Mobil hitam milik Davin saat itu terparkir di tepi jalan, agak jauh dari gerbang panti rehabilitasi tuna netra. Lokasinya cukup tersembunyi di balik deretan pepohonan rimbun, tapi dari posisi itu Arga yang saat itu menjadi supir Davin masih memungkinkan untuk memantau gerbang panti yang berdiri kokoh dengan pagar besi bercat hitam yang sudah sedikit berkaray dimakan usia.
Davin duduk di kursi penumpang bagian belakang. Tubuhnya tegap, baju yang ia kenakan masih rapi meski sudah hampir dua jam berada di dalam mobil. Namun, ketegapan itu perlahan luntur seiring detik yang terus berjalan tanpa tanda-tanda kemunculan orang yang ia tunggu.
Di kursi kemudi, Arga melirik jam tangannya. Jarum pendek sudah menunjuk angka lima, jarum panjang hampir menyentuh angka dua belas. Hampir dua jam. Udara sore mulai dingin, langit memerah, dan bayangan pepohonan semakin panjang.
“Para pengajar panti belum juga keluar?” tanya Davin, nadanya terdengar setengah jengkel, setengah cemas.
Arga, yang sedari tadi memperhatikan gerbang, menjawab singkat, “Belum, Tuan. Meraka sama sekali belum terlihat.”
Davin menyerengit, memutar sedikit tubuhnya. “Seharusnya jam segini mereka sudah keluar tumben mereka telat keluar. Apa jangan-jangan lewat pintu belakang?”
Arga menggeleng. “Tidak mungkin, Tuan. Setahu ku, satu-satunya akses keluar masuk panti rehab cuma lewat gerbang utama. Tidak ada jalan lain.”
Davin menarik napas panjang, kemudian mengangguk. “Baik. Pokoknya, kalau mereka keluar, langsung ikuti. Tapi ingat jaga jarak, jangan sampai ketahuan.”
Arga hanya mengangguk, matanya tak lepas dari gerbang. Di luar pagar panti, suasana tampak tenang. Sesekali ada pejalan kaki lewat atau kendaraan roda dua melintas, tapi selain itu, tidak ada gerakan mencurigakan.
Waktu berjalan lambat. Jam menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit ketika akhirnya pintu gerbang panti terbuka dari dalam. Arga memicingkan mata, memperhatikan enam orang keluar secara bersamaan suara tawa dan percakapan mereka mulai samar-sama terdengar. Seragam mereka sederhana, kemeja biru muda dan celana kain hitam ciri khas pengajar panti hanya Lexsa yang mengenakan baju biasa karena Lexsa juga bukan pegawai tetap ia hanya pekerja sosial yang datang membantu sebagai sukarelawan.
Arga mengamati pengajar panti rehab itu di antara mereka, Arga mengenali sosok wanita berambut panjang, yang langkahnya tenang namun tatapannya sendu, dan Arga tahu sosok gadis itu adalah sosok yang di tolong Davin saat gadis itu pingsan kemarin, Lexsa.
“Mereka keluar! Mereka keluar!” seru Arga.
Davin langsung merosotkan tubuhnya ke bawah, menunduk begitu rendah hingga hampir berbaring di kursi. Seolah gerakan itu bisa membuatnya menghilang dari pandangan "Cepat ikuti mereka,” perintah Davin tegas, meski suaranya agak teredam karena posisinya yang aneh.
Namun, beberapa detik berlalu, mobil tetap tak bergerak.
Davin mengerutkan kening. “Kenapa belum jalan? Cepat ikuti mereka!” ucap Davin kembali sedikit kesal.
Arga menghela napas berat, lalu menoleh ke arah majikannya yang duduk di belakang. Pemandangan yang Arga lihat membuatnya ingin menepuk jidat. Davin duduk dalam posisi miring, kepalanya condong ke kiri, kakinya terbuka lebar dan sedikit tertekuk karena sempitnya ruang kabin untuk kaki panjangnya. Jauh dari kesan dingin dan berwibawa yang biasa melekat pada pria itu, satu kata untuk posisi duduk Davin hari ini iyalah konyol.
“Ya Tuhan…” batin Arga. “Sejak kapan majikanku berubah jadi manusia memalukan seperti ini? Kemarin-kemarin dia selalu duduk tegap, berbicara seperlunya. Sekarang… begini? Lihatnya tampang bodohnya itu." Pikir Arga.
“Yah, kenapa belum jalan juga?” tanya Davin lagi, nadanya terdengar seperti orang yang sedang bersembunyi dari kejaran debt collector.
“Mereka belum pergi juga, Tuan,” jawab Arga dengan suara setenang mungkin, meski di dalam hati ia nyaris tertawa posisi majikannya saat ini benar-benar di luar nalarnya.
"Lalu sampai kapan aku akan mempertahankan posisiku seperti ini? punggung dan leherku terasa sakit." gerutu Davin nyaris membuat Arga tertawa syukurlah Arga dapat menahan tawanya.
"Mereka tidak akan melihat anda meski ansa duduk dalam posisi normal Tuan." ucap Arga membuat Davin menggerutu pelan mengomeli dirinya sendiri kenapa bertingkah bodoh dengan duduk dalam posisi seperti itu, lalu Davin sedikit meluruskan posisi duduknya, tetap condong ke bawah, tapi tidak seaneh sebelumnya.
"Lalu apa yang sedang pengajar panti itu lakukan sekarang?" tanya Davin berusaha mengalihkan topik.
Arga menatap kearah depan dan melihat keenam orang termaksud Lexsa itu tampak berhenti sejenak di depan gerbang, seperti sedang berbincang mendiskusikan sesuatu.
Beberapa menit kemudian, mereka mulai berjalan ke arah barat, menuju kendaraan masing-masing.
"Mereka sudah menaiki kendaraan masing-masing." Ucap Arga membuat laporan.
"Kau mengenali gadis yang ku bawah ke rumah sakit kemarin?"
"Hm!.." Jawab Arga mengangguk sembari mengamati Lexsa dan Kevin.
"Bersama siapa gadis itu pergi?" Tanya Davin.
"Gadis itu naik motor bersama seorang lelaki paling muda diantara lelaki lainnya." jawab Arga menjelaskan seketika Davin langsung berpikit bahwa itu adalah Kevin karena memang Kevin lah lelaki yang paling muda diantara semua staff pengajar selain Davin. Mendengar Lexsa pergi bersama Kevin rahang Davin sedikit mengeras merasa tak suka.
“Cepat ikuti mereka sekarang!” kata Davin cepat dengan nafas memburu.
Arga menyerengit melihat respon Davin yang tampak marah dan kesal "Apa dia cemburu?" pikir Arga lalu segera menyalakan mesin, mobilnya dan perlahan mulai menjalankan mobil dengan kecepatan rendah. Mereka menjaga jarak sekitar lima puluh meter di belakang rombongan itu agar rombongan itu tidak tahu bahwa mereka sedang di ikuti.
Sore semakin meremang, lampu-lampu jalan mulai menyala, dan udara membawa aroma tanah basah sisa hujan siang tadi.
Davin hanya memperhatikan setiap ucapan Arga yang menjelaskan arah tujuan perjalanan mereka.
Lexsa terlihat menoleh ke belakang, membuat Arga buru-buru melambatkan laju mobil dan berpura-pura memarkir.
"Ada apa?" tanya Davin yang merasakan mobilnya berhenti.
"Gadis itu menatap kebelakang, tampaknya dia merasa curiga pada kita." jawab Arga sedikit panik.
“Hati-hati jangan sampai mereka sadar kita mengikuti,” ujar Davin.
"Baik Tuan." jawab Arga sebelum ia kembali mengemudikan mobilnya saat Lexsa tak menoleh lagi kebelakang.
Hampir sepuluh menit rombongan Lexsa dan para pengajar tiba di sebuah restoran dan Argapun ikut memberhentikan mobilnya masih tetap mempertahankan jarak aman.
"Kita sudah tiba?" tanya Davin.
"iya Tuan, sekarang kita tiba di restoran Mie Yammie." jawab Arga
"Apa kau masih bisa memantau mereka?" tanya Davin lagi, Arga terdiam sebentar menatap kearah Lexsa dan rombongannya sebelum menjawab "Iya Tuan kita masih bisa memantau mereka kebetulan mereka duduk di dekat jendela." sahut Arga membuat Davin bernafas lega.
Bersambung!...