Chapter 14 : Pertemuan dengan Avelo

1187 Kata
"Alea, kita ke kantin yuk!" Ajak salah satu teman sekelasnya. Gadis berkuncir kuda bernama Rena itu menarik paksa Alea agar ikut dengannya. Sementara Alea hanya menurut dengan tarikan Rena, mereka berdua menuju ke kantin. "Lo nggak harus diam di kelas, mendingan kita makan. Pasti lo lapar kan? Gue pesenin sesuatu ya, emm lo mau apa Le? Siomay apa bakso?" Rena menimba-nimba dengan menu makanan di depan. "Aku samain kamu aja deh." "Oke, gue pesenin bakso ya, lo bisa cari tempat duduk yang masih kosong." Kehadiran Alea di sekolah barunya, membuat beberapa anak laki-laki sedikit tertarik dengan gadis berlesung pipi itu. Selain parasnya yang cantik, sikap Alea juga ramah pada siapapun jadi tak heran banyak yang tertarik dengannya. "Anak baru di kelas sebelah, itu lho, si cewek berambut panjang," beberapa anak cowok bahkan membicarakannya. "Gue denger tuh cewek cantik ya?" "Beuhh, jangan ditanya lagi, cantik banget eui." Avelo dengan posisi bersandar di bangku mejanya tampak sesekali memainkan bulatan kertas dan melemparkannya pada salah satu anak yang sedang belajar padahal jam istirahat. "Velo!" Cowok berambut cepak dan berkacamata itu tampak kesal dengan ulah Velo yang mengganggu konsentrasi belajarnya. Avelo hanya terkekeh dengan kejailannya. "Kalau nggak salah namanya Alea, iya Alea." "Alea?!" Avelo yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka langsung memutar bangku mejanya untuk berhadapan dengan teman-temannya yang berada tepat di belakangnya. "Lo bilang siapa tadi namanya?" "Alea!" "A-alea??" "Iya Vel, lo belum tahu ya kalau ada anak baru di kelasnya Alfa, namanya Alea, kalau nggak salah nama panjangnya...." Tunggu, Avelo sontak bangkit dari tempat duduknya, ia mulai mengingat sesuatu, tentang pembicaraannya dengan Alfa tempo hari. Soal gadis yang mengenalnya. "Jangan-jangan..." "Do, tadi lo bilang anak barunya di kelasnya siapa?" Tanya Avelo pada salah satu teman kelasnya bernama Rido. "Alfa!" "Thanks ya!" Avelo langsung beranjak keluar dari kelas. "Wah, jangan-jangan lo mau deketin tuh cewek?" tanya temannya lagi. Avelo hanya nyengir mengisyaratkan sesuatu yang tak ingin diketahui teman-teman. "Sebelum lo semua kenal sama tuh cewek, gue yang duluan kenal dia. Oke thanks infonya." Avelo langsung meninggalkan kelas menuju ke arah kelas Alfa. Alea, apa gadis itu yang dimaksud, gadis yang ditemui saat di panti asuhan di bukit itu. Kalau memang benar gadis itu di sini itu artinya dia juga bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Pantas saja kemarin saat ditemui di panti, anak panti bilang "Kak Alea belum pulang dari sekolah!" "Alea nggak ada di sini." *** "Aleaaa!" Avelo berteriak dari ambang pintu kelas Alfa, sontak saja semua pandangan mengarah padanya. Velo mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas mencari keberadaan gadis itu. "Ke mana dia?" "Velo, ada apa?" suara dari belakang mengejutkan Avelo. Ia berbalik dan melihat Alfa berdiri sambil menatapnya heran. "Lo nyari gue?" "Fa, inget kemarin lo bilang ada seorang cewek yang kenal sama gue, kenal nama gue?" Alfa mengangguk. "Dia Fa, dia..." "Dia kenapa?" Alfa menautkan alis bingung. "Dia itu cewek yang gue maksud, dia Alea," seru Avelo. "Alea? Alea si Anak baru, jadi lo sama dia itu—" "Tepat Fa, sekarang di mana Alea?" Velo kembali celingukan di dalam kelas Alfa, ia mengedarkan pandangan ke segala arah. Namun tampaknya gadis itu tak ada di dalam. "Fa, Alea ke mana?" Alfa mengedikkan bahu tak tahu, "gue nggak tahu, mungkin ke kantin sama temennya." Avelo menepuk bahu Alfa sekilas sambil nyengir, "oke gue akan ke sana!" Melihat kelakuan aneh adiknya itu, Alfa hanya menggelengkan kepala. "Dasar!" Seperti kata Alfa, rupanya gadis itu masih ada di kantin bersama Rena dan tengah menyantap makanan, Avelo masuk ke dalam kantin, mencari Alea. Velo mengulas senyum tipis, pandangannya tertuju pada seorang gadis berambut panjang dengan lesung pipi tengah bercengkrama dengan temannya. Velo juga tak menyangka kalau Alea satu sekolah dengannya. Bahagia, tentu saja. Itu artinya Velo tak harus mendatangi panti asuhan setiap hari saja sudah bertemu dengan Alea setiap hari. "Hei manis, boleh nggak kami duduk di sini?" Muncul Joni yang tempo lalu bermasalahan dengan Velo Melihat Alea diganggu Joni membuat Velo naik darah, saat tak sengaja Alvin dengan seenaknya menyentuh dagu Alea sementara gadis itu seperti risih dengan kedatangan Alvin di dekatnya. "Kak Joni, bisa nggak jangan ganggu kita." "Gangguin, gue cuma mau kenalan sama cewek ini. Nama gue Joni lo pasti Alea kan, anak baru itu. Ternyata benar yang dibicarakan anak-anak. Kalau lo cant—" belum sempat Joni menyelesaikan kalimatnya, Velo langsung mendatangi meja mereka, masuk di tengah-tengah pembicaraan Joni dan langsung membalas jabatan Alvin. "Gue Velo. Dan gue harap lo pergi dari sini!" Usir Velo. Joni mendengus kesal, ia menampik tangan Velo. Kedua teman ddi belakang Joni ingin maju namun dihalangi Joni. "Jangan ganggu Alea, pergi lo di sini!" Ulangi nya lagi. Joni yang tak terima langsung mendorong Velo. "Apa urusan lo? Ini urusan gue sama Anak baru, kenapa lo ikut campur?" "Karena Alea itu pacar gue, jadi jangan pernah gangguin dia!" Deg! Mendengar pernyataan itu, jantung Alea terkesiap kaget. Avelo bahkan mengklaim dirinya adalah pacarnya. Sontak saja suasana kantin yang awalnya ramai mendadak tegang dengan kedatangan Velo dan perseteruan dengan Alvin. Bisa gawat, kalau tak ada yang melerai, bisa-bisa Alvin berbuat kerusuhan dan lebih parahnya memukuli Velo di tempat. Velo menarik kerah baju Joni dengan sotot mata tajamnya. "Pergi lo di sini atau lo mau berurusan sama gue dan berakhir di ruang BP?" ancam Velo dengan sorot mata tajamnya. Ck, Joni kembali berdecak. Kejadian kemarin saja sudah membuat Joni dapat hukuman dari sekolah gara-gara memukul Alfa, lagipula berurusan dengan Alfa justru akan menambah masalah baru. Joni memilih mundur. "Oke, kali ini gue mundur tapi jangan harap masalah kita selesai. Lihat aja nanti!" Joni balik mengancam. Ia pun berbalik dan meninggalkan kanti disusul kedua temannya dari belakang. Velo tersenyum puas, enak saja berurusan dengannya. Mau cari masalah apa? "Velo!" lirih Alea melirik Avelo, memastikan kalau laki-laki di depannya adalah Avelo. Dan benar saja, saat Velo berbalik dan menghadapnya, laki-laki itu tersenyum. "Aleaaa!" Spontan saking bahagia bertemu Alea, Velo langsung memeluk gadis itu di depan umum dan hampir disaksikan seluruh anak yang berada di sekelilingnya. "Le le, akhirnya aku ketemu sama kamu lagi." Saking bahagia Velo sampai memeluk erat Alea hingga gadis itu merasa sesak. "Vel–Velo, sesak!" Menyadari gadis itu sedikit kesakitan, Velo langsung melepas pelukannya. "Maaf maaf, habis gue seneng lo ada di sini." Rena mengamati keduanya bingung, "kalian sudah saling kenal?"Rena menarik tangan Alea untuk mundur dan berbisik sesuatu, "lo kenal sama Velo?" Alea tak bisa menampiknya, ia memang mengenal Velo. Ia mengangguk. "Lo tahu nggak Velo itu siapa?" Rena masih berbisik. Alea menggelengkan kepala tak tahu. "Velo itu—" ucapan Rena terpotong saat Velo menyela, "heh, lo ngomong apa soal gue sama Alea?" Rena meringis ketahuan, "enggak kok, gue cuma bilang kalau Velo itu gan-teng. Iyakan Le?" Alea mengernyit, pernyataanya jelas beda dari yang tadi dibisikinya, tampaknya Rena juga terlihat takut kalay berurusan dengan Avelo. "Oh, kalau itu sudah jelas, iyakan Le?" Avelo penuh percaya diri saat disebut ganteng. Alea hanya tersenyum. "Le, ayo ikut gue sebentar!" Tiba-tiba Velo menarik tangannya padahal makaanan di meja belum ia habiskan. "Ke mana?" "Udah, ikut gue sebentar!" Tanpa basa basi dan sedikit paksaan kecil, Velo menarik tangan Alea begitu saja. Tak peduli dengan orang-orang di sekelilingnya yang memandang mereka keheranan termasuk Rena yang masih melongo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN