Sebelas: A Sadly Surprise

1659 Kata
Banyak orang mengira, menjadi salah satu pendiri Hello, Wedding! membuat Ara mudah mengoper pekerjaannya ke orang lain agar dirinya tak pernah pulang telat. Pada nyatanya, mereka salah. Alih-alih mengoper pekerjaannya, ia lebih sering mengambil alih beberapa pekerjaan dari rekan kerjanya sendiri. Terutama pekerjaan dari rekannya yang baru saja bergabung dengan Hello,Wedding! seperti Kayla misalnya. Menjadi perencana pernikahan, ikut serta menuntut Ara untuk senantiasa berpikir cepat. Dalam sehari ia biasa menghadapi pertanyaan aneh bahkan keluhan dari para kliennya tentang garis besar acara yang sudah ia dan tim buat. Tak jarang ia dihadapkan dengan klien yang memintanya mengubah konsep acara di tengah-tengah persiapan. Untungnya kapasitas kesabaran Ara cukup besar, hingga bisa menghadapi klien iseng seperti itu dengan kepala dingin. Ara mengalihkan perhatiannya dari layar laptop, ketika seseorang meletakkan secangkir teh hangat ke atas meja. Ia mendongak, lantas tersenyum lebar ketika mendapati siapa pelakunya. Sang mantan suami. “Aku kira, kamu udah pulang,” ujar Ara setelah mengumamkan terima kasih yang disambut dengan usakan lembut di rambutnya. Ia memutar kursi, menatap pria yang kini sudah duduk di kursi Haidar. “Belum, aku harus periksa beberapa laporan dari tiap divisi. Sama Fandi nyuruh buat aku nggak kemana-mana, biar gampang minta persetujuan apa pun katanya.” Pria tersebut tersenyum kecil, lantas menjentikkan jarinya ketika mengingat sesuatu. “Oh iya katanya Nita dan Dion datang ke sini tadi? Kenapa?” “Menurutmu ngapain lagi sih mereka kesini? Ya mau pakai jasa kitalah, mau nikah mereka.” Ucapan Ara membuat sang mantan suami mengerutkan dahi, sedikit tidak percaya akan ucapannya. “Mereka mau nikah? Oh wow, aku nggak nyangka hari ini akan datang juga,” gumam mantan suaminya dengan ekpresi tak percaya. Teringat sosok adik tingkat mereka yang senantiasa bertengkar layaknya anjing dan kucing, pada saat itu ia bahkan tak percaya kalau keduanya sudah berpacaran dari tahun ke dua SMA. Sekarang, mendengar bahwa mereka akan nikah benar-benar mengejutkannya. “Iya, mau liat nggak konsep yang mereka kasih ke aku?” tawar Ara yang segera menarik lembar catatan sementara sang mantan suami mendorong kursinya mendekat. “Tadinya mereka mau serahin semua ke ibu mereka hingga ke konsep segala macam, terus aku nasehatin deh. Taunya pas ngasih konsep juga kayak gini, sampai Kayla heran sendiri.” “Seperti yang kuduga, mereka nggak mau ribet.” Sang mantan suami tertawa pelan, melihat beberapa detail acara yang sedikit berbeda dari acara pada umumnya. Entah bagaimana Ara dan timnya merealisasikan konsep itu. Ara tak tau saja, kalau esoknya seisi kantor akan kembali berspekulasi tentang siapa sang mantan suami. *** Kayla menghembuskan napas berat, menatap kemacetan di depannya dengan malas. Ia tak pernah bisa terbiasa dengan kemacetan ibukota yang kerap kali membuatnya gregetan sendiri. Kalau bukan karena ia mengantar Dany pulang ke kosannya, ia takkan mau berkendara di jam pulang seperti ini. Ia sudah jengah menunggu. Tanpa sengaja mata Kayla melihat sebuah tenda penjual nasi goreng, di dekat deretan ruko. Didukung rasa lapar, tanpa pikir panjang ia segera membelokkan mobilnya ke deretan ruko tersebut. Memilih untuk melahap nasi goreng, seraya menunggu kemacetan sedikit terurai. “Mas, pesan 1 ya. Pedas, sama makan disini." Setelah memesan makanannya, Kayla menarik sebuah kursi di dekatnya lantas duduk di sana. Tak menyadari pembeli lain yang kini memusatkan pandangan padanya. “Jauh amat lo beli nasi goreng sampai sini.” Sapaan itu mengagetkan Kayla, ia menoleh lantas mendapati sosok Haidar yang sedang melahap kwetiau gorengnya. “Lah Mas Haidar ngapain disini?” “Ya gue makan?” balas Haidar ikut mengernyitkan dahi bingung. “Harusnya gue yang nanya lo ngapain disini? Jauh amat nyari nasi goreng sampai ke daerah tempat gue tinggal.” Ucapan Haidar membuat Kayla melihat ke sekeliling, sebelum meringis kecil. Baru menyadari kalau tempat yang ia datangi, cukup dekat dari kontrakan tempat Haidar tinggal. Wajar saja pemuda itu ada disini. “Aku habis nganterin Mbak Dany pulang, kan tadi dia ke apart ku dulu buat nanya detail tawaran guru privat dari temenku.” Tangan Kayla meraih garpu Haidar yang menganggur, lantas memasukkan satu suapan kwetiau goreng sepupunya itu ke dalam mulut. “Oh iya kemarin kenapa mendadak pulang ke Surabaya?” “Arini mau nikah.” Kunyahan Kayla sontak terhenti, lantas membulatkan matanya. Ekspresi sepupunya itu membuat Haidar tertawa kecil, sebelum melahap makanannya lagi. “Lo taulah adat keluarga gue. Nggak boleh adik nikah sebelum kakaknya nikah, jadi Arini kehalang sama gue.” “Terus gimana dong? Jadi Mbak Arini putus?” tanya Kayla panik, ia ingat betul bagaimana manisnya hubungan Arini dan Radit. Sebenarnya ia sudah menduga kalau adik Haidar itu, suatu saat nanti akan mendahului sang kakak untuk menikah. Sayangnya, keluarga Haidar begitu ketat akan prinsip adik tidak boleh ‘melangkahi’ kakaknya dalam urusan pernikahan. Tak seperti keluarganya yang sedikit lebih longgar . “Pilihannya sekarang cuman 2, gue segera nikah atau gue balik ke Surabaya dan ambil alih kantor.” Haidar menggaruk tengkuknya merasa tak nyaman, akan 2 pilihan yang harus ia putuskan segera. Ia tak mungkin membiarkan adiknya menunda niat baik, namun ia juga enggan meninggalkan pekerjaannya saat ini. “Liat 2 bulan ini deh, kalau ternyata nggak ada yang bisa gue kenalin ke orangtua. Yaudah gue bakal resign.” Diam-diam Kayla meringis, meragukan keputusan sepupunya itu. Saat ini bahkan Haidar tak dekat dengan perempuan manapun, kecuali rekan kerjanya sendiri. Terlalu nyaman akan pekerjaannya saat ini. Semoga saja Haidar bisa dekat dengan seseorang, dan tak perlu meninggalkan kehidupannya saat ini. *** Semenjak pulang dari Surabaya, Vinka menyadari ada sesuatu yang sedang disembunyikan Kayla darinya. Tepat ketika dirinya tiba lebih awal dari jadwal seharusnya, sahabatnya itu nampak terkejut dan segera mengubah ekspresinya yang semula sendu. Ia tau, di hari peringatan kematian Erika mereka akan sama-sama bersedih. Terbayang akan kenangan mereka dulu sebelum Erika pergi jauh dan takkan pernah kembali. Pada awalnya, Vinka ingin langsung menanyakan kepada Kayla apa ada sesuatu yang terjadi selama dirinya pergi. Namun, Kayla tak pernah memberikan kesempatannya untuk bertanya. Tindakannya itu benar-benar membuat Vinka penasaran setengah mati. Ia bahkan sudah bertekad jika Kayla tiba nanti, dan sahabatnya itu bersikeras menghindar. Dia akan menelpon Yudith, bertanya apa lagi yang terjadi selain kemunculan Arsen kembali. Suara bel apartemennya yang berbunyi, membuat Vinka mengernyitkan dahi. Bingung kenapa sahabatnya itu tak langsung masuk, dan memilih membunyikan bel. Apa mungkin Kayla mampir ke minimarket dan belanja cemilan dalam jumlah besar, hingga tangannya penuh. Tanpa kecurigaan, Vinka memasang tudung hoodie kebesarannya lantas membuka pintu. “Lo beli apa-“ Ucapan Vinka langsung terhenti, ketika mendapati sosok yang berdiri di depannya. Seorang pria yang menatapnya sendu, dengan tangan bergetar. Bertahun-tahun sudah berlalu, namun Vinka masih bisa mengenali siapa sosok di depannya. Tak menyangka bahwa pria itu akan berani menampakkan diri di depan wajahnya. Dia Aryo. “Sejak kapan lo pulang?” Sisa-sisa kewarasan Vinka, berhasil membuatnya menahan diri untuk tidak melayangkan satu atau dua tendangan ke sosok yang sempat dibuatnya babak belur bertahun-tahun lalu. Ia tak bisa membiarkan karirnya hancur kalau ada orang lain yang mendapati dirinya menghajar seseorang. Tidak akan membiarkan pria di depannya menghancurkan hidupnya, seperti ia menghancurkan hidup Erika. “4 hari lalu,” jawab Aryo lirih, kini balas menatap Vinka penuh rasa bersalah. “Vin tolong, biarin gue ketemu keluarga Erika.” “Buat apa? Permintaan maaf lo, udah basi buat mereka. Telat.” Vinka mencengkram erat pegangan pintunya, lantas menatap Aryo tajam. “Tolong, pergi dari sini. Sebelum gue bikin lo babak belur lagi.” “Gue datang ke makam Erika.” Ucapan Aryo, menghentikan gerakan Vinka untuk menutup pintu. Ia membeku, lantas menatap Aryo dengan kemarahan yang semakin merangkak naik. “Ada Yudith dan Kayla waktu itu, gue mau minta maaf-“ Aryo sontak bungkam, ketika Vinka mengacungkan ujung payung ke depan wajahnya. Memberi peringatan, jika ia meneruskan ucapannya gagang payung itu akan menghantamnya segera. “Pergi,” ucap Vinka datar, tak ingin mendengarkan apapun perkataan Aryo selanjutnya. Inikah hal yang dirahasiakan Kayla? Kepulangan Aryo? Seiring Aryo yang melangkah mundur, suara lift terbuka di ujung lorong terdengar. Menampakkan sosok Kayla yang terkejut akan pemandangan di depannya. Untung saja tak ada satupun tetangga mereka yang membuka pintu, kalau ada sudah dipastikan sahabatnya itu akan tersandung masalah cukup besar. Aryo menghela napas, lantas menatap Vinka penuh rasa bersalah. “Maaf,” bisiknya sekali lagi sebelum berlalu pergi. Meninggalkan Vinka yang menggertakkan gigi di ambang pintu, menahan luapan emosinya. Matanya lantas menatap Kayla penuh rasa kecewa. “Gue benci sama lo.” Setelah berucap seperti itu, Vinka menjatuhkan payungnya lantas bergegas masuk ke dalam kamar. Kayla menghela napas, segera menyusul sahabatnya masuk ke dalam apartemen. Dari segala hal kemungkinan yang ada, Kayla tak mengharapkan Aryo akan berani menunjukkan diri di depan Kayla. Ketika pria itu tau, resiko apa yang akan dihadapinya. *** Jakarta, 5 tahun yang lalu “Vin, maaf nih pakaian yang mau dipromosiin masih belum dateng. Jadi rada ngaret dari jadwal nggak papa kan?” Vinka yang asyik menonton drama melalui ponselnya, segera mengalihkan pandang ke temannya itu. “Iya nggak papa, nggak ada kelas juga kok gue,” ujarnya memberi senyum kecil lantas semakin menyamankan posisi duduknya. Hari ini Vinka mendapat tawaran dari salah satu teman kampusnya, untuk menjadi model dari sebuah clothing line milik temannya. Ini sudah ketiga kalinya ia mendapat tawaran menjadi model, baru sadar bahwa ia cukup menikmati pekerjaan sambilannya itu. Lumayan penghasilannya bisa menambah uang jajan. Walau ia tau betul, orangtuanya tidak keberatan jika ia ingin uang jajan tambahan. Ia mengernyitkan dahi, ketika sebuah pesan masuk dari Erika. Sebuah alamat dengan pesan, jika sahabatnya itu tak kunjung menghubungi setelah 2 jam, untuk segera menyusulnya ke sana. Sebuah pesan yang cukup aneh, karena seingatnya Erika sedang disibukkan serangkaian ujian seperti Yudith. “Maaf-maaf baru datang!” Atensi Vinka teralih, ketika temannya masuk ke dalam studio seraya kesusahan membawa setumpuk baju yang sepertinya untuk pemotretan. Vinka menatap layar ponselnya sesaat, penasaran akan maksud sahabatnya itu namun tak ada pesan yang masuk lagi. Ia menghela napas, lantas mengembangkan senyum dan segera menghampiri temannya. Bersiap untuk melakukan pemotretan, dan melupakan resah yang mendadak memenuhi dadanya. Ia tak tau, jika saat itu Erika sedang digiring menuju kematiannya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN