Untuk pertama kalinya, Ara tidak masuk. Timnya sudah hampir panik, karena kebingungan siapa yang akan mengendalikan mereka di tengah sibuknya jadwal. Namun, mereka langsung bernapas lega ketika Dany muncul di kantor tidak mengenakan pakaian santainya. Itu artinya Ara sempat menghubunginya, dan meminta gadis itu untuk mengambil alih.
Ada aturan tidak tertulis di tim pertama Hello, Wedding! yaitu, jika Ara tidak berada di tempat. Maka segala keputusan dan kendali akan dipegang oleh Dany. Meski terkenal galak, terutama pada divisi lapangan yang kerap kali mendapat omelannya. Anggota timnya itu mengakui, kalau Dany paling bisa berkepala dingin di tengah kekacauan nanti dibanding rekannya yang lain.
“Teh hangat! Teh hangat!”
Gian yang mendadak masuk ke dalam ruangan, seraya berteriak membuat rekannya mengalihkan pandang. Jika ia datang dan berseru seperti tadi, itu artinya ia baru saja mendengarkan gosip hangat dari karyawan lain. Sebuah tanda yang sempat membuat Tio kebingungan pada awalnya, karena tidak mengerti maksudnya. Namun, ia sekarang menjadi orang pertama yang mendorong kursinya mendekat ke bilik Gian.
“Apa nih, siapa yang ketahuan pacaran?” tanya Haidar bersemangat, bersiap mendengar gosip terbaru yang dibawa Gian. Ia tau betul gosip di kantornya takkan jauh-jauh dari dua rekan kantor yang diam-diam berpacaran atau sekedar rekan mereka yang tiba-tiba menyebar undangan pernikahan.
“Bukan, ini soal mantan suaminya Mbak Ara,” jelas Gian sedikit mengecilkan suaranya, sekali-kali melirik dua ruangan bos besar yang bergabung dengan ruangan tim mereka. “Kemarin tuh Mbak Ara lembur, kan ya. Terus ada anak tim 3 yang balik lagi ke kantor ngambil berkas yang ketinggalan kan.”
“Bentar, tim 3 kan ruangannya di bawah lantai kita. Kok bisa tau Mbak Ara lembur?” sahut Kayla kebingungan, karena timnya sendiri tidak tau kalau semalam ketua timnya lembur. “Bisa dipercaya nggak nih?”
“Makanya bentar dulu, belum selesai ceritanya dik Kayla.” Gian mencubit pipi Kayla gemas. “Jadi berkas yang dia ambil itu, ada di ruang divisi anggaran kan. Satu lantai sama kita. Nah, pas dia nunggu lift mau turun. Kedengaranlah suara tawa gitu dari ruangan kita, ya udah dia ngintip kan. Mau tau siapa yang masih di kantor, ternyata ada Mbak Ara sama....”
Sengaja Gian menggantungkan kalimatnya, membuat rekan setimnya itu gregetan sendiri. “Buruan Gi, siapa?” tanya Tio tak sabaran. Bapak 1 anak itu, sepertinya sudah tak sabar untuk tau siapa sosok ‘mantan’ suami Ara yang kerap kali mengirimkan bunga di hari peringatan perceraian mereka.
“Sama Bang Bayu.”
Setelahnya seluruh rekan timnya berseru kecil, seraya menjentikkan jari. Menyerukan betapa mereka sudah menduga-duga mantan suami Ara. Kecuali Rio dan Kayla yang sama-sama mengernyitkan dahi, tak paham akan euforia yang digaungkan timnya itu.
“Memangnya dengan nemanin Mbak Ara lembur aja, jelas terbukti kalau Bang Bayu mantan suaminya?” tanya Kayla, tak paham kenapa hal biasa itu bisa menjadi bukti kuat akan dugaan mereka.
“Mungkin kamu nggak perhatiin Kay, tapi Mbak Ara tuh nggak suka kalau lembur ditemanin. Harus sendiri, soalnya kalau ditemanin dia nggak fokus. Apalagi dari cerita Gian, mereka ketawa-tawa kan? Itu artinya Mbak Ara sengaja pecah fokus dari pekerjaannya untuk ngeladenin Bang Bayu. Kalau sama kita-kita mah mana mau dia begitu, itu artinya Bang Bayu spesial,” jelas Gian, memberi tau watak ketua tim mereka yang sepertinya belum dipahami oleh Kayla.
“Ya, kan mereka temenan. Kalau temenan dekat seperti mereka, wajar dong Mbak Ara sautin.” Ucapan Kayla itu hendak ditentang lagi oleh Gian, namun perempuan itu jadi termenung. Membenarkan ucapaan Kayla, jika sudah berteman dekat akan ada pengecualian. Apalagi Ara pasti amat sangat dekat dengan dua boss mereka, hingga ia ikut mendirikan WO bersama Bayu dan Wira.
“Setuju sih, lagian kayaknya mereka nggak cuman berdua deh.” Rio ikut angkat bicara ketika sedari tadi hanya menyimak. “Soalnya pas pulang kemarin, gue ketemu Mas Wira di parkiran. Katanya mau ngelembur juga.”
“Nahloh, makin bingung.” Dany menggelengkan kepalanya kecil, ketika rekan timnya itu sama-sama terdiam. Sibuk membuat dugaan-dugaan lain di kepala mereka.
“Dan, mending kita nanya Mbak Ara deh.” Usulan Gian berhasil membuat Dany menggeleng kuat. Jelas tak setuju akan ide gila Gian.
“Udah gila lo, nanya begituan ke orangnya langsung?” sindir Dany tak percaya, ia melirik rekannya yang lain berharap bahwa mereka akan menolak usulan tersebut. Namun, kursinya malah diputar dan didorong bersamaan kembali ke mejanya.
“Nggak papa, Mbak Ara tau kita sering ngomongin dia,” dukung Haidar penuh keyakinan. “Dia malah suka kalau kita penasaran siapa mantan suaminya.”
“Iya Dan, lo lupa Mbak Ara sempat ngomong sama kita kalau mereka nggak keberatan kita nanyain dia soal mantan suaminya? Cepat tanya, mumpung masih jam makan siang.” Gian menatap Dany penuh permohonan.
Diam-diam Dany tak habis pikir, mengapa ketua timnya itu tak langsung saja memberi tau siapa mantan suaminya. Ia malah menikmati rekan kantornya menduga-duga siapa mantan suaminya. Bahkan sukarela menjawab pertanyaan tentang suaminya, kecuali pertanyaan yang melibatkan ‘Siapa?’. Sejauh ini mereka hanya punya 2 petunjuk besar, penyuka kopi dan pengoleksi sukulen.
Dany: Mbak, aku mau nanya dong
Awalnya Dany hendak meletakkan ponselnya ke atas nakas, berniat menunggu balasan dari Ara. Namun, siapa sangka kalau ketua timnya akan membalas begitu cepat.
Ara: Apa Dan?
Dany: Gini Mbak, aku sama anggota tim lain. Mau minta tambahan clue.
Ara: Clue? Ini maksudnya soal ‘mantan’ ku ya?
Ara: Hahaha, kupikir kalian udah nggak nyari-nyari lagi. Yaudah apa?
Dany: Dapet petunjuk baru soalnya Mbak hehehe
Dany: Semalem, Mbak lembur di kantor ditemanin sama mantan ya?
Setelahnya Ara tak membalas apa-apa, tak tau kalau anggota timnya dibuat penasaran setengah mati akan jawabannya. Dany yang awalnya enggan untuk bertanya, jadi ikut penasaran akan jawaban yang diberi Ara nanti. Padahal bar statusnya, Ara sedang online namun perempuan itu tak mengatakan apa-apa lagi. Ketika rekan kerjanya sudah mulai kembali ke posisi karena jam makan siang yang akan segera habis, Ara mengirimkan jawabannya.
Dany: Hahaha iya
Refleks seluruh anggota tim 1 menahan napas, akan jawaban Ara. Mereka lantas kompak menoleh ke arah dua ruangan bos besar mereka yang bersisian. Tangan Dany bergerak, menunjuk dua ruangan bernuansa berbeda di depannya bergantian.
“Berarti antara Mas Wira atau Bang Bayu.”
***
“Ini seriusan Mas, kita bakal dapat baju seragam juga?”
Haidar tersenyum kecil, kala Kayla berulang kali bertanya padanya. Menanyakan perihal klien yang akan mereka datangi, berniat untuk membuatkan seragam untuk para panita dari kantor mereka. Anggota tim mereka yang lain sudah diukur bajunya, hanya tersisa mereka yang belum. Itulah kenapa mereka yang diutus untuk bertemu klien mereka di kantornya, kebetulan klien mereka sedang mengukur baju untuk teman-teman kantor.
Berhubung masih baru, Kayla jelas terkejut ketika tau kliennya berinisiatif memberi mereka seragam untuk panitia. Berbeda dengan klien lain yang biasanya memberi dress code sesuai konsep acara mereka. Sebenarnya hal seperti ini memang ada, namun jarang terjadi. Wajar kalau Kayla terkejut.
“Iya, kita juga datang sekalian buat nyatat siapa aja panitia penerima tamu dan pembawa acara dari pihak mereka,” jelas Haidar mengingat kalau kliennya satu ini memilih sendiri penerima tamu dan pembawa acara. Mereka hanya meminta band untuk mengiringi acara pernikahan.
“Oh iya, Mbak Dany juga ngingetin buat ambil playlist lagu yang mereka pilih buat acara nanti.” Kayla mengangguk paham, menekan tombol lantai dimana kantor klien mereka berada. Ia melirik kartu nama kliennya yang tertera nama sebuah firma hukum. Jika dilihat dari letak kantor mereka, sepertinya firma tempat kliennya bekerja ini cukup bergengsi.
Setelah tiba di lantai tempat kantor kliennya berada, mereka langsung disambut sebuah nama firma hukum yang ditempel besar-besar di dinding. Suasana kantor itu lebih sepi dari yang mereka duga. Hanya ada seorang resepsionis yang langsung menggiring mereka ke sebuah ruangan, setelah memberi tau tujuan mereka datang.
“Wih kantornya bagus banget Mas,” bisik Kayla, takjub sendiri akan interior kantor tersebut. Melihat sikapnya, siapa pun takkan tau kalau perempuan itu adalah anak bungsu dari seorang pengusaha besar di tanah air. Mungkin, bertahun-tahun tak pulang ke rumah membuatnya melupakan kemewahan yang ia rasakan sebelumnya.
“Dari sini lurus aja Mas, masuk ke pintu kaca di depan sana. Kebetulan orang-orang kantor ngumpul di ruang rapat semua,” ujar sang resepsionis tersenyum kecil. Haidar mengangguk paham, tak lupa mengucapkan terima kasih lantas menyeret sepupunya yang begitu terpesona akan interior apik kantor klien mereka.
“Fokus, kita datang buat rapat,” ucap Haidar mengingatkan, memberi waktu pada Kayla untuk membenahi penampilannya sesaat. Mereka jelas tak boleh terlihat berantakan di depan kliennya nanti.
Sesudah memastikan Kayla rapi, Haidar mengetuk pintu kaca di depannya. Ia lantas membuka pintu, dan langsung dihadapkan dengan ruang rapat yang terisi banyak orang. Kedatangannya itu, refleks membuat suara tawa yang sempat terdengar jadi mereda.
“Selamat siang, kami dari pihak Hello,Wedding! yang akan melakukan rapat hari ini. Saya Haidar.” sapa Haidar ke kliennya yang kebetulan berdiri tak jauh darinya. Ia mengangguk kecil, diikuti Kayla yang refleks tersenyum.
“Saya Kayla,” lanjut Kayla menjabat tangan kliennya itu sopan. Ketika matanya bergerak melihat ke arah lain, ia dibuat membeku ketika menyadari sosok berkemeja abu-abu yang duduk di deretan kursi terdepan. Sosok yang ikut menatapnya terkejut, jelas tak menyangka akan pertemuan mereka.
Dari sekian banyak kebetulan, Kayla tak mengharapkan bertemu Arsen kembali di tempat kliennya bekerja.
***
Sejatinya Arsen menepati permintaan Kayla untuk tak lagi muncul di depannya. Itulah kenapa ia memperpanjang masa menetapnya di Inggris, dan langsung mengambil S2 di sana. Pandangan kecewa Kayla hari itu, membuatnya sadar bahwa ia tak bisa lagi mengubah hubungan mereka kembali seperti semula. Dua orang sahabat dekat yang senantiasa hadir di segala kondisi.
Pulangnya ke tanah air, menjadi pemicu pertemuan-pertemuan tak terduga antara dirinya dengan Kayla. Ia datang ke reuni, karena perkataan teman sekelasnya bahwa Kayla tak pernah datang ke acara tersebut. Namun, siapa sangka kalau hari itu akan menjadi pengecualian bagi Kayla.
Ketika bertemu dengan Kayla, Arsen menyadari kalau Kayla terlihat begitu berbeda dari seseorang di dalam ingatannya. Tatapannya yang biasa ceria dan penuh tawa, berubah menjadi tatapan yang terkesan dingin dengan kabut duka yang masih terpantul dari kedua matanya. Bibirnya memang membentuk sebuah senyum lebar, namun tawanya tak lagi terkesan lepas. Seolah ada sesuatu yang menahan dirinya sendiri.
Reuni kala itu, memicu Arsen berharap agar mereka bisa berbicara sesaat. Membicarakan kabar masing-masing atau mungkin menyelesaikan masalah mereka yang belum selesai. Sayangnya, dari cara Kayla berbicara dengannya Arsen sadar bahwa gadis itu tak pernah baik-baik saja. Bahkan setelah tahun-tahun yang terlewat antara mereka. Luka itu masih ada, bersama duka yang ikut menetap.
Arsen tak menyangka bahwa WO yang dipakai teman kakaknya, sekaligus orang yang menemani sang kakak membuka firma hukum tempatnya bekerja, adalah tempat Kayla bekerja. Ia jelas terkejut, ketika melihat sosok Kayla memasuki ruang rapat dengan senyum lebar serta beberapa map di tangan. Setaunya Kayla pergi ke sekolah memasak, entah bagaimana ceritanya alih-alih bekerja menjadi koki di restoran mewah, ia memilih bergabung dengan sebuah WO dan menjadi perencana pernikahan.
“Bukannya lo bilang, Kayla pergi ke sekolah memasak? Kenapa dia malah kerja jadi wedding planner ?” Pertanyaan dari sang kakak, dibalas gelengan pelan oleh Arsen. Ia diam-diam melirik Kayla yang sedang berdiskusi dengan teman kakaknya itu di ujung meja. Tak terlihat terganggu akan keributan rekan kerjanya, yang heboh sendiri cuman karena mengukur baju mereka.
Bahkan hingga hari ini, Arsen masih tak bisa memahami garis-garis takdir yang selalu menuntunnya ke hal tidak terduga.
TBC