Pagi itu, pemandangan tak biasa terlihat dari Avelo dan Alfa. Pasalnya, hari itu juga mereka berangkat bersama menggunakan motor. Sebenarnya itu motor Avelo, dan Alfa terpaksa berboncengan dengannya karena mobil mogok. Agar menghemat waktu dan mereka tidak terlambat masuk sekolah, terpaksa Alfa ikut saja ajakan Velo untuk berangkat naik motornya.
"Velo, jaga Alfa baik-baik," pinta Sharen sedikit waswas melepas Alfa bersama Avelo.
Alfa mendengus, seperti anak kecil saja, untuk apa mamanya begitu khawatir saat Alfa berboncengan dengannya?
"Iya Ma!"
"Jangan ngebut!"
Avelo kembali mendengus, apa mamanya tak percaya dengan keamanan Alfa. Yah, memang bisa dibilang Alfa baru pertama kali naik motor, dan kali ini Avelo yang memboncengnya. Tapi apa iya harus sekhawatir itu sama Alfa.
"Kalau lampu merah berhenti Velo!"
"Iya Mama, lampu merah berhenti, kalau lampu ijo jalan kan?" Velo geram dengan sikap Sharen. Terlihat perempuan itu seperti tak rela Alfa naik motor bersama Velo.
"Ya udah Ma, Alfa berangkat dulu ya!"
"Hati-hati Alfa!"
"Velo berangkat Ma!"
Motor ninja hitam Velo melaju keluar dari gerbang depan rumah. Dari kejauhan Sharen terus mengamati punggung kedua anaknya yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Sharen memiliki alasan sendiri kenapa ia sangat mengkhawatirkan Alfa berboncengan dengan Avelo. Walau bisa dibilang mereka bukan anak kecil lagi. Akan tetapi Sharen begitu takut dengan cara Velo naik motor yang cenderung ugal-ugalan. Pernah dulu saat Avelo dan Alfa masih duduk di bangku SMP, Velo mengajaknya naik motor matic di kompleks rumahnya dan kejadian itu tanpa sepengetahuan Sharen ataupun Exel. Avelo yang baru belajar naik motor tampak begitu percaya diri menaiki motor vario miliknya. Avelo lalu mengajak Alfa untuk berkeliling, dan Alfa mengiyakannya saja.
Mereka pergi berdua, tanpa pamitan.
Rupanya, ajakan Velo pada Alfa saat itu berujung malapetaka. Walau Velo sudah mahir dalam mengendarai motor, tetap saja, ia baru pertama kali membonceng orang.
"Seru juga ya naik motor Vel?" Alfa menikmati jalan-jalan bersama mengelilingi kompleks rumah.
"Gue juga pengen belajar naik motor sama kaya lo Vel!" Ucapan itu kemudian keluar dari mulut Alfa.
"Lo mau naik motor?"
Alfa mengangguk, " tapi mama nggak pernah ngijinin."
"Lo tenang aja, kan nggak ada mama di sini. Mau gue ajarin naik motor?"
Mendengar itu, raut wajah Alfa langsung semringah. "Benarkah?"
"Ya." Velo pun yakin saat itu.
Velo pun bertukar posisi mengendarai motor itu. Alfa di depan dan Velo di belakang. Velo memberitahu cara menghidupkan motor pertama kali, dan ketika Alfa dengan cepatnya belajar, ia begitu senang. Kemudian Alfa mulai menarik gas pelan dan stabil, Alfa langsung bisa.
"Nah gitu, lo pelan-pelan aja!"
Awalnya Alfa menarik gas pelan, namun ketika melewati tikungan dan kebetulan ada mobil dari arah berlawanan. Kendali Alfa goyah, ia malah mempercepat gas itu.
"Fa, rem motornya." Velo panik, sementara Alfa ketakutan.
"Vel, ini gimana?"
"Rem ALFA!" Velo berteriak dari belakang.
Kepanikan Alfa semakin membuat motor yang mereka tumpangi tak terkendali. Percuma saja, Avelo pun tak bisa berbuat banyak. Dan ketika ada pohon besar di depan, motor itu melaju dengan cepat ke arah pohon besar itu.
Brak, motor itu lolos menabrak pohon besar dan keduanya jatuh tertindih motor. Mereka mengalami luka lecet di siku dan lutut walau tak terlalu parah.
Karena kejadian itu, Sharen marah besar. Pulang-pulang keduanya langsung kena marah Sharen, termasuk Exel yang terkena dampak kemarahan Sharen. Walau mereka selamat dari motor, namun motor yang ditumpangi keduanya rusak.
"Velo kenapa kamu ajak Alfa naik motor. Kalian tahukan di luar bahaya, dan sekarang lihat, kalian jatuh kaya gini." Baik Velo maupun Alfa tertunduk dengan kemarahan Sharen.
"Mah, Alfa yang ingin belajar naik motor, tadi Velo cuma ngajarin doang kok. Velo nggak salah."
"Tapi tetep ajakan, Velo membuat kamu dalam bahaya Alfa."
"Maafin Velo Mah."
"Udahlah sayang, jangan marahin mereka. Inikan cuma kecelakaan kecil. Mereka itu laki-laki, jatuh itu adalah hal biasa. Jangan terlalu khawatir." Exel berusaha menenangkan istrinya yang marah.
"Jangan khawatir kamu bilang, kalau tadi mereka kenapa-napa gimana?" Sharen masih kesal.
"Sayang, udah ya. Jangan marah-marah di depan mereka." Exel terus berusaha membuat suasana kembali normal. Ia menoleh pada Alfa dan Velo yang ketakutan karena kemarahan Sharen.
"Lihat mereka, sebaiknya kamu obatin luka Alfa dan Velo."
Sharen pun luluh, ia lalu mendekati Alfa. Membelai rambut anaknya dengan lembut. "Sini Mama obatin ya Alfa!" Sharen menggiring Alfa pergi, meninggalkan Velo yang masih tertunduk menyesal. Melihat mamanya begitu perhatian dengan Alfa membuat Velo terisak. Ia juga ingin diobati oleh mamanya.
"Velo, papa obatin luka kamu ya!" Exel membawa Velo pergi.
...
"Aaaa, sakit pah, sakit!" Exel meneteskan kapas yang sudah diberi obat merah, lalu mulai menempelkan kapas itu di lutut Velo yang luka.
"Kamu sih bandel banget."
"Cowok kan harus bandel."
"Iya, tapi mama kamu marah tuh!"
"Mama lebih perhatian sama Alfa daripada Velo," ucapan Velo sontak membuat Exel berhenti mengobati lukanya, ditatap wajah Velo yang murung.
"Inikan Papa yang ngobatin luka kamu."
"Tapi selalu Alfa yang pertama. Mama lebih sayang sama Alfa, Mama nggak sayang sama Velo."
"Siapa yang bilang, mama sayang Velo dan Alfa kok. Sudah jangan sedih lagi, nanti papa beliin mobil remot kontrol keluaran terbaru, bagaimana?" Exel berusaha mengalihkan perhatian Velo. Namun anak itu seperti tak ada minat sedikitpun dengan mobil mainan.
"Velo, mau naik pesawat-pesawatan di punggung Papa?" Exel berjongkok memperlihatkan punggungnya, berharap anaknya akann tertarik. "Ayo naik, kita main pesawat terbang. Kita mau ke mana jagoan?"
Mendengat celotehan papanya membuat Velo mulai tersenyun dan tertawa, ia langsung mendaratkan tubuh di punggung papanya.
"Siap jagoan, ķita mau ke mana?"
"Velo mau keliling dunia!"
"Siap, laksanakan Komandan!" Exel mulai menggendong Avelo dan mereka bermain layaknya menaiki pesawat terbang di belakang rumah. Keduanya sangat bahagia.
***
Sekolah Season Star, 07.05 WIB.
Pemandangan tak biasa terlihat di depan sekolah saat Velo dengan motornya berboncengan dengan Alfa. Beberapa anak juga melihat kedatangan dua kakak beradik itu.
"Well, itukan Afa?" Celetuk cewek yang melihat kedatangan mereka terkejut.
"Astagah Kak Alfa naik motor. Keren banget." Terdengar suara cewek lain menatap takjub.
Bukan hal biasa sih, pasalnya melihat kedua saudara yang jarang akur itu di sekolah membuat beberapa anak melihat pemandangan tak biasa dari dua anak Fernandes itu. Terlebih Alfa yang kesehariannya selalu diantar jemput sopir saat sekolah dibanding Velo yang sering menggunakan motor pribadi dibanding mobil.
"Gue langsung balik ke kelas ya Vel!"
"Eh tunggu!" Avelo menarik blazer milik Alfa. "Helm gue!"
Alfa tersadar ia masih memakai helm di kepalnya, ia nyengir dan segera mengembalikan helm itu pada adiknya.
"Thanks Vel!"
"Hmm."
Setelah kepergian Alfa yang terlihat tergesa-gesa itu. Velo justru nampak santai saat berjalan masuk menuju kelasnya. Sesekali ketika Velo berjalan, ia menyapa anak cewek yang berpapasan dengannya, mengedipkan satu matanya menggoda mereka. Sebuah kebiasaan Velo di sekolah.
Velo masuk ke kelas yang masih ramai anak-anak. Ia berjalan menuju ke bangkunya yang lebih dulu dihuni makhluk berkacamata seperti Calvin. Wait, Calvin berkacamata, sejak kapan?
"Vin!"
"Pagi Vel, lo udah masuk?" Calvin menyadari kedatangan sobatnya itu tanpa menoleh, ia terlalu fokus dengan buku catatan di depannya.
Velo dengan kasar meletakkan tasnya di meja. Ia lalu menguap lebar. "Hari ini gue mau tidur."
Calvin melirik Velo, menatapnya heran. "Ini masih pagi Vel!"
"Biarin, hari ini apa jam pelajaran pertama?" tanyanya.
"Sejarah." Seketika saat Calvin mengatakan 'sejarah' membuat Velo melotot lebar.
"Sejarah, si botak berkumis itu?"
Alfa langsung memincingkan mata, " Pak Sandy Vel, lo tuh ya nggak ada hormatnya sama guru."
"Ya emang benerkan, pak Sandy itu nggak punya rambut artinya dia botak, dan berkumis, jadi gue nggak salah bilang botak berkumis."
Calvin hanya menggelengkan kepala mendengar penyataan Avelo yang cenderung frontal kepada siapapun termasuk ke guru.
"Terserah lo deh!
"Lo tumben pake kacamata?" Velo mengalihkan perhatian.
Calvin tersadar, ia membenarkan kacamatanya dan menoleh. "Gimana? Keren nggak?"
"Aneh, sini gue pakai!" Avelo langsung menarik kacamata yang bertengker di mata Calvin dan menggunakan untuk dirinya.
"Gue yang lebih keren, gimana?"
Calvin mencebikkan bibir sebal melihat tingkah Velo saat ini.
"Siniin kacamata gue!" Calvin mengambil kembali kacamata itu dan memakainya.