itu tersandung dan jatuh dan dia bisa menyelamatkan lelaki itu nantinya. Lelaki itu tiba-tiba memberhentikan langkahnya ia sedikit menoleh kearah Lexsa "Hati-hati berjalan di tangganya karena agak licin." Ucap lelaki itu sebelum benar-benar pergi meninggalkan Lexsa yang masih mematung di tempat. Ucapan itu membuat Lexsa terpaku. Antara merasa lega karena lelaki itu tidak memarahinya habis-habisan kali ini dan heran kenapa suara lelaki tadi terdengar… seperti perhatian? lama termenung tiba-tiba Lexsa tersentak menggelengkan kepalanya kuat lalu merapikan pakaiannya, ia menghela napas panjang. “Ya ampun… baru mulai kerja udah begini,” gumamnya, kemudian menatap ke arah tangga yang baru saja dilewati lelaki itu. Ada rasa penasaran yang kini tumbuh, bercampur rasa malu yang masih menempel di hati Lexsa. Bersambung!...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN