Davin menyerengit ketika tiba di ruang tamu. Aroma yang familiar menembus inderanya—parfum maskulin dengan sedikit sentuhan citrus. Ia mengenali aroma itu dengan mudah. “Arga?” panggilnya, keningnya mengernyit. Lexsa dan Arga yang tengah berdiri dekat pintu terperanjat. Keduanya saling berpandangan cepat, seolah baru saja ketahuan melakukan sesuatu yang rahasia. “Sejak kapan kau datang?” tanya Davin sambil berjalan pelan ke arah mereka, tongkatnya mengetuk lantai berulang kali. Bunyi ketukan itu seperti menandai setiap langkah penuh kewaspadaan. Lexsa segera bergerak menghampirinya, meraih lengannya agar tidak menabrak meja di depannya. Arga ikut mendekat, berusaha menjaga ekspresi agar tetap tenang. Begitu mereka berdiri di hadapan Davin, Lexsa menatap Arga sekejap, memberi isyarat de

