Chapter 16 : Balapan liar part 2

1239 Kata
Suara sorakan meneriaki setiap peserta yang ikut balapan, di sisi kanan kiri ada Velo dan Nick yang menjadi salah satu peserta itu. Sorot kedua mata mereka bertemu layaknya dua elang yang sedang mencari mangsa. Kilatan dari balik helm membuat situasi di tempat itu semakin memanas. Di sisi lain banyak pendukung Nick dan pendukung Velo. Mereka imbang. "Velo?" Calvin yang tak sengaja melihat dari kejauhan sosok Alea tampak terkejut. "Gawat, ada Alea. Kalau Velo tahu bisa bahaya." Calvin langsung menghampirinya. "Lea, kamu ngapain di sini?" "Apa Velo ikut balapan?" tanyanya cemas. Calvin ingin berbohong, tapi ia tak tega melakukannya. "I-iya!" "Kenapa diizinin, kalau dia kenapa-napa gimana. Itu bahaya. Cepet kasih tahu Velo buat berhenti!" Alea seperti agak histeris saat balapan tengah berlangsung. Melihat Alea yang begitu cemas membuat Calvin kebingungan, ia berusaha menenangkan Lea. "Lea, jangan khawatir. Velo bakal baik-baik aja kok." "Tapi balapan itu bahaya. Bisa celaka!" Alea seperti mendapat gambaran yang secara tiba-tiba justru mengingatkan kejadian 2 tahun lalu yang merenggut nyawa kakaknya Alan ketika mengalami kecelakaan motor dan meninggal di tempat. "Kak Calvin cepat bilang sama Velo buat berhenti sekarang!" Alea semakin mendesak Calvin Calvin semakin bingung dengan sikap Alea yang benar-benar ketakutan saat ini. "Lea, Velo bakal baik-baik saja!" "Enggak Kak, cepet kasih tahu Velo buat berhenti atau aku yang bilang sama Velo!" Alea langsung berlari masuk ke area balapan, ia tak peduli. Saat putaran balapan itu kembali ke base untuk kedua kalinya, Alea langsung berteriak memanggil nama Velo dengan keras. Avelo yang kebetulan sudah sampai base dan mendengar suara Alea tiba-tiba hilang kendali dan langsung menghentikan motornya. "VELOOOO!" Mata Velo terkejut melihat ada Alea di sana. Bagaimana bisa Alea sampai di tempat ini. Sontak saja harusnya ia yang menang dalam pertandingan tapi karena mendengar suara Alea. Velo kehilangan konsentrasi dan buyar dan yang menjadi pemenang adalah Nick yang berada di jalur kedua. Suara sorakan dari tim Nick langsung histeris karena jagoannya menang. "Alea?!" Calvin langsung menghampiri Alea dan membawa Alea keluar dari tempat balapan. "Lea, bahaya!" Tiba-tiba Alea menangis. Sontak saja Velo yang sudah turun dari motor langsung menghampiri Alea dan Calvin. Melihat Velo baik-baik saja membuat Alea tersenyum lega, saking senangnya Alea langsung memeluk Velo di depan umum. Velo kehabisan kata-kata, baru kali ini ia mendapat pelukan dari Alea. "Jangan balapan lagi Velo. Itu bahaya!" Velo menoleh pada Calvin apa yang terjadi dengan Alea sekarang, Calvin hanya mengedikkan bahu tak menahu kenapa Alea tiba-tiba menangis melihat dirinya balapan. "Jangan balapan lagi, aku mohon!" "Le, iya iya.. aku nggak akan balapan lagi. Kamu kenapa nangis?" Velo melepas pelukan Alea dan langsung menyentuh kedua pipi Alea yang masih terisak. Alea tersadar ia menangis saat ini. Ia juga sadar kalau barusan ia memeluk Avelo di depan umum. "A-aku baik-baik saja kok." "Lea, jangan nangis lagi!" Alea mengangguk. Dari kejauhan Nick yang akhirnya menjadi pemenang melihat sosok perempuan di depan Avelo. Ia tak begitu mempedulikannya, yang jelas sekarang ia menang dalam pertandingan. .... "Mau aku anter pulang?" tawar Avelo saat pertandingan telah usai. Alea mengangguk. "Vin urus sisanya ya, gue mau balik sama Lea." Calvin menggerutu. "Iya oke, ati2!" Sebelum pulang, Nick yang jatuh sebagai juara menghampri keduanya terlebih dahulu. "Oh jadi lo udah punya pacar?" Nick seperti menggodanya. "Mau apa lo. Pertandingan udah selesai. Lo yang menang, puas?" "Iya gue puas, tapi tadi harusnya lo bisa menang kalau bukan cewek lo yang menghentikannya." "Hei, ini semua bukan gara-gara Lea." Alea mundur dan bersembunyi di balik Avelo. "Gue nggak ada urusan lagi sama lo, jadi jangan ganggu gue." Nick malah tertawa, "hahaha, nyali lo ciut di depan cewek lo, pecundang!" Velo yang tersulut langsung menarik kerah Nick dan mendorongnya menjauh. "Jangan bikin gue emosi Nick!" Ancamnya. Velo menggandeng tangan Alea untuk pergi dari tempat itu. Merasa dipermalukan karena kejadian itu dilihat banyak orang yang masih ada di tempat balapan membuat Nick semakin kesal dengan Avelo. Velo melengos pergi tak peduli dengan Nick, ia membawa Alea untuk naik ke motornya. Seusai mengantar Alea pulang ke panti, kini Avelo harus segera pulang juga. Jam menunjukkan pukul 21.00 malam, kalau oa tak segera balik ke rumah, bisa-bisa ayahnya curiga dan malah berakibat buruk. Mengendap-endap, Velo masuk ke rumah dengan masih menenteng helmnya, suasana rumah yang temarang membuat Velo waswas, semoga saja tak ada yang mengetahui kedatangannya. Saat ia akan naik ke atas tangga, tiba-tiba lampunya menyala, Velo terkesiap dan langsung bersembunyi di balik dinding. Rupanya ayahnya —Exel tengah berjalan untuk mengambil sesuatu di meja tamu. Saat ia akan berbalik kembali ke kamarnya, Exel seperti merasakan ada seseorang yang memperhatikan mereka. Exel pun berjalan menuju ke arah persembunyian Velo. Ketika ia akan berbelok arah, Velo yang sudah waswas hanya bisa pasrah kalau Ayahnya mengetahui persembunyiannya di sana. Tiba-tiba saja dari arah belakang, seseorang menarik tangan Velo ketika Exel mengeceknya. "Nggak ada siapa-siapa." Exel pun berbalik dan kembali ke kamarnya yang berada di atas. Velo yang mendapat bungkaman dari seseorang langsung mendelik mencari tahu siapa yang menariknya tadi. "Sssst!!" Velo bernafas lega karena Alfa lah yang menolongnya, kalau saja ia tak segera ditarij Alfa tadi, mungkin dirinya akan ketahuan telah keluar malam dan pulang selarut ini. "Alfa!" "Ssst, kemana aja lo?" Velo malah cengengesan, "gue keluar bentar tadi." "b**o, lo tadi bohongin papa kan buat keluar, emang lo pikir gue nggak tahu apa?" "Sssst, jangan kasih tahu papah. Bisa bahaya!" "Lo yang bikin gue bahaya!" Alfa langsung menjitak kepala Velo dengan kesalnya. "Sakit Fa!" "Ikut gue!" Alfa menarik lengan jaket Velo dan membawanya ke kamar. Kini keduanya telah berada di satu kamar, Velo langsung menghempaskan diri di kasur, sementara Alfa langsung menarik kursi dan duduk dengan posisi terbalik menghadap ke arah Velo. "Balapan lagi?" "Iya." "Tapi kenapa tadi lo main kabur aja dari rumah?" "Fa, kalau gue keluyuran malam-malam, papah nggak mungkin ngizinin apalagi kalau tahu gue balapan." "Lo tahu, Albert tadi hampir kena marah sama Papah gara-gara lo." Velo yang masih di posisi rebahan langsung bangkit dan menatap Alfa serius. "Serius lo? Emang papah tahu gue keluar tadi?" "Ya enggak, tapi soal telepon itu. Ulah lo kan?" tuding Alfa. "Ya gue cuma ngalihin perhatian papah biar gue tadi bisa keluar." Velo mengelak. "Besok lo harus minta maaf sama Albert soal ini," perintah Alfa "Iya gue tahu." Velo kembali menghempaskan tubuhnya ke kasur belakang. Rupanya ia kelelahan sehabis balapan tadi. Saat tangan Velo meraba sesuatu dari balik selimut kasur milik Alfa. Saat ia mengambilnya, Velo merasa curiga dengan botol biru yang berisikan banyak pil di sana. "Fa, ini obat siapa?" Alfa yang tengah mengambil sesuatu dari lemarinya sontak terkejut melihat Velo menemukan sebuah obat di ranjang tempatnya berbaring. Rupanya Alfa lupa menaruhnya di lemari. Secepat kilat, Alfa langsung mengambil botol itu dari tangan Velo dan menyembunyikan di belakang. Velo semakin menaruh curiga padanya. "Obat apaan tuh?" "B-bukan apa-apa." Velo tak percaya, "itu punya lo?" Alfa membeku, ia bingung harus menjawabnya bagaimana. "Fa, itu obat lo?" "Itu cuma vitamin. Iya vitamin." "Vitamin?" Velo setengah tak percaya. "Lo serius?" "Iya, yaudah balik ke kamar lo. Gue mau tidur," usir Alfa mendorong Velo keluar dari kamarnya. "Iya iya, tapi jangan dorong-dorong gue!" Alfa langsung menutup pintu kamarnya setelah Velo keluar. Velo sendiri yang tak ambil pusing langsung menuju ke kamar yang bersebelahan dengan kamar Alfa. Tengah harinya, Velo tak bisa tidur. Ia masih memikirkan kejadian tadi saat Alea tiba-tiba muncul di area balap dan menghentikannya. Gadis itu juga memeluknya dan menangis. Apa yang terjadi dengan Alea, kenapa dia bisa menangis seperti itu? Velo bingung. "Kenapa dia minta gue buat nggak ikut balapan lagi." Velo bertanya-tanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN