Ingatan Sabil dan Fatma kembali ke masa lalu, di mana mereka saling mengikrarkan janji. Sabil akan menyentuh Halimah sebagai istri setelah Fatma menerimanya.
Hari itu sebelum janji itu terucap ....
Sabil menjatuhkan hadiah yang dibawanya, seiring ucapan yang meluncur dari mulut mungil Fatma.
"Maaf, Mas."
"Ap-apa yang kamu katakan barusan, Fatma?" Sabil melebarkan mata tak percaya.
Tubuh gadis itu luruh, yang kemudian terduduk di kursi taman tempat mereka biasa bertemu sebentar.
Taman yang ramai, hingga mereka hanya berani bertemu di sana.
Meski telah mendapat lampu hijau, Fatma menerima pinangannya di depan ibunya, tak membuat Sabil semata berani menyentuh calon istrinya. Dia tahu benar, bahwa cinta yang dibumbui zina akan menghancurkan mereka di kemudian hari.
Kerudung depan Fatma basah di beberapa titik, karena digunakan untuk menyeka air mata yang terus jatuh membasahi pipi. Ia tak sanggup melihat ibunya jatuh sakit.
Ini juga adalah pilihan sulit untuk Fatma. Kalau boleh lebih baik dia mati saja. Namun, bukankah putus asa bunuh diri adalah sebesar-besarnya dosa yang dibawa mati.
Padahal semua baik-baik saja, tapi tiba-tiba semua berubah ketika kedatangan Halimah ke rumah mereka. Entah, bertemu dan kenal di mana, sampai dia menyebut nama Sabil.
Kakak sepupunya itu baru saja bangun dari keterpurukan selama berbulan-bulan. Ibunya tak tega melihatnya terluka dan jatuh lagi, karena Sabil meneruskan rencana pernikahan mereka.
Sabil menggeleng. Tak bisa menerimanya. Lalu pergi meninggalkan Fatma yang menangis sendirian.
Hati keduanya hancur-sehancurnya. Fatma kehilangan harapan. Mungkin kepergian Sabil dari haidupnya, setidaknya lebih baik. Karena Halimah tak perlu merasa sakit hati padanya, lantaran menganggapnya wanita perebut pria yang dicintai kakaknya.
Satu minggu berselang, setelah Fatma dan ibunya menyerah pada Sabil. Justru, pria itu datang. Mengatakan untuk melamar Halimah.
Namun, rupanya itu cara satu-satunya yang Sabil lakukan agar bisa mendapatkan Fatma kekasihnya. Menikahi Halimah atau meninggalkannya adalah dua hal yang sama-sama membawanya ke neraka. Lantaran tak bisa menyentuh Fatma.
Selama dua tahun, Sabil bersandiwara menjadi suami Halimah. Tinggal serumah. Itulah hal yang membuatnya kerap kali bersikap dingin dan acuh pada Halimah.
Mana mungkin dia bersikap manis, dan hangat pada wanita yang bukan istrinya? Hal itu hanya akan memupuk syahwatnya sendiri dan melakukan dosa.
Puncaknya saat ia terpaksa memapah Halimah setelah melahirkan. Setiap sentuhan baginya sangat menyakitkan karena merasa mengkhianati Fatma.
Bahkan Fatma istrinya itu tengah dilanda kesedihan yang dalam karena baru saja kehilangan bayi mereka pasca melahirkan. Ia pun terpaksa meraih segala hal, yang bisa buat alasan untuk marah pada Halimah, termasuk kembar yang terus menangis.
Dia bahkan sengaja tak memberinya izin memberi sufor, agar Halimah terus sibuk mengurus bayi-bayinya dan keteter, sehingga Sabil memiliki alasan untuk marah.
Pria itu mendesah panjang. Dia sadar telah keterlaluan menyakiti Halimah.
"Oke, dengarkan aku baik-baik! Dengar! Aku tak akan meninggalkanmu sampai kapanpun. Kalau ada wanita yang akan aku tinggalkan itu adalah Halimah orangnya, bukan kamu! Karena apa? Karena aku tak pernah menyentuhnya! Kembar bukan anakku!" tekan Sabil yang tak tahan lagi atas tuntutan Fatma untuk terus mendekati Halimah.
Ia sama sekali tak mencintainya. Lagi pula sejak awal, pria itu memang tak berniat mencintai Halimah. Sabil terpaksa bersandiwara menikahinya demi bisa mendapatkan kembali Fatma. Karena dia yakin, wanita itu mencintainya setengah mati.
Benar saja, setelah satu tahun memohon-mohon, agar Sabil menikahi Fatma, perempuan ayu itu berada di puncaknya setelah menahan sakit lama. Ibunya pun memaksanya untuk menikah dengan Sabil sebagai istrinya.
Siapa yang sangka? Fatma bahkan sudah mengikhlaskan diri berbagi dengan sepupunya.
"Ap-apa? Apa yang Mas katakan?!" Mata Fatma melebar sempurna. Ia nyaris saja pingsan mendengar pengakuan Sabil.
Bagaimana bisa Sabil menipunya selama setahun ini? Dia bilang bersedia memberi nafkah batin pada Halimah kalau Fatma mau menerimanya.
"Kenapa Mas? Kenapa kamu membohongiku? Lalu siapa yang menyentuhnya sampai hamil begitu?" tanya Fatma yang masih syok.
Dua mata yang dipenuhi kaca-kaca itu melebar sempurna dengan dua alis terangkat.
Kepala Fatma dipenuhi pikiran-pikiran buruk tentang siapa ayahnya.
"Apa Mas mengirim preman untuk memperkosanya?" Fatma menggeleng. Tak menyangka pria yang sangat dicintai sejahat itu pada kakak sepupunya.
Sabil juga menggeleng. "Aku tak sejahat itu, Fatma."
Di waktu yang sama, panggilan masuk ke nomor Fatma. Panggilan itu datang dari ibunya. Tak membuang waktu ia pun mengangkatnya.
"Halo, Bu. Assalamualaikum."
"Fatma. Kamu di mana? Kok Sabil udah pulang kamu gak pulang-pulang juga?" Wanita di ujung telepon terdengar khawatir.
"Eum. Maaf Bu, sudah buat ibu cemas. Sebenarnya, Fatma sedang bersama Mas Sabil."
"Apa? Lalu siapa yang di rumah?" Mata tua wanita itu melebar.
Kalau bukan Sabil, suami Halimah, mana boleh mereka berduaan di dalam kamar. Walaupun tak melakukan apa pun karena nifas, tetap saja hal itu tak boleh terjadi. Ini akan jadi fitnah.
"Apa mungkin ...?" Ibunya mengira sebuah nama.
"Ya, Bu. Dia adalah adiknya Mas Sabil."
"Oh astagfirullah. Kenapa jadi rumit begini Fatma," keluh ibu Fatma yang merasa miris pada rumah tangga anak dan ponakan yang disayanginya.
______________
Keesokan harinya ....
Fatma mencuri pandang pada pria yang sangat mirip dengan suaminya. Perempuan itu tengah menyapu di ruang tamu, dan pintu kamar Halimah terbuka lebar, sehingga ia bisa melihat aktivitas keduanya.
"Dia benar-benar mirip, Ya Tuhan," gumamnya takjub.
Sebuah senyuman terukir di bibir, kala melihat wajah bahagia Halimah. Wanita itu terus tersenyum karena perlakuan hangat pria yang disebut-sebut sebagai Adik Sabil itu.
"Fatma kamu sedang apa?" tegur ibunya yang melihat perempuan itu tak fokus bekerja.
"Ah, Bu. Itu ...."
Ibunya menoleh, menatap ke kamar Halimah. Ponakannya itu tengah berinteraksi hangat dengan kembaran Sabil. Wanita itu juga bisa melihat dengan jelas, bahwa pria itu sangat berbeda dengan kakaknya. Sabil.
"Sudah. Fokuslah," tegur sang ibu, sebelum berjalan ke luar membawa banyak cucian dalam bak, untuk dijemur.
"Ah, ya. Bu." Fatma menyahut lemah. Namun, meski begitu. Seperti ada magnet yang menyeretnya untuk terus mencuri pandang ke arah kamar Halimah.
_________
Setelah membantu Halimah mengurus si kembar, Nabil pun pamit ke toko. Ia beraktivitas layaknya Sabil.
Saat keluar kamar, tak sengaja berpapasan dengan Fatma yang tengah membersihkan ruang tamu.
"Permisi." Pria itu menyapa Fatma. Pria itu tak tahu, bahwa perempuan yang memiliki wajah baby face itu adalah kakak iparnya.
Yang Nabil tahu, bahwa dia adalah sepupu Halimah yang tinggal di rumah ini untuk sementara.
"Ya, silakan." Fatma menyahut ragu.
Fatma tak menyangka, tanpa Sabil, Halimah bisa terlihat sebahagia itu.
"Sebenarnya apa rencana Mas Sabil? Apa dia akan melepaskan Mbak Halimah? Dan mengatakan semuanya?"
Fatma menggeleng. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi sepupunya. Bisa-bisa dia akan sangat membencinya dan ibunya.
____________
Sampai di pasar langkah Nabil langsung tertuju ke toko yang dijaga abangnya, Sabil. Pria itu mendesah selagi matanya menyisir sekitar. Pekerjaan saudaranya lumayan kasar jika dibanding dirinya.
"Jadi ini toko peninggalan orang tua Halimah."
"Ya, beginilah." Sabil menyahut.
"Ya. Ya." Nabil manggut-manggut.
"Oya, Bang sampai kapan aku di sini?" tanya Nabil. Dia harus kembali ke Kalimantan banyak hal yang harus diurus di sana.
"Sebenarnya aku ... Ingin kamu tinggal, Bil."
"Apa? Apa maksud Abang?"
"Ya, aku ingin kamu menggantikanku di rumah itu."
"Apa?" Mata Nabil melebar. Ia tak mengerti apa ini benar?
Ah, bukankah dari awal yang dilakukan bukanlah hal yang benar.
"Kenapa?"
"Kenapa?" Nabil mengulang pertanyaan Sabil yang pura-pura tak mengerti kondisinya
"Aku nggak tau apa ini benar, Bang?" keluhnya kemudian. "Tinggal bersama Halimah ...."
"Apa yang salah? Dia istrimu, kamulah yang mengucap akad di depan penghulu." Sabil mencoba meyakinkan Nabil.
Sudah saatnya mereka memperbaiki keadaan, sebab selama ini Sabil telah memerankan peran yang salah.
Bersambung
Dududu. Gimana ini Gaes? Jangan lupa tinggalkan koment. Tap love. 100 koment dna love Otor bonusin epilog di bab berikutnya. ? ?