Davin masih terduduk di sofa ruang keluarga apartemennya, kedua tangannya terlipat di atas paha. Suara jam dinding terdengar jelas dalam keheningan malam itu, berdenting pelan setiap detik. Sejak tadi ia hanya mendengar langkah Lexsa masuk ke toilet, namun hingga beberapa lama, tidak ada tanda-tanda gadis itu kembali. Alis Davin berkerut, wajahnya menyerengit menahan rasa cemas. Ada perasaan tak nyaman yang merayap di dadanya. Kenapa begitu lama? pikirnya. Ia berusaha menenangkan diri, tapi bayangan buruk justru muncul di kepalanya. Tak tahan lagi, ia segera bangkit berdiri dari sofa. Tubuhnya bergerak pelan, tangannya terulur meraba udara di depannya, lalu menyusuri dinding ruang tamu. Ia biasanya selalu tahu letak benda-benda di apartemen itu, tapi kali ini ia merasa goyah—tongkat petu

