Chapter 2

2674 Kata
"The, ayo makan! Ini nenek udah masak!"Panggil mama dari dapur. Aku melihat jam di kamar. Ternyata sudah jam 8 malam. Hm, memang begitu. Aku suka lupa waktu kalau udah utak- atik laptop. Aku mematikan keyboard hologram dan menaruh laptop di meja tanpa mematikannya. Buru- buru aku turun ke bawah. Aroma masakan nenek sudah tercium dari anak tangga. "Nenek masak apa nih nek?"Tanyaku menghampiri nenek. Nenek menaruh panci ke meja. "Nenek masak soto ayam kesukaan kamu, tanpa tulang ayam, suwiran ayamnya di pisah, ada perkedel dan telur rebus juga. Oh terus ini ada juga ayam goreng bumbu kunyit ya, ama sambel terasi juga." Nenek menjelaskan. Hei, jangan remehkan ingatan nenek. Meski nenek sudah berusia 75 tahun, tapi ingatan nenek masih sangat bagus. Apalagi yang berhubungan dengan keluarganya. Nenek juga masih sehat bugar, masih kuat untuk di ajak manjat pohon jambu di depan rumah, masih kuat untuk di ajak berkebun, dan masih rutin ikut senam setiap pagi bareng ibu- ibu PKK. "Kesukaan kamu nih." Mama menaruh sepiring ayam goreng bumbu kunyit di meja dapur. Wangi ayam bumbu kunyit buatan nenek memang paling enak. Aku segera menarik kursi, menuang nasi dan lauk ke dalam piring dan memakannya dengan lahap. "Pelan- pelan Teh, nanti keselek." Nenek mengingatkan. Benar saja, aku keselek. Aku menepuk- nepuk d**a. Nenek buru- buru menyodorkan minum. Aku meminumnya hingga makan itu berhasil melewati tenggorokan. "Makanya kalo di bilangin jangan bandel,"ujar mama. Aku nyengir dan kembali melanjutkan makan. Kali ini lebih pelan. "Itu si Dion kemana La? Belum pulang kerja jam segini?"Tanya nenek pada mama. Mama mengeleng kepalanya. "Agakya mas Dion terlambat pulang bu, mungkin lembur lagi,"jawab mama. Wajah nenek tampak kecewa. Meski nenek mampir ke rumah, tapi nenek sendiri jarang bertemu anaknya, yaitu papa. Papa terlalu sibuk dengan kerjaannya. Biasanya papa hanya libur saat perayaan hari besar saja, itu pun terkadang ada panggilan mendadak dari kantor. Lampu mobil menyinari dari jendela ruang keluarga. Ada mobil yang parkir di garasi. Ternyata papa pulang lebih cepat dari biasanya. "Sepertinya itu mas Dion." Mama pergi ke pintu, di susul oleh nenek. "Papa pulang ..."Salam papa sambil melepaskan sepatunya. "Dion anakku sudah pulang?"Tanya nenek. "Oh mamak. Udah sampai kok. Kenapa gak bilang Dion? Udah dari kapan mamak sampai?"Tanya papa. Papa salim tangan nenek dan mencium pipinya kanan- kiri, lalu merangkul nenek ke dalam. "Tadi jam 10-an gitu mamak sampai, perginya dari subuh. Yuk makan yuk, mamak masak banyak,"ajak nenek. "Wah, enak nih masakan mamak!" Papa kegirangan. Wajah girangnya berubah saat melihatku sedang sibuk makan dengan lahap di meja makan. "Dion bersih- bersih dulu ya mak,"pamit Dion pada nenek. Papa menatapku intens sambil berjalan ke kamar. "Althea, habis ini papa ada perlu samamu." Oh gosh! **** Semua sudah berkumpul di meja makan. Papa dan mama makan dengan lahap. Aku dan nenek yang sudah selesai makan hanya menyeduh teh yang nenek bawa dari kampung. Ah, minum secangkir the setelah makan malam memang nikmat. "Jadi Althea .." Papa berdehem. "Kamu sudah selesai lakuin hukuman yang di berikan pak Kepala Sekolah?"Tanya papa. Ah, aku sudah mengira papa akan membahas itu. Aku mengangguk pelan. "Memangnya Teh kenapa? Kok di hokum?"Tanya mama. "Ini ma, dia ketahuan telat. Dia telat dan entah masuk ke sekolah darimana, terus masuk ke kelasnya lewat jendela. Ketahuannya waktu absen ID Card sama pak Deno," papa menjelaskan. "Dan lagi, dia udah bolos kelas ternyata 3 kali. Ya maklum dong kalau kena hukuman,"lanjut papa. "Althea ..." Mama menatapku penuh selidik. Aku menundukkan kepalaku. Duh, combo nih kena omelannya. Bukannya menengahi, nenek malah tertawa terbahak- bahak. "Memang ya Teh ini anakmu bener ..."Gumam nenek. Aku menatap nenek bingung. Nenek menepuk pundakku. "Bener- bener mirip tingkah laku kalian. Kamu tau gak Teh, papamu ini jaman sekolah juga bandel banget,"cerita nenek. Aku mengernyitkan alis tak percaya. Tidak mungkin papa yang perfeksionis dan sangat patuh pada peraturan ini anak yang bandel. "Ih, masa sih nek?"Tanyaku tidak percaya. "Ih bener tau! Dulu ya, dari jaman sd tuh papamu males banget belajar. Bener deh. Males juga bikin pr, sampai nenek di panggil sama gurunya ke sekolah karena anaknya gak pernah kumpulin pr hampir satu semester,"cerita nenek. Aku melirik papa. Papa menutup wajahnya yang sudah tampak memerah. "Duh mamak ini..."Gumam papa pelan. "Terus nek terus?"Tanyaku makin antusias. Aku tak menyangka papa punya sisi lain yang tak terduga. "Iya, papamu begitu memang. Tapi anehnya, tiap nenek ambil raport itu selalu di bilang gurunya 'anak ibu ini pinter cuma bandelnya aja yang luar biasa', makanya rangkingnya tidak pernah keluar dari 10 besar. Padahal nenek sebelum ambil raport udah takut itu, udah males aja ambilnya. Males nanti malah dapat laporan jelek- jelek tentang papamu ini. Rupanya ga semua laporan guru- guru jelek." Nenek mengelengkan kepalanya. "Pokoknya ayahmu ini bandelnya banget deh, pokoknya selama jenjang sekolah itu ga pernah deh gak masuk BP. Seengaknya sekali aja gitu. Nenek juga pusing kalau di panggil ke sekolah terus, sampai akhirnya nenek serahin aja ke gurunya mau di hukum gimana aja deh anaknya bebas, asal jangan sampai sakit dan mati di tempat aja." Nenek bercerita panjang lebar. Aku tak menyangka papa pernah punya sisi bandel yang amat bandel banget. Aku tertawa kecil mendengar cerita nenek. "Ih mamak udah ah, malu aku ..." Papa berusaha menghentikan nenek. Wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. "Ih gaapa lah, sesekali. Biar Teh tau gimana papanya dulu,"bantah nenek. "Mama tau gak papa sebandel itu dulu?"Tanyaku pada mama. Mama mengeleng. "Mama masih gak nyangka sih, kirain papa anak penurut gitu. Soalnya selama mama kenal mah dia gak pernah bandel kayak yang nenek cerita,"jawab mama. "Ya jelaslah kamu gak tahu. Kalian baru ketemu waktu udah kuliah. Jaman kuliah Dion udah tobat. Tobat yang bener- bener tobat. Nenek aja kaget liat papamu seberubah itu. Padahal jaman sekolah dulu anak bandel ugal- ugalan, yang sering ngerokok di warung belakang sekolah, yang sering sok nantangin sekolah lain buat tawuran,"cerita nenek lagi. "Ya kan udah gede mak, udah tau mana yang baik mana yang buruk .." Papa menimpali. "Agaknya kamu berubah setelah bapak meninggal ya,"balas nenek. "Bapak?"Tanyaku heran. "Iya, kakekmu. Beliau meninggal awal papamu ini masuk kuliah. Biasa, sakit bawaan orangtua. Kata dokter karena keseringan merokok. Sejak itu papamu berhenti merokok dan jadi serius kuliahnya, dan akhirnya bisa sukses kayak sekarang." Suasana hening sesaat. Nenek menyeduh tehnya. Aku tidak menyangka kalau papa punya kisah sedih juga. Ia juga baru tahu kalau kakeknya sudah meninggal selama itu. "Oh ya, agaknya nenek masih ada simpan foto lama papamu di hp nenek. Bentar deh .." Nenek bangkit dari duduk. "Ih mak jangan ih, malu ..." Papa mencegat nenek. "Eh gak boleh gitu ya. Biar aja si Teh tau gimana bentukan bapaknya dulu." Nenek melesat masuk ke kamar tamu dan kembali tak lama kemudian dengan handphone di tangan. Saat ini, yang masih memakai handphone atau smartphone hanyalah para lanjut usia seperti nenek. Mereka malah kebingungan dengan teknologi sekarang, mr.communicator. Biasanya, mereka akan mengganti smartphone mereka jika sudah rusak. Selama masih bisa menangkap signal mah, masih amanlah itu. "Bentar ya, nenek liat dulu. Kayaknya ada deh ... nenek banyak nyimpan foto lama soalnya ..."Gumam nenek. Nenek fokus memainkan smartphone nya. Beliau menurunkan sedikit kacamata bacanya ke hidung. Papa menatap nenek harap- harap cemas. "Nah ini nih, jumpa nih ... nih papamu dulu nih." Nenek menyodorkan smartphone kepadaku. Tertera foto seorang anak laki- laki memakai seragam putih abu- abu, dengan kancing atas terbuka dan baju yang tak di masukkan ke dalam celana. Laki- laki itu memakai dasi di kepalanya yang berambut cepak. Tangannya membentuk tanda metal dengan gelang hitam di kedua tangannya. Tidak ada senyum, hanya pose menjulur lidah seperti anak emo. Aku tertawa terbahak- bahak melihatnya. "Apa- apaan ini, preman pasar masuk sekolah? Ya ampun ..." Aku kembali tertawa. Mana muka papa di situ lusuh banget lagi. Mama yang melihatnya pun tak kuasa menahan tawa. Wajah papa sudah merah total hingga ke telinganya. "Ya kan? Kayak preman pasar kan? Nenek juga bilang tuh kayak gitu ke papamu, tapi dianya malah bilang ini style yang keren." Aku semakin tertawa terbahak- bahak mendengar pernyataan nenek. Papa menutup mukanya malu, merasa habis di kuliti oleh nenek. "Udah ah, jangan ketawa lagi. Kasihan itu papamu udah merah banget mukanya." Nenek merelai. Aku terbatuk sebentar dan diam sesaat. Aku tak bisa berhenti nyengir mengingat foto jaman sekolah papa. "Ih mamak udah ah, itu kan dulu! Dion malu tau!" Papa merengek kesal. Nenek tertawa puas melihat wajah papa yang memerah. "Begitulah Dion, terkadang benar kata orang. Sifat anak itu cerminan orangtuanya. Mungkin Teh bukan cerminan kamu yang sekarang, tapi cerminan kamu di masa lalu. Kamu pernah seperti itu kan, harusnya kamu tahu bagaimana caranya menasehati dia dengan baik,"nasihat nenek. Papa mengangguk- angguk. "Tapi mungkin ini juga karena doa mamak yang terkabul. Dulu mamak pusing banget dengan tingkahmu itu, jadi mamak berdoa semoga nanti kamu punya anak yang nakal juga, biar ngerti serepot apa tanganin anak nakal!"Lanjut nenek. Tawaku kembali lepas. "Ih mamak nih!" **** "Beneran tuh papamu dulu gitu Teh? Gak nyangka aku!"Ujar Sheila di telpon. Aku mengangguk sambil tertawa. "Sama, aku juga ga nyangka. Lebih berandal papa daripada aku dulu ternyata." Aku kembali tertawa. "Eh btw, nenekmu lagi di rumah? Enak banget dong di masakin beliau. Jadi kangen dulu nenekmu sering masakin bubur kacang ijo enak banget,"ujar Sheila. "Kode amat sih Shei, kalo mau mah tinggal bilang. Nanti aku minta ke nenek deh ya buat bikin itu bubur kacang ijo." Terdengar suara tawa Sheila di ujung sana. "Peka banget emang nih anak! Thank you. Pokoke nanti aku mampir ke rumah yak, aku juga kangen sama nenekmu." Sheila memberitahu. "Datang aja, nenek masih kenal samamu kok,"jawabku. Dulu waktu kecil, mama sempat kerja. Karena papa dan mama sibuk, jadinya nenek yang menjagaku. Nenek sempat tinggal di rumah selama beberapa tahun. Ia dan Sheila adalah teman sedari kecil. Karena orangtua Sheila keduanya juga bekerja, jadi ia sering di titipkan ke rumah. Nenek mah tidak masalah. Nenek malah senang mengurus anak- anak. Nenek sering memasak bubur kacang ijo untuk kami berdua. Cemilan sehat di sela jam makan, katanya. "Oh ya Teh, kamu ada nengok di grup angkatan belum? Katanya besok libur loh. Karena pak kepsek lagi ada perlu gitu deh." Sheila memberitahu. "Lah pak kepsek yang ada perlu, kenapa bimbelnya yang di liburin?"Tanyaku heran. "Gatau aku. Udahlah, terserah pak Aqsha aja. Dia yang punya kok,"jawab Sheila asal. "Nanti kalo udah bosan, keknya di tutupnya bimbel itu sama dia,"timpalku. Sheila tertawa kecil. "Agaknya sih begitu ya. Suka- suka dia aja,"jawab Sheila. Tawa keduanya pecah. Oh, mungkin kalian sedikit bingung dengan bimbel itu. Kenapa kok ada kepala sekolahnya? Ya, ini adalah bimbel, yang sistemnya agak sama seperti sekolah. Karena itu ada kepala sekolah dan staff lain. Aku juga merasa aneh dengan hal itu, kenapa ya tidak di ubah menjadi sekolah. Padahal sistemnya sudah sama persis seperti sekolah. "Teh jangan lama tidurnya. Tidur terus, jangan begadang." Mama memperingati dari pintu. "Iya ma,"jawabku. "Udah The, udah malem. Yuk tidur. Night Teh." Sheila pamit. Belum sempat aku menjawab salamnya, Sheila mematikan telpon lebih dulu. ".. Night juga Shei ..." Aku menaruh mr.communicator di meja. Kunyalakan lampu tidur, menutup seluruh tubuh dengan selimut dan tidur. Alaram menyala kencang. Alaram kali ini canggih, karena ia di lengkapi dengan robot, jadi bisa bergerak dan 'membangunkan' dengan paksa. Alaram ini akan berubah menjadi robot dan memukulimu hingga kamu terbangun. Untuk mematikan alaram ini, cukup menepuknya sekali saja. Dengan mata setengah mengantuk, aku melirik jam alaram yang sudah berubah menjadi jam biasa lagi. Masih jam 3 pagi. Aku mengucek mataku pelan. Aku lupa mengatur jam alaram menjadi jam 6 pagi. Alaram jam 3 pagi biasanya aku setel saat belajar persiapan ujian dan ketika mempersiapkan lomba coding beberapa bulan lalu. Aku pergi ke kamr mandi dan mencuci mukaku. Ah, ya sudahlah. Sudah terlanjur bangun. Aku membuka laptop dan berjelajah di software coding. Mungkin ada baiknya mempersiapkan diri untuk ikut lomba coding and robotic yang masih setengah tahun lagi. Terkantuk- kantuk, aku mempelajari coding itu. "Bot, I want coffee,"perintahku pada robot kecil di pojok kamar. Tak ada respon. Aku menghela napas. Sepertinya robot ini masih belum bisa berfungsi. Masih ada bagian yang kurang. Ah, nanti pagi dia harus membawanya ke bengkel robot. Mataku tak kuasa menahan kantuk dan akhirnya tertidur di depan laptop. **** "Selamat pagi Althea ..."sapa sebuah suara. Aku mengerjapkan mataku. Suara siapa ini..? Aku bertanya dalam hati. Mataku sedikit terbuka dan melihat robot berdiri di depanku. Mataku terbelak kaget dan langsung terduduk di tempat. "Lah loh, kok ..." Aku gagap. Masih tidak percaya kalau robot bisa berdiri di depannya dan berbicara. "Selamat pagi Althea ..."sapa robot lagi. "Ah, eh, pagi ..."jawabku terbata. Aku memutari tubuh si robot. Kupegang tubuhnya, memeriksa setiap sudut bagian si robot. Robot itu tampak risih dan mengibas tanganku pelan. "Althea ... ini kopi yang anda minta. Selamat menikmati ..." Ia mengambil secangkir gelas di meja sebelah tempat tidur. Aku menerima kopi itu dan terdiam. Ya ampun, ini kan perintah yang dia kasih semalam. Baru sekarang robot ini melaksanakannya. Aku menyeruput kopi itu dan terkejut dengan rasanya. Kukira rasanya akan sangat pahit, karena ini kopi hitam yang tidak biasa kuminum. Suprisingly, ternyata rasanya lumayan. Masih ada rasa manis yang sedikit tertimpa dengan rasa pahit. Pahitnya tidak begitu pekat, cocok untuk di nikmati. “Wow, that’s good. Kok bisa ...?” Aku kembali bertanya tanya. Robot ini berhasil memberiku kejutan. “... Mencari data cara membuat kopi yang enak ...”jawab si robot. Aku semakin terkejut. Tak menyangka ternyata robot ini bisa mencari data dari internet. Dia sudah bisa bergerak dan berbicara saja sudah cukup hebat menurutku. Apalagi bisa mencari data seperti. Fix sih ini robot bisa aku bawa ke perlombaan robot provinsi nanti! “...Thanks bot...” Aku kembali menyeruput kopi. Ah, ini kopi paling segar yang pernah kuminum seumur hidupku. Derap langkah kaki terdengar dari luar sana. Mama mendobrak pintu kamarku. Wajah beliau tampak panik. Nenek menyusul di belakang mama. “Teh, kamu gak apa apa?”Tanya mama sangat khawatir. Mama memelukku erat. Aku mengernyitkam alis. Ada apa ini? “Aku gak apa ma. Memangnya ada apa?”Tanyaku heran. “Teh, kayaknya semalam ada maling masuk ke rumah,”jawab nenek. Aku terbelak kaget. “Hah? Kok ...?” Aku kaget dan bingung. Bagaimana bisa maling masuk ke rumahnya? Rumahnya kan di lengkapi dengan lock key yang sangat ketat. Untuk membukanya di perlukan sensor pupil mata. Jendela juga di tutup rapat dan tidak akan bisa di buka dari luar. Mama menangis sesengukan sambil terus memelukku. “Syukurlah kamu gak apa Teh ... Mama udah takut banget tadi ...”ujar mama. “Anu ma, kenapa mama bilang rumah kita masuk maling? Kan lock key pintu gabisa sembarangan di buka. Gimana bisa?”Tanyaku bingung. “Mama juga gatau... Hiks ... Tapi ...” Mama semakin sesengukan. Aku mengernyitkan alis semakin bingung. Tangis mama tidak menjawab pertanyaan sama sekali. “Agaknya kamu harus liat ke bawah dulu Teh,”ajak nenek. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar kamar. Aku merangkul mama yang masih terus menangis. Aku kaget melihat setiap anak tetangga terdapat bercak kecoklatan. Aku melongo begitu tiba di bawah. Ya ampun, benar kata nenek. Kayaknya ada maling masuk ke rumah. Ruang keluarga berantakan, bantal sofa berhamburan dimana mana. Lampu meja pecah berantakan di lantai. Semakin kaget saat melihat dapur. Dapur benar-benar seperti kapal pecah. Bumbu-bumbu yang mama simpan di toples jatuh berserakan, westafel yang meluap, pecahan gelas bertebaran, gel pendingin di kulkas yang entah gimana bisa keluar sedikit serpihan gelnya. “Ya ampun! Kenapa bisa gini? Apa ada yang hilang ma?”Tanyaku panik. “Itu anehnya Teh. Gaada barang berharga yang hilang, hanya kopi dan gula yang hilang,”jawab nenek. “Hah? Kopi dan gula? Kok aneh banget...” Aku terdiam sesaat. “...Agaknya aku tahu pelakunya...”Gumamku. Kopi dan gula, mungkin saja pelakunya adalah ... “Althea, ini kopi Anda..” Robot datang menghampiri dan menyodorkannya cangkir kopi yang masih banyak. “Maaf nek, ma, kayaknya maling yang kalian maksud itu si robot buatanku...” Aku menjelaskan. Nenek menepuk jidatnya dan geleng-geleng kepala. Mama menepuk pundakku keras. “Karena robotmu yang salah, kamu yang bereskan semua ini ya,”perintah mama dengan tatapan tajam. Aku mengangguk patuh. Berabe kalau mama marah. “Iya ma iya” *******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN