Pagi itu, cahaya matahari menyelinap masuk lewat celah gorden kamar Lexsa, menimpa wajahnya yang masih segar setelah bangun tidur. Ia tersenyum kecil sambil meregangkan tubuh di atas ranjang. "Akhirnya… hari Minggu,” gumamnya dalam hati. Sebuah hari di mana biasanya ia bisa beristirahat dan tak perlu melihat wajah Davin, pria yang entah kenapa selalu membuat emosinya campur aduk. Namun senyum itu hanya bertahan beberapa detik. Kesadaran pahit menyergapnya. Hari ini, statusnya bukan lagi pengajar di panti rehabilitasi, melainkan seorang caregiver pribadi untuk Davin. Tidak ada kata libur bagi seorang caregiver. Ia harus bertemu pria itu setiap hari termasuk hari ini, hari minggu. “Haa…” Lexsa menghela napas panjang, matanya menerawang kosong ke arah langit-langit. Jujur saja, pagi ini ia

