Chapter 17 : Manda si bocil kematian

1233 Kata
Minggu pagi menjadi rutinitas Velo yang lebih memilih bangun agak siangan, sang pemilik kamar masih terlelap di balik selimut tebalnya. Alfa yang selalu kewalahan harus mengurus bayi besar satu ini ketika kedua orang tua mereka pergi. Saat Alfa masuk ke kamar Velo dan mendapati adiknya masih terlelap tidur. Ia hanya menggelengkan kepala. Alfa juga melihat kondisi kamar Velo yang seperti kapal pecah tak terurus, barang berserakan di mana-mana, tas, komik, sepatu, bahkan kaos kaki di tempatnya ke sembarangan. Alfa mencoba merapikan sedikit barang-barang milik Velo dan mengumpulkannya jadi satu dan menaruhnya di lemari kecil di sebelahnya. Dari semua barang yang ada di kamar Velo. Pandangan Alfa tertuju pada pada sebuah bingkai foto yang tergeletak di meja dan tepat di sebelahnya ada pesawat mainan yang ditaruh di sebelahnya. Alfa lalu mengambil bingkai foto itu, terlihat itu foto dirinya dan Velo saat masih kecil. Keduanya terlihat tertawa riang. Alfa kemudian mengambil pesawat mainan yang disebelah foto itu. "Ngeeeeng, awas pesawatnya mau lewat!" Suara Velo yang saat itu tengah bermain pesawat mainan terlihat begitu senang. Berlarian ke ruang tamu sementara Alfa tengah merakit robot di lantai. Tiba-tiba Velo berlari ke arahnya dan seketika menghancurkan rakitan robot milik Alfa. "Velooo, hati-hati, jadi rusakkan?" Alfa kesal. Velo seperti tak merasa bersalah, ia malah menjulurkan lidahnya pada Alfa dan kembali bermain pesawat mainan itu. Alfa yang marah langsung bangkit dan mengejar Velo dan menarik pesawat mainan Velo. Terjadi aksi tarik menarik pesawat mainan itu. "Ih Alfa, ini punyaku!" "Aku nggak mau tahu, robot aku rusak gara-gara kamu." Velo yang geram langsung mendorong Alfa hingga ia jatuh dan merusak rakitan robot mainan di belakangnya yang belum selesai. Sementara pesawat mainan Velo juga rusak. Mereka malah saling berkelahi satu sama lain. Suasana ruang tamu seketika jadi berantakan dengan mainan dan beberapa barang yang jatuh akibat ulah keduanya yang berkelahi. "Alfa, Velo!" Exel yang baru saja datang melihat kedua anaknya bertengkar langsung segera melerai mereka. Namun yang namanya anak-anak, Exel malah kewalahan dengan tindakan dua anak hiperaktif. Bahkan tak segan-segan Exel yang berusaha melerai malah mendapatkan pukulan dari Velo. Exel frustasi melihat Alfa dan Velo masih belum berhenti, kalau ada kejadian seperti ini biasanya Sharen akan lebih mudah membujuk mereka untuk berbaikan, tapi saat ini Sharen sedang berada di toko kue miliknya. Terpaksa Exel harus berusaha ektra untuk menghentikan dua anak ini. Satu tarikan pedas dari kedua telinga Alfa dan Velo membuat mereka meringis kesakitan. "Aaah, ampun pah!" Velo kesakitan. "Sakit pah!" Alfa memegang telinganya yang masih mendapat jeweran dari ayahnya itu. "Berhenti atau papah hukum kalian?" "I-iyaa pah, lepasin telinga Velo bisa putus pah!" Velo mengeluh. Exel melepas jeweran telinga Alfa. Namun tidak dengan Velo, ia malah semakin menjewernya lebih keras. "Pahh sakit!" "Pasti ini ulah kamukan Velo?" "Bu-bukan Pah, Alfa yang mulai." Velo berusaha mengelak. "Panggil dia Kak, Alfa lebih tua dari kamu Velo," ingat Exel. Exel kemudian melepas jeweran telinga anaknya itu, tampak kuping Velo kemerahan akibat jeweran dari ayahnya. Mengingat itu membuat Alfa tersenyum. Rupanya pesawat mainan yang telah rusak ini masih disimpan Velo sampai sekarang. "Ngapain lo di kamar gue?" Suara serak dari belakang mengejutkan Alfa yang saat ini memegang pesawat itu. Rupanya sang pemilik kamar diam-diam sudah bangun dengan kondisi wajah kucel dan sesekali menguap lebar. Alfa langsung menaruh mainan itu kembali, "lo udah bangun, gue baru aja mau bangunin lo!" Velo menguap lebar, "inikan hari minggu Fa!" "Ini udah jam berapa Vel?" Ingat Alfa. Saat Velo melirik ke jam dinding, rupanya sudah hampir jam 10 siang. "Iya gue tahu, sekarang gue udah bangun. Terus ngapain masih di sini?" Tanya Velo yang terlihat sinis. "Lo masih nyimpen mainan ini Vel?" Alfa memperlihatkan pesawat mainan yang masih ia pegang itu. Velo tampak tak peduli, "iya, emang kenapa?" "Enggak papa, gue nggak nyangka aja. Mainan ini yang dulu pernah rusak nggak sampai lo buang kaya mainan-mainan lo yang lain." "Hei, mana mungkin gue buang mainan kesayangan gue. Enak aja!" Tiba-tiba Velo merampas mainan itu dari tangan Alfa. Ting tong Terdengar suara bel dari arah depan. Keduanya saling berpandangan heran. "Fa bukain pintunya!" "Kok gue sih?" Alfa protes. Veli mengacak rambutnya, "gue belum mandi, gila lo! Cepet sana!" Velo mendorong Alfa untuk keluar dari kamarnya dan menutup kamarnya dengan agak keras. Alfa hanya meringis melihat kelakuan saudaranya hari ini. "Fa, jangan lupa bokser gue kembaliin!" "Berisik!" Suara keras Avelo dari dalam. Alfa hanya cengengesan. Alfa menghela nafas panjang, suara bel dari depan semakin terdengar, Alfa berjalan turun ke bawah untuk membukakan pintunya. "Iya sebentar!" Ting tong ... Alfa membuka pintu luar pelan, belum sempat mengetahui siapa tamunya, sosok itu langsung memeluk Alfa erat. "Kak Alfa, I miss you!" Seorang gadis berkuncir dua itu tampak begitu senang ketika melihat Alfa. Bahkan ia memeluk Alfa dengan erat. "Manda kangen banget sama Kak Alfa!" "Manda, lepasin!" Alfa terlihat sesak dengan pelukan yang diterimanya, ia sedikit mendorong tubuh Manda menjauh. Gadis itu masih meringis dengan kedatangannya. Alfa penasaran untuk apa adik sepupunya itu datang ke sini. "Kamu datang sendirian?" "Sama sopir tadi, udah aku suruh pulang," ucapnya polos. Alfa menghela nafas pendek, "tumben kamu ke sini?" Manda merogoh sesuatu dari tas selempangnya lalu memberikan sesuatu pada Alfa-sebuah amplop. "Dari papah buat Kak Alfa!" Alfa langsung menerimanya. Ia langsung tahu isi amplop coklat itu. "Makasih ya!" "Woi bocil, ngapain lo ke sini?" Teriak Velo dari atas ketika melihat Manda di rumah. Manda yang kesal dipanggil bocil langsung menatap sinis kearah Velo. "Sini lo kalau berani, beraninya dari atas!" "Coba aja ke sini, weeek!" Velo semakin meledeknya dan Manda tersulut, ia langsung berlari ke atas tangga untuk mengejar Velo. "Jangan lari lo!" Alfa tertawa melihat keduanya saat bertemu, sudah pemandangan biasa ketika Manda dan Velo bertemu. Sejak kecil mereka sering bermain bersama, saling meledek atau bahkan sesekali mereka berantem. Alasan kenapa Velo sering memanggil 'bocil' tak lain karena postur tubuh Manda memang kecil dengan sifat kekanak-kanakannya. Manda terpaut satu tahun dan merupakan adik sepupunya dari om Radith selaku kakak mamanya—Sharen. "Jangan lari lo Vel!" *** "What?? Lo mau tidur di sini?" Kejut Manda saat ketiganya berada di ruang tengah. "Siapa yang nyuruh?" lanjutnya lagi. "Papah, barusan papa ngabarin kalau ada pertemuan keluarga, jadi tante Sharen, om Exel, mama sama papah pergi deh!" "Sialan mereka!" Upat Velo geram. "Vel!" Senggol Alfa yang tak sengaja mengupat tadi. "Fa lo nggak tau makan di bocil satu banyak!" "Jangan panggil gue bocil!" Manda melempar bantal kecil tepat di kepala Velo dengan kesal. "Yaudah lah entar makan di luar!" Bela Alfa menggampangkan. Manda puas, "nah setuju, kita makan di luar, aku mau makan ramen, sushi sama marta-" belum sempat Manda menyelesaikan keinginanya, Velo langsung membungkam mulut gadis itu. "Nggak ada yang nanya keinginan lo!" Manda langsung menampik tangan Velo dari mulutnya. "Aish!" "Boleh, kita makan di luar!" "Setuju!" Manda puas sambil menjulurkan mulutnya seperti meledek Velo saat ini. "Fa!" Velo sedikit protes. "Manda itu adik kita, mau lo kena marah?" Bantah Alfa. "Uch kak Alfa memang the best deh!" "Najis!" Upat Velo pelan. Hari itu, berhubung hari ini tidak ada kegiatan, Manda mengajak Velo dan Alfa untuk menemaninya jalan-jalan. Awalnya Velo menolak karena keinginan Manda sangatlah kekanak-kanakan seperti mengajaknya ke taman bermain Dufan, tapi karena rengekan Manda dan bujukan Alfa untuk mengiyakan keinginan Manda, Velo terpaksa menurut. Ketiganya masuk ke mobil bersama, Alfa mengemudikan mobil, Velo duduk di sebelahnya, sementara Manda duduk di belakang. Baru saja Alfa memanaskan mobil, Manda tampak kegirangan, sangat berbeda dengan Velo yang sejak tadi menekuk wajahnya dengan kesal. "Berangkat!" Seru Manda bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN