Really not Bryce

1510 Kata
Happy Reading . . . *** Aku yang saat ini sedang berada di dapur untuk mencuci beberapa perlatan bekas masak tadi, langsung mendengar suara pintu rumah yang terbuka lalu tertutup kembali secara tiba-tiba. Aku yang merasa penasaran akan siapa yang datang itu, hendak melangkah menuju pintu rumah untuk melihatnya. Namun pada saat aku baru saja mematikan aliran air yang mengalir dari keran wastafel tempat mencuci piring ini, aku pun langsung melihat keberadaan Bryce yang rupanya sudah pulang di saat langit di luar sana masih terang. Dengan masih mengenakan pakaian tugas rumah sakitnya itu, ia melangkah memasuki dapur dan menghampiri keberadaanku. "Bryce? Tidak biasanya kau pulang disaat hari masih terang seperti ini. Ini masih pukul enam, kau baik-baik saja?" Tanyaku yang tentu merasa bingung akan hal tidak biasa yang kembali pria itu lakukan. "Ya, tentu aku baik-baik saja." "Kau sedang sakit?" "Tidak. Aku baik-baik saja, Mandy." "Kau yakin?" "Ya, tentu saja. Hei, ada apa? Kenapa kau bertanya-nya seperti itu?" "Tidak. Hanya saja merasa tidak biaa saja dengan kau yang sudah sampai di rumah di saat hari masih belum larut seperti ini." "Kemarikan, biar aku membantumu." Ucap Bryce yang menawarkan diri itu membantuku mencuci peralatan masak ini. "Tidak perlu. Biasanya kau tidak pernah melakukannya." "Tetapi kali ini tidak biasa. Jadi, biar aku saja yang mencucinya." "Kau tidak lelah? Kau bisa beristirahat saja. Atau pergilah mandi, aku dan Renne akan memulai makan malam. Dan karena sekarang kau sudah di sini, sekalian saja kita makan malamnya bersama." "Tidak apa, kemarikan sponsnya. Biar aku bantu." "Bryce..." Belum sempat aku mencegahnya lagi agar tidak perlu membantu, kini Bryce justru sudah mengambil paksa spons pembersih dari tanganku dan ia pun langsung melanjutkan hal yang tadi sempat tertunda karenanya. "Pasienmu sedang tidak banyak hari ini?" Tanyaku yang memilih untuk mengatur meja makan karena waktu makan malam yang sebentar lagi akan tiba. "Tidak juga. Bahkan aku memiliki lima jadwal operasi hari ini." "Lalu kenapa kau pulang lebih awal dari biasanya? Bahkan kau saja sudah tidak pernah lagi makan malam bersama denganku dan Renne semenjak kau berkerja di rumah sakit." "Aku tahu waktu yang aku miliki untuk keluargaku sendiri tidaklah banyak. Beberapa waktu belakangan ini, aku hanya menjadi pria tidak bertanggung jawab karena tidak pernah menghabiskan waktu bersama dengan keluarga. Kau dan Renne, selalu meminta dan memohon agar aku dapat memiliki waktu luang untuk kalian. Tetapi aku sudah menjadi bodoh karena menganggap permintaan kalian itu hanyalah sebuah omong kosong saja. Aku tidak bisa terus menerus bersikap egois dengan hanya mementingkan karirku, tanpa memikirkan kebahagiaan keluargaku sendiri. Maka dari itu, mulai sekarang aku ingin berubah. Aku ingin membagi waktu antara karir dan keluarga secara adil. Aku ingin meluangkan waktuku untukmu dan juga Renne, hal yang tidak pernah aku lakukan kepada kalian sepanjang aku mulai berhasil membangun karirku. Padahal, disaat aku sedang terpuruk karena sebuah kegagalan, kau justru menjadi pendukung nomor satu untukku. Maaf jika baru kali ini aku menyadari semuanya. Berikan aku kesempatan jika bagimu, semuanya sudah terasa terlambat." "Kau yakin, bisa membagi dengan adil antara keluarga dan karir?" "Aku ingin mencoba dan harus bisa aku lakukan?" "Bagaimana dengan asisten atau pasien-pasienmu yang terkadang cukup tidak bisa menerima toleransi atas setiap padatnya jadwal kerjamu itu?" "Aku tidak peduli. Aku hanya ingin menyenangkan keluargaku saja. Aku tidak ingin membuat kalian terus menerus merasakan kekecewaan karena aku yang sebentar saja tidak memiliki waktu luang." "Apakah kau baru menyadari semuanya pada saat kemarin aku sudah menginginkan sebuah perpisahan darimu, Bryce?" Tanyaku dengan cukup berani sambil mendudukkan diri di salah satu kursi meja makan. Bryce yang kini sudah selesai dengan cuciannya itu, melangkah menghampiriku dan ikut mendudukkan diri di kursi sampingku. "Aku tidak ingin berbohong. Ya, aku mulai sadar setelah kau mengatakan hal tersebut." "Kenapa?" "Karena aku tidak ingin berpisah darimu, Mandy. Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu dari hidupku. Aku tidak siap menghadapi semua itu." "Kenapa kau baru tersadar di saat aku sudah menginginkannya?" "Maafkan aku, Mandy." Digenggamnyalah tanganku dengan satu tangan, dan Bryce pun juga sudah menangkup wajahku dengan tangan lainnya agar tatapan kami dapat langsung bertabrakan. "Aku mengerti dengan kau yang sudah merasa bosan ataupun lelah dalam menghadapi sifat keras kepalaku, keegoisanku, dan banyak hal lainnya yang sudah membuatmu harus bertahan dalam situasi tidak nyaman selama sepuluh tahun pernikahan kita ini. Aku tahu dengan kau yang..." Oh, Bryce. Apa yang harus aku lakukan? Rasa ingin berpisah seperti yang aku inginkan kemarin-kemarin, entah kenapa tiba-tiba saja membuatku langsung merasakan perasaan tidak tega untuk sekedar membahasnya kembali setelah melihat rasa penyesalanmu ini, yang aku tidak tahu benar-benar tulus muncul dari dalam lubuk hatimu atau hanya karena kalimat perpisahan yang bagiku tidak bermaksud untuk menjadikannya sebuah ancaman untukmu? Bisa saja aku menganggap perpisahan yang aku katakan kemarin hanyalah angin lalu dan bukanlah hal yang penting. Tetapi pada saat tanganmu yang menggenggamku, mataku yang memandangmu, mulutmu yang berbicara, aku tidak bisa merasakan perasaan itu lagi. Perasaan yang dulu selalu aku rasakan pada saat melihatmu, menatapmu, menyentuhmu, memelukmu, memikirkanmu. Aku sudah tidak merasakan hal itu lagi pada dirimu. Karena kini, aku justru merasakan semua itu pada saat sedang bersama dengan Becks. Maafkan aku yang nanti mungkin saja akan membuatmu menjadi merasakan hal yang dinamakan kekecewaan, kesedihan, ataupun kehancuran. Karena aku sendiri pun tidak bisa menampik lagi semua perasaan itu. Perasaan yang akan membuatku menjadi merasa dicintai kembali. "Mandy? Apa kau mendengarkanku?" Sedikit guncangan pada lenganku, Bryce berikan disaat dengan tidak tersadar rupanya aku sudah melamun. "Huh? Apa?" Balasku yang baru saja tersadar dan sama sekali tidak mendengar setiap kalimat yang Bryce ucapkan dan tanyakan kepadaku. "Jadi, apa kau ingin memberikanku sebuah kesempatan lagi?" "Ya." "Benarkah?" "Ya, tentu saja." "Terima kasih, Mandy. Aku tahu kau tidak akan pernah mengecewakanku." Pelukan yang sama sekali tidak adanya rasa kehangatan di dalamnya, Bryce berikan kepadaku. Dan ya, mungkin waktunya tidak sekarang. Setidaknya sampai situasi di antara kami terasa cukup mendukung, dan waktu yang tepat untuk mengurus perpisahan nanti bisa memberikan sedikit persiapan hati dan mental untuk Bryce dapat menghadapi semuanya. Dengan senyuman yang aku lihat mulai terbit di wajahnya, Bryce pun melepaskan pelukannya lalu mengusap pipiku dengan lembut dan penuh perasaan. "Hei, bagaimana kalau besok kita pergi jalan-jalan? Tidak usah yang jauh-jauh. Kita pergi ke taman saja. Hanya aku, kau dan Renne." "Besok? Akhir pekan besok ini?" Tanyaku yang meyakinkan disaat aku mulai merasa cemas atas ajakan Bryce yang sangat tiba-tiba itu. Aku yang sudah memiliki janji dengan Becks untuk melakukan pemotretan esok hari, rasanya tidak ingin sampai hati untuk mengecewakan perasaan pria itu atas rencana yang sudah kami buat dengan sempurna tadi dapat terancam batal dan berantakan. "Ya, akhir pekan besok ini. Aku sudah mengosongkan jadwalku agar besok kita bisa pergi jalan-jalan bersama." "Biasanya akhir pekan pun kau tetap pergi bekerja? Memangnya kau tidak memiliki jadwal operasi atau janji dengan pasien?" "Kali ini tidak biasa. Dan akhir pekan ini aku hanya ingin menghabiskan waktu ku bersama denganmu dan Renne. Ingat akan janjiku tadi, bukan?" "Hm... y-ya. Tetapi Bryce, aku tidak bisa. Besok aku sudah memiliki rencana dan ingin pergi." "Pergi? Kemana?" "Ahh... tetapi, tidak. Baiklah, besok kita pergi jalan-jalan bersama saja." "Hei, jika kau memiliki rencana sendiri tidak masalah, pergilah. Biar aku dan Renne yang pergi jalan-jalan berdua saja. Mungkin aku akan mengajak Mommy agar Renne memiliki teman." "Tidak apa-apa, Bryce. Aku tetap bisa pergi dengan kalian. Lagi pula Lorraine pasti akan marah jika aku tidak ada bersama kau dan Renne." "Tidak masalah, Mandy. Pergilah, kau membutuhkan waktu untuk bersenang-senang. Dan untuk urusan Mommy, biar aku yang nanti akan menanganinya." "Aku bisa membatalkannya, Bryce." "Hei, pergi saja. Tidak perlu memikirkanku dan Renne." "Kau yakin?" "Kenapa tidak? Aku sudah sangat lama tidak menghabiskan waktu ku bersama Renne." "Jadi, kau tidak mempersalahkannya dengan aku yang memiliki rencana sendiri?" "Tentu saja. Untuk apa aku mempermasalahkannya? Pergilah, Mandy. Kau bisa bersenang-senang. Aku tahu menikah dengan pria kaku sepertiku, kau sudah banyak sekali menerima kenyataan dengan tidak bisa merasakan hal yang dinamakan kesenangan, yang sebenarnya ada banyak hal di luar sana." "Kau seperti bukan Bryce yang aku kenal." "Memangnya Bryce yang kau kenal itu seperti apa?" "Seperti... yang sedang tidak aku hadapi saat ini." "Kalau begitu kau harus mengenal Bryce yang sekarang. Bryce yang tetap mencintaimu, tetapi tidak lagi kaku." Aku pun hanya menampilkan senyuman terbaik ku, tanpa ingin membuat Bryce sedih apalagi sampai merasa curiga kepadaku. "Pergilah mandi, makan malamnya sudah siap. Aku ingin memanggil Renne juga." "Baiklah. Aku tidak akan lama." Anggukan kepala sebagai balasanku itu pun mengiringi Bryce yang beranjak dari duduknya, lalu melangkah menuju kamar untuk pergi membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk makan malam bersama. Selepas Bryce pergi, aku pun masih mendudukkan diri di kursi meja makan untuk berpikir sejenak. Apakah keputusan untuk memberi Bryce kesempatan sambil menemukan waktu yang tepat untuk benar-benar mengurus perpisahan di antara kami adalah yang terbaik? Aku takut jika aku terlalu lama memberi waktu dan kesempatan untuk Bryce, pria itu nantinya justru akan menjadi merasa semakin sulit untuk melepaskan dan merelakanku. Dan dengan seketika, aku pun merasa telah menjadi bodoh karena keputusan yang sudah aku buat tadi, nantinya akan menjadi penghalang yang dapat timbul di antara perpisahanku dengan Bryce, dan juga penyebab timbulnya masalah baru untuk diriku sendiri. *** To be Continued . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN