Sabil Tersenyum

1819 Kata
Selesai berbincang dengan orang di ujung telepon, ia pun menulis pesan penting untuk seseorang. [Hati-hati, ya. Naruh ponsel. Maaf untuk yang tadi. Kita keluar malam ini gimana?] Sabil tersenyum saat menulis pesan. Ia merasa berdebar setiap kali berinteraksi dengan pemilik nomor tersebut. Senyummya makin lebar, kala terlihat centang dua biru di bawah pesannya. Sebagai tanda pesanya telah diterima dan di baca oleh Fatma. Tak lama, sebuah balasan pun muncul. [Ya.] "Hah?" Mata Sabil mendelik. "Hanya ini balasannya?" Pria itu seolah tak percaya. Perempuan yang tak pernah mengabaikan pesannya, dan selalu membalas dengan chat panjang itu hanya menjawab, ya. Sabil mendesah. Dari balasan itu, dia tahu kekasihnya sedang tak baik-baik saja. Pria itu sadar, bahwa hubungan mereka memang tak wajar seperti layaknya banyak pernikahan di luar sana. Namun, apa daya, ia tak mampu melawan hatinya. Sabil ingin terus bersama Fatma bukan Halimah. Perempuan yang selalu terlihat manis, baik hati dan tegar. Seorang wanita yang nyaris tak pernah sekali pun marah padanya. Walau kenyataannya, hanya satu level di atas Halimah yang sama perangainya. Keduanya sama-sama baik dan tak mudah marah. Namun, siapa yang bisa memaksakan hati ketika dia mencintai dan memiliki kecondongan terhadap seseorang? _____________ "Aku akan keluar. Ada pelanggan yang mengantar barang. Jadi ...." Saat malam tiba, Sabil pun berpamitan pada istrinya. "Ya, Mas." Halimah tersenyum. Dia tahu bahwa beberapa kali dalam sebulan, ada barang datang dari pelabuhan. Dan barang itu ... langsung diantar ke toko, untuk mengurangi beban gudang milik suplier barang. "Kalau begitu, aku pergi dulu." Pria itu mengucap dingin. Pria itu menunjuk ke luar. "Mas," panggil Halimah. "Ya?" Sabil berbalik, lalu menatap Halimah yang tersenyum padanya sambil menyodorkan tangan. Ingin mencium punggung tangan pria itu. Untuk sejenak, hati Sabil hancur karena rasa bersalah. Halimah wanita sholehah, kenapa harus berjodoh dengan pria buruk sepertinya? Wajah Sabil datar, seperti biasanya. Namun, ia memenuhi kemauan Halimah. Memberikan tangannya. Dengan takzim wanita itu menciumnya. Lalu bertanya sebagai bentuk perhatian pada sang suami yang teramat dicintai. "Mas, maaf soal tadi, ya. Harusnya aku gak mencurigai Mas. Juga ... em Fatma yang sudah mau jadi rewang di rumah kita." Deg. Lagi ... ada yang berdenyut dalam d**a Sabil. Rasa bersalah itu semakin bertumpuk-tumpuk. Harusnya dialah yang meminta maaf. Akan tetapi ... Sayang, hatinya terlalu egois. Ia tak akan mampu meninggalkan Fatma apa pun yang terjadi. Sabil mengangguk pelan. Ada senyum tipis, yang jarang sekali Sabil berikan pada Halimah sebagai seorang istri yang terus merindukannya. "Ya sudah. Aku pergi dulu." "Mas," panggil Halimah lagi. Ia tak mengerti, kenapa berat sekali melepas pria itu pergi malam-malam begini. Dalam hati ia terus berdoa, semoga saja tak terjadi apa-apa yang membahayakan nyawanya. "Ya." "Jangan lupa pulang untuk makan." "E, em. Itu ... aku akan makan di luar saja. Kamu makan saja." Sabil bicara dengan nada tak enak. Hal itu membuat Halimah curiga. Ada apa dengannya? Biasanya juga walau semalam-malamnya kapal datang, pria itu akan pulang dulu untuk makan. "Oh, ya. Mas." Halimah mengangguk. Tak ingin kejadian sore tadi terulang lagi. Pria itu pun melangkah pergi. Meninggalkan Halimah dengan kehampaan hati. Seperti sebelum-belumnya. Ditambah sikap aneh Sabil yang bilang akan makan di luar. _______________ "Makanlah," pinta Bulek yang tiba-tiba masuk kamar dan membuat Halimah terhenyak. "Kembar pasti akan bangun malam ini. Karena tidur pulas sejak sore." "Ah, ya. Bulek. Apa Fatma sudah tidur?" Dengan raut senang, Halimah mengambil makanan dan menyuapnya perlahan ke mulut. Tapi ia tak melihat Fatma sejak tadi. "Em. Ya. Dia sudah tidur. Sepertinya kelelahan." "Oh." Halimah menyahut "Halimah, apa kamu tahu kalau gen kembar bukan didapat dari Bapaknya?" Suara Bulek terdengar di sela suara sendok dan piring yang beradu pelan. Wanita ayu itu, tahu bagaimana seseorang beradab ketika makan. Tidak menimbulkan banyak suara yang mengganggu orang lain. "Oya, tapi kan Bapaknya kembar, Bulek." Halimah tak sabar menyahut meski mulutnya sedang penuh. "Yah, sudah ada penelitian medis hampir tak ada gen kembar identik yang turun dari Bapaknya. Cek lah di google banyak artikel serupa," ujar wanita yang banyak tahu medis itu. "Kembar itu dapat gen dari keluarga kita. Karena dulu, Budenya Bulek yang juga Mbahmu juga kembar." "Oya?" "Huum. Kamu dan Fatma gak sempat ketemu. Karena beliau berdua sudah meninggal lebih dulu." Mendengar itu, Halimah menjadi miris. Dia jadi ingat ibunya yang harus meninggal muda. "Apa kamu perlu bulek temani, Nduk?" tanya Bulek sebelum keluar kamar Halimah. Sebenarnya masih banyak pekerjaan di belakang. Dia tak tega meminta bantuan pada puterinya yang tengah bersedih sejak tadi sore. Lalu membiarkannya pergi, kala Fatma meminta izin padanya, karena Sabil yang mengajak. Halimah boleh bahagia, tapi Fatma juga berhak bahagia. Sejak awal anaknya itu sudah merelakan pria yang dicintai menikahi Halimah. Dia bahkan mati-matian berusaha melupakan Sabil. Namun, justru dalam upayanya gadis itu harus mengalami sakit keras dan hampir meregang nyawa. Dari situlah, ibunya berinisiatif berdiskusi dengan Sabil untuk menyelamatkannya. "Oh, nggak usah Bulek. Istirahat saja. Nanti Mas Sabil juga datang." Selepas kepergian Bulek, Halimah menyusui bungsu dengan gelisah. Takut jika kembar bangun. Dan suaminya datang marah-marah, dalam kondisi lelah. Mana wanita itu sudah kebelet pipis. Ingin minta tolong pada Buleknya juga tak enak. Apalagi Fatma yang sudah tidur. "Apa Mas Sabil masih lama?" Setelah menanhannya, dan mengalihkan waktu dengan bermain gagdet, kedatangan seorang pria membuatnya terkejut. "Mas Sabil?" Mata Halimah melebar. "Apa nggak jadi nunggu barang datang dari pelabuhan?" "Oh, itu ...." Pria yang dianggap Sabil oleh Halimah itu mendekat, sembari menggaruk kepala tak gatal. "Ternyata ditunda, jadi ... aku memilih pulang." "Mas agak serak?" Halimah makin heran. Dahinya berkerut. Kenapa kali ini Sabil sangat aneh. "Hem?" Nabil mengangkat kedua alisnya. Pria itu baru ingat, kalau suaranya dengan saudara kembarnya sedikit berbeda. Untungnya mereka hidup terpisah pulau, jadi setiap kali Nabil yang menemuinya, Halimah menganggap suaminya tengah sakit radang tenggorokan. "Iya, nih." Pria itu segera memegangi jakunnya. "Nggak tahu, mungkin karena minum es di pinggir jalan kali, ya. Kena sari manis." Halimah tersenyum. Suaminya sekarang jadi banyak bicara padanya. Dia pikir pria itu kambuh baiknya setelah insiden yang menguras emosi mereka tadi sore. Wanita itu bersyukur. Begitulah seharusnya, adakalanya ujian itu ada di puncak, sampai sepasang suami istri kembali ingat perannya. Halimah jadi mengingat kondisi-kondisi aneh saat suaminya tiba-tiba jadi sangat baik dan romantis. Walau hanya beberapa kali dan selalu didahului pertengkaran lebih dulu. Dan berangsur kembali dingin. Mungkin Halimah membosankan bagi pria itu. Namun, begitu sudah cukup baginya untuk bertahan di sisi Sabil. "Pasti kambuh ya, Mas?" "Huum." Nabil mengangguk. "Ehem-ehem." "Minum, Mas." Halimah meraih minuman di nakas yang sudah disediakan buleknya. "Makasih." Nabil meraih gelas tersebut. Duduk di kursi tak jauh dari ranjang di mana Halimah duduk bersandar. Pria itu menenggak segelas minuman hingga habis tak bersisa. Ia tampak sangat haus. Pria itu agak lama, menatap dua sosok bayi kembar di atas ranjang. Pikirannya menerawang jauh. Kalau saja satu bayinya selamat akan ada sosok bayi lain di antara mereka. Nabil mendesah. Tak ingin larut dalam pikirannya sendiri. "Em, di belakang ...?" Nabil ingin menanyakan keberadaan 'rewang' Halimah. "Bulek? Atau Fatma? Mereka mungkin sudah tidur, Mas." "Oh, ya." "Em, Mas. Apa masih capek?" "Ah? Apa kamu perlu sesuatu?" Dua alis Nabil terangkat. Halimah mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya karena tak nyaman. "Ayok. Aku bantu."Pria itu tersenyum "Mas." "Hem?" "Kamu sangat baik, Mas." Halimah sejenak berhenti. Menatap wajah tampan suaminya. Nabil tak ingin menjawab apa pun selain tersenyum. Dia hanya heran kenapa setiap hari berbaur dengan wanita secantik Halimah, hati Sabil tak juga luluh untuk mencintainya. 'Secantik apa sebenarnya istri rahasianya abangku?' batin Nabil. Dengan telaten, Nabil memapah Halimah dengan hati-hati. Karena dia tahu ia baru saja melahirkan. Setelah selesai, dengan hati-hati Nabil membawa wanita itu. Namun, kerinduan yang tersimpan di hatinya untuk Halimah membuatnya memberanikan diri menggendongnya. Mata Halimah melebar. Sabil benar-benar menjadi orang lain lagi hari ini. Mungkinkah seperti dulu-dulu? Di mana sikap manisnya berakhir pelampiasan rindunya yang begitu dalam. Halimah tak mau melepas tatapannya dari wajah paripurna yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. "Apa kamu sangat terpesona pada ketampananku?" Nabil bicara dengan tatapan lurus ke depan. Setelah sempat menatap sesaat wajah ayu dalam pelukannya. "Aku hanya gak habis pikir saja, Mas. Kenapa kamu bisa berubah sedrastis ini?" "Kan aku sudah bilang, saat tiba-tiba aku mulai bosan dan dingin padamu. Buatlah perkara besar seperti tadi. Dengan begitu aku akan sadar, kalau aku punya istri yang sangat mencintaiku." "Ya ... aku ingat. Tapi ...." Ucapan wanita yang sudah kembali di letakkan di ranjang itu terhenti, kala jemari Nabil di letakkan di bibirnya. Pria itu kemudian duduk di kursi. Menatapnya dalam, sampai Halimah salah tingkah sendiri. Ini sikap paling romantis dan manis yang pernah ia dapat dari Sabil. "Hem? Apa ada yang salah, Mas?" Nabil menggeleng. "Kamu cantik. Dan ... aku merindukanmu." Pria itu mengucap tulus. Desir-desir halus pun merambati hati wanita bewajah oval di depan Nabil. "Tidurlah. Kamu pasti lelah." Nabil mengusap rambut Halimah. Ia kemudian harus ingat istrinya yang lain. Wanita yang senantiasa ada di sisinya, sampai akhirnya ia pergi meninggalkannya. ______________ Sabil mendesah lega, saat Nabil mengirim foto padanya. Pria yang mengenakan jaketnya itu sudah berada di depan rumah. "Dia adiknya Mas Sabil?" tanya Fatma yang merasa belum pernah bertemu Nabil. Dan tadi hanya menatapnya dari dalam mobil saat keduanya bicara. "Huum." "Apa kali ini, Mas akan menipu Mbak Halimah lagi?" "Apa maksudmu, Sayang?" Sabil meraih tangan lentik Fatma dan menggenggamnya. Fatma mendesah. Ingin sekali menarik tangannya dari prianya. Namun, bersikap kasar pada Sabil bukanlah wataknya. "Aku ingin Mas mencintai Mbak Halimah seperti Mas mencintaiku. Bukankah dulu Mas sudah janji? Itu kenapa aku mau kembali pada Mas." "Ya, aku ingat. Tapi janji itu bukan untuk mencintainya Fatma. Tapi berusaha mencintainya. Aku sudah berusaha. Aku sudah berusaha sangat keras, Fatma. Tapi ... aku tidak bisa. Cuma kamu yang menuhi otakku." Mendengar itu, bukan Fatma merasa bangga. Melainkan miris dan sedih. Ia bisa membayangkan bagaimana berada di posisi Halimah. Mendapat perlakuan dingin dari sang suami. "Mas harusnya juga berusaha bersikap baik dan hangat. Bagaimana Mas bisa mencintainya jika Mas terus dingin padanya?" Fatma mengucap lemah dan kecewa. "Sudah dua tahun, Fatma. Kenapa kamu tak juga berubah. Kenapa kamu masih terus memikirkan Halimah ketimbang aku? Apa kamu tak mencintaiku?" "Bukan begitu, Mas. Kasian Mbak Halimah, dia baru saja melahirkankan caesar. Ia merasakan banyak rasa sakit. Dan sudah ada anak di antara kalian, mana boleh Mas begini? Kasian kembar kalau sampai hubungan kalian hancur. Aku rela lep ...." Tak terasa air mata jatuh ke pipi pualamnya. "Hentikan itu, Fatma!" Suara Sabil meninggi. Ia tahu apa yang akan perempuan yang sudah menyusui kembar itu katakan. Sabil tak akan sanggup Fatma mengucap akan meninggalkannya. "Oke, dengarkan aku baik-baik! Dengar! Aku tak akan meninggalkanmu sampai kapanpun. Kalau ada wanita yang akan aku tinggalkan itu adalah Halimah orangnya, bukan kamu! Karena apa? Karena aku tak pernah menyentuhnya! Kembar bukan anakku!" "Ap-apa? Apa yang Mas katakan?!" Mata Fatma melebar sempurna. Ia nyaris saja pingsan mendengar pengakuan Sabil. Bersambung Gimana? Gimana? Ada yang mikir gini gak sebelumnya? ? Ketik sesuatu di kolom komentar dan tap lope dong. Otor aja lope kelen, masa kelen enggak.? Next, ada kejutan lebih uwow lagi malam ini. Insyaallah ya.??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN