Chapter 10 : Avelo dan Ayahnya

1288 Kata
Brum... Motor ninja merah melaju dengan kecepatan 160 km/jam di salah satu jalanan ibukota. Tampaknya sang pengendara dengan helm hitam itu tengah mengebut. "Ah sial," umpat Velo kesal. Ia melirik pada jam tangan yang melingkar di pergelangannya. Ia terpaksa berhenti dan menunggu lampu berubah jadi hijau kembali. Getaran ponsel dari balik jaketnya seketika membuyarkan lamunannya. Velo tak langsung mengangkatnya karena bersamaan lampu hijau sudah menyala. Ia kembali melajukan motornya agak melambat dan berhenti di tepian jalan. Segera ia melepas helm dan langsung mengambil ponsel itu. "Halo!" Panggilan masuk dari salah satu temannya memanggilnya, bahkan sampai 5 missed call dari orang bernama Andre. "Iya bentar lagi gue ke sana, gimana anak-anak, udah mulai?" tanya Velo. "Lo cepet ke sini Vel, kita kalah jumlah sekarang!" Avelo mengerti, "Oke gue akan ke sana!" Bergegas setelah Avelo mematikan ponselnya, ia kembali menyalakan motornya. Bergegas menuju ke tempat teman-temannya berada. Lampu merah "Pak, ada macet apa sih di depan?" tanya Alfa dari dalam mobil. "Nggak tahu Tuan, kayaknya ada tawuran anak sekolah." "Tawuran?" Suara peluit polisi menghentikan aksi mereka yang menghalangi jalan raya, beberpa anak berseragam sekolah SMA tengah saling adu dengan Anak SMA berbeda. Bisa dipastikan ini konflik antar sekolah antar gang. "Yaudah saya turun aja ke sini!" Alfa terpaksa turun dari mobil, ia tak mempedulikan kemacetan yang terjadi di depannya-yang paling penting sekarang adalah ia sampai sekolah tepat waktu. *** Alfa telah lolos dari kemacetan jalan raya akibat tawuran tadi, ia memilih melewati jalan kecil sebagai alternatifnya. Meow meow, suara kucing mengejutkan Alfa yang melewati jalan kecil di depannya. Ia mencari sumber suara di mana kucing itu berada. Matanya dikejutkan dengan sosok kucing yang terjebak di atas pohon dan ia juga melihat seorang gadis muda berusaha memanjat pohon untuk menyelamatkan kucing cokelat itu. Alfa melongo, ia diam di tempat tanpa berkata-kata, diamati gadis itu berhasil membawa kucing itu dalam genggamannya. Gadis itu tersenyum senang. Namun, saat hendak turun tampaknya gadis itu kesulitan. Alfa yang dari kejauhan mengamati kaki gadis itu salah menapaki satu dahan-dan benar saja, gadis itu terpeleset. Aaaaa Bruk, sontak gerakan reflek Alfa berlari dan menangkapnya-berhasil, ia menyelamatkan gadis itu bersamaan dengan kucing yang masih dalam pelukannya. Dua iris mata mereka saling bertemu, Alfa bahkan sampai tak berkedip. Begitu juga dengan gadis itu. Tersadar, Alfa langsung menurunkan gadis itu, keduanya canggung. "Terima kasih!" Alfa tak berkutik, ia hanya mengulas senyum tipis tanpa bersuara. Beberpa detik mereka saling diam, sampai Alfa membuka suara saat melihat logo dari baju itu yang memiliki kesamaan dengan sekolahnya-season Star. "Kamu anak Season Star?" tanyanya. Gadis itu tak paham, tapi ketika ia melihat logo yang sama dari laki-laki itu, ia mengiyakan. "I-iya, kamu juga?" Alfa mengangguk. "Oh ya, kamu nggak luka kan?" Gadis itu menggelengkan kepala, ia malah berterimakasih dengan laki-laki yang menolongnya itu. *** "VELO!" Suara teriaka temannya Andre melihat Avelo telah datang, saat perkelahian dengan anak sekolah yang menjadi musuhnya Elios Star-dan ketua geng di sana adalah musuh bebuyutan Avelo-Nick Anderson. Tak banyak bicaraa, Avelo telah siap, dia langsung bergabung untuk membantu teman satu gengnya. Perkelahian mereka sampai turun ke jalanan dan mengakibatkan kemacetan hingga polisi pun turun tangan untuk menghentikannya. Suara peluit panjang mengejutkan kedua geng, beberpa tampak lari terbirit-b***t dan beberapa berhasil kabur. Nick dan Avelo saling berhadapan. Sorot mata keduanya menyimpan dendam, menghiraukan peluit polisi, keduanya masih bersitegang, bail Avelo dan Nick sama-sama terluka terutama di wajah. Satu motor berhenti di depan Nick, dan langsung membawa laki-laki itu berhasil kabur sebelum polisi menangkapnya. Sementara Avelo masih diam di tempat membiarkan lawannya kabur. Ia mengupat kesal. Andre dan beberapa anak lain sudah berhasil diamankan polisi yang menghentikan mereka, tak terkecuali Avelo juga ikut dibawa ke kantor polisi. Sementara itu di kantor, Exel yang tengah fokus tiba-tina dikejutkan dengan kedatangan Albert dengan terburu-buru. "Tuan!" Exel melepas kacamata dan menutup sementara laptopnya. Ia mengamati Albert begitu cemas. "Ada apa Albert?" "Begini Tuan, baru saja, saya mendapatkan telepon dari kepolisian-" Albert menggantungkan kalimatnya. "Kepolisian?" Exel menyerngit. "Tuan muda Velo terlibat dalam tawuran antar sekolah pagi tadi," ucapnya. Exel tak terkejut, sudah biasa ia mendapat kabar seperti ini. "Dia berulah lagi?" Ekpresi Exel tampak datar. "Apa saya harus ke sana untuk mengurusnya, Tuan?" tanya Albert. Kali ini Exel bangkit, ia mengambil jas miliknya. "Biar saya yang ke sana." Albert terkejut, tidak biasanya majikannya itu mau ikut campur. "Tuan serius?" "Dia anak saya, saya yang akan mengurusnya." Albert tertunduk, " Baik Tuan!" "Oh ya Albert, Kosongkan jadwalku hari ini," pinta Exel sebelum meninggalkan ruangannya. "Baik Tuan!" Di kantor kepolisian "Saya sudah bilang, bukan saya yang menjadi dalang tawuran ini Pak, sekolah kami diserang, bagaimana kami tidak melawan." Avelo bersitegang dengan satu polisi yang mengintrograsinya. Beberapa anak telah dijemput orang tuanya dan mendapat pembebasan saat memberi kompensasi atas kesalahan mereka. Satu persatu mereka pergi, kini tinggal Avelo yang masih di sana. Tampaknya ia tak begitu berharap bisa dibebaskan. "Kalau orang tua kamu tidak datang, kamu tidak bisa keluar dari tempat ini," ancam polisi itu. Avelo menghela napas panjang, ia berpikir Albert akan segera datang untuk membebaskannya, harapnya. Saat semua teman-temannya telah bebas, Avelo hanya bisa berharap seseorang akan membebaskan. "Albert, kenapa dia sangat lama," keluhnya. Tok tok tok ... Avelo tersenyum, penyelamatnya pasti sudah datang. "Albert, kenapa lama sekali, aku bosan menunggu!" Saat menoleh, ia mendapati bukan Albert yang menjemputnya, melainkan papanya. "Papa!" Avelo tertunduk takut saat melihat Papanya—Exel berdiri di hadapannya. Mampus, batinnya. "Apa Anda walinya?" "Anak ini berulah lagi?" "Dia dan teman-temannya terlibat tawuran dengan anak sekolah Elios," ungkapnya. "Saya mengerti, bisakan saya berbicara dengannya?" "Silahkan!" Axel mendekati Avelo yang tampak takut, ia tertunduk dan tak berani memandang wajah papanya itu. "Maa—" Plak,tamparan keras mendarat di pipi Avelo saat itu juga. Avelo terkejut. "Kamu membohongi papa tadi pagi?" "Kamu bilang latihan basket, tapi ini jadinya? Apa kamu tidak pernah belajar dari pengalaman Velo!" teriak Exel di ruangan kepolisian. "A-aku-" "Jebloskan anak ini ke penjara!" ucap Exel yang tentu saja mengejutkan Avelo yang ada di depannya termasuk polisi di dalam ruangan. "Pah—" Avelo mengeratkan kedua tangannya kuat, bisa-bisanya papanya setega itu padanya. Exel lalu berbalik arah untuk meninggalkan Avelo di sana. "Papa udah nggak sayang sama Velo!" Exel berhenti tanpa menoleh ke belakang. "Papa hanya sayang sama Alfa." Kini Exel berbalik arah, "apa maksud kamu?" "Papa hanya sayang sama Alfa, karena dia lemah, iyakan??" "Jaga ucapanmu Velo. " "Velo paham kok, karena kami berbeda, Mama juga lebih sayang sama Alfa." "Velo, kamu dan Alfa itu—" "Udah lah Pah, percuma. Velo udah paham sekarang, Velo akan di penjara malam ini." Velo berbalik menghampiri polisi yang akan mengantarkannnya ke penjara untuk satu hari sebagai hukuman sebelum ia dibebaskan keesokan harinya. *** "Alfa!" "Alea!" "Wah, nama yang bagus," ucapnya. "Terima kasih." "Oh ya kebetulan tadi kepala sekolah memintaku untuk menemani kamu berkeliling di lingkungan sekolah ini sekaligus mengenalkan sekolah ini," ujarnya. "Oh, oke!" Keduanya pun berjalan bersama. Alfa dan Alea langsung akrab walau baru berteman. Alea pun tak merasa canggung dengan sikap ramah Alfa. "Di sebelah kanan ada perpustakan, lalu ada laboratorium IPA, lalu ada lapangan basket, dan di sebelah sana ada kafetaria, biasanya anak-anak makan di sana," jelas Alfa. Alea hanya manggut-manggut. "Oh ya, aku paham!" "Kebetulan kita satu kelas di IPA 2, jadi jangan canggung-canggung kalau butuh bantuan ya!" Alea mengangguk. "Oke." "ALAFAAA!" Teriakan kencang mengejutkan Alea dan Alfa yang sedang berjalan. Tampak dari kejauhan, Calvin menghampiri mereka. Calvin tampak ngos-ngosan. "Ada apa Vin?" Calvin menepuk bahu Alfa, "Gawat Fa, gawat!" "Gawat kenapa?" Alfa bingung. "Velo... dia..." ucapan Calvin sedikit terbata-bata. "Kenapa dengan Velo?" "Dia terlibat tawuran sama anak sekolah Elios, dan katanya beberapa anak sini ketangkep sama polisi." "Apa?!" "Velo?" Alea bersuara saat nama Velo disebut. " Avelo?" Baik Alfa dan Calvin terkejut saat Alea memanggil nama Avelo di depan mereka. "Kamu kenal dengan Avelo?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN