CHAPTER 8 : Alfa pingsan

1539 Kata
"Perundingan Linggarjati atau juga disebut Perundingan Lingga'r'jati adalah suatu perundingan antara Indonesia dan Belanda di Linggarjati. Jawa Barat yang menghasilkan persetujuan mengenai status kemerdekaan Indonesia. Hasil perundingan ini ditandatangani di Istana Merdeka pada 15 November 1946 dan ditandatangani secara sah oleh kedua negara pada 25 Maret 1947. Pada mulanya...." Avelo yang duduk sambil mendengarkan penjelasan Sejarah di depan tampak berkali-kali menguap karena mengantuk. Beruntung ia duduk di paling belakang pojok dekat jendela, bersebelahan dengan Calvin yang sedang mencatat di bukunya. "Vin, gue tidur bentar ya, ngantuk banget nih!" ujarnya. "Lagi pelajaran Vel, lo mau kena hukuman?" Calvin memperingatkan. "Ssssttt, makanya lo diam aja, nggak bakal tau." Avelo telah meletakkan kepala di atas meja. "Minggu depan, kita akan mengunjungi salah satu museum nasional, bapak harapkan kalian lebih paham tentang sejarah, jangan lupa tugas dikumpulkan minggi depan juga, mengerti!" "Mengerti pak!" Dua jam menjadi momen paling menyenyakkan bagi Velo, ia bisa tidur dengan santainya di dalam kelas tanpa ketahuan. Walau Calvin yang tampak ketakutan dari tadi. Jam berganti, Velo telah mengisi energinya untuk pelajaran selanjutnya. Saat ia setengah sadar karena bangun, pandangannya tertuju pada seseorang yang tengah diganggu di lapangan saat ia menoleh ke arah jendela. "Joni!" Awalnya Avelo tak memedulikan laki-laki yang diganggu Joni dkk, tapi saat sikap Joni mulai kasar, Avelo mulai memberontak tak terima. "Sialan tuh anak!" "Kenapa Vel?" "Joni berulah lagi, gue keluar bentar!" "Huh, inikan masih jam pelajaran. Velo!" Percuma, panggilan Calvin tak didengarnya. "Aduh, tuh anak, selalu cari gara-gara." Avelo berlari dari koridor kelas menuju ke lapangan basket tempat yang ia lihat tadi di kelas. Saat ia turun dari tangga, Alfa tak sengaja lewat dan keduanya hampir bertabrakan. "Velo, lo ngapain lari-lari?" tanya Alfa menaruh curiga. "Bukan urusan lo!" Avelo tak menggubris, ia memilih menjauh. Namun tangan Alfa mencengkram kerah belakang. "Mau ke mana, bolos lagi?" "Lo tuh ya, nething mulu sama gue, gue nggak bolos," elaknya. "Jangan bohong, ini masih jam pelajaran kelas, lo mau ngelak apa?" Alfa tak percaya. "Terserah lo!" "Velo!" Alfa makin geram. Bruk, suara gebrakan dari arah luar mengejutkan keduanya. "Suara apa tadi?" Alfa menoleh. "Sial, elo sih, gue itu mau bantuin orang yang diganggu Joni." Velo menampik tangan Alfa dan segera berlari menuju ke sumber suara. "Avelo!" Panggil Alfa ikut mengejarnya dari belakang. *** Pukulan bertubi-tubi dilayangkan pada anak kelas satu yang menjadi bahan bullyan Joni dkk. Amar—nama anak kelas satu yang saat ini terngah tergeletak dengan kondisi mulut berdarah dan kesakitan karena kena pukul di perutnya. "Woi Joni!" Joni yang melihat kedatangan Velo langsung mengumpat kesal, anak itu selalu ikut campur masalahnya. "Beraninya lo sama yang lemah. Pengecut!" "Apa lo bilang, sini kalau berani!" Joni mulai tersulut. Avelo tersenyum meremehkan, ia paling suka kalau dipancing, 3 lawan 1, no problem. "Siapa takut!" Avelo maju dengan sedikit ancang-ancang. Sementara Amar menjauh karena takut. Perkelahian keduanya tak terelakan, Velo dan Joni sama-sama kuat ditambah dua teman Joni yang menjadi lawan Velo. Tapi bukan Velo namanya kalau ia tak berhasil mengatasinya. Alfa datang dan melihat perkelahian itu, ia mencemaskan Velo yang dikeroyok tiga orang sekaligus. "Velo!" "Cemen lo semua, sini maju!" Velo tampak tak gentar walau wajahnya setengah babak belur dan darah keluar dari sudut bibirnya. Joni kewalahan, Velo adalah lawan yang kuat, baik dirinya atau teman-temannya agak kesulitan. "Segini doang nyali kalian??" Avelo masih saja meremehkan mereka. Alfa tak bisa berdiam diri saja, ia memang tak pandai berkelahi, tapi melihat adiknya dikeroyok. Tentu saja ia tak akan membiarkannya. Sampai saat Joni yang semakin tersulut emosi dan mengepalkan tangan untuk membalas Avelo. Alfa datang melindunginya, Velo tersentak kaget saat pukulan itu justru mengenai Alfa tepat di dadanya. "ALFA!" PRIIIIT, suara peluit menghentikan mereka, rupanya Amar tadi memanggil guru BP untuk melerai keduanya. "Avelo, Joni hentikan!" teriak guru BP menghentikan aksi mereka. Deg deg deg, jantung Alfa berdetak kencang, semakin kencang dan rasanya kepalanya mulai pening. Nafasnya terengah-engah sambil menyentuh pukulan yang baru saja diterimanya dengan begitu kuat di d**a. "Alfa!" Suara Velo semakin redup dengan semakin bertambah kencangnya suara degup jantungnya. "Fa, lo baik-baik aja?" Alfa ambruk tepat di depan Avelo, ia merasa kesakitan akibat pukulan yang diterimanya. Joni dan teman-temannya terkejut, kenapa bisa ada Alfa diantara mereka. Sial, upat Joni. Namun saat Avelo bangkit dan ingin membalasnya, datang teman-temannya yang melihat keributan di luar. "b******k lo Jon, lo apain saudara gue, huh!" Suster sekolah datang dan langsung menghampiri Alfa. Suara terikan Avelo maupun Suster tak dapat didengarnya. Alfa semakin tak terkendali. Seketika semua menjadi gelap. "Velo." suara lirih Alfa sebelum ia pingsan. Prang, suara gelas yang baru saja dipegang Sharen jatuh saat ia akan mengambil air putih di meja. Perasaan Sharen menjadi khawatir. "Alfa!" Hanya nama itu yang muncul di otaknya. *** "Om Radith, Om Radith!" teriak Avelo sambil menggendong Alfa saat keduanya sampai ke rumah sakit tempat Radith bekerja. Seperti orang kesetanan, Avelo begitu cemas mengetahui Alfa tiba-tiba pingsan. "Om Radith!" Dari kejauhan, Radith dan beberapa paramedis baru saa keluar, mendengar namanya disebut membuat Radith langsung menoleh ke sumber suara. Ia mendapati Avelo di ballroom rumah sakit. "Avelo!" "Om Radith!" Segera Radith berlari ke arahnya. Ia terkejut melihat Alfa pingsan di punggung Avelo. "Om Radith, tolongin Alfa, dia nggak sadarkan diri." raut cemas terlihat di wajah Avelo. Bisa dipastikan Avelo yang menggendong Alfa sampai rumah sakit. "Tolongin Alfa Om!" Avelo terlihat khawtir. Beberapa suster telah datang dan mengambil bed pasien dan membawa Alfa ke unit gawat darurat secepetnya. "Velo, Alfa kenapa?" tanya Radith ikut cemas. "Dia kena pukulan, tolong selamatkan dia Om!" "Di mana dia terkena pukulan?" "Di d**a!" Deg, Radith terkejut. Ia langsung paham. "Kamu tenang saja Velo, saya akan menolong Alfa. Dia akan baik-baik saja." Avelo sedikit tenang, walau tangannya masih gemetaran. Entah kenapa melihat Alfa pingsan tadi membuat sekujur tumbuhnya membeku, ia takut, benar-benar takut Alfa kenapa-napa. Di sekolah Joni telah diurus oleh kepala sekolah dan mendapat peringatan tertulis karena kejadian tadi. Beberapa anak tampak bergerumun termasuk Calvin yang ikut khawatir. "Maafin gue Fa, maafin gue!" Avelo terus bergumam menyalahkan dirinya. Dua jam kemudian, Dr Radith telah keluar dari ruang IGD, ia langsung menghampiri Velo yang tampak cemas. "Jangan khawatir!" Suara Radith mengejutkan Velo. "Om Radith." Velo bangkit, "gimana keadaan Alfa, dia baik-baik saja kan?" Radith tersenyum, "Alfa tidak selemah itu Velo, dia itu kuat. Sekarang dia baik-baik saja," ucapnya Helaan nafas lega Velo meyakini kalau saudaranya itu baik-baik saja. "Syukurlah!" Radith tersenyum, baru kali ini ia melihat keponakannya terlihat sangat cemas seperti saat ini. "Kamu mencemaskannya?" Velo memalingkan wajah, " Enggak!" Ia berbohong. "Saya tahu Velo, kamu khawatir dengan Alfa," ujarnya. "Saya hanya cemas, dan takut kalau mama marah." Velo tertunduk. Walau ia mencoba menyembunyikan perasaan itu, Radith yakin kalau Velo sangat mengkhawatirkan saudaranya itu. Radith lalu menyentuh kepala Velo, "kamu seperti saya waktu seusia kamu," lirih Radith. Velo mendongak tak tahu maksud yang diucapkan Radith. "Maksud Om?" "Tidak apa-apa, apa kamu ingin menghubungi mama kamu soal Alfa?" Avelo ragu, ia takut mamanya akan marah, tapi kalau ia tak bilang, mamanya akan semakin marah dengannya. "Saya yang akan menghubungi mama kalian, kamu tenang saja. Alfa tidak akan kenapa-napa," ungkap Radith tersenyum. "Terima kasih Om!" "Itu sudah tugas saja sebagai dokter Velo." *** Bayangan itu kembali muncul, bayangan dua anak kecil, Avelo dan Alfa sedang bermain pasir, kemudian Avelo bangkit dan berlari ke arah perosotan, Alfa ikut tertarik dan mengikutinya. Keduanya tampak ceria. Lalu mereka berlari dan mencoba permainan lainnya, sampai di satu permainan berbentuk melingkar seperti bola dunia dengan 4 kaki penyangga, dengan rangka yang dicat berwarna warni. Kedua anak itu tampak bersemangat menaiki permainan itu. Namun tiba-tiba kaki Alfa terpeleset saat menginjak rangka dan jatuh telengkup ke bawah. "Alfa!" Avelo yang masih di atas menangis dan turun menghampiri saudaranya yang jatuh. Avelo terus menangis saat mengetahui kepala Alfa terbentuk dan pingsan lalu dibawa ke rumah sakit. Avelo terus menangis di koridor rumah sakit walau Sharen mencoba menenangkannya. "Velo sayang, Alfa baik-baik saja!" Avelo kecil terus menangis dan sesenggukkan, Sharen langsung memeluknya. Ia tak mau kejadian itu terulang kembali, kejadian yang membuat dirinya hampir kehilangan saudaranya, Alfa. Di taman rumah sakit, Velo menitihkan air mata, ia masih mengingat kejadian masa lalunya dan sekarang terulang kembali. Ia menyalahkan dirinya atas kejadian ini lagi. Padahal ia sudah berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang sama, tapi sekarang— "Arghhh!" Velo semakin kesal dengan dirinya. *** Avelo kembali ke kamar tempat Alfa dirawat, saat ia masuk, Velo mendapati Alfa sudah siuman. Ia tersenyum melihat Avelo. "Velo!" Avelo berjalan tertunduk ke arahnya, ia merasa bersalah karena dirinya, Alfa terluka. "Lo kenapa?" Alfa bingung dengan sikapnya. "Vel!" Alfa membuyarkan lamunannya. "G-gue... gue minta maaf!" Alfa terkekeh, baru kali ini melihat Velo meminta maaf karena dirinya. Ia menepuk bahu Velo untuk menyadarkannya. "Gue baik-baik aja. Santai aja kali!" ujarnya. Avelo tetap merasa bersalah. Semua ini karenanya, Alfa jadi terluka karena dirinya. Hari itu juga Alfa sudah bisa keluar dari rumah sakit saat kondisinya semakin membaik. Keduanya pulang bersama naik taksi. "Jangan kasih tahu mama soal ini, mengerti!" Kata Alfa tepat di depan pintu rumah. "Iya." "Anggap nggak ada yang terjadi apa-apa, lo tahukan kalau mama tahu, dia pasti marah sama kita." "Iya bawel, udah sembuh aja, lo makin cerewet." Avelo kesal, ia memilih masuk duluan ke dalam meninggalkan Alfa yang masih berdiri di belakang pintu. Sesekali ia memegang dadanya yang masih sakit karena pukulan tadi di sekolah. "Mama, Velo pulang!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN