Apes banget hari ini. Masih pagi tapi udah di suruh kerja rodi bersihin rumah. Gara- gara tingkah si robot ini yang error. Aku melemaskan otot-otot badanku yang mulai lelah. Masih belum selesai. Aku baru selesai merapikan ruang keluarga, itu pun belum di sapu dan pel. Mama dan nenek pergi belanja untuk persiapan nyepi mahkota.
“Pokoknya nanti pulang harus udah rapi ya!” Mama mengingatkan. “Oh ya, jangan kamu pakai Rurumi buat beres- beres. Bersihin pakek sapu tuh, terus di pel pakai kain pel. Nanti Rurumi error, malah makin kacau rumah di buatnya!”Pesan mama. Rurumi adalah robot pembersih yang bisa menyedot debu dan mengepel lantai sekaligus. Biasanya mama menggunakan Rurumi, tapi sepertinya kali ini mama menyembunyikannya. Aku sudah mencari di segala tempat, tapi tidak tampak bentukan si Rurumi itu. Akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk membersihkan manual saja. Toh, sama saja kan?
Ternyata beda jauh. Karena terbiasa menggunakan Rurumi, menyapu menjadi hal yang agak sulit. Apalagi untuk menyerokkan debu ke dalam pengki. Bukannya masuk ke dalam pengki malah jadi menumpuk di sudut ruangan. Belum lagi mengepel, dimana dia harus mengangkat ember kemana- mana dan bagian yang paling menyebalkan adalah memeras kain pel. Harus di peras dengan sekuat tenaga agar lantainya tidak meninggalkan bekas busa sabun pembersih lantai.
Akhirnya ia selesai merapikan ruang keluarga dan dapur. Semua sudah bersih kinclong. Bahkan aku menyuci piring yang tidak di suruh dan mengelap jendela serta kumpulan guci milik papa. Entah roh rajin mana yang merasukiku kali ini. Atau mungkin pelampiasan rasa kesal karena ulah si robot.
“Silakan di minum kopinya, Althea …” Robot menyodorkan segelas kopi yang tadi ada di kamarnya. Aku menghela napas dan mengeleng- gelengkan kepala. Ah, bodohnya aku. Kenapa aku tidak sadar, seharusnya robot ini sejak awal memang sudah di rancang menggunakan bahasa Inggris. Kalau mendadak bahasanya berubah, berarti sistemnya error.
“Gara- gara kamu, aku jadi kerja rodi pagi!”Gerutuku kesal. Aku menyambar segelas kopi itu dan meminumnya hingga habis. Aku menaruh gelas kosong itu di atas meja ruang keluarga. “Sepertinya kita perlu bicara ya robot.”
Tanpa mengganti baju, aku langsung pergi ke bengkel robot yang ada di halaman belakang rumah. Aku menyalakan komputer dan segala mesin yang ada di sana. Aku menaruh robot di meja operasi, membongkar bagian badan robot tanpa mematikan mesinnya. Aku memperhatikan susunan bagian dalam robot. Mungkin ada yang sedikit konslet ataupun sobek.
“Pokoknya ini robot harus jadi robot berguna!”
***
“Teh? Thea? Bangun Teh!” Seseorang mengguncangkan badanku pelan. Aku mengerjapkan mata dan melihat seseorang di sampingku. Orang itu …
“Nenek …”
“Duh Teh, kamu kenapa ketiduran di sini?”Tanya nenek khawatir. Aku melihat jam dinding. Sudah jam 12 siang. Aku merenggangkan badan. Badanku semakin pegal rasanya karena tertidur di bangku.
“Teh … Teh lagi perbaiki robot nek, biar dia gak berulah lagi,”jawabku dengan mata masih mengantuk. Aku menguap lebar.
“Ya ampun, memang ya anak jaman sekarang suka banget utak- atik robot.” Nenek menggelengkan kepalanya. “Udah, kamu istirahat saja dulu. Mending kamu mandi dulu gih, bau banget. Bau keringat!” Nenek menjepit hidungnya. Ah, aku baru sadar kalau belum mandi.
“Iya nek, Teh mandi dulu.” Aku bangkit dari kursi dan membereskan meja yang berantakan.
“Nanti siap mandi langsung ke dapur ya. Kamu lapar kan? Nenek buat nasi uduk,”perintah nenek. Aku mengangguk. Aku jalan keluar bengkel bersama nenek dengan mata terkantuk- kantuk. Aku mengunci pintu bengkel dan kembali masuk ke dalam rumah. Nenek mengambilkanku handuk dan aku masuk ke kamar mandi.
Badanku sedikit lebih segar setelah tersentuh sabun dan shampoo. Karena hari ini aku merasa jorok banget dan badan lengket, aku memutuskan untuk menggunakan body scrub punya mama. Wangi body scrub di tambah sabun sangat semerbak. Menyebar dan tertinggal lama di dalam kamar mandi. Aku keluar kamar mandi dengan badan yang sangat wangi dan segar tentunya.
“Nah, kan seger nih kalau udah mandi.” Nenek mencium pipiku. “Wangi banget ih cucu nenek, wanginya sampek semerbak banget ke ruangan,”puji nenek. Aku nyengir.
“Ya dong nek.”
“Ya udah sana kamu makan nasi uduknya. Lauknya ada di dalam lemari ya, kamu ambil aja.” Aku mengangguk dan segera melesat ke dapur. Aku mengambil piring dan menyendokkan nasi uduk sebanyak mungkin ke dalam piring. Tak lupa dengan lauknya juga. Hari ini makan versi kuli, karena memang habis nguli. Mama yang melihat porsi makanku hanya bisa geleng- geleng kepala.
“Habis mandi ya Teh? Wangi banget?”Tanya mama. Aku mengangguk dengan mulut yang penuh. Mama mengendus- endus. “Kok wanginya kayak kenal deh …” Mama mengendus- endus di dekatku.
“Kenapa ma?”Tanyaku risih.
“Kayak kenal deh baunya,”jawab mama. “Bentar …” Mama pergi keluar dapur. Aku tidak memperdulikan dan lanjut makan. Tak lama, mama datang kembali.
“Ya ampun Teh! Kamu pakai body scrub mama ya?”Tanya mama. Agaknya mama kesal. Aku mengangguk pelan. “Mana kamu pakainya banyak banget lagi! Ini tuh pakainya sedikit aja Teh. Dikit aja daki kamu tuh udah keangkat. Kalo banyak gini mah bukan daki lagi yang terangkat, tapi dosamu juga!” Mama bawel panjang lebar.
“Maaf ma…” Mama menghela napas dan mengeleng- gelengkan kepalanya.
“Mana mama lagi males keluar buat beli ini ..” Mama melirikku sesaat. “Kamu mah mana mau beli beginian, mana ngerti juga sih kamu. Tau pakainya aja,”lanjut mama. Aku nyengir lebar. Mama memang paling tahu deh.
“Ah udahlah. Itu habis makan kamu bereskan ya,”perintah mama, lalu pergi keluar dapur. Meninggalkanku yang masih asik menyantap nasi uduk porsi kuli. Tak lama, piring di depanku kosong licin tak bersisa. Aku tak menyangka bisa habisin semuanya. Mungkin karena terlalu lapar dan lelah juga jadi tidak terpikir dengan porsi makan, sepertinya begitu.
“Teh, kamu mau mama beliin body scrubnya? Sekalian mama beli”Tanya mama dari muka pintu dapur. Aku mengangguk kencang.
“Samain aja variannya kayak yang punya mama,”lanjutku.
“Ini udah mama belikan, kamu jangan pakai lagi punya mama ya!”
“Iya ma ..”
“Iya mbak, saya jadi pesen 2 ya mbak .. iya, nanti saya transfer ke nomor biasa kan…?” Mama melanjutkan pembicarannya dengan seseorang di telpon.
“Kenyang Teh?”Tanya nenek yag baru saja masuk ke dapur.
“Banget nek!” Nenek melirik ke meja dapur dan melihat nasi di dalam tudung yang tinggal setengah.
“Kayaknya banyak banget kamu makan ya. Kenyang banget nih pasti,”gumam nenek. Aku nyengir lebar.
“Kamu nanti mau bantu nenek masak kue gak?”Tanya nenek.
“Mau nek mau! Mau banget!” Jelas aku tidak bisa menolaknya. Bakalan kubantu dengan senang hati. Aku juga selalu penasaran kenapa kue nenek selalu enak. Mungkin karena nenek memasaknya pakai sentuhan cinta kali ya?
“Ya udah, bentar nenek ambil bahan- bahannya dulu.” Nenek berdiri di depan kulkas. Nenek tampak kesulitan mengambil berapa bahan di kulkas. Aku bangkit dari duduk dan membantu nenek.
“Biar aku bantu nek.” Aku menawarkan bantuan.
“Kamu tolong ambilkan roti sobek di sana ya.” Nenek menunjukkan lemari sebelah kiri di atasku. Aku membuka lemari itu dan mengambil beberapa bungkus roti sobek.
“Ini buat sendiri nek rotinya?”tanyaku sambil menutup lemari.
“Nggak, gak keburu. Kan lama buat roti. Jadi nenek beli jadi aja sama temen nenek di sini.” Nenek menghitung barang- barang yang ada. “Em… roti, s**u kental manis, madu, em.. apalagi ya …”
“Mau buat apa kita nek?”Tanyaku penasaran. Ini sih agaknya bukan bahan biasa untuk membuat roti.
“Ah, ini makanan hits jaman dulu. Teh itu rotinya gak usah banyak kamu ambil. Ambil sebungkus aja. Sisanya taruh lagi ya,”perintah nenek. Aku menaruh sebungkus roti sobek di meja dan menaruh kembali sisanya ke lemari.
“Karina … Karina … kantung belanjaan tadi udah kamu keluarin semua isinya?” Nenek pergi menghampiri mama. Aku memperhatikan bahan- bahan yang tergeletak di atas meja. Roti sobek, mentega, s**u kental manis, s**u UHT, dan… apa ini? Bawang putih? Untuk apa bawang putih?
Nenek kembali sambil membawa sekantong plastik. Nenek mengeluarkan sebalok keju, satu bungkus besar tepung, dan satu papan telur. Nenek kembali menghitung kembali bahan yang ada dan mangut- mangut.
“Oke, udah lengkap agaknya semua. Yuk kita buat!”Ajak nenek semangat.
“Kita mau buat apa nek?”Tanyaku bingung. Bahan- bahan ini tampak tak biasa.
“Kamu lihat aja nanti!”jawab nenek yakin. “Sekarang kamu kupas ya bawang putihnya, nih segini.” Nenek memberikan segenggam bawang putih. Aku mengupas bawang putih itu menggunakan tangan.
“Ih lama pakai tangan. Nanti gak keburu. Nih kamu pakai pisau aja.” Nenek memberikan pisau kecil padaku. Aku menerimanya dan mencoba mengupas kulit bawang menggunakan pisau. Aku sangat amat jarang bantu masak, jadilah aku tidak terbiasa dengan tugas kupas mengupas ini. Aku tidak lihai menggunakan pisau. Akhirnya setelah berjuang sepenuh jiwa, semua bawang putih ini berhasil di kupas.
“Udah? Nah bagus. Sekarang kamu cincang ini bawang putihnya bisa?”Tanya nenek.
“Mmm… aku coba deh…” Aku mengambil pisau dan memotong satu siung bawang putih. Cincang itu … bentuknya jadi kotak begitu kan? Aku memotongnya dengan perkiraan hingga bawang putih itu menjadi bentuk kotak- kotak.
“Begini bukan nek?” Aku menunjukkan potongan bawang putih ke nenek. Nenek yang melihatnya langsung menepuk jidat.
“Haduuh … bukan begitu sayang …” Nenek mengambil pisau dari tanganku. “Sini nenek contohin. Lihat nih baik- baik! Duh anak gadis …” Nenek menggelengkan kepalanya.
“Pertama potong dulu kayak gini, potong dari sisi sini ..” Nenek mengiris bawang dari sisi kanan. “Kalau dari sisi sini wangi si bawang lebih keluar,”jelas nenek. Aku mangut- mangut mengerti. “Terus tinggal di cincang aja kayak gini.” Nenek mengetuk pisau dengan cepat. “Nah, ini namanya cincang. Gampang kan?” Aku mengangguk.
“Nah kamu coba lagi gih.” Nenek memberikan pisau. Aku menerimanya. Kuambil satu siung bawang dan mencoba memotongnya sesuai dengan contoh yang nenek tunjukkan tadi. Em .. agaknya begini kali ya …
“Begini nek?” Aku menunjukkan hasil cincangan di talenan.
“Nah, gini yang bener! Kalo bisa kamu potong bawangnya dulu semua, terus kamu cincang bareng semuanya.” Nenek memberikan saran. Aku mengangguk dan mengikuti saran nenek. Walaupun sedikit sulit, tapi ternyata ini lebih cepat dari yang kuduga.
“Kalau udah siap cincangnya, bawangnya itu kamu taruh di mangkuk ya,”perintah nenek. Aku mengambil mangkuk kecil dan menaruh cincangan bawang putih.
“Terus aku harus ngapain lagi nek?” Aku bertanya antusias. Ternyata seru juga bantu di dapur. Nenek memperhatikan meja.
“Hm… gak banyak sih … yang di perluin ya … em … kamu potong aja deh tuh roti, bagian atasnya aja. Jangan sampai kebelah sampai bawah, garis tipis gitu aja. Kayak gini.” Nenek memberikan contoh cara memotong roti yang benar. Aku mangut- mangut dan memotong saru roti seperti contoh yang di tunjukkan nenek.
“Nek ini semua rotinya?”Tanyaku.
“Iya semuanya”. Aku memotong roti lagi. Ah ini mah gampang. Sebentar juga selesai. Setelah selesai, aku menghampiri nenek. Barangkali ada yang bisa di bantu.
“Oh. Pas sekali. Udah selesai? Nenek lupa, harusnya tadi siapin keju dulu. Ini kejunya tolong kamu parutin ya.” Nenek memberikan sebalok keju dan parutan. “Gak usah banyak sih, yah segenggam kamu aja palingan,”jelas nenek. Aku memarut keju. Setelah memperkirakan agaknya ini pas segenggam, aku memberikannya pada nenek.
“Nah sekarang kamu masukin pelan- pelan kejunya kemari.” Nenek menunjukn panci di depannya dengan dagu. Aku masukkan perlahan keju ke dalam panci. “Sama s**u di sana juga, kamu tuangin pelan- pelan kemari ya.” Aku menuang s**u ke dalam panci perlahan. “Udah cukup Teh.” Aku berhenti menuangkan s**u. Kuminum s**u sisa yang tinggal sedikit.
“Nah tinggal tambahin merica dan garam …” Nenek menuangkan sejumput garam dan lada ke dalam panci, lalu mengaduk kembali adonan yang ada di panci. Setelah tampak sedikit berat untuk di aduk, nenek mematikan kompor. Nenek memasukan adonan ke dalam piping bag dan memotong sedikit ujungnya.
“Yuk sekarang tinggal buat sausnya aja,”ajak nenek. “Mana tadi bawang yang kamu cincang?” Aku memberikan mangkuk yang berisikan cincangan bawang. Nenek mencairkan mentega di teflon, lalu bawang cincang, daun cincang yang entah apa namanya, sejumput garam dan merica, dan sedikit s**u kental manis. Nenek terus mengaduknya hingga mengeluarkan aroma yang sedap. Setelah di rasa cukup, nenek mematikan kompor.
“Ayok kita isi rotinya!” Nenek mengambil piping bag dan menuangkan adonan ke dalam potongan roti dengan perlahan. Aku mengikuti nenek. “Pelan- pelan ya Teh, jangan sampai meleber. Nenek memperingatkan. Aku menuangnya dengan sangat hati- hati. Setelah di rasa cukup, nenek mengambil loyang yang telah di alasi dengan aluminium foil.
“Habis ini tinggal kita panggang. Kalau pake oven di rumah ini, kayaknya 10 menit juga cukup ya ..” Nenek memasukkan loyang berisikan roti ke dalam oven dan mengatur semuanya.
“Udah yuk, sambil tunggu kita beresin semuanya.” Nenek merapikan bahan- bahan yang berserakan di meja.
“Ini kita bikin apa sih nek?”Tanyaku penasaran. Sedari tadi aku mengikuti setiap step masakan, tapi masih tidak tahu akan memasak apa.
“Korean Garlic Bread, nama kerennya.”
***
Nenek mengoles roti yang baru panggang dari oven dengan saus cair. Roti itu tampak menggiurkan memang, tapi itu bawang. Bawang putih pula. Aku paling tidak suka dengan bawang, terutama bawang putih. Makanya mama sering menyebutku ‘Teh si vampir’.
“Nah, udah siap. Sok di cicip.” Nenek memberikan satu potong roti kepadaku. Wanginya memang tampak menggiurkan. Aku menatap nenek. Nenek tersenyum tipis. Aku menarik napas dan memakan roti itu dengan suapan terkecil. Aku mengunyahnya perlahan dan… waw. Aku terkejut.
“Gimana? Enak kan?”Tanya nenek. Aku mengangguk dan memberikan jempol.
“Kok bisa enak gini sih? Aku kirain bakal kentara banget rasa bawangnya,”Tanyaku. Aku memakannya lagi dengan suapan besar. Benar- benar enak dan melting di mulut.
“Bawangnya kan ga banyak, si bawang ini buat bikin gurih aja”jelas nenek. Aku mangut- mangut.
“Wah, garlic bread. Ibu buat?”Tanya mama yang baru saja masuk ke dapur.
“Iya, di bantu sama Teh,”jawab nenek.
“Biasanya kamu males bantuin masak.” Mama menarik kursi di sebelahku, duduk di sana dan memakan satu roti. Mama mengunyahnya dengan penuh senyum.
“Duh, kangen banget sama roti ini. Sama kayak yang pernah mama jual dulu,”ujar mama.
“Mama pernah jualan?”Tanyaku.
“Pernah, dulu. Kecil- kecilan aja sih, bareng tante Lila. Jualannya online karena lagi pandemi. Ya lumayanlah untuk nambah jajan. Kan jaman pandemi itu lagi masa sulit- sulitnya.” Mama bercerita.
“Memang jaman pandemi sesusah apa sih?”Tanyaku. Aku banyak dengar kabar kalau masa pandemi 20 tahun lalu itu merupakan masa- masa paling hectic. Tapi aku masih tidak terbayang akan se-hectic apa.
“Jaman itu keluarga mama lagi susah. Opa kamu baru saja pensiun, uang pensiun lama di cairkan. Mama kamu terkena seleksi PHK, jadi kami kesusahan. Hanya bertahan dengan sisa tabungan yang ada. Waktu itu mama masih sekolah online, tante Lila juga sama. Kami sama-sama butuh uang untuk membayar biaya sekolah. Karena itu, mama dan tante Lila milih jualan kecil- kecilan kayak gini. Lumayan untuk bantu jajan sendiri aja.” Mama menceritakan masa kecilnya.
“Masa itu memang sulit. Sulit untuk mencari pekerjaan, pengurangan karyawan dimana- mana. Memang mau gak mau sih, buka usaha sendiri untuk bertahan. Syukur kalau laku, kalau tidak ya tutup toko juga.” Nenek ikut bercerita. Meski mereka becerita seperti itu, aku masih tidak bisa merasakan akan seperti apa pandemi itu. Mungkin karena aku belum mengalaminya, dan kuharap aku tidak mengalaminya.
“Syukurlah pandemi udah selesai. Semoga gak ada lagi pandemi lagi, cukup yang lalu saja.”
****