Kali ini kita lihat keseruan Alfa-Velo-Manda di sini
Check!
Taman bermain Dufan, Ancol, Jakarta.
"Kak Alfa, Kak Alfa ayo naik itu!" Seru Manda menunjuk salah satu wahana roller coaster di depannya. Ia langsung menarik tangan Alfa paksa.
Sementara Velo yang berada di belakang hanya bisa mendengus menuruti keinginann adik sepupunya itu.
Alfa menurut saja saat Manda memesan tiga tiket untuk mereka naik wahana. "Tiga ya Pak!"
Mengetahui Manda memesan tiga tiket sontak saja membiat Velo tersentak. "Tiga, sama siapa aja?" Protes Velo.
"Gue, elo sama Kak Alfa!"
"Gue nggak ikut!" Tolak Velo.
Manda geram, "tapi aku udah pesenin tiket Velo!"
"Gue nggak minta lo pesenin!"
Manda semakin geram, ia kembali merengek pada Alfa untuk membantu membujuk Velo agar mau naik.
"Vel!" Alfa langsung memanggilnya.
"Apa?" Ketusnya.
"Ayolah!"
Velo mendecak lidahnya, dengan perasaan kesal Velo memilih pergi meninggalkan keduanya.
"Velo!"
"Velo lo mau ke mana?" tanya Alfa
"Cari minum!" Velo meninggalkan keduanya.
Alfa hanya bisa mendesah pelan. Terpaksa dirinya yang harus menemani Manda naik wahana itu.
"Kita berdua aja ya!"
Manda kecewa, "yaudah deh!"
Setelah memesan tiket, Alfa dan Manda segera mengantri di lokasi menunggu giliran. Tampak keduanya begitu senang saat tiba giliran untuk naik roller coaster itu.
Sementara itu, Velo yang berjalan sendirian tak tentu arah memilih berhenti sejenak sembari mengamati di sekitar. Tepat di depannya ada badut berkostum panda dengan membawa banyak balon yang dibagikan pada anak-anak kecil yang lewat.
Melihat keceriaan anak-anak di tempat itu mengingatkan Velo tentang anak-anak di panti asuhan Mentari. Sudah seminggu ini dia tak mempir ke sana.
"Coba aja ada Alea ke sini sama anak-anak, pasti seru, huft!"
Saat ia akan berbalik arah, tiba-tiba tak sengaja ia malah menabrak anak kecil yang berlarian, sontak saja anak itu terpental dan jatuh hingga menangis.
"Dennis!"
Dari jauh ibu dari anak itu memanggil dan langsung menghampirinya. " sayang jangan lari-larian!"
Velo langsung membantunya untuk berdiri. "Lain kali hati-hati ya!" Velo tersenyum ramah.
"Dennis!"
"Mama!" Dennis berhambur memeluk ibunya yang datang.
"Sudah mama bilang, jangan lari-larian sayang!"
Dennis meringis menunjukkan deretan gigi kelincinya, "maaf mama!"
"Maafkan Dennis ya nak, tadi sudah menabrak Nak-" ucapan ibu itu menggantung saat ingin memanggil namanya.
"Velo, panggil saja saya Velo!"
"Maaf nak Velo!"
Dennis masih setia memeluk ibunya, namun matanya masih tertuju pada badut yang membawa balon dari kejauhan.
"Mama, Dennis mau balon itu!" Tunjuknya.
"Iya, nanti Mama beliin kalau kamu nurut sama mama, Dennis!"
Ibu itu masih terlihat canggung saat berhadapan dengan Velo. "Sekali lagi saya minta maaf ya Nak Velo!"
"Mama ayo!" Dennis menarik ibunya untuk membawanya ke badut itu.
"Saya permisi dulu ya!" Pamitnya
Velo hanya mengulas senyum tipis. Anak kecil itu seketika mengingatkan dirinya saat bermain bersama mamanya, kenakalannya hampir sama dengannya.
Melihat anak-anak yang tengah dibagikan balon oleh badut itu membuat Velo memiliki sebuah ide. Ia langsung berlari mencari penjual balon lain dan membeli semua balon-balon itu. Dan ketika melihat si badut panda itu sudah kehabisan balon, waktunya ia beraksi dengan menghampirinya.
"Siapa yang mau balon lagi!" Seru Velo berteriak di depan umum. Sontak saja anak-anak yang belum kebagian balon bergerumun menghampirinya.
"Aku kak, aku... aku... " Velo langsung diserbu anak-anak kecil itu. Tak lupa ia juga memberikan beberapa balon pada badut itu untuk membantunya membagikan balon pada anak-anak.
Satu persatu anak-anak mendapatkan balon dengan warna yang berbeda-beda. Terlihat kegembiran menghiasi wajah dari anak-anak itu, mereka berlarian sambil membawa balon miliknya. Kini tinggal dua balon yang tersisa.
"Kerja bagus Tuan Badut!" Velo memberikan dua jempol dan tersenyum pada badut panda itu.
"VELOO!" teriak Manda meneriaki namanya diikuti Alfa di belakang.
Manda dan Alfa menghampirinya. "Lo kemana aja sih. Ngilang mulu. Capek tau nyariin!" keluh Manda cemberut.
Velo tampak santai, "Gue kan nggak nyuruh kalian nyari!"
"Ishh!" Manda semakin mendumel.
"Udah mau sore. Pulang yuk!" Ajak Alfa.
"Tunggu dulu, aku mau ajak kalian makan, aku mau makan nasi goreng, terus sate sama-" belum selesai Manda menyelesaikan ucapannya, Velo langsung membungkam mulutnya.
"Ssstt, gue nggak nanya keinginan lo. Berisik!"
Manda cemberut.
"Oh ya, gue mau kenalin Tuan Badu-" saat Velo menoleh ke belakang, badut panda itu sudah pergi entah kemana. "Ke mana badut tadi?"
"Badut? Oh yang berkostum panda itu. Tadi udah pergi," kata Alfa.
Velo mendengus kesal. "Sial!"
"Memang siapa itu badut?" tanya Manda penasaran.
"Bukan siapa-siapa. Yaudah pergi yuk!" Ajak Velo.
Manda mengandeng satu tangan Alfa dan Velo berdampingan. Sementara keduanya hanya bisa menuruti keinginan adik sepupunya itu.
***
Di tempat lain, badut berkostum panda tadi duduk di kursi panjang setelah lelah seharian bekerja, ia langsung membuka kepala badut itu, tampak keringat mengguyur wajahnya.
"Capeknya hari ini!" Ia menyeka keringatnya sesekali mengipas-ipas wajahnya yang berkeringat.
Drttttt, suara getaran ponsel di saku celananya mengejutkannya. Ia langsung mengambil ponsel itu dan membalas panggilan di sana.
"Iya halo!"
"Janice, lo ke mana aja?"
"Aku di luar Kak, kenapa?"
"Pulang nggak!"
"Iya iya, bentar lagi pulang."
"Awas kalau keluyuran lagi!"
"Iya, bawel!" Janice yang kesal langsung menutup teleponnya. Ia mendengus kesal. Kakaknya-Nick memang terkadang terlalu overprotektif padanya.
Mengenai pekerja paruh waktunya di taman hiburan tentu Janice tak pernah memberitahu kakaknya soal ini, kalau sampai kakaknya tahu, pasti ia akan dimarahi habis-habisan olehnya. Janice terpaksa bekerja untuk sekedar membantu kakaknya untuk menyelesaikan hutang ayahnya.
Mobil yang ditumpangi ketiganya berhenti di restoran cepat saji khas Jepang, Manda begitu antusias saat turun dari mobil.
"Lho bukannya tadi lo bilang mau nasi goreng?" tanya Velo.
"Gue berubah pikiran, di sini mie ramennya enak banget, dan hari ini ada promo."
"Promo?" Alfa tak tahu.
"Udah ayo masuk!" Manda membawa masuk keduanya. Mereka duduk di meja yang kosong. Saat pelayan datang Manda langsung memesan makanan yang diinginkannya.
"Apa promo hari ini masih ada?"
"Masih ada Nona, satu porsi ramen jumbo dengan mangkok besar."
"Saya pesan itu."
Velo melongo, "lo yakin? Itu banyak banget."
"Jangan panggil gue Manda kalau gue nggak bisa habisin makanan itu." Manda penuh percaya diri.
Sementara Velo dan Alfa memesan porsi normal, Mangkok yang dipesan Manda dua kali lipat dari porsi mereka. Kedua laki-laki di depannya hanya bisa menelan ludahnya saat melihat porsi makan Manda yang kelewat abnormal.
"Ini alasannya gue nggak pernah mau ajak dia buat makan. Gilak nggak nih cewek kalau makan?" bisik Velo diam-diam di telinga Alfa.
Alfa hanya tersenyum.
Manda makan dengan lahapnya, bahkan dia berhasil menghabiskan satu mangkok ramen jumbonya. Belum sampai itu saja, setelah membawa Alfa dan Velo makan, Manda masih belum puas jalan-jalan. Ia membawa mereka untuk menikmati atraksi di tengah kota yang menyuguhkan musik dekat taman kota, banyak orang lalu lalang di sana.
Salah satu pertunjukkan yang dinanti adalah band jalanan dengan penampilannya yang memukau. Manda sebenarnya bukan tertarik lagu yang dibawakan band itu, melainkan dengan vokalis yang membawakan lagu itu.
"Manis banget!" Puji Manda terpesona.
Velo yang melihat hanya tersenyum kecut, tiba-tiba terbesit di pikiran cowok itu, ia langsung berjalan ke depan setelah band itu menyelesaikan pertunjukkannya. Manda yang melihat ikut terkejut.
Velo meminjam salah satu gitar dan mengambil alih mic di depan. Orang-orang di sekeliling kebingungan, begitu juga dengan personil band itu.
"Velo gilak!" umpat Manda mendengus.
Bersamaan juga, Janice yang baru pulang lewat di tempat itu, ia berhenti sejenak saat melihat kerumunan di depannya.
Velo dengan penuh percaya diri mulai memetik gitarnya, ia meringis pada personil lainnya yang ikut kebingungan.
"Tes, selamat malam, sorry gue ganggu waktu kalian. Gue mau mempersembahin satu lagu malam ini."
Manda tak berani lihat. Namun di luar dugaan, Velo mulai mengalunkan satu lagu dengan iringa gitarnya, awalnya personil lainnya tak begitu paham, tapi setelah dirasa lagu yang dibawakan Velo enak didengar, mereka ikut saja mengiringi Velo menyanyi.
Manda bahkan takjub mendengar suara Velo diluar dugaannya. Ia melongo melihat atraksi Velo yang nekat itu.
Penonton banyak yang berdatangan, bahkan vokalis asli band itu tampak begitu senang dengan banyaknya penonton. Ia sangat berterimakasih pada Velo.
Tak jauh dari tempat itu, Janice ikut menikmati lagu yang dibawakan Velo. Diam-diam ia kagum dengannya.
Bahkan setelah lagu selesai, vokalis band itu merangkul Velo layaknya teman yang sudah membantunya, mereka sangat berterimakasih pada Velo yang sudah membantunya.
Setelah pertunjukkan selesai, Manda dan Alfa menghampirinya.
"Thank ya, tadi penampilan lo keren banget, suara lo juga," kata vokalis band itu.
"Gue hanya mau hibur adik gue, tuh!" tunjuk Velo pada Manda. Sontak pipi Manda memerah.
"Hai!" Sapa vokalis itu mengulurkan tangan pada Manda. "Kenalin nama gue Gavin."
Manda tersenyum malu. "Man-manda!"
"Manda?" Gavin mengulang ucapannya.
Kedua tangan mereka bersalaman, disusul Velo dan Alfa yang juga mengenalkan diri pada mereka. Mereka tertawa satu sama lain.
....
"Veloooo, makasih. Gue akhirnya dapat nomernya Gavin!" Manda mengedipkan mata di depan Velo sambil memperlihatkan deretan giginya.
Velo bersikap acuh, "iya."
"Eh, tapi kok lo tahu sih kalau gue tertarik sama dia?"
Velo tertawa kecil, "apa sih yang nggak gue ketahui?" Velo menyombongkan diri.
"Tapi makasih Velo, lo baik banget. Baikkk banget. Gue beruntung banget punya sepupu kaya lo."
"Kalau ada maunya, lo baik."
"Gue emang baik."
"Dasar bocil!"
"Apa lo bilang?"
"Bocil."
Manda berdecak kesal, "VELOOO!" tanpa aba-aba, saat Velo berjalan duluan Manda langsung berlari dan langsung naik ke atas punggung Velo.
"Aaaa, Manda berat."
"Apanya yang berat?"
"Badan lo BG."
"Lo bilang apa tadi? Gue b**o??"
"Turun nggak?" Velo tampk risih, tapi Manda malah makin mengeratkan pegangan agar tak jatuh di punggung Velo.
"Nggak mau," kukuh Manda
"Amanda!"
"Nggak mau!"
Velo frustasi, sementara Alfa hanya tertawa melihat tingkah keduanya yang kekanak-kanakan.
"Fa, bantuin gue!"
Alfa malah nyelonong berjalan ke depan sambil nyengir meninggalkan mereka di belakang.
"Fa, Alfa!" teriak kesal Velo. "Bantuin gue!"
Manda tersenyum puas.