"Kamu kenapa?" tanya Bramasta–ayah Resti. Melihat raut wajah Wina yang tampak muram nan padam tidak seperti biasa, tentu saja memicu rasa penasaran yang ada di kepalanya. Ini keli pertama Wina berekspresi masam seperti itu, meski keberadaan Bram di rumah terlihat begitu mencolok, bahkan tidak membuat mimik wajah itu berubah sumringah. Apakah masalah yang terjadi sebesar itu sampai harus merenggut senyum dari bibir Wina yang selalu terbit sepanjang bersamanya? "Aku nggak baik-baik aja sekarang, Mas," ujar Wina berkata jujur tanpa menutupi apa pun yang mengganggu hati, tangannya bekerja menyimpan baju-baju yang sudah dilipat, memasukkannya ke dalam lemari. Karena mereka hidup hanya berdua saja di rumah besar hasil pemberian keluarga Shaka dulu, mereka sepakat tidak memiliki asisten rumah

