Happy Reading . . .
***
Setelah mengantar Renne menuju bis sekolahnya, aku melangkah memasuki rumah kembali dan langsung melihat Bryce yang sedang memakai sepatunya dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit di kursi yang berada di dekat pintu.
"Hari ini aku ingin pergi sebentar. Tidak sampai malam, mungkin siang dan sekaligus menjemput Renne di sekolah, setelah itu aku sudah kembali ke rumah."
"Pergilah."
Balasan singkat dan tidak adanya keraguan ataupun keterpaksaan pada nada bicaranya itu membuatku langsung mengernyitkan kening setelah mendengarnya.
"Kau tidak ingin menginterogasi atau melarangku terlebih dahulu?" Tanyaku yang sedikit bingung akan sikap yang baru aku lihat darinya itu. Padahal aku sudah menyiapkan jawaban karanganku jika saja Bryce menanyakan kepergianku yang ingin menemui Becks.
"Tidak perlu. Kau ini istriku, bukan seorang tawanan. Jadi aku tidak ingin mengekangmu lagi."
"Ada apa denganmu? Terasa berbeda."
"Hanya perasaanmu saja. Kalau begitu aku berangkat dulu. Sampai nanti."
Aku pun hanya mengikuti arah gerakan Bryce yang sudah selesai memakai sepatunya, dan setelah berpamitan denganku ia pun juga langsung keluar dari rumah. Rasa bingung atas perubahan yang cukup tiba-tiba atas sikap yang bukan milik Bryce sama sekali, membuat pikiranku langsung tertuju pada kalimat perpisahan yang aku ucapkan semalam.
Apa karena hal itu Bryce menjadi mengubah sikap yang aku tahu sama sekali bukanlah sikapnya yang biasa? Pasalnya Bryce tidak mungkin membiarkanku bepergian keluar rumah begitu saja, apalagi ia juga belum mengetahui aku akan pergi dengan siapa. Jika memang benar perpisahan yang aku inginkan itu benar-benar membuat sikap Bryce tidak protektif lagi kepadaku, itu tandanya ia mulai memikirkan dan menganggap keputusanku itu bukanlah hal yang main-main. Apakah dengan ancaman yang tidak aku maksudkan kepada Bryce, baru bisa membuat pria itu sadar akan sikapnya sebagai seorang suami yang begitu egois?
Tidak ingin memikirkan lebih lama lagi mengenai perubahan sikap Bryce yang tiba-tiba itu, aku pun memutuskan untuk menghubungi Becks dan memberitahu bahwa hari ini aku bisa pergi menemui pria itu. Memang tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan respon dan balasan darinya, karena setelah aku yang mengirim pesan terlebih dahulu kepada Becks bahwa hari ini aku bisa bertemu dengannya, kami pun langsung menemukan kesepakatan untuk langsung bertemu di sebuah kedai kopi saja.
Aku yang entah kenapa langsung merasa cukup bersemangat untuk bertemu dengan Becks, langsung bergegas menuju kamar untuk mengganti pakaian. Rasa ingin berpenampilan menarik seperti ingin pergi berkenan untuk yang pertama kali layaknya anak remaja seakan begitu memenuhi diriku. Padahal, apa yang harus membuatku merasakan perasaan seperti ini? Aku hanya ingin bertemu dengan seorang pria yang sudah berjanji ingin menjadi temanku saja, dan ini pun juga bukanlah sebuah kencan seperti yang aku harapkan. Jadi, kenapa aku harus merasakan bersemangat yang teramat sangat seperti ini? Seperti baru pertama kali merasakan jatuh cinta saja.
Gaun kasual bewarna putih dengan tinggi di atas lututku ini adalah pakaian yang menjadi pilihanku untuk bertemu dengan Becks. Dipadukan dengan sepatu datar dan membiarkan rambut panjangku yang tergerai, aku pun langsung mengambil tas dan bergegas untuk pergi. Dengan menggunakan taksi yang kebetulan lewat di depan rumah, setelah berada di dalam taksi aku pun memberitahu kepada sang supir untuk mengantar menuju kedai kopi yang kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh.
Kurang lebih selama dua puluh menit berlalu, taksi yang aku tumpangi ini pun berhenti tepat di depan kedai kopi yang aku tuju. Setelah membayar tarif taksi, aku pun bergegas keluar dari sana untuk memasuki kedai kopi dimana aku sudah bisa melihat keberadaan Becks yang duduk di dekat jendela, yang kini sedang memperhatikan kedatanganku dengan senyumannya.
"Apakah aku lama?" Tanyaku sambil mendudukan diri di kursi yang berhadapan dengan Becks.
"Tidak. Jika memang lama, kau pantas untuk ditunggu."
Aku pun hanya menanggapi ucapan Becks itu dengan senyuman, walaupun sesungguhnya di dalam hati, aku merasakan perasaan bersemu yang tidak bisa aku kendalikan. Belum reda akan rasa yang sedang sebisa mungkin aku sembunyikan, tiba-tiba saja ia sudah memberikan sebuket bunga kepadaku.
"Apa ini?" Tanyaku sambil sedikit ragu mengambil bunga tersebut dari tangannya.
"Peony. Kau tidak mengetahuinya?"
"Aku tahu ini bunga peony. Tetapi, untuk apa?"
"Untukmu. Kau tahu? Setiap wanita berhak dan pantas mendapatkan sebuket bunga."
"Terima kasih atas bunganya, Becks."
"Sama-sama,". " Lalu, kau ingin pesan apa? Seingatku kau tidak minum kopi, kalau begitu aku akan merekomendasikan coklat atau minuman lainnya yang tidak mengandung kopi."
"Aku sedang tidak ingin. Tidak masalah jika aku tidak memesan apapun, bukan?"
"Kau sedang diet?"
"Tidak. Hanya saja aku memang tidak menyukai minuman seperti kopi, coklat panas, minuman coklat lainnya, frappe, latte, dan berbagai macam jenis minuman yang lainnya."
"Menarik."
"Atau aneh?"
"Tidak, kau menarik."
"Hm... okay. Jadi, kapan aku bisa melihat foto-fotonya?" Balasku yang langsung cepat-cepat mengganti topik pembicaraan sebelum perasaan itu kembali menyerang diriku.
"Aku akan pindah ke sampingmu agar kita bisa melihatnya bersama."
Aku pun cukup merasakan ketegangan disaat merasakan keberadaan Becks yang kini sudah duduk di sampingku. Jarak di antara kami yang mungkin hanya berkisar tidak lebih dari sepuluh centimeter, membuat jantungku tiba-tiba saja menjadi berdegup kencang tanpa adanya alasan yang jelas. Ini adalah jarak terdekatku saat bersama dengannya. Layar laptop yang bahkan kini sudah ada di hadapanku, rupanya tidak bisa mengalihkan pandanganku dari wajah Becks yang lebih menarik dari pada foto-foto tersebut.
Struktur wajah yang terpahat dengan sempurna itu seakan mengalihkan duniaku. Dari mata yang memiliki tatapan tenang sama seperti warna biru aqua-nya yang selalu bisa menghipnotisku, dipadukan dengan hidung runcing yang sama tegasnya seperti rahang miliknya itu. Belum lagi bibir bewarna merah muda yang cukup menggoda, semakin terlihat sempurna saat disandingkan dengan kedua lesung pipinya itu.
Dan, oh tidak! Bahkan otot bisep di kedua tangannya yang hanya dilapisi kaos tipis bewarna hitam yang membuatnya menjadi terlihat ketat itu seakan-akan memanggil-manggilku untuk disentuh. Tetapi tunggu. Mandy, apa yang baru saja kau lakukan? Kau mengagumi pria lain di bawah mimpi terliarmu. Kau memikirkan pria itu tepat di hadapannya langsung. Kau terang-terangan begitu mengaguminya, sampai-sampai tidak tersadar akan dirimu yang sudah melamun dan benar-benar begitu jelas memperhatikan Becks.
"Hei, kau memperhatikannya atau tidak?"
Dengan cepat aku langsung mengedipkan mata beberapa kali setelah bahuku terasa disentuh olehnya.
"Huh? Kenapa?"
"Kau memperhatikan fotonya atau tidak? Sejak tadi aku berbicara kau justru terdiam saja."
"Maaf, aku tidak bermaksud. Bagaimana-bagaimana? Apa bisa kau ulangi lagi?"
"Sudut pandangmu di sini tepat sekali, tepat di bawah sinar matahari. Dan aku bisa melihat kepercayaan dirimu yang keluar di sana. Walaupun belum totalitas, tetapi kau sudah menunjukkannya. Dalam permodelan, kepercayaan diri adalah yang utama. Dan aku bisa melihatnya di dalam dirimu."
"Apakah itu diriku?" Tanyaku dengan pandangan yang masih tidak terlepas dari layar laptop yang sedang menampilkan salah satu foto diriku bersama beberapa model yang mengikuti pemotretan kemarin.
"Kau sendiri tidak mempercainya, bukan?"
Becks memang benar-benar seorang fotografer yang hebat. Seluruh hasil pekerjaannya itu terlihat begitu profesional. Tentu tidak heran lagi seperti kata Ava jika jasanya itu benar-benar diperebutkan oleh banyak perusahaan. Dengan hasil karyanya yang seperti ini, ia pantas mendapatkan harga tinggi di setiap kerja kerasnya.
"Kenapa kau tidak ingin bekerja untuk Style's?" Tanyaku sambil mengalihkan pandanganku yang kini sudah menatap kedua matanya, yang ternyata juga sudah menatap mataku.
"Bukannya tidak ingin, tetapi aku lebih menikmati pekerjaan yang tidak terikat. Lebih bebas ke arah manapun aku ingin pergi."
"Tetapi dengan yang terikat, bukankah selalu ada kepastian di dalamnya?"
"Belum tentu. Bagaimana jika dengan yang terikat kau menjadi terjebak dan terkekang di dalamnya?"
"Kau benar. Jika sudah terjebak, akan sulit rasanya untuk terbebas."
"Bisa, asal kau jangan pernah menyerah untuk terus mencobanya."
"Bagaimana caranya?"
"Meminta bantuan dari pihak lain."
"Pihak lain? Bukankah hanya akan semakin mempersulit keadaan saja?"
"Tidak juga. Terkadang pihak ketiga justru akan datang untuk menjadi penolong, sekaligus pelindung."
Merasa pembicaraan di antara kami terasa semakin jauh, dan aku pun tidak bisa menyangkal bahwa permasalahan mengenai nasib rumah tanggaku di sini mulai sedikit ikut terbawa, aku pun langsung memutuskan kontak mataku dengan Becks untuk memperhatikan kedai kopi ini yang rupanya cukup ramai dari pengunjung. Setelah beberapa saat situasi canggung yang sempat terjadi beberapa saat setelah perbincangan yang cukup berat tadi, aku pun kembali menatapnya dan memulai pembicaraan dengan topik yang lainnya,
"Becks. Kenapa seperti itu? Namamu cukup unik. Apakah itu bukan hanya nama panggilan saja?"
"Hm... entahlah. Aku sendiri pun terkadang juga memikirkannya. Tetapi seperti itulah namaku. Memangnya ada apa?"
"Tidak. Hanya ingin tahu saja. Aku baru mendengar nama unik seseorang seperti milikmu saja."
Senyuman dengan lesung pipi itu, seakan selalu saja mengajakku untuk ikut tersenyum dibuatnya. Oh, Becks. Ada apa dengan senyumanmu itu? Apakah kau memiliki semacam feromon di dalam dirimu? Diriku seakan selalu saja teracuni oleh setiap senyuman yang kau keluarkan. Zat berbahayamu itu mulai mengalihkan duniaku dan seakan hanya tertuju kepadamu.
"Hei, tiba-tiba saja aku teringat. Aku baru menemukan titik foto bagus seperti yang aku inginkan. Apakah kau ingin menjadi modelnya?"
"Aku?" Tanyaku yang memastikan.
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena kau menarik."
"Aku tidak percaya diri."
"Baru tadi aku katakan, kepercayaan diri adalah yang utama dalam permodelan."
"Tetapi aku bukanlah seorang model."
"Tetapi kau memiliki bakat. Akan sangat disayangkan jika kau tidak menggunakannya. Ditunjang dengan tinggi dan kesempurnaan tubuhmu ini, kau justru sudah menjadi seorang model, Mandy."
"Aku tidak sempurna, Becks."
"Siapa yang tahu? Tetapi di depan kedua mataku, kau itu sempurna."
"Aku tidak percaya diri dengan diriku yang akan dilihat oleh banyak pasang mata."
"Jika kau keberatan dengan kau yang akan dilihat oleh banyak pasang mata, aku hanya akan menjadikan hasil foto-fotonya sebagai portofolioku saja. Bagaimana?"
"Hm... aku tidak tahu."
"Hanya sebagai koleksi pribadiku saja, Mandy. Tidak ada banyak pasang mata yang akan melihatnya."
"Kapan kau ingin memotretku?"
"Besok, bagaimana? Apakah kau sibuk?"
"Besok akhir pekan, bukan?"
"Ya, lalu?"
"Kau tidak ingin menggunakan akhir pekanmu?"
"Kau sendiri bagaimana? Tidak menghabiskan akhir pekanmu."
"Aku yang tadi bertanya terlebih dahulu."
"Baiklah. Untuk apa aku menghabiskan akhir pekan ku? Bagiku, setiap hari adalah akhir pekan. Jadi, bagaimana?"
"Baiklah, aku menginginkannya." Tanpa banyak menimbang, aku pun dengan percaya diri menyetujui ajakan Becks tersebut.
"Kau menginginkannya?"
"Kau sudah mendengarnya sendiri, Becks."
"Aku hanya ingin memastikan sekali lagi. Baiklah, jadi besok kita akan melakukan pemotretan. Kau ingin aku jemput?"
"Bagaimana kalau kau mengirimkan alamatnya saja, biar kita langsung bertemu di tempatnya saja?"
"Kau yakin? Aku bisa menjemputmu terlebih dahulu. Tetapi itu juga jika kau menginginkannya."
"Kita bertemu langsung di tempat saja. Tidak masalah, bukan?"
"Tentu saja. Nanti aku akan mengirim alamat tempatnya ke ponselmu."
"Lalu apa yang harus aku pakai?"
"Tidak ada tema, jadi aku menyerahkan untuk penampilan kepada dirimu sendiri. Aku ingin melihat penampilan natural yang mencerminkan dirimu. Lagi pula aku hanya membutuhkan dirimu saja yang menjadi obyek utamanya. Bukan pakaian, pengaturan tempat, sorotan lampu, layar di belakang atau apapun itu. Kau adalah fokus utamanya, Mandy."
"Apapun? Bagaimana jika penampilanku tidak masuk dengan pengaturan tempatnya? Aku sama sekali tidak mengetahui bagaimana kondisi tempat untuk pemotretannya nanti, Becks."
"Aku percaya denganmu. Jadi, gunakan perasaanmu untuk menentukannya sendiri, okay?"
"Jangan kecewa dengan apapun itu penampilanku nanti, okay?"
"Tidak akan. Aku justru bertaruh akan sangat menyukai apapun itu yang menjadi pilihan untuk penampilanmu nanti."
"Baiklah."
***
To be continued . . .