Chapter 30

1318 Kata
          Kami mengintip dari balik badan security yang besar. Ada garis palang berwarna kuning yang menutupi pintu masuk ke dalam teater. Sepi, tak ada orang di dalam sana. Wanita yang biasanya duduk di meja tiket juga tidak ada.             “Kenapa di tutup?”Tanya nenek. “Kenapa ada garis kuning di sana?”Tanya nenek lagi sambil menunjuk ke arah pintu masuk ke dalam teater.             “Ini semua karena perintah dari pemerintah kota. Demi mengurangi penyebaran virus yang baru saja terdeteksi kemarin,”jawab security itu menjelaskan.             “Kira- kira kapan akan di buka lagi mas?”Tanya mama.             “Kami juga tidak tahu bu. Sepertinya sampai virus itu sudah tidak menyebar lagi. Kami menunggu aba- aba dari atasan,”jawab security.             “Baiklah. Makasih ya dik informasinya. Ayo kita balik pulang,”ajak mama. Kami berbalik badan.             “Maaf bu sebelumnya. Selalu siap sedia masker dan jaga jarak ya bu. Karena kita masih belum tahu virus ini menyebar darimana. Untuk penjagaan saja,”saran security tersebut. Mama tersenyum tipis dan mengangguk.             “Terima kasih sudah mengingatkan. Semoga kita semua di beri kesehatan selalu,”ujar mama. Security itu tersenyum simpul dan sedikit membungkukkan badannya. Mama balas sedikit membungkukkan badan dan merangkul kami untuk pergi ke parkiran.             Kami tiba di parkiran dan masuk ke dalam mobil. Hanya ada 5 mobil yang terparkir di sana. Mungkin milik staff bioskop. Mama melirik jam tangannya dan mangut- mangut.             “Maaf ya kalian jadi gabisa nonton …”ujar nenek.             “Lah, bukan salah nenek kok. Kan memang situasinya lagi gak pas aja,”balas mama. Aku mangut- mangut setuju.             “Iya nek. Gak apa, nanti kalau situasi udah mereda kita kan bisa nonton bareng,”ujarku.             “Nanti ya. Kita pergi lagi ke bioskop,”ujar nenek. “Kita pergi nonton. Oke?”Janji nenek. Kami mengangguk.             “Sekarang kita kemana Wil? Balik pulang?”Tanya nenek.             “Gak, kita mampir beli masker dulu. Sesuai kata security tadi, untuk jaga- jaga saja. Kalian nanti harus pakai maskernya ya, sekalian kita beli vitamin dan suplemen lain juga,”jawab mama. Mobil melaju pelan meninggalkan bioskop. ****             “Loh? Masker udah habis mbak?”Tanya mama agak kaget. Mbak penjaga apotek mengangguk.             “Iya bu. Karena lagi musimnya sakit begini, apalagi karena kabar di berita tadi pagi jadi semua orang pada beli masker,”jawab mbak penjaga apotek menjelaskan.             “Gak ada stock sama sekali mbak?”Tanya nenek. Mbak penjaga apotek mengeleng.             “Tidak ada bu. Sudah habis semua stock kami. Nanti 3 hari lagi baru ada masuk stock baru,”jawab mbak penjaga apotek menjelaskan.             “Ya sudah mbak. Kalau begitu saya mau vitamin C, vitamin D, vitamin E, dan zinc ya mbak,”ujar mama.             “Duh, stock vitamin juga habis bu. Tinggal Zinc aja yang tersisa,”jawab mbak penjaga apotek.             “Loh? Kok pada kosong stock sih mbak?”Tanya nenek heran.             “Iya bu. Karena kami buka lebih cepat dari perkiraan. Kami biasanya tutup 4 hari kalau Nyepian Mahkota bu. Karena itu belum ada stock yang masuk, baru masuk nanti 3 hari lagi,”jawab mbak penjaga apotek menjelaskan. Mama mangut- mangut.             “Ya sudah, kalau begitu saya ambil saja zinc,”ujar mama.             “Baik bentar ya bu,”gumam mbak penjaga apotek. Dia membalikkan badannya dan membuka rak lemari kaca yang besar di belakangnya. Ia kembali sambil membawa sebuah botol kaca buram berukuran sedang.             “Tinggal yang merk ini saja bu yang ada. Bagaimana?”Tanya mbak penjaga apotek. Mama memeriksa botol kaca buram itu lamat- lamat.             “Baiklah saya ambil ini,”jawab mama. Mama mengeluarkan mr. communicator dan scan barcode yang ada di meja. Mbak penjaga apotek memeriksa mr. communicator dan mangut- mangut.             “Baik, sudah masuk. Terima kasih sudah berbelanja,”ujar mbak penjaga apotek sambil sedikit membungkukkan badannya. Mama mengambil botol zinc itu dan memasukkan ke dalam tas.             “Kembali mbak,”jawab mama. Kami pun keluar dari apotek itu menuju parkiran mobil. Kami masuk ke dalam mobil dan memakai seat belt.             “Kita cari masker dulu ya baru kita pulang,”ujar mama memberitahu. Aku dan nenek mengangguk. Mobil pun melaju meninggalkan apotek itu.             Kami menyusuri setiap jalanan dan melirik toko di sekeliling. Hampir sebagian besar toko tutup, beberapa yang buka pun tampak sepi pelanggan. Kami sudah mengitari 3 apotek, tapi tidak ada juga masker itu. Stock kosong, katanya begitu. Sudah habis di borong oleh orang- orang. Kami bahkan juga mencarinya di supermarket, tapi sama saja. Stock kosong.             Kami masuk ke mobil. Mama menghela napas panjang dan berselonjor di kursi mobil. Lelah. Kami sudah mengitari di apotek sepanjang jalan ini tapi tetap saja tidak membuahkan hasil sama sekali. Tidak hanya masker, vitamin yang kami minta juga tidak ada. Padahal sebelumnya aku yakin masker itu banyak banget dan jarang yang membelinya.             “Mr. Komi, apotek di sekitar lokasi,”ujar mama. Mr. Communicator yang sudah terhubung ke mobil pun berbunyi pip dan mengeluarkan hasil pencariannya dalam sekejap mata.             “Mencari informasi apotek terdekat … apotek terdekat adalah apotek Farma Medika, berjarak 400 meter dari lokasi,”ujar mr. communicator dan memaparkan peta menuju lokasi.             “Aktifkan mode rute GPS,”ujar mama lagi.             “Mode rute GPS di aktifkan,”balas mr. communicator. “Lurus terus hingga 200 meter di depan,”pinta mr. communicator. Mama mengaktifkan mode auto pilot Tesla dan membiarkan auto pilot mengikuti instruksi mr. communicator.             “Mama baru tahu di dekat sana ada apotek,”ujar mama. Tak perlu waktu lama, beberapa menit kemudian kami sudah tiba di pintu apotek. Apotek ini tidak besar, malah tampak jauh lebih kecil daripada apotek yang kami datangi sebelumnya. Kami keluar dari mobil. Mama bernapas lega saat melihat sebuah kertas yang tertempel di depan pintu masuk apotek. Di sana tertulis “Tersedia masker medis”. Akhirnya, tidak rugi kami berkeliling.             “Mas, beneran masih ada stock masker?”Tanya mama pada mas penjaga apotek.             “Oh ada bu. Bentar saya ambilkan,”jawab mas penjaga apotek. Ia pergi masuk ke dalam toko dan kembali tak lama kemudian sambil membawa sekotak masker.             “Tapi maaf bu, sisanya hanya segini,”ujar mas penjaga apotek sambil membuka kotak masker itu. Ada 6 masker medis berwarna hijau di sana. “Ini stock terakhir kami hari ini,”lanjut mas penjaga apotek.             “Gak apa mas, yang penting ada. Saya ambil semuanya ya,”ujar mama. Mama mengeluarkan mr. communicator dan scan barcode yang ada di meja. Mama mengambil salah satu masker di kotak dan memakainya. “Kalian juga pakai saja terus maskernya,”pinta mama sambil memberikan kotak masker itu kepadaku dan nenek. Kami mengambilnya dan memakainya. Ini pertama kali aku memakai masker dan rasanya agak sesek. Tidak bebas untuk bernafas.             “Oh ya mas, ada vitamin C, D, dan E juga gak mas?”Tanya mama bertubi- tubi.             “Vitamin tinggal sisa vitamin D dan E bu. Vitamin C sudah habis. Bagaimana?”Tanya mas penjaga apotek. “Tapi kalau memang ibu mau ada vitamin C juga, lebih baik ibu beli multivitamin saja,”saran mas penjaga apotek.             “Multivitamin yang gimana?”Tanya mama. Mas penjaga apotek berjongkok dan membuka laci mejanya. Ia menaruh sebuah botol plastik dengan segel berwarna biru ke atas meja.             “Hanya ini yang ada, sudah lengkap semua. Ini bagus punya bu,”jawab mas penjaga apotek berusaha meyakinkan mama.             “Oh, itu kan obat yang Dion belikan untuk mamak!”Ujar nenek sambil menunjukkan ke arah botol obat itu.             “Loh? Mas Dion sering belikan ini?”Tanya mama. Nenek mengangguk.             “Tapi stock itu lagi habis sih,”jawab nenek. Mama mangut- mangut.             “Ya sudah, saya ambil ini ya mas,”ujar mama. Mas penjaga apotek mengangguk dan memasukkan botol obat itu ke dalam bungkusan. Kembali mama melakukan scan barcode untuk melakukan pembayaran.             “Terima kasih banyak ya mas,”ujar mama sambil menyinggungkan senyum tipis.             “Kembali. Lain kali silakan datang lagi.” ****  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN