Kami semua masuk ke dalam mobil. Mama berselonjor di kursi mobil dan menghela napas panjang. Akhirnya , setelah berkeliling ke beberapa toko, kami menemukan masker. Mama mengeluarkan satu masker dari kotak dan memakainya.
"Ini, kalian pakai juga ya,"pinta mama sambil memberikan kotak masker kepada kami. "Pakainya begini, harus ketutup hidung dan mulut." Mama memberikan contoh. Aku mangut- mangut dan mengambil salah satu masker dan memakainya sesuai dengan instruksi mama.
"Begini ma?"Tanyaku. Mama mengangguk.
"Iya. Mulai sekarang kalau kita keluar pakai masker ya. Meskipun kita keluar naik mobil gini,"perintah mama. Kami mengangguk.
"Kayaknya harus bawa handsanitizer juga Wil dan spray desinfektan," nenek menambahkan.
"Ya ampun, Wilda lupa belinya. Terlalu fokus dengan beli masker!" Mama menepuk jidatnya. "Bentar deh mumpung masih di sini. Wilda keluar beli dulu,"ujar mama sambil membuka pintu mobil. Mama melesat kembali ke apotek tadi.
Aku mengintip dari kaca mobil. Aku memperhatikan sekitar. Hampir semua toko di sini tutup. Mungkin masih mau libur Nyepian Mahkota lebih lama, atau tidak berani buka toko karena kabar tadi pagi? Entahlah. Aku memegang masker yang kupakai. Biasanya aku melihat masker ini di pakai oleh dokter saat operasi ataupun mereka yang melakukan eksperimen di lab. Tapi sekarang aku memakai masker ini. Bukan karena aku akan masuk ke laboratorium, melainkan karena harus pergi keluar. Tidak pernah terbayang olehku pergi keluar menggunakan masker yang sempit dan sesak begini.
"Terulang lagi,"gumam nenek. "Terulang lagi kejadian 20 tahun lalu, dimana semua harus keluar memakai masker dan toko banyak yang tutup,"lanjutnya. Nenek menatapku lamat- lamat. "Nenek gak nyangka cucu nenek harus merasakan hal seperti itu juga. Cukuplah nenek dan mamamu saya harusnya yang merasakan masa- masa kelam itu,"ujar nenek sambil menepuk pundakku.
"Semuanya akan baik- baik aja nek,"jawabku. Aku memeluk nenek dari belakang.
"Ya, semoga begitu nak,"gumam nenek.
Mama kembali tak lama kemudian dengan membawa kantung bungkusan berukuran kecil.
"Mama gak dapat spray desinfektan, tapi mama dapat handsanitizer,"ujar mama sambil mengeluarkan botol kecil handzanitizer. "Cuma ini yang ada. Tinggal ini pulak,"jelas mama. Mama membuka tutupnya dan memakai sejumput handsanitizer ke tangannya, lalu mengoleskannya hingga rata. "Ayo semuanya pakai,"pinta mama. Mama menaruh sejumput handsanitizer ke tangan kami. Nenek mengoleskan ke tangannya hingga rata. Aku mengikuti nenek. Hem, dingin juga gel handsanitizer ini. Aku pernah sih pakai handsanitizer, tapi yang bentuk cairan spray.
"Aneh sekali. Ini masih pagi, tapi hampir semuanya udah habis. Dari kapan orang- orang ini belanja?"Tanya mama heran.
"Mungkin saja, mereka udah kenal sama yang punya apotek jadi langsung nelpon dan nitipin barang- barangnya,"jawab nenek.
"Kalau dia beli secukupnya, sewajarnya, ya bagus. Tapi kalo dia beli banyak untuk di timbun ataupun di jual lagi dengan harga mahal itu jahat namanya,"ujar mama.
"Ya sudahlah Wil. Ini bisa dapat juga udah bagus. Nanti sisanya beli online aja,"usul nenek.
"Hem, iya deh mending beli online,"ujar mama. Mama membalikkan badannya ke arahku. "Teh, kita balik pulang ini gak apa kan ya? Pada tutup semua juga,"tanya mama padaku. Aku mengangguk.
"Iya ma gak apa, pulang aja,"jawabku. Lebih baik dia di rumah sih, bisa lanjut nonton drama ataupun pergi ke bengkel untuk memperbaiki robot- robot kesayangannya.
Mama mengaktifkan mode auto pilot. Setelah memasang GPS sesuai dengan arah tujuan, mobil melaju meninggalkan apotek.
****
Kami tiba di pintu gerbang komplek. Mama menurunkan kaca pintu mobil. Bapak security komplek menundukkan kepalanya.
“Maaf bu Wilda ya?”Tanya bapak security.
“Iya mang saya bu Wilda,”jawab mama. Mang Arir, salah satu security yang kenal dekat dengan mama dan papa.
“Oh bu Wilda. Ibu darimana ya bu?”tanya Mang Arir.
“Saya dari luar tadi, mau pergi nonton tapi pada tutup. Jadinya saya pergi beli masker saja,”jelas mama.
“Baik kalau begitu. Mungkin bu Wilda belum tahu. Kini komplek kita sudah punya kebijakan baru,”ujar mang Arir.
“Kebijakan gimana mang?”tanya mama.
“Iya bu. Jadi mulai sekarang, sudah tidak boleh sembarangan keluar masuk ke dalam komplek. Selain masyarakat komplek, hanya kurir paket dan kurir online yang boleh masuk. Harus jelas juga antar barang ke rumah mana, dan harus titip kartu identitas di pos. Lalu untuk penghuni komplek juga ada aturan baru. Hanya satu orang dari setiap rumah yang boleh pergi keluar, dan hanya boleh keluar untuk pergi belanja kebutuhan, seperti belanja bulanan begitu. Ada batas waktunya juga. Hanya boleh keluar dari jam 9 pagi sampai jam 7 malam saja. Selebihnya, tidak ada yang boleh keluar rumah lagi,”jelas mang Arir panjang lebar. Mama mangut- mangut mendengarnya.
“Jadi ... Gak ada yang boleh masuk komplek selain kurir?”tanya mama mencoba menjelaskan kembali. Mang Arir mengangguk. “... Dan yang boleh keluar satu orang aja?”tanya mama lagi. Mang Arir kembali mengangguk.
“Iya bu. Hanya boleh keluar untuk belanja kebutuhan saja. Ah ya. Setiap keluar harus memakai masker juga,”lanjut mang Arir. Mama mangut- mangut.
“Baik mang. Maaf ya saya keluar berame- rame begini. Saya baru tau,”ujar mama.
“Iya buk gak apa. Lain kali pergi sendiri aja ya bu. Oh ya, buat nenek sebaiknya di rumah saja nek, jangan berkeliaran,”saran mang Arir.
“Iya nak. Saya juga malas keluar sih,”ujar nenek. Mang Arir nyengir.
“Ya sudah buk. Ibu sudah bisa lewat. Jaga kesehatan ya bu, kita gak tahu bakal seperti ini sampai kapan,”ujar mang Arir mempersilahkan. Mama menundukkan kepalanya.
“Iya. Makasih mang. Saya permisi dulu,”ujar mama.
“Yuk ibu mari.”
****
Jalanan di komplek lebih sepi dari biasanya. Memang sih biasanya sepi, tapi ini berkali lipat lebih sepi. Biasanya masih ada beberapa orang yang jogging keliling komplek. Tapi sekarang komplek ini hening. Seperti komplek mati. Kami masuk ke gang pertama dan di sana kami melihat gerombolan orang yang memenuhi pintu depan sebuah rumah.
“Ada apa tuh Ma, kok rame- rame?”tanyaku sambil menunjuk ke arah gerombolan manusia di sana. Mama menoleh sambil terus menyetir.
“Hah? Mama juga gak tahu,”jawab mama. Mama memincingkan matanya. “Loh itu kan .. Rumahnya bu Sarida?”tanya mama. Mama mendekati rumah yang di amuk massa itu. Benar saja, itu memang rumah bu Sarida, alias mamanya bang Arka. Mama membuka kaca mobil hingga tersisa setengah.
“Dasar kalian penyebar penyakit!”ujar seseorang di antara gerombolan itu.
“Awas kalau sampai pandemi lagi gara- gara lu! Gue sumpahin lu!”ujar yang lainnya dengan nada kesal. Suasana riuh rendah semakin terdengar.
“Mana kalian?! Keluar woi jangan bisanya cuma penyakit!”protes seorang laki- laki paruh baya. Ia membawa telur mentah dan melemparnya ke arah rumah itu. Telur itu pecah setelah bertabrakan dengan jendela rumah. Masih tidak ada yang keluar.
“Apaan lu pengecut! Keluar woi jelasin kok bisa sakit begitu woi!”protes seorang yang lain. “Ya kan semuanya? Kalian tidak mau kan pandemi 20 tahun lalu terulang lagi?!”tanya pria itu semakin memanaskan amarah massa yang berkumpul. Tirai jendela sedikit tersibak dan tampaklah bu Sarida mengintip dari dalam.
“WOI! JANGAN CUMA NGINTIP DOANG LU! KELUAR!”perintah seorang massa penuh amarah. Sorak sorai mengejek terdengar lantang. Berbagai macam barang di lempar ke rumah tersebut. Telur, tomat, balon air, semua di lempar. Membuat halaman depan rumah itu kotor berantakan.
“Apa sih ini orang- orang, udah kurang ajar banget,”gerutu mama. Mama membuka kunci pintu mobil. “Gak bisa di biarin ini!”gumam mama. Mama membuka pintu mobil. Nenek menarik tangan mama.
“Eh kamu mau kemana nak Wilda?”tanya nenek.
“Mau ke sana mak, enak aja mereka begitu lakuin orang!”jawab mama.
“Jangan deh Wil, nanti kamu habis di amuk massa,”ujar nenek.
“Tapi ma ... Mana bisa diam liat mereka demo begitu,”jawab mama.
“Jangan Wil...”pinta nenek.
“Tapi ma...” Belum juga mama menyelesaikan ucapannya, terdengar suara pintu di banting. Semua menoleh ke tempat asal suara. Pintu rumah tersebut terbuka lebar. Pak Sami keluar dengan baju singlet dan sarung sebagai pengganti celana. Pak Sami menyeburkan ember besar yang berisikan air got yang sangat hitam. Wajah beliau memerah.
“DIAM KALIAN! PERGI KALIAN SEMUA PERGI!”Teriak pak Sami. Semua massa terdiam melihat pakaian mereka yang sudah berubah menjadi hitam, begitu pula kulit mereka.
“PERGI KALIAN SEMUA PERGI!!!”usir pak Sami.
“Heh apa ini?! Kau yang pergi! Ngapain kau tetap di sini hah?! Keluar sana dasar penyebar penyakit!”protes seseorang di antara kerumunan massa.
“DIAM KALIAN! SIALAN KALIAN SEMUA!”teriak pak Sami. Riuh rendah suara semakin ramai.
“Ini kok gak sadar sih...”gumam mama. Mama mendatangi kerumunan massa, hendak membubarkan massa.
“Sedang apa kalian semua?!”tanya seorang security, pak Broto. Semua menoleh ke asal suara. Pak Broto yang berbadan tinggi besar berdiri menjulang di antara kerumunan massa.
“Pulang kalian jangan ganggu rumah orang!”perintah pak Broto. Pak Broto menatap tajam semua orang. Ia memukulkan pentungan yang selalu di bawanya. “Atau kalian mau saya pukulin pakai pentungan ini?”ancam pak Broto. Pentungan pak Broto adalah pentungan legendaris. Kalau kamu di pukul pakai pentungan itu bakalan pusing banget selama seminggu. Nyali para massa mulai menciut. Perlahan satu persatu bubar barisan, meninggalkan rumah bu Sarida. Mama menghampiri pak Broto.
“Syukurlah anda datang, pak Broto. Kalau engga bisa- bisa rumah bu Sarida bisa hancur di amuk massa,”ujar mama.
“Ya, kebetulan saya keliling komplek. Saya lihat ada yang gak beres, makanya saya datangin,”jelas pak Broto. “Ibu Wilda ngapain di sini? Mau ikut kerumunan massa tadi?”tanya pak Broto.
“Eh enggak pak. Saya kebetulan lewat, mau pulang ke rumah tadi pergi keluar. Terus saya liat ada kerumunan massa. Tadinya mau saya bubarin, eh udah keburu di bubarin pak Broto,”jawab mama mengarang alasan.
“Ah masa. Takut ya di habisi massa?”tanya pak Broto bercanda. Mama nyengir lebar.
“Yah bisa di bilang begitu sih...”gumam mama pelan.
“Ya sudah, massa udah bubar. Sebaiknya ibu juga balik, ini lagi musimnya sakit. Jangan lama- lama di luar,”pinta pak Broto.
“Oh iya pak. Benar juga. Saya balik dulu ya pak. Mari,”pamit mama.
“Ya bu. Hati- hati.”
****
Tak lama, kami sudah tiba di rumah. Mama memasukkan mobil ke dalam garasi dan masuk ke dalam rumah. Mama langsung mencuci tangan dan kaki, lalu melepas maskernya. Mama melipat masker dengan rapi.
"Masker lagi langka, kalau baru sekali pakai dan sebentar aja pakainya lebih baik di lipat dan di simpan biar bisa di pakai lagi,"pinta mama.
Aku meniru lipatan masker mama dan memasukkannya ke dalam tas kecil mama.
"Oh iya,"gumam mama. Mama segera mengambil mr. communicator dan menghubungi seseorang di sana.
"Halo? Iya, saya pesan ya paket ayamnya. Iya yang family size. Iya. Tolong antarkan ke alamat yang saya kirim ya,"ujar mama di telpon. Tak lama mama mematikan telpon dan lanjut chatting seseorang.
"Wah nanti kita makan ayam ya ma?"tanyaku girang.
"Bukan untuk kita sayang,"jawab mama.
"Lah jadi buat siapa dong ma?"tanyaku heran.
"Ini buat ... em bentar, mama lihat dulu kayaknya obat generik ada deh beberapa." Mama bangkit dari duduk dan pergi ke lemari di ruang tengah. Mama membuka lemari itu dan mengeluarkan beberapa jenis botol obat berwarna bening. Setelah memperhatikan beberapa botol, akhirnya mama membiarkan 2 botol obat di luar dan sisanya mama masukkan kembali ke dalam lemari. Mama membawa 2 botol itu bersamaan dengan kantong bungkusan.
"Jadi ini buat siapa ma?"tanyaku lagi.
"Oh, ini buat keluarga bu Sarida. Kasian kan dia gabisa keluar kemana mana,"jawab mama.
"Tapi kita juga gabisa kemana mana ma,"sanggahku.
"Ya tapi kamu sehat- sehat saja toh? Kamu tidak merasakan di amuk massa kan? Mana ada anggota keluarganya yang lagi sakit,"jawab mama. Aku terdiam. Benar juga kata mama.
"Harusnya di masa sulit begini kita saling mendukung, bukan saling menyalahkan satu sama lain,"ujar mama. Mama memasukkan obat- obatan dan beberapa buah ke dalam kantong bungkusan. "Kalau saling menyalahkan, bagaimana bisa situasi menjadi mereda? Ini baru satu hari. Gimana kalau udah berhari- hari nanti,"gumam mama. Aku manggut- manggut. Ada benarnya juga kata mama.
"Ya sudah, mama mau antar ini obat ke bu Sarida. Kamu jaga rumah bentar ya sama nenek,"ujar mama.
"Siap ma!"
****