Di panti asuhan
Motor ninja milik Velo memasuki rumah kecil di mana banyak anak-anak kecil tengah bermain di sana. Kedatangan Velo tentu disambut hangat oleh anak-anak lain.
"Kak Lea!" Semua langsung merubungi Alea.
"Hai anak-anak!" Teriak Velo terlihat begitu bersemangat.
"Kak Velo!"
Velo cukup dikenal anak-anak di sana. Ia juga disambut hangat oleh Om Fariz dengan kedatangan Velo di panti asuhan.
Melihay kedatangan Velo, tak hayal membuat Alea yang biasanya diam menjadi lebih atraktif dan tertawa bersama anak-anak. Sungguh pemandangan yang langka, om Fariz yakin kalau Velo bisa membuat Alea kembali ceria seperti dulu.
Sementara itu di rumah keluarga Vernandes, Alfa yang pulang sendirian langsung disambut oleh Sharen yang tengah membuat kue.
"Mama!"
"Halo sayang, kamu sudah pulang?"
"Mama udah buatin makanan di meja, Alfa kamu sendirian? Mana Velo? Pasti keluyuran lagi?"
"Enggak kok Mah, tadi Velo pamit sama Alfa mau anter Lea pulang."
"Lea? Siapa Lea?"
"Gebetan baru Velo."
"Gebetan, ada-ada aja anak itu. Yaudah kamu makan dulu, dan jangan lupa obatnya di minum, oke?"
"Iya Mah!"
Sharen sangat menyayangi Alfa bahkan bisa dibilang rasa sayangnya melebihi Avelo, anak kandungnya sendiri. Sharen memang tak membeda-bedakan keduanya. Namun kalau sesuatu berhubungan dengan Alfa, ia akan jadi orang pertama yang sangat khawatir akan keselamatannya.
Sharen juga sadar, kalau Velo kadang iri dengan Alfa, tapi dibalik itu semua, kedua anaknya sangatlah akur walau kadang ada keributan kecil di rumah sebesar ini.
....
"Velo!" Panggil Alea saat keduanya duduk ayunan di belakang panti.
"Iya, ada apa?"
"Kamu ingat nggak waktu masih kecil?"
"Masa kecil? Yang aku inget waktu berantem sama Alfa, dia kakak gue, tapi orangnya ngeselin banget."
"Dulu waktu aku masih kecil, waktu mama masih ada, aku hampir hilang gara-gara pisah waktu di taman bermain."
"Kamu sih, pasti bandel makanya bisa ilang."
"Enggak kok, justru waktu hilang itu, ada seseorang nyelamatin aku."
"Oh ya, siapa?"
"Velo, kamu nggak ingat?"
"Ingat apa?"
"Ingat pernah nyelamatin orang."
Belum sempat mereka berbincang lebih lama, anak-anak langsung memanggil mereka untuk bermain kembali.
"Kak Lea, kal Velo, ayo main lagi!"
'"Lea, ayo main sama anak-anak lagi."
Wajah Alea yang tadinya cemberut kembali ceria saat Velo menarik tangannya. Namun dalam hati Alea berkecambung, apa Velo melupakannya?
***
Malam harinya, Velo bersandar di belakang rumah di samping kolam renang sambil memandang ke arah langit. Sambil membayangkan wajah manis Alea saat tersenyum.
"Alea!"
Tanpa sadar, Alfa datang menghampirinya.
"Vel!"
"Apaan sih lo, gangguin gue lagi bayangin wajah Lea aja," gerutu Velo kesal
Alfa duduk di samping kursi panjang di mana Velo saat ini bersandar.
"Lusa depan pertandingan basket antar sekolah, gue dapat komplain kalau lo sering bolos waktu latihan. Vel, kita udah buat kesepakatan kalau lo mau."
"Iya iya, besok gue datang latihan. Lagian gue latihan atau nggak, sekolah kita bakal tetap menang, tenang aja."
"Bukan masalah itu, tapi tanggung
jawab lo buat pertandingan itu."
"Iya iyaa, lama-lama lo kaya mama, seneng banget ngatur-ngatur gue," geram Velo.
Velo menguap lebar, "Huaa, ngantuk gue, gue balik ke kamar duluan ya!"
Velo bangkit, menepuk bahu Alfa sebentar sebentar kemudian kembali masuk ke dalam rumah. Kini Alfa lah yang duduk di kursi panjang depan kolam renang sambil termenung memikirkan sesuatu.
***
Hari berikutnya,
Pagi hari selalu menjadi kebiasaan Velo yang baru selesai mandi selalu memutar lagu rock yang cukup keras dengan masih memakai handuk di pinggangnya.
Sambil berkaca di depan cermin besar, ia membenarkan posisi rambutnya dengan memakai gatsby agar terlihat rapi.
"Pasti Lea bakal terpesona sama penampilan gue," pujinya pada diri sendiri.
Sementara itu, di meja makan Alfa tampak terlihat lesu duduk di meja makan seorang diri sementara kedua orang tuanya sedang ada urusan bisnis. Sarapan selalu tersaji lengkap di meja makan lengkap mulai dari s**u dan roti bakar.
"Uhuk!" Alfa terbatuk lagi, ia merasa ada yang nggak beres dengan tubuhnya.
Selang beberapa menit, Velo turun dengan penampilan dirinya yang sudah siap untuk berangkat sekolah.
"Pagi!"
"Pagi Vel!"
Velo mencomot roti dan juga minuman di meja. "Papa sama mama belum pulang ya?"
"Katanya mereka nanti pulang lusa depan!"
"Yes, gue bebas malam ini!"
"Bebas apa? " Alfa langsung mengernyit
Velo duduk di samping Alfa sambil sarapan roti, saat ia menoleh ke wajah Alfa, wajah Alfa tampak terlihat pucat tak biasanya.
"Lo sakit? Wajah lo pucet banget kaya mayat hidup."
"Gue kurang tidur kali, nanti juga sembuh!"
"Serius?" Avelo tak percaya.
"Sejak kapan lo cemasin gue, mendingan lo cemasin diri lo biar nggak dihukum lagi di sekolah."
"Lo beneran nggak sakit kan?"
"Enggak Vel, lo tenang aja. Gue sehat kok."
"Ya udah kalau gitu, gue berangkat duluan ya, sampai jumpa di sekolah!"
Alfa hanya mengulas senyum tipis pada saat Velo beranjak pergi. Namun kali ini, Alfa tak langsung berangkat, ia mengambil handphone dan menelpon seseorang.
"Om Radith!"
.....
Di sekolah
Kedatangan Velo tentu selalu jadi pusat perhatian, baru saja motornya terparkir di depan saja membuat beberapa gadis berhenti hanya untuk melihatnya.
Sementara itu dari kejauhan, Alea juga baru datang. Melihat Lea dari jauh langsung membuat Velo bersemangat. Ia langsung berteriak di tengah lapangan menyebut namanya.
"LEAAA!"
Alea berhenti dan menoleh ke samping, melihat Velo melambaikan tangan ke arahnya. "Velo!"