CHAPTER 9 : Kebohongan Avelo

1082 Kata
Malam harinya. Avelo tengah duduk di sofa sambil bermain playstation di ruang tengah, ia tampak serius dengan pertandingan yang sedang dimainkannya. Tak berlangsung lama, Alfa datang membawa camilan dan duduk di sebelahnya. Ia menawarkan camilan manis pada Avelo. "Awas tuh Vel, tembakan lo meleset!" Seru Alfa ikut melihat pertandingan game tembak yang sedang dimainkan olehnya. "Ah berisik, kalau mau sini bantuin gue!" Alfa tersenyum lebar, "siapa takut!" Ia memposisikan diri duduk di samping Velo dan mengambil satu controller di lantai dan mulai bergabung ke pertandingan game yang dimainkan Velo. Keduanya tampak bergitu asyik memainkan game bersama, kecerian dan keseruan mewarnai setiap pertandingan yang mereka lakukan. Dari jauh, Sharen yang melihat pemandangan akur dari keduanya ikut senang. Jarang-jarang melihat keduanya seakrab ini. ..... "Kak Alea, ayo tidur!" ucap salah satu anak panti yang melihat Alea berdiri di depan jendela sambil melihat langit. "Iya Peter, nanti Kak Lea tidur kok. Kamu tidur duluan gih!" "Baik kak, selamat malam!" "Selamat malam juga!" Alea menutup jendela, tak lupa ia kunci seluruh pintu kamar dan memastikan anak-anak semua telah tertidur. "Alea!" panggil om Hariz dari kejauhan. Alea menoleh, segera ia berjalan mendekat. "Om belum tidur?" tanya Alea Om Haris menggeleng, ia lalu ternyum. "Apa kamu betah tinggal di rumah ini, Lea?" tanya Om Haris. "Tentu saja, tempat ini sangat hangat, dan banyak anak-anak," jawab Alea "Syukurlah kalau kamu suka, Om Harap kamu selalu betah tinggal di sini!" "Oh iya Lea, mulai besok, kamu sudah bisa masuk ke sekolah baru, Om sudah mengurus semua berkas- berkas sekolah lama kamu, beruntung kamu diterima di salah satu sekolah elit di sini." Senyum Alea mengembang, ia sangat berterimakasih dengan om Haris telah membantu selama ini. "Terima kasih Om!" *** Malam ini terlihat sunyi, Sharen berdiri di depan jendela mengamati langit luar, tatapannya kosong seakan ada yang tengah ia sembunyikan. Klik, Exel baru saja masuk ke kamar dengan masih mengenakan jas lengkap, melihat istrinya yang menunggu kedatangannya, segera ia menanggalkan jas dan dasi yang ia letakkan di meja. Ia juga sedikit menggulung kemeja putihnya dan melepas dua kancing atasnya. Langkahnya menghampiri istrinya dan langsung memeluknya dari belakang, meletakkan kepalanya di sisi leher Sharen. "Sayang, kenapa belum tidur?" Sharen hanya pasrah dengan apa yang dilakukan Exel saat ini, dekapan laki-laki itu terlalu posesif melingkar di perutnya. "Apa kamu memikirkan sesuatu?"tanyanya lagi. Sharen sedikit melonggarkan pelukan dari Exel, namun laki-laki itu semakin mengeratkan pelukannya. "E-exel!" "Kenapa sayang?" Exel mulai curiga. "Aku lelah, kita tidur saja ya!" Berusaha Sharen melepaskan cengkraman kedua tangan Exel yang masih setia memeluk pinggangnya. "Sayang!" Exel sedikit e****s memanggil nama istrinya itu. "Aku hanya sedikit khawatir dengan Alfa!" Mendengar nama Alfa disebut membuat lingkaran Exel melemah. "Kamu hanya mengkhawatirkan Alfa sekarang, bagaimana denganku, apa kamu nggak khawatir?" Exel tampak cemburu. Sharen terkekeh, bisa-bisanya Exel cemburu dengan anaknya sendiri. "Kamu kan udah bisa jaga diri Exel, jangan manja deh." "Manjanya kan cuma sama kamu." dengan gemasnya Exel mencubit hidung Sharen agak keras hingga ia memekik kesakitan. "Benarkah?" Keduanya saling berhadapan saat Sharen memutar tubuhnya tepat di hadapan Exel, ia menatap iris mata cokelat laki-laki itu intens. Exel lalu mencium kening Sharen. "Ayo tidur, sudah malam," katanya. "Kamu nggak mandi?" Exel mencium tubuhnya, " kamu mencium bau busuk?" Sharen mencium tubuh Exel saksama, "wangi!" Ia tersenyum. "Dan ini manis!" satu kecupan diberikan di bibir Sharen malam itu. *** "Velo... Alfa... waktunya sarapan!" teriak Sharen menyiapkan sarapan pagi dibantu alah satu asisten rumah tangga. Setelah melayani Exel yang kini duduk sambil menyesapi kopi hangat. Sharen juga menyiapkan roti selai untuk kedua anaknya. Tak berlangsung lama, Velo dan Alfa turun dan siap akan berangkat sekolah." "Morning Mom!" Velo mengecup pipi Sharen. "Pagi Ma." Alfa ikut menyapa mamanya. "Pagi sayang!" Avelo tampak buru-buru berangkat, ia tal bergabung dengan kedua orang tuanya dan langsung mencomot selai roti dan s**u putih yang disajikan Sharen di meja. "Velo berangkat dulu ya Ma, ada latihan basket hari ini," ucapnya. "Kamu nggak sarapan dulu sayang?" Sharen menegur. "Nanti kalau Velo telat, jatah makan siang Velo bakal hilang," Velo menatap Alfa dari kejauhan. Merasa tersindir, membuat Alfa tersedak saat minum s**u. Uhuk. Kini tatapan Sharen mengarah pada Alfa, " Alfa!" Berusaha menghindar dari pertanyaan, Alfa secepatnya menghabiskan selain roti dan susunya. " Alfa juga ada rapat OSIS hari ini Ma, Alfa berangkat dulu ya!" Sharen maupun Exel hanya menatap keduanya heran, tak seperti biasanya sikap Avelo dan Alfa aneh seperti tadi. "Alfa!" belum selesai bertanya, Sharen menghentikan Alfa. Ia berjalan mendekatinya. "I-iya Ma!" "Mama ingin bicara sama kamu, Om Radith bilang kemarin kamu pingsan?" Glup, Alfa terdiam. Ia menyayangkan kejadian kemarin yang sudah ia lupakan. Ia tak mau membuat mamanya khawatir. "I-itu... "Kamu baik-baik saja Sayang?" Sharen cemas. Alfa menunjukkan senyum ceria, " Aku baik-baik saja kok, Ma." "Kamu yakin?" Sharen curiga. "Iya, Ma. Alfa baik-baik saja. Lihat nih, apa mama lihat Alfa sakit?" Sharen mulai percaya, "baiklah, Mama percaya sama kamu, tapi ingat, jangan memaksakan diri. Oke!" "Siap Ma!" Alfa mencium pipi Sharen dan bergegas berangkat. *** Meow meow meow... Alea mendengar suara kucing saat dia berjalan menuju sekolah, terlihat ada anak kucing tengah bergelayut di pohon dan sepertinya kucing itu tak bisa turun. Meow meow meow... Melihat kucing yang butuh pertolongan membuat Alea iba, ia pun segera menolong kucing dari atas pohon. Ia mulai menaiki pohon dengan pijakan kaki pelan-pelan. Bersamaan dengan Alfa yang saat ini mengalami kemacetan parah di lampu merah. Jam telah menujukkan pukul 7 lebih, dia bisa telat masul kelas. Tak seperti Velo yang begitu tenang kalau ia terlambat masuk kelas, tapi untuk dirinya, disiplin adalah utama. "Pak, ada macet apaan sih di depan?" tanyanya. "Nggak tau Tuan, kayaknya ada tawuran anak sekolah." "Tawuran?" Alfa menggerutu, bisa dipastikan kalau ia akan telat ke sekolah pagi ini. Merasa jengkel karena menunggu, Alfa nekat keluar dari mobil dan memilih berjalan kaki sampai ke sekolah-beruntung jarak sekolah sudah dekat. "Pak, saya jalan aja. Jangan kasih tau Mama ya!" Sopir panik melihat majikannya keluar dan pergi begitu saja. "Tuan Alfa!" "Ya dapat, pus pus," Alea berhasil menyelamatkan kucing itu. Ia mulai mengelus-elus agar si kucing tenang. "Sekarang kamu aman ya!" Kini waktunya Alea turun ke bawah-tunggu! Bagaimana dia bisa turun dengan ketinggian pohon yang lumayan untuknya. "Tinggi banget!" Ia lupa, kalau dirinya terlalu takut untuk turun. Ia mulai memeluk erat kucing itu. Namun, karena pegangan yang cukup kuat membuat si kucing memberontak dan malah mencakar Alea. Ia kehilangan keseimbangan dan terpeleset jatuh ke bawah. Bruk, Alea menutup mata. Tepat di bawah seseorang berhasil menangkapnya-kebetulan tak terduga. Keduanya saling betatapan aneh. Iris mata mereka bertemu tanpa kedipan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN