Pintu terbuka. Tampak Rendra berdiri tegap di depan pintu dengan tangan yang terlipat di dadanya. Ia menatapku dengan tatapan penuh introgasi.
“Darimana saja kamu hah, kok baru balik?” tanya Rendra penuh selidik.
“Ah heh … anu … aku nyasar tadi hehe ..” jawabku. Aku nyengir lebar.
“Kok bisa kamu kesasar?” tanya Rendra. Rendra yang tadinya memasang wajah sangar berubah menjadi khawatir. “Kamu gak apa- apa kan?” tanya Rendra sambil memegang kedua lenganku. Aku mengangguk.
“Gak apa kok Ren. Kalau kenapa- kenapa mah aku mana bisa balik kemari,” jawabku.
“Ya ampun nak Althea! Kenapa kamu baru balik?” tanya dokter Akar. Ia berjalan menghampiri kami.
“Hah heh, tadi aku kesasar dok. Aku ambil jam ini, ketinggalan tadi di tempat wudhu,” jawabku sambil menunjukkan jam yang aku pakai.
“Ya ampun. Untunglah kamu gak apa- apa nak,” ujar dokter Akar sambil mengusap dadanya.
“Bisa- bisanya kesasar, padahal jalannya tinggal lurus lempeng begitu,” timpal Kara dari ruang tamu.
“Heh Kar!” tegur Rendra. Kara berdecik kesal dan menyalakan televisi di ruang tamu. Rendra menggelengkan kepalanya.
“Tapi syukurlah kamu bisa balik dengan selamat,” ujar dokter Akar.
“Udah masuk aja Teh. Kamu taruh aja mukenanya ke kamar,” pinta Rendra. Aku mengangguk dan masuk ke dalam kamar.
Aku mengunci pintu kamar. Kutaruh mukena ke dalam lemari dan merebahkan diriku ke kasur. Aku menatap langit malam dari jendela. Tak ada bintang yang tampak di sana, kalah dengan cahaya lampu yang bersinar dimana- mana. Ah, padahal kuharap bisa melihat bintang malam ini meski hanya satu saja.
“Teh, keluar yuk. Makan malam udah siap nih,” panggil Rendra dari luar. Ia mengetuk pelan pintu sekali lagi. “Teh, kamu udah tidur belum?” tanyanya lagi. Aku menghela napas panjang dan bangkit dari kasur. Aku membuka pintu kamar. Rendra berdiri di depan pintu.
“Aku masih kenyang Ren, nanti aja. Kalian makan aja duluan,” tolakku halus. Aku melirik ke meja makan. Ada Kara dan dokter Akar di sana. Mereka sedang menghidangkan makan malam. Hem, baunya enak.
“Loh kamu yakin? Kamu capek ya? Gak enak badan? Kamu sehat kan?” tanya Rendra bertubi- tubi.
“Aku gak apa kok Ren. Tapi memang aku udah kenyang kok, tadi kan makan banyak banget,” jawabku. Rendra mengernyitkan alis.
“Kamu yakin gak mau makan? Makanannya enak loh,” tanya Rendra. Aku melongokkan kepala, berusaha mengintip makanan yang ada di meja makan. “Makan malam kali ini ada soto ayam, lengkap dengan telur rebus dan juga sambalnya. Terus ada ayam goreng juga, yah makanan rumahan biasa sih,” ujar Rendra seakan tahu isi pikiranku. Aku mangut- mangut.
“Hem, enak juga ya lauknya,” gumamku.
“Jadi gimana? Mau makan?” tanya Rendra lagi.
“Hem, aku lihat dulu deh,” jawabku. Ah, padahal jujur aku masih kenyang banget. Tapi wangi makanan ini berhasil buatku tergiur. Aku dan Rendra pergi ke meja makan. Meja sudah penuh dengan berbagai macam makanan. Ya, kali ini memang masakan rumahan. Aku menelan ludah melihat soto yang masih hangat itu. Tampak sangat menggiurkan sekali.
“Ayok Althea duduk. Kita makan sama- sama,” ajak dokter Akar. Beliau menarik kursi di sebelahnya. Aku duduk di sana.
“Teh katanya gak mau makan, dia mau lihat- lihat aja. Masih kenyang katanya,” timpal Rendra sambil menuangkan nasi ke piringnya.
“Loh kok begitu sih Althea? Makan gih, jangan lewati makan nanti kena lambung loh,” ujar dokter Akar mengingatkan.
“Apa nih? Kamu diet ya? Ngerasa gendut banget jadi mau diet dengan gak makan?” tanya Kara. “Yah memang sih kamu gendut,” ejeknya. Aku menatapnya tajam. Kara membalasnya dengan senyum sinis.
“Seenaknya aja! Aku ini kurus tau!” bantahku. Aku berdecik kesal. Kuambil piring dan menuangkan nasi ke atasnya.
“Heh nasinya jangan banyak- banyak, nanti gendut loh. Orang diet mana ada makan nasi sebanyak itu,” goda Kara. Aku menatapnya kesal. Aku memenuhi piringku dengan lauk lain yang ada. Kuambil sepotong paha ayam, tempe dan tahu goreng, dan semangkuk soto lengkap dengan telur rebus. Aku menyuapkan nasi yang sudah bercampur dengan kuah soto ke mulutku. Enak. Aku memakan semuanya dengan lahap.
“Pelan- pelan makannya nak Althea,” ujar dokter Akar mengingatkan. Aku tidak perduli. Aku tetap memakannya dengan lahap. Makanan ini enak. Enak sekali. Sekilas rasanya hampir mirip dengan masakan buatan nenek. Tanpa sadar, air mata mengalir di pipiku. Rasanya seperti masakan nenek.
Aku kangen nenek. Aku rindu. Aku rindu dengan masakan buatan nenek yang tidak pernah gagal rasanya. Aku rindu berceloteh dengan nenek. Aku rindu dengan nenek yang selalu menegurku dengan halus. Aku rindu dengan pelukan nenek yang menenangkan. Aku … aku rindu keluargaku.
Mereka terkesiap kaget melihatku mengunyah sambil menangis. Rendra mengelap air mataku dengan tissue.
“Kamu kenapa Teh, kok nangis?” tanya Rendra khawatir.
“Kamu keselek? Makanya makan jangan buru- buru!” timpal Kara. Rendra menyikut Kara. Kara berdecik kesal. “Ish apaan sih,” gumamnya.
“Ih kamu ini! Simpati sikit kek!” bisik Rendra.
“Nak Althea kenapa? Sini tenangin diri dulu. Yuk minum dulu,” tanya dokter Akar sambil menyuguhkan segelas air. Aku meminum segelas air itu perlahan dan menarik napas panjang. Aku mengupas air mataku.
“Aku … gak apa kok …” jawabku terbata. Aku menundukkan kepala. “Aku … aku … cuma kangen dengan nenek …” lanjutku. Air mata kembali menetes. “Soto ini … rasanya sama persis seperti yang nenek buat …”
Hening. Tak ada suara apapun yang terdengar selain tangisku. Rendra dan dokter Akar mengusap pelan bahuku.
“Gak apa, kamu nangis aja,” ujar Rendra.
“Ya, kamu luapin aja kangenmu dulu,” timpal dokter Akar. “Tapi setelah ini kamu harus janji dengan saya, kamu jangan nangis lagi. Kita akan mencari keluargamu, menyelamatkan keluarga kita semua, dan membuat semuanya kembali normal. Oke?” pinta dokter Akar. Aku mengangguk pelan.
Benar juga kata dokter Akar. Tidak baik jika nangis sedih terus- menerus seperti ini. Mama dan nenek pasti tidak akan senang karena aku cengengs seperti ini. Ya, benar. Aku harus kuat untuk nenek dan mama. Aku pasti bisa menemukan mereka dan membawa kembali mereka bersama papa, dan membawa Rendra turut serta menjadi anggota baru di rumah. Aku mengusap air mataku dan menarik napas dalam.
“Ya dok, aku janji gak akan nangis lagi!” ujarku. Dokter Akar tersenyum tipis. Ia menepuk pundakku pelan.
“Bagus. Kamu memang anak yang kuat,” puji dokter Akar. Rendra mengelus kepalaku pelan. Ia tersenyum simpul.
“Nah, ini baru adikku kalau kuat begini!” puji Rendra. Aku nyengir lebar. Sebenarnya aku juga malu karena tiba- tiba menangis di depan mereka seperti ini. Kara mendekatiku dan mengulurkan tangannya.
“Gue mau minta maaf,” ujarnya. “Maaf gue punya salah sama lu. Tapi lu jangan nangis lagi ya,” lanjutnya. Ia memalingkan wajahnya. “Yah, kalau gak ada lu kami kurang orang buat selamatin orang di luar sana.”
Aku membalas jabatan tangan Kara. Ah, Kara ini tsundere juga ternyata. Aku tersenyum tipis.
“Ya, gue maafin lo kok. Gue juga minta maaf, kalau gue pernah bikin lo kesel. Gue harap lu tetep mau bantu kami,” ujarku. Kara mengangguk pelan.
“Udah ah, jangan kelamaan salamannya!” ujar Kara. Ia menarik kembali tangannya. Wajahnya sedikit memerah. “Udah ya, pokoknya gue udah minta maaf sama lu!” Kara balik badan dan kembali ke kursinya.
“Udah yuk Teh, lanjut makan lagi,” pinta dokter Akar.
****
Sekali lagi, kami kenyang b**o. Semua berselonjor di sofa ruang tamu sambil menonton film di televise. Hanya aku yang duduk sendirian di balkon sambil menikmati angin malam. Aku menatap langit malam yang sepi tanpa bintang. Ah, kapan ya terakhir kali aku melihat banyak bintang di langit? Sepertinya bintang udah kalah pamor cahayanya dengan lampu- lampu.
“Kamu ngapain di luar?” tanya dokter Akar.
“Gak apa, cuma cari udara segar aja kok,” jawabku. Dokter Akar duduk di sampingku. Ia menyeruput minuman di cangkir yang ia bawa.
“Mau kopi?” tawar dokter Akar. Aku mengeleng pelan.
“Gak dok, lagi gak kepengen,” tolakku halus. Sebenarnya aku suka minum kopi sih, tapi untuk saat ini aku sedang ingin meminumnya saja. Dokter Akar kembali menyeruput kopinya.
“Kamu lihatin apa sih di luar sini?” tanya dokter Akar. Aku menunjuk langit malam yang gelap.
“Aku tadinya mau lihat bintang sih, tapi malah gak ada. Kayaknya ke tutup deh sama cahaya lampu- lampu di sana,” jawabku sambil menunjukkan jalanan di bawah sana yang terang dengan sinar lampu dimana- mana. Dokter Akar mangut- mangut.
“Bintang memang sering kalah dengan lampu, tapi ya tetap pasukan bintang lebih banyak,” gumam dokter Akar. Ia menatap langit malam yang sepi. “Bahkan bulan juga gak ada. Kayaknya bulan lagi malas ya muncul malam ini.”
“Bulan lagi capek, mau istirahat dulu. Besok malam katanya baru muncul,” ujarku asal.
“Oh ya? Bulan bilang begitu padamu?” tanya dokter Akar. Aku mengangguk.
“Tentu! Kami kan bestie. Sayangnya terpisah aja jaraknya antar langit,” jawabku asal. Dokter Akar tertawa kecil. Ia kembali duduk di sebelahku.
“Kamu ini, ada ada aja ..” gumam dokter Akar. Ia kembali menyeruput kopi. Aku melirik dokter Akar.
“Dok …” panggilku. Dokter Akar menoleh. “Dokter masih jomblo?” tanyaku. Dokter Akar yang sedang menyeruput kopi pun tersedak. Beliau terbatuk. Aku menepuk punggung dokter Akar pelan.
“Dokter gak apa?” tanyaku khawatir. Dokter Akar mengeleng.
“Uhuk … saya gak apa … uhuk .. saya cuma agak kaget dengan pertanyaan kamu tadi,” jawab dokter Akar di sela batuknya. Setelah batuknya berhenti, dokter Akar berselonjor di kursi.
“Maaf dok, apa pertanyaan aku aneh ya?” tanyaku bingung. Dokter Akar tertawa kecil.
“Yah, mungkin agak aneh buat saya. Bisa- bisanya kamu mengira saya jomblo. Memangnya kalau saya jomblo kamu mau deketin saya gitu?” goda dokter Akar. Aku mengeleng kencang.
“Ih, enggak dok. Beda jauh umurnya. Nanti malah kayak p*****l,” tolakku. Dokter Akar kembali tertawa. Ia mengelus pelan rambutku.
“Yah enggak mungkin jugalah saya sama kamu. Wong saya udah berkeluarga kok, udah punya istri,” ujar dokter Akar.
“Loh? Dokter udah nikah? Saya kira dokter masih lajang,” tanyaku tak percaya. Ya memang agak sulit di percaya sih, karena menurutku dokter Akar masih seperti dokter lajang yang tampan dan siap untuk di jadikan menantu.
“Bisa- bisanya kamu mengira saya masih lajang,” jawab dokter Akar. Aku memperhatikan jari- jari dokter Akar.
“Tapi gak ada cincin di jari dokter,” gumamku smabil menunjuk jari dokter Akar.
“Oh, cincin nikah? Cincin nikahnya di sini.” Dokter Akar menunjukkan sebuah kalung yang di terkait dengan sebuah cincin. “Sengaja saya kalungin, biar gak ganggu kalo lagi operasi pasien,” jelas dokter Akar. Aku menatap dokter Akar dengan tatapan penuh curiga.
“Hei hei, saya sembunyiin kalung begini bukan berarti saya nyari kesempatan buat selingkuh ya! Saya ini setia kok dengan istri saya!” tukas dokter Akar seakan tahu dengan isi kepalaku. Aku mangut- mangut.
“Iya deh, iya saya percaya,” ujarku.
“Ya harus percaya dong. Saya juga udah punya anak, sekarang udah duduk di bangku SD yang sulung, kalau yang bungsu masih balita,” jelas dokter Akar. Aku membelakkan mata.
“Hah? Dokter udah punya anak?! Dokter kan masih muda?!” tanyaku tak percaya.
“Hei hei, kamu kira memang saya umur berapa? Ya maklum dong kalau saya udah punya anak dua, saya ini hampir kepala 4 kok. Saya udah masuk umur 38 tahun ini,” jawab dokter Akar. Aku terbelak kaget tak percaya.
“Hah? Masa? Duh dok susah di percaya nih, gak mendukung soalnya,” tanyaku meragukan.
“Kamu ini. Benar kok, umur saya 38. Tapi yah, memang sering sih orang gak percaya dengan hal itu,” jawab dokter Akar.
Ya jelas saja aku tidak percaya. Dokter Akar ini masih nampak baby face. Maksudku, daripada pria berumur 30-an, beliau malah lebih mirip dengan pria berumur 20-an. Aku yakin kalau dia masuk kembali ke kampusnya, banyak yang mengira ia mahasiswa bukan seorang dokter.
“Saya udah menikah lama dengan istri saya. Saya menikahinya begitu saya berhasil mendapat gelar dokter. Kami sudah menikah selama 11 tahun, sudah merasakan suka duka bersama ..” cerita dokter Akar. Ia menundukkan kepalanya.
“Sebenarnya saat kamu nangis tadi dan kamu bilang kamu kangen dengan nenekmu, dengan keluargamu, saya juga mau nangis. Saya juga rindu dengan anak- anak saya, dengan istri saya. Saya sangat rindu dengan mereka, apalagi saya jarang pulang karena lebih sering stay di rumah sakit. Rumah saya jauh dari sini.” Dokter Akar menghela napas panjang. “Kadang saya sering merasa bersalah karena jarang meluangkan waktu dengan keluarga dan membiarkan istri saya mengurus anak- anak sendirian, tapi ya mau bagaimana lagi namanya juga kerja. Saya kerja juga untuk orang lain, menyembuhkan orang lain.”
Aku menghela napas. Dokter Akar adalah dokter sejati menurutku. Jarang rasanya menemukan dokter yang memang tulus mengobati pasiennya. Yah, beberapa dari dokter memang hanya menginginkan gaji besar tapi tidak terlalu memperhatikan kondisi pasiennya dengan baik. Tak jarang dokter ini main belakang dengan melakukan transaksi gelap dengan mafia. Yah, sepertinya ini sudah menjadi rahasia umum dari dulu.
“Dokter orang baik. Pasti kita bisa menemukan jalannya dok. Pasti,” hiburku. Aku menepuk pelan pundak dokter Akar. “Tenang dok, ada kami di sini yang membantu dokter. Kita semua akan kembali ke keluarga kita secepatnya, ya kan?”
Dokter Akar mendongak dan tersenyum kecil. Beliau mengangguk pelan. “Kau benar nak,” ujarnya. “Kalau sama- sama, pasti bisa.”
Aku mangut- mangut. Dokter Akar merengangkan badannya. Aku kembali menatap ke depan, memperhatikan lampu- lampu yang bersinar terang di sana. Ah, aku jadi teringat dengan percakapan yang tak sengaja aku dengar tadi. Percakapan itu agak mencurigakan bagiku.
“Anu dok …” panggilku. Dokter Akar menoleh. “Anu .. apa dokter gak heran dengan semua ini? Hotel ini gratis dan semua fasilitas ada. Rasanya gak mungkin ada hotel seperti ini di jaman kayak gini, dimana buang air aja harus bayar,” jelasku.
“Hem, sebenarnya sih, saya sedikit curiga awalnya. Tapi sampai saat ini, semuanya terlihat baik- baik saja,” jawab dokter Akar. “Yah, semoga saja hotel ini memang lagi promosi saja. Kalau ada apa- apa, kita harus keluar dari sini secepatnya, loncat lewat balkon pun boleh asal selamat aja.”
****