Plak! Satu tamparan kuat menepi di pipi Resti usai ia mengakui segalanya di hadapan sang ibu, rasa sakit, hancur dan terluka membaur menjadi satu dalam perasaannya yang berdetak tidak menentu. Resti tahu ini salahnya karena berani bermain api di belakang, padahal seharusnya ia tidak boleh melakukan hal itu meski pernikahan dengan Shaka hanya didasari sebuah perjodohan oleh orang tua. "Maaf, Ma." Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali memohon ampun meski tahu ucapannya bahkan dianggap debu tak berarti, yang akan hilang tertiup angin . "Maaf setelah semuanya terlambat? Kemana pikiran kamu? Sekarang coba kamu bayangkan, seandainya Shaka tahu anak sialan ini bukan darah dagingnya lantas bagaimana masa depanmu? Lalu mau ditaruh di mana muka Mama, Hah?" Resti beringsut takut, ia tidak bisa men

