Chapter 29

1373 Kata
            Hologram di mr. communicator milik papa mati. Suasana hening menyapa kami. Tak ada yang bergeming sama sekali.             “Itu tadi berita apa?”Tanyaku memecah keheningan. Otakku terlalu sukar untuk mencerna semua yang terjadi. Semua tersadar dari lamunan dan menatapku. Nenek merangkul tanpa berkata sedikit pun. Papa menghela napas.             “Apa benar ada endemik …”Gumam mama. Papa memeluk mama dan mencium lembut puncak kepala mama.             “Tak apa, jangan panik. Semua akan baik- baik saja …”Ujar papa berusaha menenangkan mama. Mata mama berkaca- kaca.             “Endemik itu apa nek?”Tanyaku pada nenek sambil berbisik.             “Endemik itu, yah sama kayak pandemi. Tapi ruang lingkupnya lebih kecil saja, seperti satu negara atau satu pulau saja gitu,”jelas nenek. Aku mangut- mangut mengerti.             “Kita tunggu saja informasi lebih dari pemerintah. Saat ini belum ada instruksi apapun. Para ilmuwan juga sedang mencari tahu sebenarnya virus apa yang menyerang,”pinta papa. Aku mengangguk. “Untuk saat ini yang penting tenang saja. Kalian, nanti akan papa belikan vitamin dan suplemen imun. Kalian minum ya,”lanjut papa. Terdengar suara dering telpon dari mr. communicator papa. Papa mengambil mr. communicator dan meliriknya.             “Maaf papa pamit sebentar,”ujar papa. “Ya, Dion Ardiwijaya di sini.” Papa mengangkat telpon itu dan pergi ke dapur. Mama masih saja diam termenung.             “Ma …”Panggilku pelan. Aku mencolek pundak mama. Mama tersentak kaget dan menatapku. “Mama kenapa?”Tanyaku. Mama menatapku lamat- lamat, lalu tersenyum tipis.             “Mama nggak apa kok Teh,”jawab mama. Aku merangkul dan mengelus pelan pundak mama.             “Ma, gak apa. Kata papa gak apa kan, semuanya bakal baik- baik aja ma.” Aku mencoba menenangkan mama. Mama menghela napas panjang dan mengangguk.             “Ya, mungkin mama yang terlalu takut. Maaf ya, harusnya mama gak perlu parno dulu,”gumam mama. Aku mengangguk.             Papa kembali ke ruang tengah tak lama kemudian. Papa berjalan dengan langkah tergopoh- gopoh.             “Semuanya, maaf papa lagi- lagi ada rapat dadakan hari ini. Papa baru aja di kabari teman papa tadi,”ujar papa memberitahu.             “Kenapa mendadak sekali nak?”Tanya nenek.             “Dion juga gak tahu mak. Maaf ya, Dion harus siap- siap dulu. Papa mau mandi dulu,”ujar papa sambil melesat ke kamar mandi. “Mama, tolong ambilkan handuk papa ya. Ah ya sekalian tolong siapin baju papa ya ma. Makasih ma, maaf ngerepotin,”lanjut papa dari dalam kamar mandi.             “Iya pa,”jawab mama. Mama bangkit dari duduk dan pergi ke kamar. Meninggalkanku berdua dengan nenek di ruang tamu. Nenek juga bangkit dari duduk.             “Nenek mau siapin sarapan dulu,”ujar nenek. “Yuk Teh bantu nenek,”ajak nenek. Aku mengangguk dan bangkit dari duduk.             “Baik nek.” ***             Papa pamit berangkat kerja tanpa sempat sarapan. Nenek membawakan papa bekal lebih. “Untuk makan siang,” itu kata nenek. Papa mencium keningku dan mama sebelum berangkat dan salim pamit kepada nenek, lalu segera pergi kerja dengan mobilnya.             “Sepi banget ya di sekitar,”gumam mama sambil berjalan ke halaman depan rumah. Mama memperhatikan sekeliling yang sepi seperti tak ada orang.             “Bukannya hari- hari memang sepi ya ma?”Tanyaku.             “Iya sih, tapi kok rasanya lebih sepi aja gitu …”jawab mama.             “Ah, perasaan kamu aja itu. Kamu pasti kepikiran banget dengan berita tadi kan?”Tanya nenek. Mama menghela napas dan mengangguk pelan. Nenek merangkul mama.             “Sudahlah, tenang aja. Jangan panik. Semuanya bakal baik- baik aja kok,”ujar nenek. Nenek mengelus pelan pundak mama. Mama tersenyum tipis.             “Iya ma. Mungkin Wilda aja yang terlalu kepikiran,”ujar mama.             “Yuklah masuk dalam. Mumpung listrik baru hidup, kita movie time saja. Kamu mau nonton film apa?”Tanya nenek. “Gimana kalau kita nonton film yang baru tayang di bioskop saja?”Saran nenek.             “Wilda gak langganan bioskop ma ..”Jawab mama. Nenek berdecak.             “No no no. Tenang saja, mama sudah menyiapkan semuanya!”Ujar nenek. Nenek mengeluarkan sebuah kartu berwarna platinum. Aku melongo.             “ITU KAN KARTU PREMIUM LANGGANAN BIOSKOP SETAHUN?!”Teriakku kaget. Aku mengambil kartu itu dari tangan nenek dan menatapnya dengan tatapan kagum. Kartu berwarna platinum ini termasuk barang yang mahal dan orang yang berhasil mendapatkannya merupakan orang yang beruntung. Kebanyakan orang memiliki kartu berwarna emas dimana hanya berlangganan sebulan dan di batasi untuk film apa saja. Paling umum sih kartu perunggu, dimana hanya bisa satu film saja dan hanya bertahan selama 2 minggu. Sedangkan untuk mereka yang memakai kartu premium, bisa bebas masuk bioskop kapanpun bebas biaya dan bisa mengaksesknya ke mode online untuk di tonton di rumah.             “Kok nenek bisa dapat?!”Tanyaku penasaran. Nenek tertawa bangga.             “Iya dong! Nenek gitu loh!” Nenek membusungkan dadanya dengan bangga. “Nenek mah beruntung itu, kebetulan ikut undian eh menang ini. Gak apalah, toh enak juga jadi tamu VVIP di bioskop,”jelas nenek. Aku mengelengkan kepala tidak percaya.             “Memang dewi keberuntungan seneng sama nenek!”Gumamku. Nenek mendengus dan membusungkan dadanya.             “Nenek gitu loh! Yuk yuk kita siap siap!”Ajak nenek. “Nanti keburu rame sih, kan ini masih libur,”lanjut nenek.             “Siap boss!” ****             Aku sudah selesai dandan dan pergi turun ke bawah. Sudah ada nenek dan mama yang menunggu di sana. Nenek ini meski sudah berumur, tapi sepertinya masih mengerti soal fashion. Outfit nenek hari ini kece sekali, tidak nampak seperti paruh baya yang hendak menginjak umur 70-an.             “Yuk udah siap kan? Kita berangkat!” Kami pergi ke garasi dan mengeluarkan salah satu mobil Tesla keluaran lama koleksi papa.             “Biar mama yang nyetir,”ujar mama. Aku melirik mama dengan tatapan tak percaya. Agaknya aku belum pernah melihat mama menyetir mobil sebelumnya. Mama kebanyakan menghabiskan waktu di rumah dan urusan belanja, mama lebih mengandalkan belanja online ataupun menitipnya pada papa.             “Mama bisa?”Tanyaku tak yakin.             “Hei, jangan remehkan mamamu,”ujar nenek. Aku mengernyitkan alis. Ah, sudahlah. Palingan mama nanti juga menggunakan mode auto pilot. Mama duduk di kursi supir, dengan nenek duduk di depan dan aku di belakangnya.             “Oke sudah siap semua?”Tanya mama. Kami mengangguk. Pelan, mama menyentuh stir mobil. Aku memperhatikan gerak- gerik mama. Aku sangat takjub saat mama berhasil mengeluarkan mobil keluar garasi hingga keluar dari halaman rumah tanpa bantuan auto pilot. Mulus banget tanpa hambatan!             “Wil, kayak biasa deh. Tapi jangan terlalu ya,”ujar nenek. Mama mengangguk.             “Teh, kamu harus lihat seberapa jagonya mama bawa mobil!”ujar mama. Aku segera sadar dari lamunan. “Yuk siap ya. Berangkat!”             Mobil melaju dengan kencang, menjauh dari rumah dengan kecepatan yang tak di sangka- sangka. Nenek yang duduk di depan memegang penahan di atas atap. Aku meringkuk di belakang, berusaha menahan badanku agar tidak oleng kesana- kemari karena kecepatan mobil yang mama bawa.             Hanya dalam kurun waktu 10 menit, kami sudah tiba di depan bioskop. Mama berhenti dan memarkirkan mobil dengan perlahan dan rapi. Aku langsung keluar dari mobil dan memuntahkan isi perut. Perutku seperti terkocok- kocok karena cara mama membawa mobil. Nenek keluar dari mobil dengan kondisi segar bugar seperti tak terjadi apa- apa.             “Kan sudah nenek bilang, jangan remehkan mamamu,”ujar nenek sambil mengelus pelan punggungku. Aku memuntahkan isi perutku.             “Gimana Teh? Mantap gak mama bawa?”Tanya mama sambil membusungkan d**a. Aku hanya mengangguk pelan dan mengacungkan jempol.             “Kamu sih, nantangin mamamu. Mamamu ini anak didik nenek di area balap dulu tahu,”jelas nenek. Aku membelak kaget.             “Nenek pembalap? Mama juga?”Tanyaku tak percaya. Nenek mengangguk.             “Iya, dulu. Nenek pelatih. Mamamu dulu murid nenek, pernah sekali ya ikut turnamen balap. Menang, tapi di turnamen kedua mamamu kalah,”jawab nenek.             “Sejak itu mama gak mau lagi bawa mobil. Tapi kali ini, mama lagi kangen bawa mobil kencang membelah jalan kayak tadi,”gumam mama.             “Sudah yuk kita masuk yuk. Kamu udah gak apa Teh?”Tanya nenek. Aku mengangguk pelan. Seengaknya sudah sedikit lumayan setelah isi perutku keluar. Kami hendak masuk ke dalam gedung bioskop, tapi satpam di pintu bioskop menghadang kami.             “Maaf, untuk saat ini kami tidak membuka bioskop. Ini sudah aturan dari pemerintah.” ****  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN