This Time

2430 Kata
Happy Reading . . . *** "Dimana pikiranmu, Mandy? Kau tidak menjemput Renne di sekolah dan membiarkannya menunggu sendirian disaat sekolah pun juga sudah sepi. Guru Renne sudah berkali-kali menghubungi ponselmu, tetapi kau tidak kunjung mengangkatnya juga dan hingga pada akhirnya aku yang hendak melakukan operasi dengan terpaksa aku tunda dulu karena aku yang harus menjemput Renne di sekolahnya. Hari ini kau pergi kemana, Mandy?" Aku sudah tidak asing lagi menghadapi situasi seperti ini. Dengan hanya tertunduk pasrah di bawah amarah yang sedang begitu menguasai Bryce, aku hanya bisa tersenyum kecut di dalam hati disaat mendengar setiap ocehan yang keluar dari bibir pria itu saja. "Tetapi lihatlah dari sisi baiknya, Bryce. Dengan begitu kau jadi bisa menjemput Renne di sekolah, bukan? Dan Renne pun pasti sedang merasa senang karena keinginannya itu sudah terpenuhi. Keinginan sederhana agar Daddy-nya ini bisa menjemputnya setelah pulang sekolah. Kau tidak pernah memikirkan hal sederhana itu?" "Lalu apakah kau juga memikirkan jika saja Renne diculik oleh orang asing karena Mommy-nya yang ternyata begitu ceroboh?" Hembusan nafas berat pun untuk yang kesekian kalinya aku keluarkan dari hidungku seraya menghadapi sifat kekanak-kanakan Bryce yang tidak akan pernah ingin kalah di setiap perdebatan yang sedang terjadi di antara kami. "Aku bertanya kau pergi kemana?" Ingin rasanya aku langsung mengatakan hal yang sejujurnya kepada Bryce saat ini juga mengenai pernikahan yang sudah begitu ingin aku akhiri, namun rasanya lidah ini masih terasa kelu saja. Tetapi saat ini, mungkin juga adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya, selagi perdebatan kali ini yang masih belum berakhir. "Mandy, sekali lagi aku bertanya. Pergi kemana kau hari ini?' "Ava mengajakku-" "Ava, Ava, Ava dan Ava! Kau lebih memilih pergi dengan temanmu itu, dari pada harus menjemput Renne? Dan jangan melupakan dengan kau yang pergi dari rumah ini, tanpa mendapatkan izin dariku terlebih dahulu. Apa kau sudah mulai ingin melupakan tanggung jawabmu, Mandy?" Suaraku pun langsung tercekat disaat Bryce menyela ucapanku yang hendak membalas pertanyaannya yang dilemparkan terhadapku itu. "Tanggung jawab? Tahu apa kau dengan arti dari sebuah tanggung jawab? Bukankah selama ini kau lebih sering untuk mengingkarinya?" "Jaga bicaramu, Mandy." "Kenapa? Apakah kau tidak tahu dengan arti dari tanggung jawab yang sebenarnya?" "Jika Ava hanya bisa mengajakmu ke arah yang tidak baik, sebaiknya kau akhiri saja pertemananmu itu dengannya. Lagi pula apa untungnya berteman dengan wanita rendahan seperti itu. Kau pikir aku tidak tahu jika ia pernah mengalami hal tidak menyenangkan di masa remajanya?" "Jangan pernah membawa-bawa sahabatku yang bahkan lebih peduli kepadaku dari pada dirimu. Apalagi dengan kau juga yang sampai menilainya rendah, disaat kau sendiri saja tidak pernah tahu dengan sebuah kenyataan yang sebenarnya." "Aku tidak peduli dengan itu. Yang aku pedulikan hanyalah kau yang akan menjadi sama rendahnya seperti dia, jika kau tidak mengakhiri juga pertemananmu itu dengannya." "Memangnya kenapa jika aku sama rendahnya seperti Ava? Apakah kau malu memiliki seorang istri yang sangat jauh dari kata sempurna ini, dan justru memiliki kepribadian yang rendahan? Apakah bagimu ini aku hanyalah sebuah debu yang akan selalu menodai kesempurnaanmu sebagai orthodontist hebat yang begitu sempurna di depan banyak pasang mata?" "Ada apa denganmu, Mandy?" "Ada apa denganku?" Balasku sambil beranjak dari kursi sofa yang aku duduki, hingga kini aku sudah saling berhadapan dengan Bryce. "Seharusnya aku yang menanyakan hal itu kepadamu. Ada apa denganmu, Bryce? Hanya karena kau yang aku rasa sangat terpaksa menjemput Renne di sekolahnya, kau menjadi semarah ini kepadaku seperti aku yang sudah melakukan kesalahan besar di matamu." Nada bicaraku yang mulai meninggi itu pun, menyambungkan ucapanku yang sempat terhenti sejenak tadi terhadap Bryce. "Ini bukan masalah aku yang harus terpaksa atau tidak menjemput Renne di sekolahnya." "Lalu, kau marah karena jadwal operasimu itu terganggu hanya karena harus mengurusi hal tidak penting seperti menjemput Renne di sekolah?" "Ini tentang kau yang sudah mulai melupakan tanggung jawabmu, Mandy! Kau melupakan tanggung jawabmu sebagai seorang istri dan Mommy hanya untuk pergi bersama sahabatmu yang tidak berguna itu. Dan kau pun juga tahu dengan aku yang sangat tidak suka jika kau pergi dari rumah ini, tanpa izin dariku terlebih dahulu." "Hanya karena itu?" "Ini bukan karena kata 'hanya' saja, Mandy. Ini masalah kau yang sudah mulai tidak patuh denganku." "Patuh? Aku ini kau anggap sebagi istri, atau bawahanmu yang harus selalu menjalani setiap perintah yang kau kau katakan?" "Siapa yang menganggapmu sebagai bawahanku? Kau yang mengatakannya sendiri." "Bryce, aku sudah sangat lelah." "Kita akhiri perdebatan ini sampai di sini. Kita sama-sama lelah dan membutuhkan istirahat. Kau ingin tidur sekarang?" "Aku lelah dengan pernikahan ini," sambungku yang entah mendapat keberanian hingga dengan tiba-tiba pada akhirnya kalimat tersebut langsung meluncur begitu saja dari bibirku. "Apa?" "Sepuluh tahun aku pikir waktu yang tidak singkat. Ditambah lagi kita juga sudah saling mengenal satu sama lain di waktu yang lebih lama lagi sebelum kita menikah. Sepanjang umurku, hanya dipenuhi dengan sosokmu di hidupku, Bryce. Setiap orang memang sangat membutuhkan rasa cukup untuk setiap halnya. Dan mungkin, saat ini adalah waktu yang tepat. Sudah waktunya bagiku untuk berada di tahap cukup bersama denganmu." "Kau-" "Aku ingin mengakhiri pernikahan ini. Berpisah denganmu, Bryce." Sela-ku yang pada akhirnya dapat mengeluarkan kalimat terlarang itu. "Kau memang benar-benar membutuhkan waktu untuk beristirahat. Rasa lelahmu itu sampai membuatmu meracau seperti ini, Mandy. Istirahatlah, waktu sudah semakin larut malam." Bryce yang langsung pergi meninggalkanku begitu saja menuju kamar, membuatku hanya bisa tersenyum miris melihatnya yang mengira bahwa ucapanku tadi hanyalah sebuah racauan semata yang juga dianggapnya sebagai gurauan saja. Mungkin seperti itulah reaksinya saat mendengar kalimat perpisahan yang aku ucapkan tadi. Rasa terkejut pun memang tidak bisa aku lihat dari raut wajahnya tadi, tetapi aku yakin saat ini ia pasti cukup merasa terganggu akan hal itu. Dan disaat aku ingin mendudukkan diri kembali di sofa, tiba-tiba saja mendengar suara tangisan yang terdengar kecil namun masih dapat aku dengar dengan cukup jelas. Dengan cepat aku pun langsung menengok kepalaku ke arah kamar Renne yang ternyata pintunya sudah sedikit terbuka dengan ia yang sudah berdiri di antara celah pintu tersebut dengan tangisannya. Melihat hal yang tidak biasa itu, membuatku dengan cepat langsung bergegas menghampiri Renne untuk memenangkannya. Dengan berlutut di hadapan Renne, aku pun menghapus air mata yang mengalir di kedua pipinya yang kini sudah sama seperti warna hidungnya yang mulai memerah akibat tangisannya tersebut. "Hei, ada apa? Kenapa kau menangis seperti ini, huh?" Pertanyaanku itu pun hanya membuat Renne terdiam dan semakin menundukkan kepalanya seperti tidak ingin melihatku. "Apakah Renne marah karena Mommy tadi terlambat menjemput di sekolah?" Masih keheningan dan keterdiaman yang Renne berikan kepadaku. "Atau karena hari ini kita tidak jadi membuat kukis?" Hingga beberapa saat tangisannya juga sudah mulai terdengar reda, ia pun langsung menanyakan hal yang tidak aku sangka akan secepat ini Renne mengerti dan mengetahuinya. "Apakah benar Mommy akan berpisah dengan Daddy?" Usianya yang tidak lagi kecil, membuat anakku ini pasti sudah memahami betul akan hal-hal yang ia dengar dan sedang terjadi di sekitarnya. "Apa semuanya karena Renne yang sudah meminta Daddy untuk menjemput di sekolah?" "Hei, tidak seperti itu." Secepat mungkin aku menyela ucapan anakku ini karena aku yang sudah mulai mendengar suaranya yang kembali terdengar sendu seperti hendak menangis. "Ini semua bukan salah Renne. Dan memangnya siapa yang mau berpisah? Mommy dan Daddy tidak ingin berpisah." Rasanya tidak sampai hati aku mengatakan yang sejujurnya kepada Renne saat ini. Tetapi jika perpisahan itu suatu saat nanti benar-benar terjadi, aku tidak bisa lagi menyembunyikannya dari Renne, dengan tetap mengatakan bahwa keadaan keluarga ini masih baik-baik saja dan sangat jauh dari kata perpisahan. "Tetapi, tadi Renne mendengar Mommy dan Daddy bertengkar. Dan Renne juga mendengar-“ "Jadi, tadi diam-diam Renne sudah mendengarkan obrolan orang dewasa, huh?" Sela-ku yang membuat Renne langsung terdiam dan menundukkan kepalanya kembali. "Renne tahu itu tidak baik, bukan?" "Maafkan Renne, Mommy." "Mommy maafkan, asal Renne berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dan berhentilah menangis, okay? Mommy tidak suka melihat anak Mommy ini masih menangis." Anggukan kepala yang Renne berikan itu secara otomatis langsung menerbitkan senyuman di bibirku. "Renne tidak ingin berpisah dengan Mommy. Jangan tingalkan Renne ya Mommy." "Mommy tidak akan pergi kemana-mana." "Renne sayang Mommy." Senyumanku pun semakin mengembang bersamaan dengan Renne yang memeluk tubuhku dengan erat. "Mommy juga sangat sayang dengan Renne." Pelukan yang penuh dengan kehangatan itu pun terjadi beberapa saat hingga kami saling melepaskan bersamaan dengan senyuman lebar yang juga saling kami lemparkan satu sama lain. "Baiklah. Sekarang sudah waktunya Renne untuk tidur. Besok kau harus pergi ke sekolah, bukan?" "Maukah Mommy menemani sampai Renne tertidur?" "Tentu saja. Ayo kita ke ranjangmu." Dengan menggenggam tangannya, aku melangkah memasuki kamar Renne lalu membantunya mencari posisi yang nyaman setelah berbaring di atas ranjang tunggal yang hanya membuat tubuhnya yang tidak kecil lagi, dan tidak lupa juga untuk menyelimuti tubuhnya itu. Kecupan selamat malam pun aku sematkan di keningnya sebagai pengantar tidur menuju mimpi indahnya nanti. "Tidurlah, Mommy akan menunggu di sini." Tidak membutuhkan waktu lama setelah aku mengusap-usap punggung Renne dengan lembut, ia pun langsung jatuh tertidur dengan lelap. Setelah memberikan satu kali kecupan di keningnya, aku pun melangkah keluar dari kamar Renne dengan perlahan, begitu juga saat menutup pintu kamarnya. Rasa lelah sebenarnya juga sangat menyerang tubuhku, tetapi disaat mengingat kembali dengan aku yang baru saja mengatakan perpisahan kepada Bryce, rasanya tidak nyaman saja jika harus tidur satu ranjang dengannya. Lalu, aku pun memutuskan untuk lebih baik mesandarkan tubuhku sejenak di sofa ruang tengah, atau mungkin malam ini aku akan tidur di sini saja. Di saat aku yang baru merasa nyaman dengan posisi bersandarku ini, tiba-tiba pandanganku teralihkan kepada ponsel milikku yang berada di atas meja hadapanku, yang berbunyi singkat menandakan ada pesan masuk di sana. Dengan malas aku pun mengambil ponsel dari atas meja, lalu mesandarkan kembali tubuhku pada sofa. Waktu yang ternyata sudah menunjukkan pukul sebelas malam, rupanya masih ada yang mengirimiku pesan dari nomor asing yang tidak terdaftar dalam kontak ponselku. Namun setelah aku membuka pesan tersebut, rupanya itu adalah nomor ponsel milik Becks, terlihat dari isi pesannya yang menyapaku dan juga memberitahu bahwa nomor tersebut adalah miliknya. Balasan singkat berupa aku yang akan menyimpan nomor ponselnya itu, ternyata langsung ditanggapi dengan cepat oleh Becks yang kini justru sudah meneleponku. Tidak ingin nada deringku yang berbunyi lebih panjang lagi dan bisa saja mengganggu Renne ataupun Bryce yang mungkin saja sudah tertidur, aku pun langsung mengangkat panggilan tersebut dengan Bryce yang sudah berbicara terlebih dahulu di sana. "Rupanya kau belum tertidur?" "Aku ingin, tetapi aku justru mendapat pesan dari nomor asing yang ternyata adalah kau," balasku dengan suara yang sebisa mungkin aku buat kecil. "Jadi, aku sudah mengganggumu? Maafkan aku yang tidak tahu dengan kau yang rupanya baru ingin tertidur." "Tidak, tidak apa-apa. Tidak perlu terlalu dipikirkan." "Tetapi, apakah tidak masalah jika aku menghubungimu malam-malam seperti ini?" "Tidak. Kau ini perasa ya?" Tanyaku sambil tertawa kecil. "Sedikit. Aku hanya tidak ingin memberikan kesan buruk untuk teman baruku yang satu ini, mengingat tadi siang aku sudah bersikap buruk terhadapmu pada saat pemotretan." "Jadi, kau merasa bersalah?" "Sampai saat ini, iya." "Kalau begitu buang saja jauh-jauh rasa bersalahmu itu terhadapku, karena sekarang pun aku sudah baik-baik saja. Bahkan aku juga sudah melupakan rasanya disebut sebagai wajah kaku oleh seorang fotografer handal nan hebat." "Okay, kau justru semakin membuatku merasa buruk kepadamu." Tawa kecilku pun menyambut berakhirnya ucapan pria itu yang rupanya masih merasa menyesal atas sikapnya tadi siang terhadapku. "Aku bergurau, Becks." "Senang rasanya bisa mendengar suaramu yang memanggil namaku, Mandy." Senyuman yang sedang aku kulum ini tidak bisa aku sembunyikan lagi disaat yang bersamaan kedua pipiku merasakan hangat walau hanya mendengar suara Becks yang menyebut namaku saja. "Hei, apakah besok kau memiliki waktu luang?" "Hm... aku masih belum tahu. Memangnya ada apa?" Balasku yang dengan cepat-cepat mengenyahkan perasaan aneh yang bahkan aku sendiri saja tidak bisa menggambarkannya. "Aku ingin memperlihatkan hasil pemotretan tadi kepadamu. Mungkin kau akan sangat terkejut melihat hasilnya, begitu juga denganku yang saat ini sedang melihat-lihatnya di layar laptopku." "Terkejut? Apakah sampai seburuk itu?" "Buruk? Ini luar biasa, Mandy. Aku memang tidak salah menilaimu yang rupanya begitu berbakat dalam dunia permodelan." "Benarkah?" "Aku bisa menunjukkannya kepadamu jika kau ingin." "Aku ingin melihatnya, tetapi apakah harus bertemu? Bagaimana jika kau mengirimkan fotonya melalui email-ku saja?" "Foto ini adalah hak milik Style's, Mandy. Aku tidak bisa mengirimkan dokumen penting seperti ini kepada siapapun, termasuk dirimu. Walaupun aku memiliki rasa keyakinan yang sangat besar, mengenai kau yang pasti tidak akan membocorkan dokumen ini kepada majalah lain." "Hm... Bagaimana jika besok aku akan mengabarimu lagi? Setidaknya saat ini aku tidak memberikan janji palsu kepadamu. Aku tidak sampai hati jika mengingkari janji yang sudah ku ucapkan." "Ide yang bagus." "Besok kau memiliki waktu luang untuk menunggu keputusan dariku?" "Besok hariku hanyalah untukmu, Mandy. Jadi, kapan pun kau ingin bertemu, pasti aku akan selalu siap." Tidak, jangan! Aku mewanti diriku yang kini sudah mulai dibuai olehnya. Wajahku saat ini bukan lagi merona, tetapi sudah seperti warna udang matang yang siap untuk disantap. Hanya dengan kalimat sederhana seperti itu saja, Becks sudah membuat perasaanku menjadi tidak jelas seperti ini. "Mandy?" "Ya. Hm... maksudku, baiklah aku akan mengabarimu kembali esok hari." "Aku tunggu, okay?" "Tetapi kau tidak akan kecewa jika aku tidak bisa, bukan?" "Tentu saja. Masih banyak kesempatan untuk kita bisa bertemu kembali, bukan?" "Ya. Masih banyak kesempatan untuk kita bisa bertemu kembali." "Baiklah. Sepertinya kau sudah sangat membutuhkan waktu untuk tertidur." "Baiklah. Selamat tidur untukmu, Becks." "Malam ini tidurku akan sangat nyenyak marena baru saja mendapat kiriman ucapan darimu." "Kau memang berlebihan." "Ketampanannya?" "Becks!" Protesku atas sikap percaya diri yang justru membuatnya terkekeh di sana. "Baiklah. Sampai jumpa, Mandy. Selamat tidur." "Sampai jumpa, Becks." Senyuman yang sejak tadi masih terpatri di bibirku ini, seakan tidak ingin menghilang walaupun sambungan telepon bersama Becks sudah berakhir sejak tadi. Becks, pria itu seakan membawa warna baru di dalam kehidupanku. Walau belum saling mengenal lebih dalam lagi dengannya, tetapi entah kenapa rasa ingin terus bisa berhubungan dengan Becks begitu besar aku rasakan di dalam diriku. Aku yang saat ini masih memiliki suami, cukup sadar akan hal yang aku rasakan ini seharusnya tidak bisa dibiarkan semakin jauh. Tetapi kenyataannya, disaat aku ingin mengatakan berhenti, lubuk hatiku seakan memberontak dan menolak segala keinginanku itu. Belakang ini aku pun juga sering bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah hal seperti ini 'kah yang aku inginkan? Memiliki hubungan dengan pria lain, disaat Bryce tidak pernah memberikan semuah hal yang aku inginkan selama berpuluh-puluh tahun lamanya hidupku sudah dipenuhi olehnya. Hal mengenai rasa peduli, kasih sayang, cinta yang tulus, dan bukan hanya karena sebatas sebuah rasa tanggung jawab yang mau tidak mau harus dilakukan hanya untuk memenuhi unsur dari hidup berkeluarga saja. Aku sangat ingin mendapatkan semua hal itu. Walaupun harus dengan yang lain dan mengorbankan keluargaku ini, bolehkah aku tetap mendapatkannya? *** To be continued . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN