Happy Reading . . .
***
Aku menatap diriku yang kini sudah mengenakan pakaian renang bermodel dua potong di depan cermin besar yang memperlihatkan keseluruhan tubuhku. Potongan atas dan bawah dari pakaian yang aku kenakan ini terlalu minim sehingga tidak cukup menutupi bagian tubuh pribadiku, terutama dibagian d**a dan b****g. b****g-ku yang memang tidak tertutupi apa-apa ini membuatku benar-benar merasa seperti telanjang saja. Belum lagi warna hijau neon yang terlihat cukup kontras di tubuhku yang berkulit natural ini, semakin membuatku merasa tidak percaya diri dengan seketika.
"Wow... lihatlah. Kau terlihat sama mengagumkan layaknya model profesional."
Kedatangan Ava di ruang gantiku ini yang secara tiba-tiba, membuatku langsung menerbitkan senyuman bersamaan dengan pujian yang diberikannya kepadaku itu.
"Jangan menyindirku, Av."
"Siapa yang menyindir? Kau memang terlihat begitu luar biasa, Mandy."
"Tetapi aku merasa tidak percaya diri dengan pakaian renang ini."
"Hei, tubuhmu saja mengatakan luar biasa, bagaimana bisa kau masih merasakan ketidakpercayaan diri? Mandy, lihatlah tubuhmu sendiri. Kau ini luar biasa, bukan?"
Pandanganku kembali tertuju pada cermin yang menampilkan diriku sambil berusaha mengumpulkan rasa percaya diri yang sebelumnya tiba-tiba saja menghilang entah kemana.
"Kau sudah dirias?"
"Aku meminta untuk tidak dirias. Dan hanya menguncir tinggi rambutku saja," balasku yang tadi memang sudah menguncir rambut gaya kuda.
"Lihatlah, wajahmu sudah memancarkan kecerahan dan efek berbinar alami tanpa sedikit pun sentuhan make-up. Kau luar biasa, Mandy."
"Ayolah, kau tidak terus menerus memujiku seperti itu."
"Aku ingin membantu mengumpulkan keberanian dan rasa percaya dirimu."
"Av, tetapi apakah kau yakin? Aku bukanlah seorang model ataupun publik figur yang terkenal. Apakah tidak terasa aneh dengan aku yang bukan siapa-siapa, tetapi sudah berada di sampul majalah luar biasa seperti Style's?"
"Kau memang bukan siapa-siapa, tetapi setelah kau melewati pemotretan ini, kau akan menjadi siapa-siapa. Akan ada banyak mata yang melihat bakat yang sebenarnya kau miliki di dalam dirimu ini, Mandy."
"Apa kau sengaja ingin membuatku menjadi seperti itu?"
"Tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaanmu yang satu itu. Karena sekarang kau harus memakai heels-mu, dan turun ke tempat pemotretan di bawah sebelum Becks akan marah besar jika mendapati salah satu modelnya terlambat."
"Becks?" Tanyaku sambil memakai mantel mandi yang tersedia untuk menutupi tubuhku yang hanya terbalut pakaian renang ini sebelum pemotretan nanti dimulai. Setelah itu, aku pun langsung mendudukkan diri di salah satu kursi untuk memakai sepatu berhak tinggi.
"Ya, pria yang diam-diam memperhatikanmu di pesta kemarin. Apa kau ingat? Dia yang akan menjadi fotografernya hari ini. Dan dia akan sangat marah besar jika jadwal pemotretannya mundur karena ulah salah satu dari para model atau rekan-rekan kerja yang akan mengambil bagian dalam pemotretan hari ini."
"Hei, apa yang kau lakukan?" Protes ku disaat melihat Ava yang sudah tepat di depanku dan langsung mengaplikasikan sesuatu di bibirku tanpa menanyakan pendapat dariku terlebih dahulu. Ciri khas Ava yang selalu saja membuatku terkadang menjadi kesal terhadapnya.
"Diam, atau lipstiknya akan berantakan di bibirmu."
"Tetapi aku tidak menyukai warnanya, Av!"
"Sshh..."
Dengan pasrah aku pun hanya bisa terdiam sambil menghembus nafas berat disaat Ava yang sudah memakaikan bibirku sebuah lipstik bewarna merah menyala yang sesungguhnya sangat tidak aku sukai.
"Warna merah memang begitu cocok denganmu. Hei, jika kau hapus aku akan marah terhadapmu."
Gerakan tanganku yang hendak menghapus lipstik dari bibirku langsung terhenti disaat Ava yang tepat waktu memergokiku.
"Baiklah. Kau puas dengan penampilanku yang seperti ini?" Tanyaku dengan pasrah.
"Kau sempurna. Ayo kita ke bawah."
Dengan menggenggam tanganku, Ava mengajakku untuk turun ke bawah menuju lokasi pemotretan yang katanya tadi terletak di kolam berenang. Dengan tema musim panas, tentu saja pemotretan ini harus dilakukan di ruang terbuka, dengan pakaian yang terbuka juga.
"Kau akan menungguiku di sini, bukan?" Tanyaku saat kami menuruni anak tangga demi anak tangga penghubung menuju lantai bawah.
"Aku lupa memberitahumu. Setelah ini aku harus kembali ke kantor untuk menyiapkan materi pertemuan bosku yang akan dilakukan di jam makan siang nanti."
"Ohh ayolah, Av. Apa kau tega meninggalkanku sendirian yang nanti pasti akan membuatku terlihat menjadi orang bodoh di pemotretan itu?"
"Tenang saja, kali ini aku bisa tidak mengikutkan diri ke dalam pertemuan itu."
"Tetapi tetap saja kau akan meninggalkanku, Av."
"Pemotretan ini paling lama hanya akan berjalan selama tiga jam ke depan, Mandy. Jadi kau tenang saja, aku akan kembali ke sini lagi. Sebelum waktu itu tiba, aku dapat memastikan akan berada di sini untuk mengantarkanmu kembali pulang. Okay?"
"Aku harus menjemput Renne."
"Jam berapa?"
"Dua siang."
"Waktu yang tepat, aku akan mengantarmu menjemput Renne juga."
"Kau janji?"
"Kau ini! Memangnya aku Renne, yang harus melakukan janji seperti itu?"
"Kau pernah ingkar janji kepadaku."
"Okay, hanya sekali dan aku sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi."
"Seingatku lebih dari tiga kali."
"Kau ini, ingat saja. Baiklah, kali ini aku tidak akan ingkar janji."
Senyuman yang Ava berikan itu membuatku menganggukkan kepala kepadanya sebagai jawaban.
"Hei, Becks!" Teriak Ava yang membuatku secara refleks mengikuti arah pandangannya. Dan kini, tanpa dikomando, tatapan kami langsung bertabrakan bersamaan dengan pria bernama Becks itu datang menghampiri keberadaanku dan Ava. "Model ke-enam. Kau sudah mengenalnya?"
"Apakah aku harus mengenal satu per satu model yang menjadi target pemotretanku?"
"Biasanya kau seperti itu. Begitu melihat yang baru, langsung salah tingkah sendiri dan sebisa mungkin berusaha untuk berkenalan. Tetapi aku peringatkan untuk yang satu ini, kau tidak boleh macam-macam dengannya. Hati-hati, aku mengawasimu."
"Baiklah. Kalau begitu suruh dia untuk bersiap di tempatnya, karena sebentar lagi pemotretan akan dimulai."
Kepergian pria bernama Becks itu membuatku menjadi merasa aneh terhadapnya. Kemarin saat berkenalan ia bersikap seperti pria yang hangat dan seakan bersahabat. Tetapi kenapa sekarang dia berubah menjadi sosok pria yang dingin dan terkesan acuh. Apakah memang seperti itu sikap seorang pria pemain hati para wanita?
"Dia memang pria yang menyebalkan. Kalau begitu ayo, aku kenalkan kepada pengarah gaya dan para model lainnya."
Ajakkan Ava tadi pun berlangsung secara singkat karena tidak lama setelah itu, ia pergi meninggalkanku karena pemotretan sudah akan dimulai. Rasa tidak percaya diriku pun semakin mulai tidak bisa aku kendalikan disaat aku sudah berdiri di posisiku, dan tidak hanya kamera saja yang berpusat pada diriku dan para model lainnya, tetapi beberapa orang yang mengambil bagian dalam pemotretan ini pun juga memusatkan pandangannya kepadaku.
Satu kali kilatan cahaya dari hasil jepretan kamera dan pantulan beberapa lampu pendukung di sekitar lokasi pemotretan, membuatku tidak siap menghadapinya hingga secara langsung aku pun terkejut dibuatnya. Seakan tidak ada jeda, kilatan cahaya itu pun terus menerus menangkap diriku yang masih saja kaku dan tidak tahu harus berpose dengan gaya apa disaat sang pengarah gaya tadi menyuruh para model untuk berimprovisasi dalam bergaya.
Hingga pada saat aku mulai mencoba untuk memberanikan diri dalam memunculkan rasa percaya diriku, tiba-tiba saja suara kencang yang membuatku cukup tersentak saat mendengarnya, hanya bisa membuat diriku menunduk sejenak karena sebuah protes baru saja dilayangkan oleh sang fotografer kepada diriku. Rasa malu karena banyaknya orang lain di lokasi pemotretan ini, membuat rasa percaya diriku yang sebelumnya mulai melambung dengan seketika langsung jatuh kembali hingga hancur berserakan.
"Hei! Kau rambut brunette. Menyingkirlah dari sana jika kau tidak bisa mengontrol wajah dan tubuhmu yang kaku itu!"
Walaupun tidak ada satu pun orang yang mentertawakan diriku akibat kalimat tersebut, tetapi aku cukup merasa malu terhadap diriku yang seakan tidak mampu ini.
"Kau ingin menyingkir?"
Pertanyaan yang kembali dilemparkan Becks kepadaku dengan cepat aku balas dengan gelengan kepala.
"Kalau begitu jadikan dirimu seorang model, jangan seperti orang bodoh yang berada di tengah-tengah pemotretan ini."
Setelah sesi mempermalukan diriku itu setidaknya sudah berlalu, aku pun langsung bertekad untuk tidak membuat diriku ini terlihat memalukan di depan banyak orang. Aku yang ingin menunjukkan bahwa diriku ini bukanlah orang bodoh yang bisa menghancurkan pemotretan ini, langsung menunjukkan gaya-gaya yang setidaknya pernah aku lihat di televisi pada saat ada acara kontes pencarian bakat model. Dengan rasa percaya diri yang mulai terbangun kembali di dalam diriku, aku pun mulai bisa mengikuti jalannya pemotretan ini. Hingga tidak terasa sudah beberapa jam berlalu, dan kaki ku pun sudah terasa sakit dan pegal karena terlalu lama berdiri dengan sepatu berhak runcing setinggi kurang lebih sembilan centimeter yang aku kenakan ini, pada akhirnya seseorang yang menjadi bagian dalam pemotretan ini pun mengatakan selesai.
"Apakah pemotretannya sudah selesai?" Tanyaku kepada salah satu model yang berada tidak jauh dari keberadaanku.
"Ya, kau bisa menggantikan pakaianmu."
"Terima kasih."
Dengan bisa bernafas lega, aku pun melepas sepatu yang aku kenakan dan langsung bergegas menuju ruang ganti yang aku pakai tadi agar bisa cepat-cepat melepas dan mengganti pakaian renang yang bagiku sangat terasa tidak nyaman untuk dipakai. Setelah selesai mengganti pakaian menggunakan pakaianku kembali, aku pun turun ke lantai bawah untuk memutuskan menunggu Ava yang kelihatannya belum juga datang di salah satu sofa.
Pada saat aku sudah mendudukkan diri di sana, pandanganku pun langsung tertuju pada sebuah piring berisi penuh kukis berada di atas meja tepat di hadapanku ini. Tidak adanya orang lain yang berada di sekitarku dan juga berlalu lalang di hadapanku, membuatku dengan cepat mengambil kukis tersebut untuk langsung memakannya. Pikirku makanan yang ada memang disediakan untuk orang-orang yang mengambil bagian dalam pemotretan ini, tanpa merasa bersalah tidak terasa aku sudah menghabiskan setengah piring.
"Kukis. Kurang lebih terkandung lima ratus kalori di dalamnya, tetapi kau masih tetap memakannya? Kau luar biasa."
Rasa nikmat yang masih aku rasakan dengan menikmati kukis ini, tiba-tiba saja terinterupsi oleh sebuah suara yang datang dari arah belakangku. Dengan cepat aku pun menengokan kepala, dan sosok Becks dengan senyuman khas yang memacu terlihatnya lesung pipi di kedua sudut bibirnya itu langsung aku dapati di sana.
"Hm... hai," sapaan penuh rasa canggung itu pun aku keluarkan setelah dengan paksa aku menelan kukis yang masih belum cukup aku kunyah hingga hancur. "Hm... apa kukis ini tidak boleh dimakan? Aku melihat ada di meja yang bersandingan dengan jus, jadi aku pikir..."
"Hei, tenanglah. Kukis itu tidak ada yang punya, jadi tentu kau boleh memakannya."
Senyumanku secara tidak sadar langsung terbit bersamaan dengan suara tawa yang terdengar di telingaku, dan juga Becks yang kini sudah mendudukkan diri tepat di sampingku.
"Aku pikir kukis ini tidak boleh dimakan. Sehabisnya kau berbicara seakan-akan kukis ini adalah makanan terlarang."
"Bukan seperti itu. Di sini, makanan manis dan banyak kalori semacam kukis itu biasanya tidak ada yang pernah menyentuhnya. Tetapi, sejak aku perhatikan tadi kau begitu menikmatinya."
"Kenapa tidak ada yang pernah menyentuh? Padahal bagiku kukis adalah makanan terlezat."
"Para model di sini tidak ada yang pernah menyentuh kalori makanan di atas seribu per harinya. Kau tahu? Mereka begitu menjaga setiap makanan yang masuk ke dalam tubuhnya."
"Untung saja aku bukanlah seorang model. Jadi aku tidak perlu menyiksa diriku seperti mereka."
"Tetapi tadi kau sudah menjadi model."
"Itu hanyalah sebuah paksaan yang Ava lakukan terhadapku. Mungkin itu hanya akan menjadi yang pertama dan yang terakhir kalinya saja. Dia selalu bersikap seenaknya sendiri, tanpa memikirkan pendapatku terlebih dahulu. Menyebalkan, bukan?"
"Tetapi kau memiliki bakat di dalam dirimu, Mandy. Sungguh, aku bisa melihatnya dari sudut pandang lensa kameraku. Kau seperti poin utama di setiap sampul majalah yang sepertinya sudah lama menghilang sebagai jati diri yang sesungguhnya."
"Sepertinya kau cukup tahu mengenai hal itu."
"Tuntutan pekerjaan yang membuatku menjadi tahu mengenai dunia permodelan,". "Hei, mengenai hal tadi, aku ingin minta maaf. Kau tahu? Disaat aku bekerja, aku harus menuntut diriku untuk bersikap profesional terhadap setiap rekan kerjaku. Dan ditambah lagi tadi ada temanmu yang sangat posesif itu. Jadi, aku harap kau tidak tersinggung dengan ucapanku tadi." Sambungnya dengan intonasi yang terdengar menyesal di dalamnya.
"Ya, tentu saja. Aku tidak mempermasalahkannya. Justru seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu karena tadi sudah menjadi model terburuk dari pada yang lain."
"Jangan berbicara seperti itu. Kau tidaklah buruk, hanya saja masih belum terbiasa dengan hal seperti ini, bukan? Jadi tidak seharusnya kau meminta maaf."
"Ya, kau benar. Tetapi di dalam bekerja, keprofesionalan itu memang harus dinomorsatukan, bukan?"
"Kita sudah dua kali bertemu, dan aku rasa pertemuan kita ini selalu terasa menarik."
"Benarkah?"
"Ya. Hei, bagaimana kalau kita sambil minum kopi? Di seberang sana ada salah satu yang terbaik. Aku akan mentraktir."
"Hm... aku tidak minum kopi."
"Satu hal menarik lagi yang aku dapat darimu. Kau tidak suka kopi, tetapi kau sangat menyukai kukis. Bukan seperti itu?"
"Ya," balasku dengan senyuman canggung.
"Baiklah. Bagaimana kalau kita sedikit berjalan-jalan?"
"Hm... Becks, nama-mu Becks. Apakah aku benar?"
"Aku senang kau tidak melupakan namaku."
"Kau pria yang sangat baik. Aku juga mengapresiasi setiap ajakanmu itu. Tetapi maaf, aku tidak bisa pergi denganmu."
"Kenapa?"
"Aku..., aku memiliki..., aku memiliki perasaan kurang nyaman saat pergi dengan pria yang baru aku kenal dan beberapa kali aku temui. Maaf tidak bermaksud memiliki perasaan buruk terhadapmu, tetapi ya seperti itulah yang aku rasakan."
"Kau tidak nyaman saat aku berada di dekatmu?"
"Bukan seperti itu, hanya saja... aku merasa tidak biasa."
"Tidak biasa?"
"Aku tidak pernah memiliki teman pria. Jadi, bagiku rasanya masih terasa asing."
"Kalau begitu apa aku boleh membuatmu menjadi merasa terbiasa akan kehadiranku di dekatmu? Sekaligus menjadi teman pria-mu untuk yang pertama kalinya. Bagaimana?'
"Hm..., aku..."
"Okay, agar tidak membuatmu menjadi semakin bingung. Kita akan hanya menjadi teman. Aku yakin setiap orang pasti ingin memiliki teman, bukan?"
"Hm..."
"Ayolah, aku hanya ingin berteman denganmu. Kau wanita yang mengagumkan bagiku."
"Ba-baiklah. Kau bisa menjadi temanku."
"Kita akan menjadi teman baik. Bisakah kita bertukar nomor ponsel?"
"Aku tidak membawa ponsel. Ava mengajakku ke sini begitu terburu-buru tadi."
"Tetapi kau mengingat nomor ponselmu sendiri, bukan?"
"Ya, tentu saja. Siapa yang tidak ingat dengan nomor ponselnya sendiri?"
"Aku salah satunya."
"Benarkah?"
"Ya. Aku memiliki memori ingatan yang sangat buruk. Omong-omong, kau bisa menyimpan nomor ponselmu di sini."
Aku mengarahkan pandanganku kepada Becks yang kini sedang memberikan ponselnya kepadaku, agar aku bisa menyimpan nomor ponselku sendiri di sana. Tanpa perasaan ragu, aku pun langsung mengambilnya ponsel tersebut dengan layar yang sudah menyala dengan tampilan angka-angka panggilan telepon di sana. Dengan cepat aku nomor ponsel yang sudah aku ingat di luar kepala, dan tidak lupa langsung menyimpannya dengan namaku di sana.
"Bagaimana aku bisa tahu kalau nomor ini bukan tipuan?" Tanyanya sambil mengambil ponsel yang aku kembalikan kepada pria itu.
"Aku tidak pernah menipu seseorang."
"Terbukti dari wajahmu."
"Ada apa dengan wajahku?"
"Raut wajahmu, begitu memperlihatkan bahwa dirimu itu adalah seorang wanita yang baik dan begitu menawan."
"Menawan?"
"Bukan, tetapi lebih tepatnya lagi anggun dan luar biasa."
"Ayolah, aku bukan wanita seperti itu."
"Ya, kau memang wanita seperti itu."
"Becks, kau berlebihan."
"Berlebihan? Biar aku tebak. Apakah ketampananku ini yang bagimu terasa berlebihan?"
Tidak ingin menghancurkan rasa kepercayaan dirinya yang begitu tinggi itu, aku pun hanya terseyum dan juga membuat Becks ikut tersenyum juga. Disaat gurauan dan pembicaraanku dengan Becks ini yang mulai terasa cukup menyenangkan, tiba-tiba saja aku mengingat Ava yang tidak kunjung datang juga dan Renne yang harus aku jemput di sekolahnya.
"Hm... Becks, bolehkah aku tahu sekarang jam berapa?"
"Tiga. Ada apa?"
"Astaga! Aku terlambat," teriakku yang memang sangat terkejut setelah mendengar waktu yang ternyata sudah menunjukkan pukul tiga sore.
Aku sudah begitu terlambat. Waktu yang baru aku sadari sudah terlalu lama aku berada di tempat ini, membuat keterkejutan tidak bisa menghindariku. Aku sudah sangat terlambat menjemput Renne di sekolahnya, dan mungkin hal ini akan menjadi masalah besar jika Bryce mengetahuinya.
"Hei, kau terlambat apa?"
"Aku terlambat dan harus pergi saat ini juga. Sampai jumpa, Becks." Balasku dengan perasaan cukup panik.
"Aku bisa mengantarmu."
"Tidak perlu, terima kasih."
"Hei, nanti aku akan menghubungimu."
"Baiklah. Sampai jumpa."
Secepat mungkin aku melangkah keluar dari lokasi pemotretan itu untuk bisa segera mencari taksi di luar sana. Renne yang sangat aku harapkan masih berada di sekolah, setidaknya hal tersebut dapat mencegah masalah baru yang nantinya bisa terjadi di antara diriku dan Bryce.
***
To be continued . . .