Aku merebahkan diri di kasur. Ah, ini benar- benar nyaman. Walaupun sepertinya aku tidak mendapatkan kamar seperti yang di perlihatkan oleh Mitha tadi, tapi kamar ini juga tak kalah bagusnya kok. Walau tidak memiliki closet pakaian pribadi, tapi lemari yang ada cukup besar. Kasurnya juga, ukuran queen size yang cukup besar untukku seorang. Untuk kamar mandi dan toilet yang hampir miriplah dengan yang di kamar tadi.
Kasurnya empuk banget. Berbeda dengan kamar tadi, semua yang ada di kamar ini bernuansa pink dan peach. Sangat girly memang. Tadinya aku tidak suka dengan nuansa yang terlalu girly, tapi tidak dengan yang satu ini. Malah jadi cantik dan tidak norak sama sekali.
Terdengar suara pintu di ketuk. Aku segera bangkit dan mengintip dari layar monitor di sebelah pintu. Ternyata dokter Akar yang mengetuk.
“Althea, kamu di dalam? Sudah tidurkah?” tanya dokter Akar.
“Belum dokter, sebentar!” jawabku. Buru- buru aku mengganti baju handukku dengan piyama yang tersedia di lemari. Setelah beres, aku membuka pintu. Dokter Akar sudah menunggu di depan sana.
“Ya, ada apa ya dokter?” tanyaku.
“Kamu belum makan kan? Kita mau turun ke bawah, nyari makanan,” tanya dokter Akar balik. Aku mengeleng.
“Belum sih dok. Makanannya gak di antar ke kamar?” tanyaku. Dokter Akar mengangkat bahu.
“Saya gak tahu, tadi Mitha gak ada singgung soal makanan. Biasanya sih kalau begini free sarapan saja, sisanya kita bayar,” jawab dokter Akar.
“Kenapa gak nanya aja dulu ke Mitha? Siapa tahu, dia lebih jelasin perihal soal makanan ini,” saranku. Dokter Akar mangut- mangut.
“Hem, gak ada salahnya sih,” gumam dokter Akar. “Ya sudah, biar saya panggilkan Mitha kemari, ujar dokter Akar. Ia pergi ke pintu masuk dan menekan tombol merah di sebelahnya.
“Loh dok? Kita gak jadi turun beli makan?” tanya Kara. Kara dan Rendra duduk di meja makan.
“Ngapain dokter Akar?” tanya Rendra padaku.
“Oh. Beliau mau nanya ke Mitha, kira- kira ada gak makanan di hotel ini. Jadi kita gak perlu beli lagi dari luar,” jawabku.
“Yah, semoga aja ada sih. Lebih bagus kan kalau begitu. Kalau mau keluar sekarang agaknya berbahaya,” gumam Rendra. Aku mangut- mangut.
“Semuanya! Mitha akan ke sini! Katanya dia bakal bahas soal makanan kita selama di sini!” umum dokter Akar. “Kita tunggu saja dia di ruang tamu,” ajak dokter Akar. Kami bangkit dan berpindah ke ruang tamu. Baru saja kami duduk, sudah terdengar pintu bel berbunyi.
“Pasti Mitha!” ujar dokter Akar. Ia bangkit dari duduk dan membuka pintu masuk. Mitha sudah berdiri di sana. Ia melangkah masuk ke dalam.
“Semua keperluan akan di tanggung di sini, karena kondisi di luar masih tidak memungkinkan. Saya telat memberitahunya, izinkan saya untuk meminta maaf.” Mitha menundukkan badannya.
“Ah gak apa kok Mit. Udah- udah jangan nunduk lagi, kami gak enak jadinya,” pinta dokter Akar. Mitha mendongakkan kepalanya dan kembali berdiri tegap.
“Ya, semua makanan kalian selama di sini akan di tanggung oleh pihak hotel. Kalian bisa turun ke bawah untuk mengambilnya atau memilih untuk room service dengan mengantar makanannya ke kamar,” tawar Mitha.
“Agaknya saat ini kami memilih untuk room service. Semisal hanya hari ini saja kami room service, apa bisa?” tanya dokter Akar. Mitha mengangguk.
“Tentu saja bisa. Jadi bagaimana? Kalian akan menggunakan jasa room service?” tanya Mitha.
“Iya, itu saja. Room service, please,” jawab dokter Akar. Mitha mengangguk dan sedikit membungkukkan kepalanya.
“Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu. Room service kami akan tiba dalam waktu dekat. Selamat menikmati pelayanan kami,” ujar Mitha. Kami menundukkan kepala sedikit. Mitha keluar dari ruangan.
“Loh kok room service dok? Kan enakan makan di bawah aja, kayak prasmanan gitu jadi bisa bebas kan ambilnya. Bisa mukbang puas- puas,” tanya Kara.
“Untuk saat ini aja kok. Besok juga bisa kamu mukbang, makan satu tempat itu juga gak apa. Bukannya kalian udah letih karena perjalanan kemari?” tanya dokter Akar. Kami mengangguk setuju. Ya memang sih, perjalan kemari terasa begitu jauh dan menegangkan. Sepanjang jalan aku berdoa dalam hati semoga tidak ada zombie yang menyerang mobil kami, dan syukurlah doaku di kabulkan.
Tak lama, terdengar lagi suara bel dari pintu masuk. Kali ini pintu terbuka otomatis dan tampak sebuah robot berbentuk kapsul yang memiliki kaki dan tangan di depan pintu. Robot itu memakai topi putih panjang seperti yang biasa di pakai oleh para chef. Robot itu masuk ke dalam ruangan.
“Pesanan makanan, pesanan makanan ruang 502,” gumam robot itu. Ternyata tidak hanya satu robot yang datang, tapi ada 5 robot yang sama masuk bergiliran. Masing- masing dari mereka membawa nampan. Mereka masuk ke dalam dan menaruh nampan- nampan itu ke atas meja makan hingga penuh.
“Pesanan makanan, pesanan makanan ruang 502 …” Itu terus yang di ucapkan oleh robot koki itu. Setelah menaruh semua nampan ke dalam, mereka keluar ruang beriringan. Aku membuka salah satu nampan itu dan tampaklah sebuah steak yang aromanya sangat menggoda. Tampaknya sangat lezat!
“Tadi robot koki yang mengantar makanan kalian. Mereka yang bertugas memasak dan menyajikannya di sini. Mereka sudah di rancang untuk menjadi koki yang handal,” jelas Mitha yang tiba- tiba sudah berdiri di depan pintu. Kami tesentak kaget dengan kehadirannya.
“Hah heh iya, baru aja tadi di antar,” ujar dokter Akar.
“Silakan mencicipi. Jika ada yang kurang, akan kami bawakan yang baru, yang lebih baik,” pinta Mitha. Kami mengangguk dan membuka semua nampan yang ada.
Makanan yang ada di sana sangat menggiurkan! Tidak hanya steak, tapi ada juga spaghetti Bolognese, double cheese burger yang super besar, dan pepperoni pizza ukuran large. Ya ampun, ini bahkan rasanya terlalu banyak untuk kami berempat! Kami mencicipi makanan di depan kami satu persatu. Tak ada yang tak enak di sini. Semuanya sangat pas.
“Bagaimana? Apa ada yang kurang?” tanya Mitha. Tak ada jawaban. Semuanya sibuk dengan makanan masing- masing. Tiba- tiba saja, Kara mengangkat tangannya.
“Ada. Ada yang kurang!” jawab Kara. Aku mengernyitkan alis. Apanya yang kurang? Ini semua sudah sempurna!
“Apa yang kurang? Akan segera saya bawakan apa yang kurang,” tanya Mitha.
“Kurang nasi!” jawab Kara. Kami menepuk jidat. Ya ampun si Kara! “Kurang kenyang kalau gak ada nasi!” lanjut Kara.
“Heh lu ngadi- ngadi aja, ini makanan western begini kok makannya pakek nasi!” timpal Rendra.
“Ya gimana, gue gak kenyang kalau gak ada nasi!” bantah Kara.
“Tapi Kar, di sini ada sumber karbo yang sama kok kayak nasi. Bisa mengenyangkan juga,” ujar dokter Akar.
“Gimana ya dok, namanya juga orang Indonesia toh. Belum makan namanya kalo belum makan nasi,” ujar Kara. Ya ampun ini anak bener- bener.
“Ya tapi tahu situasi aja deh, masa makan spaghetti pake nasi?! Penistaan makanan macam apa itu?!” protesku.
“Yah, siapa yang makan spaghetti pakek nasi? Aku tuh mau makan steak pakek nasi! Kalau makan steak doang gini mah mana kenyang gilak,” jawab Kara.
“Tapi Kar, itu ada mashed potato. Kan karbo juga itu,” ujar Rendra sambil menunjukkan mashed potato yang masih satu piring dengan steak.
“Yaelah, beda itu mah! Kurang nampol, gak kayak nasi!” bantah Rendra.
“Jadi bagaimana? Saya bawakan nasi?” tanya Mitha yang masih menunggu jawaban pasti.
“Ya sudah, tolong bawakan nasi satu porsi ya,” pinta dokter Akar. Mitha mengangguk dan sedikit membungkukkan kepalanya pelan.
“Baik, akan saya bawakan. Saya pamit dulu,” ujar Mitha. Ia pergi keluar ruangan. Kara kembali duduk ke tempatnya. Kami memandangi Kara.
“Kenapa?” tanya Kara bingung. Kami tidak menjawab, hanya bisa geleng- geleng kepala saja.
“Emang gue salah ya?” tanya Kara lagi.
“Gak, Kar. Lu bener kok. Pokoknya paling bener deh,” jawab Rendra.
Tak lama, pintu bel kembali berbunyi. Kara membuka pintu dan tampaklah Mitha di depan sambil membawa sebuah nampan yang berisikan sepiring nasi.
“Ini pesanan anda,” ujar Mitha. Kara membuka isinya dan mangut- mangut.
“Nah ini baru mantap! Makasih ya Mit,” ujar Kara. Mitha tersenyum kecil dan mengangguk pelan.
“My pleasure. Jika ada apa- apa, silahkan panggil saja lagi. Saya pamit,” ujar Mitha. Ia membalikkan badannya dan pergi menjauh dari ruangan kami. Begitu Mitha kembali, Kara menutup pintu dan kembali ke meja makan. Wajahnya sumringah melihat nasi di depannya. Ia memotong steak menjadi beberapa potongan halus dan tipis dan menaruhnya di atas nasi. Lalu ia menuangkan saus steak ke atasnya. Seketika makanan itu tampak sangat menggiurkan dan lezat.
“Nah, gini kan mantep. Selamat makan!”
Kara memakan suapan pertamanya dengan lahap. Ia bersenandung sambil mengunyah. Kami yang melihatnya menelan ludah. Sepertinya enak.
“Enak banget ya Kar?” tanya dokter Akar. Kara mengangguk senang. “Nyicip boleh gak?” tanya dokter Akar.
“Silakan dok silakan,” tanya Kara mempersilahkan. Dokter Akar mengambil sesuap dan memakannya. Dokter Akar terbelak lebar dan mengacungkan kedua jempolnya.
“Enak! Ternyata lebih enak kayaknya kalau pake nasi, dan lebih kenyang juga!” ujar dokter Akar. Kara mengangguk.
“Bener kan kataku?” tanya Kara dengan tatapan remeh. Seenak itukah?
“Nyicip ya,” ujar Rendra sambil menyendokkan sesuap nasi steak itu ke dalam mulutnya. Aku juga melakukan hal yang sama. Aku terbelak. Benar, enak! Daging steak yang masih juicy, di tambah dengan saus steak yang menyatu dengan nasi, benar- benar bisa jadi rasa yang padu.
“Iya, enak banget!” gumamku. Duh, ingin rasanya menukar spaghetti milikku dengan nasi steak milik Kara.
“Enak kan? Bandel sih di bilangin,” ujar Kara. Ia kembali memakan nasinya dengan lahap. Siapa saja yang melihat Kara makan saat ini pasti ngiler melihatnya.
“Kar, Kar, kita tukeran makanan yuk?” tawarku. Kara mengernyitkan alis dan menarik piringnya. Ia mengeleng kencang.
“Enak aja! Kamu pasti kurang suka kenyang kan karena makan spaghetti doang?” tanya Kara. Yah, dia memang tidak salah sih. Aku memanyunkan bibir.
“Kamu coba aja minta nasi lagi sama Mitha, terus makan bareng dengan spaghetti kamu,” usul Kara.
“Hah? Gila kamu ya?! Masa nasi di campur dengan spaghetti!” bantahku. Ini anak, ada aja deh saraninnya.
“Yah coba aja. Kali aja enak. Belum juga di coba toh,” ujar Kara. Aku mengeleng keras.
“Enggak, enggak! Ada- ada aja, masa spaghetti di campur sama nasi. Kira makan nasi pakek mie apa?!” ujarku.
“Ya, apa bedanya? Kan sama aja toh, spaghetti kan kayak mie juga,” balas Kara. Dokter Akar dan Rendra saling pandang.
“Tapi coba aja sih Teh, kali aja enak. Siapa tahu nemu rasa baru,” usul Rendra. Aku melongo. Dokter Akar mengangguk setuju.
“Iya Althea, gak ada salahnya sih. Mau aku panggilkan Mitha?” tawar dokter Akar. Aku makin melongo. Dokter Akar bangkit dari duduk. Aku mengeleng kencang.
“Enggak, enggak! Gak mau!” tolakku. “Udah aku makan ini aja!” lanjutku. Aku memakan spaghetti dengan lahap hingga habis. Jelas spaghetti Bolognese lebih baik begini saja rasanya daripada harus di tambah dengan nasi.
****
Kami duduk berselonjor di balkon. Balkon pun tak kalah nyaman, dengan kursi santai seperti di pantai dan juga ada sofa bulat yang sangat nyaman duduk di sana sambil membaca novel. Kami kekenyangan. Sepertinya kami sangat kelaparan, jadi semua makanan habis tak bersisa. Tadi lapar banget, sekarang malah jadi kenyang b**o.
Hotel ini benar- benar mengagumkan, dengan segala fasilitas yang ada. Kami baru mencicipi sedikit, tapi sudah merasa sangat nyaman di sini. Selesai makan tadi, kami harus membersihkan semuanya sendiri. Ya, tak apa. Sudah biasa kok. Kami mengikuti instruksi yang ada di meja makan. Semua peralatan makan selesai di pakai di taruh ke dalam dishwasher. Kami mengikuti instruksi itu. Kami mengumpulkan semua peralatan makan dan menaruhnya di dishwasher yang tak jauh dari meja makan. Kami terkejut saat melihat semua peralatan makan raib begitu saja. Ternyata, semua peralatan makan yang di masukkan ke dalam dishwasher akan di taruh kembali ke dapur secara otomatis.
Kami berselonjor sambil menatap langit yang berubah warna menjadi oranye kemerahan. Tanpa sadar sudah memasuki waktu senja. Senja kali ini terasa sangat hampa, tidak terdengar lantunan adzan yang biasanya saling menyahut. Aku menghela napas panjang, bersyukur dalam hati masih bisa melewati hari ini dengan selamat.
“Udah magrib aja ya,” gumam dokter Akar. Dia bangkit dari duduknya. “Yah, walaupun gak ada adzan, tapi udah memasuki waktu shalat,” ujarnya. Ia menatap kami satu persatu.
“Kalian gak shalat?” tanya dokter Akar. Kami saling menatap. Aku dan Rendra mengeleng pelan dan nyengir lebar. Kara bangkit dari duduknya.
“Saya ikut dok. Saya shalat,” jawab Kara. “Tapi dokter yang jadi imamnya ya,” lanjut Kara. Dokter Akar mengangguk.
“Aman itu mah. Nah kalian, gak ikutan?” tanya dokter Akar lagi. Aku dan Rendra saling pandang. Rendra menghela napas dan bangkit dari duduk.
“Saya ikut dong,” jawab Rendra.
“Anu .. saya juga ikut dok .. tapi saya gak ada mukena …” jawabku.
“Oh, saya coba minta sama Mitha ya. Kali aja ada di sediain di hotel ini,” usul dokter Akar. Beliau menekan tombol di sebelah pintu masuk. Tak lama, Mitha tiba di depan pintu.
“Ya, ada yang bisa saya bantu?” tanya Mitha.
“Mit, di hotel ini apa ada simpan mukena? Kami mau shalat,” tanya dokter Akar.
“Setiap perlengkapan ibadah sudah ada di dalam kamar. Silakan kalian cek di lemari atau di laci meja rias,” jawab Mitha. Ia masuk ke dalam salah satu kamar dan membuka laci meja rias. Ternyata di dalam sana ada sajadah dan tasbih, serta kitab suci dari agama yang di anut.
“Ya, dan mukena ada di dalam lemari,” ujar Mitha. Ia membuka lebar lemari baju dan membuka salah satu laci di sana. Ada mukena dan sarung di dalam sana.
“Silakan di gunakan mukena yang ada,” ujar Mitha. “Kalau kalian mau shalat, di lantai 5 ada mushalla. Kalian bisa shalat di sana,” lanjut Mitha.
“Wah syukurlah. Baiklah Mitha, terima kasih atas infonya,” balas dokter Akar. Mitha mengangguk dan menyinggungkan senyum tipis.
“Ya sama- sama. Jika tidak ada lagi keperluan, saya balik dulu,” ujar Mitha.
“Ah iya silakan. Terima kasih ya Mitha.”
Mitha sedikit membungkukkan badannya dan keluar dari ruangan. Pintu terkunci secara otomatis. Dokter Akar balik badan menghadap kami.
“Sudah, kita bawa saja sajadah masing- masing. Kita naik ke lantai 5 buat shalat berjamaah di mushalla sekarang,” ajak dokter Akar. Kami mengangguk. Kami kembali ke kamar masing- masing. Aku menarik laci meja rias dan mengambil sajadah yang ada di sana. Aku membuka lemari dan mencari mukena, mungkin saja ada di sana. Tapi tidak ada.
Ah, mungkin ada di mushalla, itu pikirku. Aku keluar kamar sambil menaruh sajadah di pundak. Kara keluar kamarnya dan memberikan mukena padaku.
“Ini, ternyata mukenanya ada di lemari kamarku,” ujar Kara. Aku menerima mukena itu dari tangan Kara.
“Makasih,” balasku pelan.
“Sudah semua? Ayo kita ke mushalla bareng.”
****
Kami tiba di lantai 5 dengan sekejap. Lantai 5 ini tidak ada kamar ternyata, hanya berisikan ruang ibadah untuk setiap agama yang ada. Mushalla ada di pojok ruangan. Kami masuk ke dalam mushalla. Mushalla ini lumayan besar, tapi sangat sepi. Yah tentu saja sih, karena di hotel ini hanya ada kami saja.
Kami berpisah di ruang wudhu. Aku menunaikan wudhu dalam diam dan khusyuk. Aku berusaha mengingat setiap langkah wudhu serta niat dan doa. Seketika aku berpikir. Ya ampun, sudah berapa lama ya aku tidak shalat? Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku shalat. Yah, bukan berarti tidak di ajarin sih. Aku belajar shalat sewaktu aku kecil, belajar mengaji juga. Tapi yah, semakin besar aku malah semakin meninggalkan ibadahku.
Keluargaku bukan keluarga yang taat, yah kalian mengertilah ya maksudnya. Karena itu mama dan papa tidak terlalu memaksaku untuk melakukan ibadah, malah lebih memaksa untuk belajar dan belajar. Nenek pun sama, tapi seengaknya nenek lebih pernah mengingatkanku perihal ibadah daripada kedua orangtuaku.
Dulu, aku sempat tinggal dengan kakek dan nenek. Lumayan lama juga sih, selama 2 tahun agaknya, dari aku kelas 2 SD sampai naik ke kelas 4 SD. Aku lupa karena apa sih waktu itu sampai di titipin ke rumah nenek dan kakek selama itu. Kalau tidak salah, karena kedua orangtuaku sedang masa sibuk dan saat itu mama masih pekerja kantoran.
Kakek adalah orang yang paling taat di antara kami semua. Setidaknya ya begitu. Kakek yang diam- diam mengajarkanku shalat dan mengaji. Kakek pula yang memasukkanku ke TPA dekat rumah. Sepulang sekolah, kakek mengantarku ke sana dan begitu sore tiba, kakek yang menjemputku. Aku senang di TPA waktu itu. Banyak teman main, ustad dan ustadzah yang mengajar juga sangat sabar dan baik. Tapi yang paling menyenangkan dari semua itu adalah: banyak jajanan di sana!
Lebih menyenangkannya lagi, kakek selalu mengizinkanku untuk beli jajan apapun sepulangnya dari TPA, dengan syarat tidak boleh bilang ke nenek. Nenek tidak mengizinkanku untuk jajan sembarangan. “Daripada jajan sembarangan di luar sana, mending nenek buatin aja. Lebih enak lagi masakan nenek, hemat duit juga!” Begitu katanya.
Tapi kesenangan itu tak berlangsung lama. Mama menjemputku kembali ke rumah di libur kenaikan kelas. Akhirnya aku melanjutkan sekolah di kota dan sesekali pulang ke rumah nenek dan kakek saat hari libur. Kakek meninggal saat aku kelas 6 SD karena bawaan penyakit jantung yang di deritanya sejak masih muda. Aku masih ingat, aku nangis sejadi- jadinya saat tau kabar itu. Aku mogok makan selama 2 hari, dan saat kami mau kembali, aku sempat demam tinggi yang membuat kami terpaksa tinggal di kampung selama seminggu.
Setelah menunaikan wudhu, aku masuk ke dalam mushalla. Mushalla ini nyaman dan adem. Sudah lama aku tidak merasakan perasaan nyaman seperti ini. Sudah ada Kara, Rendra, dan dokter Akar di depan sana. Mereka tampak rapi dengan sarung dan peci yang di kenakan.
“Buru Teh pake mukena, nanti keburu habis waktu magrib,” pinta Rendra. Aku memakai mukena. Setelah semua beres, kami melaksanakan shalat berjamaah dengan khusyuk. Shalat pertamaku setelah beberapa tahun tidak menunaikannya. Tenang dan damai, itu yang aku rasakan.
Tuhan, hamba mohon maaf jika hamba sering melupakan-Mu. Tapi Tuhan, kali ini hamba menemui-Mu lagi. Hamba memohon padamu, Tuhan. Hamba tidak tahu harus memohon pada siapa lagi selain kepada-Mu. Tuhan, hamba berdoa untuk semua. Tuhan, semoga semuanya kembali seperti semula Tuhan. Semuanya jadi baik- baik saja. Selamatkanlah semua orang yang saya kenal, papa, mama, nenek, semuanya. Tuhan, masukanlah kakek saya ke dalam surga. Beliau orang yang baik Tuhan. Tuhan maaf jika saya banyak mau, tapi tidak sebanding dengan ibadah saya.
Hanya pada-Mu aku dapat memohon saat ini Tuhan. Maaf jika maunya saya tidak sebanding dengan ibadah saya kepadamu Tuhan.
Tanpa sadar, aku menitikkan air mata. Air mata penyesalan dan air mata rindu. Ah, aku rindu melakukan ibadah. Kemana saja aku selama ini? Malah di butakan oleh hasrat duniawi yang tak ada habisnya. Aku menangis dalam sujudku.
Tuhan, aku rindu beribadah kepada-Mu.
****
Kami sudah selesai melaksanakan shalat, tapi masih tetap berada di dalam mushalla. Dokter Akar memimpin kami untuk shalawat dan doa bersama. Selesai semua itu, kami bangkit dan melipat sajadah. Kara dan Rendra menyalim dokter Akar.
“Makasih ya dokter,” ujarku. Dokter Akar mengernyitkan alisnya.
“Untuk apa?” tanya dokter Akar bingung.
“Udah ajak saya shalat,” jawabku. “Jujur saja, ini shalat saya yang pertama kalinya setelah sekian lama saya gak shalat dok,” lanjutku. Dokter Akar terbelak kaget, lalu tersenyum simpul.
“Ya, sama- sama nak. Syukurlah Tuhan gerakin hati kamu untuk kembali ibadah,” ujar dokter Akar. “Jadi bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya dokter Akar. Aku tersenyum kecil.
“Lebih tenang. Jauh lebih baik dari biasanya,” jawabku.
“Kayaknya sikap bar- bar kamu itu karena kamu jarang shalat. Perlu di ruqyah agaknya,” timpal Kara. Aku menatapnya tajam.
“Hidih! Itu kan karena elu yang nyari gara- gara!” balasku kesal. Aku mengepalkan tangan hendak memukul Kara. Kara berusaha menghindar.
“Heh sudah- sudah, baru juga deh shalat. Kamu juga gak boleh begitu Kara,” relai dokter Akar. Aku menurunkan kembali tanganku. “Ayo, kita balik ke kamar,” ajak dokter Akar.
Dokter Akar berjalan di depan. Aku dan Kara membuntuti dari belakang. Kara menatapku dengan ujung matanya. Aku membalas tatapannya dengan menjulurkan lidah mengejeknya.
“Lu kenapa sih, kok sering banget nyari emosi gue? Emang gue salah apa sama lu?” tanyaku pada Kara kesal.
“Jadi lu selama ini masih gak tau salah lu apa?” tanya Kara. Aku mengeleng. Kara menghela napas.
“Memang deh, ya. Lu itu sama sekali gak peka orangnya. Gak sadar diri sih tepatnya,” gumam Kara. Aku mendengus kesal.
“Hih! Lu di tanyain malah ngatain. Makanya bilang. Apa salah gue ama lu hah?” tanyaku pada Kara. Kara berdecik.
“Gatau deh, lu pikir aja sendiri!”
Kara berjalan lebih cepat. Ia berjalan di samping dokter Akar. Aku menyusul langkah mereka berdua.
“Heh, tungguin dong!”
***
Aku tiba paling akhir di kamar. Aku menghela napas lega. Aku tadi sempat kesasar karena kembali ke ruang wudhu lebih dulu untuk mengambil barangku yang tertinggal di sana. Baru aku tinggal sebentar, tapi aku sudah kehilangan jejak dokter Akar dan Kara. Aku sempat panik dan menyusuri seisi mushalla yang tak terlalu besar itu. Ah, sudah jelas tidak ada orang di sana. Kan kami yang terakhir kali memakai mushalla ini.
Aku keluar mushalla dan menyusuri lorong sepanjang lantai 5 ini. Sepi. Lorong itu kosong melompong, tak ada siapapun. Aku menelan ludah dan menyusuri lorong itu pelan- pelan. Semoga saja tidak ada yang mengikutiku dari belakang. Aku memperhatikan sekitar dengan penuh waspada. Aku memeluk Al- Qur’an yang kuambil dari mushalla. Pokoknya kalau sampai ada mahkluk halus yang nyamperin, tinggal aku bacain aja ayat suci biar pada kabur tuh semua.
Sepi. Tak terdengar suara apapun selain langkah kakiku. Tapi tiba- tiba, aku mendengar suara- suara kecil dari sebuah tempat. Aku memperhatikan sekitar lebih waspada dan mencoba mencari asal suara itu. Lagi, aku terdengar suara. Seperti suara orang sedang berbisik. Aku semakin mempertajam pendengaranku, mencoba mencari asal suara. Aku menempelkan diriku di dinding, kali saja terdengar sumber suara itu.
Benar, samar aku mendengar sebuah suara dari balik dinding. Tapi masih tidak terdengar jelas apa yang mereka bicarakan.
“Tenang saja, mereka akan aman di sini…” Terdengar sebuah suara dari dalam sana. Suaranya seperti tidak asing. Aku pernah mendengar suara ini, tapi dimana ya? Aku meraba- raba dinding, kali saja aku menemukan sebuah pintu jadi bisa mengintip sedikit ke dalam. Tapi nihil. Sepertinya ada ruangan rahasia di balik tembok dan hanya bisa di buka dengan kunci khusus saja.
“Kamu harus pastikan itu. Mereka adalah tamu pertama kita setelah sekian lama. Mereka penting untuk kita …” ujar sebuah suara. Suara yang ini sedikit nge- bass, sepertinya pemilik suara ini adalah seorang lelaki dewasa.
“Baik tuan. Saya usahakan yang terbaik untuk melayani mereka,” jawab suara lain.
“Ya, saya percaya padamu. Kalian semua juga, berikan pelayanan terbaik. Mereka tamu berharga kita. Tanpa mereka, kita tidak akan bisa melakukan hal ini,” pinta seseorang bersuara bass itu. Aku mengernyitkan alis. Apa maksudnya ini? Tidak bisa melakukan hal apa maksudnya?
“Ya tuan. Saya pastikan mereka akan nyaman dan memilih menetap lebih lama di sini,” balas suara yang tak asing itu.
“Baik. Kalian, aktifkan barrier kita. Mereka akan nyaman dengan semua ini dan akan terlena, sehingga kita bisa dengan mudah melakukan misi kita,” perintah seseorang bersuara bass.
“Baik bos!” jawab sekumpulan orang serempak.
Hening. Kembali tak terdengar suara apapun lagi. Aku berjalan pelan menyusuri lorong yang sunyi itu. Pikiranku melayang ke percakapan misterius tadi. Tadi itu siapa? Aku yakin sekali, itu bukan mahkluk halus. Pasti seseorang. Tapi siapa? Nah, itu yang menjadi tanda tanya besar. Apa ada orang lain selain kami di hotel ini?
Aku mengelengkan kepala dan mengangkat bahuku. Ya sudahlah, bodoh amat. Sekarang yang lebih penting adalah, aku kembali ke ruangan, kalau tidak nanti mereka akan khawatir. Aku menatap sepanjang lorong.
“Kayaknya tadi lift ada di sekitar sini deh,” gumamku. Aku memperhatikan sekitar dengan teliti. Lift di sini agak tricky, karena seperti menyatu warnanya dengan tembok.
“Oh, itu dia!” Aku menunjuk ke ujung lorong. Ada tampak lampu lift dari sana. Aku segera berlari ke sana. Lift terbuka secara otomatis. Lift ini menggunakan sensor dimana akan terbuka sendiri saat seseorang mendekatinya. Aku masuk ke dalam lift. Sudah pasti tidak ada orang di sana. Aku menekan tombol lantai 4 dan tombol ruang 502. Pintu lift tertutup dan lift berjalan sesuai dengan tujuan yang kuatur. Sekejap, pintu lift terbuka. Lift berhenti tepat di depan pintu ruangan.
Aku keluar dari lift dan membuka pintu ruangan dengan kunci kamar. Aku tidak tahu bisa atau tidak, tapi ya coba sajalah. Ternyata tidak bisa. Hem, susah juga seperti ini. Kunci pintu masuk hanya di pegang oleh dokter Akar. Akhirnya aku menekan bel dan mengetuk pintu pelan.
“Halo, permisi. Ini Althea mau masuk ..”
****