Chapter 15 : Balapan liar

1062 Kata
Tap tap tap Langkah seorang gadis memasuki rumah dengan sedikit tertatih pelan, jangan sampai ia ketahuan. Gadis itu melangkah naik ke atas tangga tanpa bersuara. "Janice, darimana saja kamu?" Janice—gadis berkuncir kuda dan masih memakai seragam sekolah tampak menggerutu saat ia ketahuan kakaknya dari belakang. Janice menghela nafas panjang. "Ck, kenapa bisa ketahuan sih?" "Gimana nggak ketahuan kalau suara langkah kaki kamu itu bisa kakak denger dari luar," jawab kakaknya yang terpaut satu tahun bernama Nick itu. "Menjengkelkan." Janice mendekati kakaknya, pandangan Nick langsung tertuju pada lutut adiknya yang berdarah. "Kaki kamu kenapa lagi?" Janice menunduk, ia baru menyadari kalau lututnya tadi mencium aspal saat berhasil kabur dari orang-orang yang mengejarnya. "Ah ini, biasa!" "Mereka ngejar kamu lagi?" Janice terdiam, ia mengiyakan ucapan kakaknya. "Tapi aku berhasil kabur." "Kenapa kamu nggak bilang kalau mereka ngejar kamu lagi?" Nick terlihat marah Janice menghela nafas panjang, "udahlah, biarin aja. Lagian aku juga bisa kabur dari mereka, jadi nggak perlu khawatir." Nick tetap tak terima adiknya yang menjadi korban. Sejak perusahaan ayahnya bangkrut, Nick terpaksa banting tulang menghidupi kebutuhannya bersama adiknya, sementara ayahnya kabur entah kemana. Dan orang-orang yang mengejar Janice kemarin tak lain adalah rentenir yang mencari ayahnya. Sejak ibu mereka meninggal, kehidupan kedua kakak beradik itu tak pernah bisa tenang. "Aku mau ke kamar dulu, cape!" "Jangan lupa obatin luka kamu!" Pinta Nick cemas "Siap boss!" Janice tersenyum sekilas lalu melangkah naik ke tangga menuju kamarnya. Begitu sampai ke kamarnya, Janice langsung menjatuhkan diri ke kasur dengan seragam yang masih melekat. Ia juga tak begitu peduli dengan darah yang menetes di lututnya akibat kejar-kejaran tadi. *** "Ada balapan ntar malem Nick, kali ini uangnya gede. Kalau lo menang lo bisa dapat 20 juta, " ucap salah satu temangnya dari balik telepon "Boleh juga, siapa lawannya?" tanya balik Nick. "Velo!" Nick menarik sudut bibirnya ke samping, ia merasa tertantang kalau orang yang menjadi lawannya adalah musuh bebuyutannya. Sejak dulu ia sangat ingin mengalahkan laki-laki itu. "Oke, gue akan ke sana dalam 30 menit lagi. Lo pastiin gue terdaftar di balapan itu." "Oke boss!" 18.04 WIB, Nick telah bersiap-siap untuk pergi, ia terpaksa meninggalkan adiknya di rumah sendirian. "Mau ke mana?" "Pergi." "Balapan?" Janice seperti sudah tahu rutinitas kakaknya itu. "Kali ini, bayarannya gede. Kalau gue menang, kita bisa nyicil tuh hutang papah!" Janice yang tadinya tengah duduk sambil baca buku kini berdiri menghampiri Nick. "Jangan sampai terluka, aku nggak mau kak Nicko pulang kaya kemarin." Nick tersenyum, ia menyentuh kepala adiknya. "Tenang aja!" Setelah pamit dengan Janice, Nick segera menuju ke motornya menuju ke tempat area balapan liar di sudut kota. Sementara itu, di rumah, Velo yang sudah ada janji dengan Calvin dan akan pergi balapan liar kini dihadapkan dengan ayahnya yang pulang lebih awal dari biasanya dan kini berada di ruang tamu sambil membaca koran dengan segelas kopi di meja. "Ah sial, kalau gini gue nggak bisa kabur." Velo kembali memutar otaknya bagaimana ia bisa melewati ayahnya tanpa ketahuan dia akan pergi. Ditengah kebingungannya, Albert yang tak sengaja melihat Velo mondar mandir di depan pun menghampirinya. "Tuan muda Velo!" Panggilan Albert sontak mengejutkan Velo yang tengah kebingungan itu. "Albert, jangan mengagetiku. Haish!" Velo kesal sambil mengelus dadanya. "Maaf Tuan saya tidak sengaja. Tuan muda kelihatannya bingung, apa ada yang bisa saya bantu?" Velo seperti memiliki ide saat Albert menawarkan bantuan padanya. "Kebetulan, saya ada kerjaan buat kamu." "Kerjaan?" Velo berbisik ke telinga Albert untuk membicarakan rencananya. Dari kejauhan Alfa yang akan kembali ke kamarnya melihat Velo dan Albert tengah berbicara. "Velo? Mau ke mana dia?" Alfa curiga. .... "Saya tidak bisa Tuan muda. Nanti Tuan Exel bisa marah," tolak Albert. "Ayolah Albert. Tolongin saya sekali ini aja." "Tapi— bagaimana kalau Tuan Exel tau?" "Papa nggak akan tahu kalau kamu yang bilang. Ayolah Albert, tolongin saya!" Velo memohon. Albert ragu, bagaimana dia bisa berbohong pada majikannya demi anak majikannya. Hal itu membuatnya bingung membela siapa kalau dalam kondisi seperti ini. "Ayolah Albert!" "Ba-baiklah... saya akan coba membantu!" "Yes, thanks Albert. Yaudah cepetan!" Dari kejauhan Alfa terus mengamati gerak gerik mencurigakan dari Velo. Albert menuruti keinginan Velo dan sekarang ia harus mendekati Exel terkait rencana yang tadi dikatakan Velo. "T-tuan Exel!" "Hmm..." suara deheman Exel tak begitu mengalihkan pandangannya dari koran yang ia baca. "Ada telepon dari kantor. Sepertinya ada hal serius yang ingin dibicarakan dengan Tuan Exel." "Telepon? Malam-malam begini?" "Mungkin Tuan bisa mengeceknya di ruangan. Telepon itu terus berdering Tuan!" "Benarkah?" Exel seperti tak terpengaruh namun ia pun bangkit. Velo yang melihat papanya terpancing membuatnya senang. Albert mengikuti Exel menuju ke ruang kerjanya. Serasa mendapat kesempatan untuk keluar dari rumah, Velo langsung pergi keluar dari rumah dan menuju ke motornya. Suara rong rongan motor dari depan membuat Alfa berlari ke depan. Namun apa yang dilihatnya justru membuat Alfa kesal. Velo yang sudah naik ke motornya hanya tersenyum sekilas ke arah Alfa dan langsung melajukan motornya keluar dari rumah. "Velo!" Alfa ikut kesal. Malam itu juga, Alea yang baru saja keluar dari supermarket untuk membeli beberapa makanan untuk anak panti tak sengaja berpapasan dengan Velo dari kejauhan. Velo sendiri sepertinya tak menyadari kehadiran Alea di sekitar tempat itu. "Velo, dia mau ke mana?" Alea yang penasaran mencoba mencari tahu berlari mengejar Velo dari belakang. Tempat balapan liar Calvin sudah ada di sana menunggu kedatangan Velo, sementara dari pihak lawan yang juga ikut dalam balapan malam telah datang. Kedatangan Velo bersamaan dengan kedatangan Nick yang langsung menuju ke teman-temannya yang telah menunggunya daritadi. "Woi Nick, akhirnya lo datang juga!" Ucap Andre yang tadi menelpon dan memberitahu tentang balapan malam ini. Sementara Velo yang melihat kehadiran Nick di sana terlihat tak suka. "Kenapa dia ada di sini sih? Sial!" "Karena bayaran hari ini gede Vel. Sampai 20 juta," kata Calvin. Velo berdecak, "gue nggak peduli sama bayarannya, yang jelas gue harus menang dari dia. Gara-gara dia, gue masuk ke penjara." Alea juga sudah sampai ke tempat itu, ia begitu terkejut karena banyaknya orang-orang yang membawa motor gedenya, dari ujung seberabg, ia juga melihat Velo. Seperti dugaannya, tempat ini tak lain untuk balapan liar. Suara sorakan meneriaki setiap peserta yang ikut balapan, di sisi kanan kiri ada Veli dan Nick yang menjadinsalah satu peserta itu. Sorot kedua mata mereka bertemu layaknya dua elang yang sedang mencari mangsa. Kilatan dari balik helm membuat situasi di tempat itu semakin memanas. Di sisk lain banyak pendukung Nick dan di sisi lain ada pendukung Velo. Mereka imbang. "Velo?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN