Sepuluh: Nasib

1945 Kata
Jika ditanya apa Dany menyesal mempunyai keluarganya saat ini, maka ia akan dengan jelas menjawab tidak. Ketika semua orang berpikir ia tipikal orang yang merutuki nasib yang menimpa keluarganya, nyatanya Dany lah yang paling bersyukur terlahir di keluarganya saat ini. Kepergian mendiang ayahnya, ia pahami sebagai sesuatu yang memang akan ia hadapi cepat atau lambat. Ia juga paham, ketika semua tanggung jawab itu dipindahkan ke pundaknya. Dany dituntut untuk tak lagi menjadi perempuan yang bermanja atau merutuki nasib. Awal dari Dany mengemban semua tanggung jawab itu, ia menangis hampir tiap malam. Mendapati kalau mendiang ayahnya pergi karena sebuah kecelakaan, disusul fakta bahwa sang ibu koma hingga berminggu-minggu, membuat fisik maupun mental Dany lelah. Belum lagi pihak keluarga ayahnya yang senantiasa mendesak dirinya untuk menuntaskan pinjaman sang ayah kepada mereka, yang bahkan tak ia ketahui benar atau tidaknya keberadaan pinjaman itu. Seolah belum cukup dengan semuanya, dunia semakin berperilaku kejam dengan membuat ibunya lumpuh setelah tertidur berminggu-minggu. Bersyukurlah ketiga adiknya yang masih berusia dini kala itu, seolah paham akan apa yang dihadapi. Membuat mereka lebih menurut meski bertanya-tanya akan apa yang terjadi dengan kedua orang tua mereka. Setelah ayahnya pergi, ia bekerja di beberapa kafe dan restoran cepat saji. Memenuhi kebutuhan keluarga dan kuliahnya. Sayangnya, keluarga pihak ayahnya skeptis akan kemampuannya membiayai kuliah sendiri. Jadi sebelum Dany dan keluarganya meminta bantuan mereka soal biaya kuliah, ia dikeluarkan dari universitas yang ia masuki susah payah. Merelakan mimpinya menjadi seorang arsitek. Bertahun-tahun setelahnya ia mendapat tawaran dari kakak tingkatnya yang masih peduli, untungnya ia cukup aktif di organisasi dan selalu menjadi koor dekor hingga katingnya masih mengingat kemampuan menggambarnya. Maka melalui tawaran kakak tingkatnya, Dany pergi ke Jakarta mendatangi sebuah ruko sederhana yang di dalamnya penuh akan orang-orang yang setengah gila menghadapi tenggat waktu. Mereka-mereka yang menjadi bos nya hingga saat ini. “Oy, belum pulang?” Dany mengalihkan pandang dari layar monitor besar , untuk mendapati Wira bersandar pada dinding biliknya. Bosnya itu tersenyum lebar, namun terlihat jelas ada lingkar hitam samar di bawah matanya. Wira menarik kursi dari bilik Haidar, lantas duduk di sana. “Kamu tuh kalau butuh bantuan soal rancangan, minta tolong aja. Privilige langsung, karena kamu karyawan kita yang pertama.” Memang dibanding karyawan lain, hanya ia dan Haidar yang terbilang cukup dekat dengan para pendiri WO mereka. Ia dekat dengan Wira, karena berada di divisi yang sama. Sementara Haidar lebih dekat dengan Bayu karena selera humor mereka yang cocok. “Mas aja jarang di kantor, gimana mau minta tolong?” sindir Dany lantas terkekeh pelan, memberi sentuhan terakhir di rancangannya sebelum memusatkan pandang pada bosnya itu. “Nggak papa kerjaan banyak, yang penting uang lemburan lancar.” “Oh iya kemarin gimana? Tetap kamu bayar jadinya?” tanya Wira seraya memutar-mutar kecil kursinya. Dany jadi heran bagaimana bisa rekan kerjanya yang lain berpikir Wira punya aura menyeramkan, ketika faktanya ia lebih sering bersikap konyol daripada Bayu. Bosnya yang punya segudang tingkah ajaib. “Ya tetap Kak, aku juga nggak tau gimana lawannya. Kemarin aja mereka udah bawa-bawa adikku yang lagi tes masuk sama ibu. Udahlah dibanding pusing, aku bayar aja.” Dany menarik senyum getir. “Dibanding adikku nanti malah berakhir kayak aku.” “Uang kemarin, kamu balikinnya santai aja,” ujar Wira menenangkan walau ia tau Dany takkan pernah mau mendengar kata-katanya. “Bukan uang perusahaan kok, uang pribadi” “Jangan Mas, aku yang makin nggak enak karena Mas, Bang Bayu sama Mbak Ara udah banyak bantu aku selama ini,” tolak Dany jelas merasa tak enak. “Aku pulanginnya nyicil boleh kan?” “Udah kubilang, santai aja.” Wira tertawa kecil. “Katanya semalam kamu nginap di tempat Ara? Tempat kamu ada kasus lagi?” Reflek Dany meringis, ia tau pasti Ara akan memberi tau Wira dan Bayu perihal masalahnya. “Ya gitulah Mas, tau sendiri tempat rawan kayak gitu. Makannya murah.” “Nanti kucariin tempat yang bagus buat kamu ngekos.” Wira memasang wajah tak ingin dibantah ketika Dany hendak berkata-kata. “Dan pasti murah.” “Mas aku nggak enak kalau dibantuin kalian terus,” jelas Dany tak nyaman kala petinggi kantornya begitu sering membantu. “Kalau kamu nggak enak sama kita-kita, ya tinggal balas aja dengan bertahan disini,” balas Wira enteng lantas tertawa senang. “Udah yuk balik, Mas anter ke apart Ara.” Namun alih-alih ikut bangkit, Dany malah menggaruk tengkuknya. Bingung hendak menjelaskan niatnya kepada Wira. “Kayaknya aku nginep disini aja Mas.” “Loh kenapa? Ara malah nungguin kamu loh di apartnya,” Wira melirik ke penjuru ruangan tim 1 yang sudah begitu sepi. Hanya di ruangan inilah lampu masih menyala, sementara ruangan lain di lantai yang sama sudah padam berjam-jam yang lalu. “Nggak enak Mas, apart Mbak Ara mewah banget terus aku dijajanin terus.” Pikiran Dany melayang ke kejadian semalam. Mengingat sebanyak apa makanan yang dipesan Ara untuk makan malam mereka. “Kalau kamu disini, memangnya tidur dimana?” tanya Wira, ia memang tau kalau Dany seringkali menginap di kantor. Namun ia tak tau sedetail apa. “Tuh di bawah meja,” jelas Dany menunjuk meja panjang yang biasa dipakai timnya untuk rapat atau makan siang bersama. Ia lalu membuka laci terbawah, menunjukkan selimut bermotifnya pada Wira. “Nggak, ayo balik.” Wira langsung menutup kembali laci berisi selimut tadi, dan bergegas bangkit. Tingkahnya itu membuat Dany tersenyum kecil, meraih baju ganti di lacinya lantas memasukan ke dalam tas. Segera menyusul Wira, sebelum bosnya itu menyeretnya lebih dulu untuk pulang. Bekerja dan bertemu dengan orang-orang seperti bosnya, adalah satu dari sekian banyak hal yang Dany syukuri. Hal yang membuatnya sadar, bahwa dunia setidaknya masih beramah tamah dengannya. *** “Jadi Mbak, kami akan mempercayakan semuanya. Dari pakaian, hingga dekorasi bisa kalian tentukan dan diskusikan dengan kami saja.” Perkataan orang tua kedua calon mempelai mereka, membuat Ara dan Kayla bertukar pandang. Sebenarnya mereka sudah sering menghadapi kasus, di mana kedua orang tua mempelai lebih mendominasi akan pilihan acara. Namun, baru kali ini mereka menghadapi kasus di mana kedua mempelai benar-benar menyerahkan semua urusan pernikahan mereka kepada orang tua. Bahkan posisi duduk kedua calon mempelai, saling berjauhan, dan tidak terlalu peduli akan pembicaraan ibu mereka yang begitu antusias memberi gambaran pesta. Mereka lebih memilih abai, dan fokus pada ponsel masing-masing. Kayla bahkan sudah menduga-duga kalau kliennya kali ini, merupakan hasil perjodohan. “Baiklah, jadi intinya harus mengusung perpaduan adat Jawa dan Palembang ya.” Tak seperti Kayla yang berusaha menutupi kebingungannya, dengan pura-pura mencatat di kertas. Ara malah begitu fokus, menarik selembar formulir untuk data diri dan kisaran dana yang dikeluarkan kliennya nanti. “Ibu bisa mengisi formulir ini dan pergi ke bagian administrasi, karena kami akan lebih sering menghubungi kalian.” Kedua ibu itu mengangguk paham, menepuk pundak anak masing-masing lantas keluar dari ruangan seraya berbincang. Terlihat jelas mereka begitu antusias akan pernikahan putra-putri mereka. Selepas perginya kedua ibu itu, hanya hening yang menyeruak. Kedua calon mempelai di hadapan mereka masih fokus pada ponsel. Tak tau saja kalau Kayla begitu gatal ingin bertanya, apa pernikahan keduanya hanyalah formalitas untuk kedua keluarga tanpa adanya cinta? “Wah, aku nggak nyangka kalian berdua nikah setelah 9 tahun pacaran.” Ucapan Ara berhasil membuat Kayla menoleh padanya dan refleks membulatkan mata. Tak menyangka kalau ketua timnya itu mengenali klien mereka. Namun sepertinya, daripada terkejut kalau klien anehnya ini kenalan Ara, ia lebih terkejut akan fakta bahwa kliennya sudah berpacaran begitu lama. “Ya gitu deh Kak, kita sama-sama udah dikejar buat nikah. Sementara kita masih nyaman untuk pacaran gini aja,” kini calon mempelai pria mengalihkan pandang dari ponselnya. “Soalnya aneh aja nggak sih? Kita udah bareng-bareng dari kecil terus sekarang mau nikah? Duh bosen banget.” “Dih, terus kenapa nggak nyari yang lain aja?” tanya sang perempuan dengan senyum meledek. “Kita kan udah sepakat walau pacaran, pas salah satu dari kita bosen dan ketemu sama yang lebih baik ya putus aja. Taunya udah 9 tahun aja.” Kayla tercengang di tempat duduknya, bingung akan pembicaraan kedua kliennya yang mendadak terlihat begitu mengenal satu sama lain. Membuatnya mengingat nasihat awal Ara di hari pertamanya bekerja, untuk tak berspekulasi sendiri akan klien mereka. Buktinya semua dugaannya menjadi salah besar. “Jadi kalian udah ngikutin aja kemauan orang tua gitu?” tanya Ara seraya tertawa kecil. “Ayolah, ambil inisiatif sendiri. Walau keinginan kalian menikah karena tuntutan orang tua akan kejelasan hubungan kalian. Setidaknya pas pesta nanti, berjalan sesuai keinginan kalian.” “Memangnya lo bakal dengarin kita Kak? Biasanya WO bakal nurut aja kata-kata dari orang tua, lebih condong akan pendapat mereka bukannya?” balas sang perempuan tertawa kecil, ragu akan usulan Ara yang notabene kakak tingkatnya di kuliah dulu. “Tenang aja, disini kita lebih mementingkan pendapat calon pengantin kok. Kalian bebas mau kasih ide apa aja, silahkan diskusi sama Kayla ya.” Kayla yang ditunjuk dadakan sontak gelagapan. Ia bisa melihat kalau ketua timnya itu tersenyum menyakinkan. “Aku kedepan ya, ngulur waktu biar ortu kalian nggak ikut campur. Tapi, pulang dari sini kalian harus bilang soal konsep pernikahan yang kalian mau.” Setelahnya Ara berdiri, hendak keluar ruangan. Bersamaan dengan calon mempelai pria yang kini bergeser duduk berdekatan dengan calon istrinya. Mereka lantas bersamaan meletakkan ponsel ke atas meja, memfokuskan diri pada Kayla yang baru saja membuka lembar baru catatannya. Namun, ia dibuat tercengang akan usulan pertama yang keluar dari kliennya. “Bisakan Mbak kalau nikahan nanti kita pakai sepatu kets?” *** “Lo ngitung apa sih?” Haidar akhirnya buka suara, jengah juga melihat Dany sibuk menghitung sesuatu di selembar kertas di sela-sela melahap nasi kotaknya. Pria itu memang sudah kembali tadi pagi, dan baru saja kembali dari studio sebelum bersiap menemani kliennya mengecek venue acara. “Lo nggak tiba-tiba ikut kerja jadi bagian anggaran kan?” “Gue ngitung biaya les buat adik ketiga gue,” jelas Dany tenang. “Dia nggak sepintar adik gue yang pertama dan kedua, jadi harus dapat pelajaran tambahan.” “Adik lo yang bungsu? Bukannya dia ngerawat ibu lo, kalau dia les siapa yang gantiin?” “Les privat kok, salah satu teman gue di Bandung mau bantuin. Kebetulan biayanya cukup murah.” Dany mengernyitkan dahi, terlihat tidak puas akan hasil perhitungannya. “Tolong jangan ambil pekerjaan sambilan lagi Dany,” ujar Haidar mengingatkan kondisi rekannya itu di awal-awal pindah ke Jakarta. Kelelahan karena mengambil begitu banyak pekerjaan untuk memenuhi kehidupan keluarganya di Bandung dan ia sendiri. “Jangan paksain tubuh lo lagi, mau dirawat lagi?” “Nggak, duitnya sia-sia.” Kini Dany memasukkan suapan terakhir kedalam mulutnya. “Tenang aja, palingan gue ambil sambilan jadi guru privat aja. Kalau lo tau siapa yang butuh, tawarin gue ya.” “Tawarin apa?” Kedatangan Kayla yang begitu tiba-tiba, refleks membuat Haidar tersedak sendiri. Kaget karena Kayla yang biasanya ribut memasuki ruangan tim, sekarang malah duduk di sebelahnya seraya membuka nasi kotaknya. “Mbak Dany nyari kerjaan tambahan?” “Iya Kay, buat nambah-nambah.” Dany mengangguk, membenarkan ucapan Kayla. “Kamu ada lowongan nggak? Mungkin jadi guru privat?” Pertanyaan Dany, membuat Kayla terdiam sejenak. Gadis itu menopang dagu, seraya mengunyah makanannya. Jengah karena Kayla tak kunjung menjawab, Haidar berucap “Dia mah mana tau ada lowongan-“ “Ada Mbak, kebetulan temanku nyari guru buat keponakannya. Kalau nggak salah, satu kelas 2 SD sementara adiknya TK,” potong Kayla tiba-tiba membuat Haidar membungkam ucapannya. “Kalau Mbak mau tau detailnya, nanti pulang bisa mampir ke apartku ketemu dia.” Dany terdiam sebentar, mencoba memikirkan tawaran dari Kayla. Ia awalnya hendak menolak, karena sadar bahwa ia tak terlalu akrab dengan anak kecil. Namun, ketika matanya menatap perhitungan pengeluarannya ia berubah pikiran. “Yaudah Kay, nanti aku ikut kamu ya pulangnya.” TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN