---AVELO----
Alfa celingukan mencari keberadaan Avelo. Saat Alfa mencarinya di UKS, ternyata anak itu tak ada disana-jadi kemungkinan, Avelo berada di tempat lain yang lebih sepi, yang juga jarang dikedatangi banyak orang. Alfa mendapat dua tempat yang mungkin bisa Avelo kunjungi saat ini. Pohon besar di belakang sekolah dan balkon atap-karena memang pada dasarnya Avelo sangat suka tidur dan tempat yang memungkinkan ya dua tempat itu selain UKS.
"Ternyata lo disini! " Alfa melihat Avelo tengah tiduran di atas pohon besar tepat di belakang sekolah.
"Apa? " tanya Avelo tanpa beranjak sedikitpun dari dahan pohon.
"Anak basket nyariin lo. Suruh latihan! "
"Iya... Iya. Entar gue kesana! "
"Lo bolos lagi Vel? "
Tak ada sahutan. Avelo tampak begitu nyaman dengan ditemani semilir angin dan lagu yang di dengarnya melalui headsetnya.
"Velo! "
"Hm. "
"Bisa lo turun? "perintah Alfa yang masih dibawah. Walau sebenarnya ia bisa naik ke atas pohon yang bisa dibilang cukup pendek untuk ia panjat. Namun Alfa enggan untuk melakukannya-lebih tepatnya malas melakukan sesuatu yang nggak berguna.
"Gue ngantuk Fa. Lo kesininya kalau udah mau pulang aja!" gumam Alfa berbicara dengan mata tertutup.
Alfa menggeleng. Ia harus membujuk Avelo untuk turun ke bawah. Tiba-tiba saja terbersit di pikiran Alfa untuk membuat Alfa akan turun dari pohon.
Alfa mengambil ponsel dan berpura-pura mendapatkan telepon. "
"Iya, Pah! " Avelo langsung terkesiap mendengar Alfa memanggil Ayahnya.
"Iya, dia sama aku sekarang. Dan sekarang-" Avelo yang langsung terkesiap segera turun ke bawah.
"Alfa. Lo gila ya, ngaduin ke papa?"
Alfa meringis. Cara yang ia lakukan kali ini berhasil. "Skakmat!" ucapnya mengakhiri teleponnya.
"b******k lo!" Avelo yang merasa dikerjain langsung merampas handphone milik Alfa, namun cowok itu dengan sigap mengantongi di saku celananya. "Eh lo mau apa?"
"Lo ngerjain gue tadi?" Avelo merasa dipermainkan.
"Ini balesan buat lo karena bolos pelajaran dan bolos latihan basket. Beruntung gue nggak ngaduin ini ke mama. Kalau sampai mama tahu, mungkin-" Alfa menggantungkan kalimat akhirnya.
Avelo berdecak kesal, "Dasar tukang adu!"
"Seenggaknya gue punya tanggung jawab sebagai yang tertua di sini." Avelo menggerutu.
Percuma saja berdebat dengan Alfa hanya akan membuang sisa tenaganya. Karena memang Alfa sangat susah untuk dilawan-bukan karena takut, tapi cowok ini memiliki banyak jurus yang bisa membuat nyalinya ciut apalagi berkaitan dengan Exel, papanya.
***
Lapangan basket.
Dengan malas Avelo berjalan mendatangi lapangan basket lengkap dengan kaos training tim basket SMA Galaksi. Kaos lengan pendek yang ditutup dengan jersey hijau berlogo SMA Galaksi di bagian tengah yang cukup menonjol. Beberapa pemain inti telah masuk ke lapangan kecuali Avelo.
Sementara itu, Alfa dan beberapa anggota OSIS tengah melakukan rapat anggota di ruangan serbaguna yang biasa dipakai mereka untuk rapat.
"Oh ya Fa. Untuk kegiatan ulang tahun sekolah minggu depan. Lo ada usul?" tanya wakil sekaligus rekan sesama OSIS bernama Amanda. Gadis berkacamata ini cukup menyita pemandangan karena wajahnya yang kecil namun terlihat manis saat tersenyum.
"Ada usulan?" Alfa berbicara di depan para anggota ang berjumlah 9 orang termasuk dirinya.
"Gimana kalau kita adain acara band di sekolah?"
"Pesta dansa?"
"Kita adain bazar aja. Pasti seru!"
Usulan demi usulan dari para anggota ditampung untuk mendapat persetujuan.
"Boleh juga. Bazar sekolah!" Alfa manggut-manggut.
Alfa merangkum semua usulan dan memilih usulan mana yang cocok untuk dipakainya. Selagi Alfa rapat OSIS.
Avelo yang berada di lapangan Basket kembali berulah dengan tak sengaja menjegal kaki salah satu pemain hingga kesakitan.
"Eh, lo nggak papa?" tanya temen yang lain
"Cemen, gitu aja langsung K.O ." Avelo dengan wajah juteknya tak terlihat prihatin.
"Va, kita inikan satu tim. Kalau lo nggak mau kerjasama. Gimana tim SMA kita bisa menang?"
Avelo menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Gini deh, gue kurang suka posisi kalian. Eh lo cupu sini!" panggil Avelo pada pemain berkacamata yang sejak tadi diam.
"Lo sekarang di posisi depan!" perintah Avelo seenaknya.
"Hah, kok aku sih Kak?"
"Lompatan lo paling tinggi, jadi lo yang pertama kali ngambil bola buat dioper ke si-" Avelo celingukan menatap satu persatu teman timnya, dan pada akhirnya jatuh pada laki-laki berambut gondrong di belakang, " Si Jabrik!"
Tentu saja, ucapan Avelo membuat orang yang dijuluki 'Jabrik' marah. " Enak aja lo ganti nama orang Vel. Nama gue itu Bim-"
"Iya... iya, gue itu nggk bisa hapal nama kalian satu persatu, ngerti nggak?"
Calvin yang melihat sikap seenaknya dari sahabatnya hanya bisa geleng-geleng kepala. "Anak itu!"
***
"Bakso sama es teh satu pak!" teriak Avelo duduk di meja setelah memesan pesanan saat istirahat sekolah. Bahkan ia masih mengenakkan seragam basket. Sementara Calvin mengikuti dan memesan menu yang sama dengannya.
"Gila lo Vel tadi!"
"Gila apanya?"
"Mereka itu senior lo. Lo seenaknya aja sok belagu, kalau mereka nggak terima gimana?" ingat Calvin.
"Mereka bisa apa?" Avelo menyeruput es teh yang lebih dulu datang sebelum makannya.
"Lo taukan si Bimo?"
"Enggak!"
"Yang tadi lo sebut jabrik!"
"Oh namanya Bimo?"
"Lo tau dia siapa?"
"Memang siapa?"
"Bokapnya kepala sekolah di sini." ucapan Calvin tak sedikitpun membuat Avelo
Avelo tampak tak peduli, ia malah menyeruput es teh yang ada di meja dengan santai dan mencomot satu bakwan di meja. "Oh anak kepala sekolah!"
Calvin menepuk jidatnya, "Lo sama sekali nggak ada rasa takut?"
Avelo menoleh kemudian ia tertawa, "takut? Gue sama si rambut jabrik itu. Eh Vin, di sekolah ini siapa berani sama gue, mereka pada takut sama gue," ujarnya sombong.
"T-tapi kan orang yang lo hadapi ini anak kelas 3 Vel, kekuasaan mereka lebih tinggi," nasihat Calvin memperingatkan.
"Mau anak kelas 3, atau anak geng motor sekalipun, gue nggak peduli, gue ini Velo, inget itu!" Velo tampak percaya diri.
"Iya deh, gue percaya sama lo. Tapi ingat, lo tetep harus hati-hati."
"Iya bawel."
***
Alea baru saja keluar dari toko bunga, ia berjalan sendiri sambil membawa sebuket bunga lily di tangannya. Ia lalu berjalan-jalan sebentar ke taman. Alea menghentikan langkahnya tepat di taman di depannya. Tempat yang mengingatkan tentang masa lalunya saat dirinya terpisah dari mamanya saat kecil, lalu dia bertemu dengan seorang anak laki-laki dan membantunya mencari mamanya.
"Hei, kenapa kamu menangis?" tanyanya.
Alea menoleh sambil sesenggukan menyeka air matanya. Tangisan itu kembali terdengar semakin kencang.
"Jangan menangis, kata Mama aku. Perempuan itu lebih cantik kalau tersenyum," pujinya.
Alea mulai berhenti menangis. "Benarkah?"
"Kamu kenapa menangis?"
"Tadi aku pergi ke taman sama Mama, tapi saat aku mengejar balon, tiba-tiba aku nggak lihat Mama lagi," ujar Alea masih sesenggukan. "Apa kamu tahu mamaku?"
"Ayo kita cari mama kamu
sama-sama."
Mengingat kejadian itu membuat Alea tersenyum, anak laki-laki itu tampak begitu hangat dan ceria, bahkan saat tangan Alea digenggam olehnya, ia merasa sangat tenang.
"Avelo!" Alea menyebut nama laki-laki itu,
"Itukah kamu!"