"Huaaa!" Velo menguap lebar ketika mendengarkan pelajaran sejarah. Pak Sandy -gurunya tampak serius menjelaskan perang gerilya yang dilakukan Pangeran Diponegoro dalam melawan belanda.
"Pada 20 Juli 1825 Belanda menyerang Tegalrejo dan Pangeran Diponegoro mengangkat senjata melawan kesewenangan itu. Perang Jawa ini berkobar dan berlangsung selama kurang lebih 5 tahun dari 1825 hingga 1830. Ia memimpin kurang lebih 100,000 pasukan. Lawan Pangeran dipimpih oleh Jenderal Hendrik Merkus de Kock yang memiliki kekuatan 50 ribu pasukan."
Velo yang sudah tampak bosan memilih mendengarkan lagu dari balik headset miliknya dan berpura-pura mendengarkan.
"Velo, sekarang coba sebutkan tahun berapa perang diponegoro berlangsung?" Tanya tiba-tiba Pak Sandy pada Velo yang terlihat khusuk menyimak.
"Hah?" Velo menoleh pada Calvin-teman sebangkunya.
Calvin memberi isyarat Velo untum melepas headsetnya, "buka headset lo b**o!"
"Velo, jawab pertanyaan bapak, tahun berapa perang diponegoro berlangsung?"
Glup, Velo menelan ludah payah, ia melirik pada Calvin untuk membantunya. "Tahun berapa?"Bisiknya pelan.
Calvin hanya mengisyarakan angka dengan menggerakkan mulutnya di samping Velo. Namun, laki-laki tak paham sampai Pak Sandy yang memergoki Calvin membantunya langsung ditegur.
"Calvin, jangan bantu Velo."
"Cepat Velo, jawab pertanyaan bapak!"
Velo terlihat bingung, "i-itu pak. Emm, tahun sebelum Masehi pak!" Spontan Velo dengan lugas menjawab.
Langsung saja, tawa mengema di seluruh kelas karena jawaban Velo yang salah. Calvin hanya bisa menepuk jidat mendengar jawaban soibnya itu.
"Velo, makanya dengarkan apa yang bapak terangkan. Hari ini kamu bapak hukum membuat rangkuman artikel kisah pangeran diponegoro dalam melawan belanda. Besok lusa, kumpulkan di meja saya." Perintah pak Sandy.
Mendengar itu,Calvin seperti tertawa puas mendengar hukuman yang diberikan pada Avelo.
"Bapak akan lanjutkan pelajarannya, buka buku kalian halaman 87, kerjakan dan kumpulkan nanti sepulang sekolah."
"Baik pak!"
***
Saat istirahat, Velo langsung menghampiri Calvin yang asyik sendirian menyantap soimah di kantin.
"Sialan lo!" Tepukan dari belakang punggùng Velo cukup membuat Calvin tersedak.
"Gila lo Vel, mau bikin gue mati kesedak apa?"
"Seneng lo ya ngelihatin gue tadi di kelas?"
"Eh Vel, gue udah ngasih tahu lo, lo aja yang nggak paham-paham, makanya belajar lo!"
"Anjing lo! Gini-gini gue pernah masuk 10 besar ranking di sekolah ini."
"Iya-iya gue percaya lo pinter, terus kenapa tadi lo nggak bisa jawab?"
Velo menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Tadi malam gue ikut balapan motor, kayaknya gue kurang tidur, lemes banget gue!"
"Kebiasaan lo!"
"Vin bagi Siomay, gue laper banget deh!" Velo langsung mencomot mangkok siomay milih Calvin.
"Vel, ngadi-ngadi lo ya, pesen sendiri kek!"
"Dikit doang Vin, pelit lo!" Velo memakan habis siomay milih Calvin tanpa sisa.
"Pelit pelit, makanan gue, lo habisin nih!" Gerutu Calvin kesal, "kebiasaan lo!"
Alea masuk ke dalam kantin bersama Rena. Pandangan Avelo langsung tertuju padanya, ia berdiri dan langsung menghampiri Alea.
"Lea!"
Alea menoleh, "Velo!"
"Kamu udah makan belum, makan bareng yuk!"
Alea mengangguk, Velo menggandeng tangan Alea dan duduk di depan Calvin, diikuti Rena yang ikut gabung bersama mereka.
"Aku pesenin makanan, kamu mau bakso, siomay atau..."
Calvin mencebikkan bibirnya, "giliran Lea aja, sok baik banget, gimana nasib makanan gue yang lo embat tadi?"
"Ehh Vin, nggak usah iri, lo mau gue ganti siomay yang tadi gue makan?"
"Sorry ya Vel, gue bisa beli sendiri!" Calvin bangkit dan memesan minuman.
"Lea mau gue peseni Jus, kali aja Velo cuman mesenin makanan doang nggak pake minum."
"Ehhhh!" Velo tampak kesal dengan sahabatnya yang mencoba menggoda Alea. "Nggak usah macam-macam lo!"
Calvin meringis menggoda keduanya. Alea hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.
"Calvin itu sahabat kamu ya?" tanya Alea.
"Dia itu soib gue, dari dia bayi sampe segede itu tuh gue sama-sama dia," celoteh Velo membuat Alea tertawa.
"Kamu lucu Velo!"
"Kamu cantik Lea!" Goda Velo mengedikkapn mata kirinya membuat Alea tersipu malu di depannya.
Calvin kembali datang membawa dua minuman jus, dan langsung memberikan pada Alea.
"Hoeekk, siang-siang udah bucin aja lo Vel, Lea, gue pesenin jus buat lo!"
Langsung saja Velo merampas minuman itu dan membuat Calvin kesal.
"VELOOO!"
"Nggak usah sok baik sama Lea! Dia itu calon pacar gue, ngerti nggak?" Kesal Velo.
Calvin tertawa, "Gitu aja cemburu lo!"
"Bentar Lea, aku pesenin siomay dulu, tunggu di sini!" Velo bangkit untuk memesan makanan untuknya.
Selagi menunggu Velo, Alea menatap Calvin yang saat ini menyeruput jus jambu.
"Velo itu lucu ya?"
Calvin kaget, "Tadi lo bilang apa? Anak berandal kaya dia lucu? Lea gue kasih tahu ya, kejelekan Velo, pertama dia itu suka bolos pelajaran, kedua dia..."
"B-bacoot lu Vin!" Velo langsung membungkam mulut Calvin dengan tangannya.
"Lo mau ngejelekin gue di depan Lea?"
"Emang gue bicara kenyataan."
"Bacot, nggak usah didengerin Le, aku nggak kaya gitu kok."
Alea hanya mengulas senyum tipis. Melihat tingkah laku Calvin dan Velo seketika mengingatkan dirinya pada seseorang yang selalu membuatnua tertawa dengan tingkah lucunya.
"Le, ntar pulang sekolah kamu pulang naik apa?" Tanya Velo.
"Kalau nggak bus, mungkin jalan kaki."
"Yaudah kebetulan, sama aku aja!"
"Jangan mau Lea, Velo kalau naik motor suka ugal-ugalan, ngebut, bisa-bisa lo celaka."
"Eh mana mungkin gue berani ngebut kalau sama Lea?" Velo membela diri.
"Ya kali aja lo nekat."
"Eh cumi, elo bukannya dukung gue malah ngejelekin gue di depan Lea."
Alea tanpa sadar tertawa kecil, "kalian lucu ya kalau berantem."
Melihat senyum tipis di bibir Alea tanpa sadar membuat Velo ikut tersenyum. "Lea, kamu kok cantik banget sih kalau tersenyum?"
"Hoek!" Kembali Calvin muntah di depan Velo melihat rayuan Velo.
"Diem lo!"
....
Di sisi lain, Alfa tak sengaja masuk ke lapangan basket yang saat ini sepi sehabis rapat OSIS. Kondisi lapangan yang sepi membuatnya ia berani untuk bermain seorang diri di sana.
Ia ingat bagaimana pertama kalinya Alfa dibelikan bola oleh ayahnya dulu, dan untuk pertama kalinya ia sangat mencintai bola. Tanpa sadar Alfa melempar dan berhasil memasukkan bola itu ke ring.
Tak bisa dipungkiri, ia sangat merindukan saat bermain basket seperti masa kecilnya.
Sepulang sekolah, Velo langsung menarik tangan Alea untuk naik ke motornya. Hari ini ia ingin mengantar Lea pulang sekaligus pergi ke Panti Asuhan.
"Lagian aku juga kangen sama anak-anak, jadi sekalian aja."
"Makasih ya Velo!"
Velo memakaikan helm pada Alea, hal itu dilihat langsung oleh beberapa anak perempuan yang tampak iri pada Alea.
"FA!" Panggil Avelo saat melihat Alfa dari kejauhan.
Alfa menoleh ke arahnya.
"Bilangin ke Mama, gue mau jalan-jalan bentar sama Lea."
"Lo nggak pulang malam kan?"
"Tenang aja, entar gue pulang habis nganterin Lea pulang."
"Oke, nggak usah ngebut, lo bawa anak orang!"
"Lea tanggung jawab gue, gue bakal jaga dia."
Alfa terkekeh.
Motor ninja merah milik Velo keluar dari gerbang sekolahan, Alfa yang sudah masuk ke dalam mobil melihat keduanya dari kejauhan.
"Jalan pak!" perintah Alfa setelah masuk ke dalam mobil.