Alfa menatap dirinya di cermin. Sebuah pantulan dirinya dengan luka di sudut bibir akibat tamparan yang ia terima dari ayahnya. “Aw!” Alfa meringis saat memegang luka itu. Mira masuk membawakan kotak obat untuknya. Alfa duduk di tepian ranjang saat mamanya sangat telaten mengobati luka itu pelan-pelan. “Aw, sakit Mah!” “Tahan sedikit.” Anak pungut? Kalimat itu terlintas dan memenuhi pikiran Alfa. Ia benci dengan kalimat itu—terlebih sejak 7 tahun yang lalu. Masa lalu yang tak ingin ia ingat untuk selamanya. Masa lalu yang merengut semua kebahagiannya. Alfa menatap wajah khawatir ibunya yang saat ini mengobati lukanya. Alasan kenapa ia masih bertahan tak lain karena ibunya—sosok yang selau ingin ia jaga dan rawat. Ibunya yang bagai malaikat yang selalu ada untuknya. Sosok yang ia

