Semakin dewasa dirimu, kamu akan sadar bahwa dunia selalu penuh akan kejutan. Dunia selalu memberi kejutan kepada penghuninya, baik ataupun buruk. Namun dari semua kejutan yang bisa dunia berikan padanya Vinka tak mengharapkan kematian sahabat terbaiknya secara tiba-tiba. Erika pergi dengan cara yang tak pernah sedikitpun ia pikirkan akan dialami sahabatnya. Sahabatnya pergi karena malpraktik aborsi.
Jika ditanya siapa yang paling merasa bersalah dari kepergian Erika, maka Vinka lah jawabannya. Hingga detik ini ia masih menyalahkan diri sendiri atas kepergian sang sahabat. Andai ia lebih cepat datang ke klinik itu, andai ia menyadari masalah yang sedang dihadapi Erika, andai ia tidak terlalu sibuk, andai ia lebih peka. Pada akhirnya ia hanya bisa berandai tanpa pernah bisa membawa sang sahabat kembali ke pelukan.
TBC
Sibuk di hari peringatan kematian Erika, bukanlah hal yang ia suka. Vinka selalu melarang di beri pekerjaan di 2 acara, saat reuni dan peringatan kematian Erika. Namun, apa boleh buat manajernya lupa mengingatkan pihak agensi tentang hal tersebut. Maka disinilah Vinka, terjebak di tengah-tengah pemotretan dari salah satu brand terkenal untuk katalog pakaian mereka musim ini.
“Sarapan dulu Vin, takutnya nanti gak sempat.” Laras meletakkan sepotong roti, dan segelas kopi dari salah satu kafe terkenal. Ia mengangguk, membuka bungkusan roti sementara manajernya kembali pergi entah kemana. Mungkin mengurusi jadwalnya selama 6 jam ke depan di studio ini.
“Nanti fotografernya siapa Mbak? Pak Andi?” tanya Vinka seraya melirik penata rambutnya melalui cermin besar. Ia memang sempat mendengar ada pergantian fotografer dari hari sebelumnya, itulah kenapa nama fotografer lain ia sebutkan. Mengingat Pak Andi cukup sering menjadi fotografer untuk perusahaan yang memakai jasannya kali ini.
“Bukan Mbak, kita juga nggak tau siapa. Orang baru,” jawab penata rambutnya dengan nada medoknya yang masih terbawa meski tak memakai bahasa daerah.
“Selamat pagi.”
Kedatangan dua orang ke dalam ruang rias secara tiba-tiba, membuat Vinka lekas bangkit. Ia tau betul siapa perempuan yang baru saja masuk itu, Arini, orang yang duduk di kekuasaan tertinggi perusahaan yang sedang bekerja bersamanya kali ini. Orang yang rela pergi menyusulnya ke Milan untuk menawarkan kerja sama, sebelum ia disibukkan dengan sederet tawaran pemotretan hingga syuting.
“Maaf, jadi harus menganggu waktu-waktu penting kamu Vinka.” Setelah berbasa-basi, Arini tersenyum penuh permintaan maaf. Sepertinya ia mengetahui, kalau hari ini Vinka tak pernah menerima jadwal apapun selama karirnya di dunia hiburan.
“Tidak papa, Mbak Arini. Ini hanya miskomunikasi kecil antara agensi saya dan perusahaan Mbak,” ujar Vinka, tidak enak juga sampai Arini harus meminta maaf langsung padanya. Padahal ini semua murni miskomunikasi antara ia dan agensinya sendiri.
“Oh kamu lagi makan ya?” tanya Arini menyadari ada potongan kue yang masih tersisa banyak di atas meja rias. “Yaudah aku cepat aja ya, aku mau ngenalin fotografer hari ini ke kamu.”
Ketika Arini memiringkan badannya, ia dapat melihat seorang pria yang mengenakan kemeja dan sebuah topi. “Ini fotografer kamu hari ini namanya-“
“Loh Mas Haidar?”
“Kamu?” ucap Haidar ikut terkejut melihat perempuan yang duduk di sebelahnya tempo hari, adalah model yang akan dipotretnya hari ini. Sialnya ia melupakan nama perempuan di depannya itu.
Ekspresi Haidar yang cukup lucu, berhasil membuat sudut bibir Vinka terangkat ke atas. Menyadari kalau Haidar mengenali dirinya, namun melupakan lama. Ia lantas membalas jabatan tangan yang diulurkan pria itu lebih dulu. “Saya Vinka, kalau Mas lupa nama saya.”
“Jadi kalian udah pernah ketemu?” tanya Arini, menatap Vinka dan Haidar bergantian. “Bagus dong, berarti kalian nggak perlu terlalu canggung lagi.”
Untuk ketiga kalinya mereka bertemu lagi secara kebetulan, atau itu yang Haidar kira.
***
“Katanya kalau kebetulan ketemu sampai 3 kali, berarti jodoh.”
Ocehan Gian berhasil membuat Dany merinding tanpa sebab. Ia menatap perempuan yang seumuran dengannya itu tak setuju. “Lo masih percaya gituan?” sinisnya seraya memasukkan sesuap besar ketoprak yang ia beli dari hasil menitip dengan Tio tadi.
“Ini pepatah dari jaman dulu, kalau bisa bertahan sampai sekarang itu artinya memang terbukti ke banyak orang,” balas Gian tak kalah serius, seolah tak paham kalau Dany berusaha menyindirnya.
“Kamu ketemu siapa lagi memangnya? Sampai kepikiran gitu?” Kini giliran Rio bersuara. Ia yang awalnya hanya menyimak dari biliknya, gatal juga untuk tak ikut serta pembicaraan Gian dan Dany. Lebih tepatnya Gian berceloteh, karena Dany tak menanggapi perkataan rekannya itu selain perkataan tadi. Terlalu sibuk melahap makanannya.
“Ada Kak, aku ketemu cowok ganteng gitu udah 2 kali.” Kedua mata Gian berbinar antusias. Sesuai dugaan perempuan itu pasti punya niat terselubung akan topik pembicaraan yang diangkatnya secara tiba-tiba. “Kayaknya dia jodoh ku deh.”
“Teorinya harus ketemu 3 kali, sementara lo baru 2 kali ketemu. Berarti dia bukan jodoh lo,” sahut Dany tenang seraya memasukkan bungkus ketopraknya yang sudah habis kembali ke dalam plastik. Tak memperdulikkan Gian yang sudah cemberut akan kata-katanya.
“Oy, lo nggak makan?” Dany mengetuk meja Kayla yang masih terdiam di biliknya sejak jam makan siang. Tak seperti biasanya, perempuan itu lebih pendiam dari biasanya bahkan ketika tiba tadi matanya sembab.
“Iya nanti ku makan Mbak,” balas Kayla tenang, sebelum kembali terdiam seraya menatap sederet nomor di layar ponselnya. Dany mengangkat bahunya, mencoba tak ikut campur lebih dalam.
Dany meraih gelasnya di atas meja, berniat mengambil air dingin di pantri. Seingatnya tadi pagi, pekerja kebersihan kantornya sudah mengisi ulang sirup yang sudah habis. Namun, ia membulatkan matanya ketika mendapati seseorang di dalam pantri. Pria yang taksinya ia rebut tempo hari. Siapa namanya? Fandi? Bukankah ia baru bekerja di kantornya mulai besok?
Alih-alih menyindir Dany seperti apa yang ia pikirkan, pria itu hanya menghela napas lantas kembali fokus pada teko elektrik di depannya. Sepertinya pria itu sedang menunggu air di dalam teko mendidih, entah untuk membuat apa.
Sesekali mata Dany melirik Fandi, sementara ia membuat es jeruk. Ia dapat melihat Fandi menuangkan satu kopi kemasan ke dalam gelasnya, sebelum menuangkan air panas dari teko elektrik. Setelahnya pria itu sedikit celingukan, mungkin mencari sendok. Dany segera meraih laci kecil di sudut lemari, mengambil sebuah sendok dari dalam sana.
“Ini sendoknya,” ucap Dany seraya menyodorkan sendok kepada Fandi yang kini menatapnya heran.
“Terima kasih,” jawab Fandi menerima sendok dari tangan Dany. Kebetulan ia memang mencari sendok untuk mengaduk kopinya.
“Saya minta maaf soal kejadian tempo hari.” Ucapan Dany membuat Fandi mengalihkan pandang kepada gadis itu. Wajahnya memang terlihat datar, namun Dany tak tau saja Fandi berusaha keras menahan tawa. Apalagi kalau bukan karena kemeja pink yang dipadu dengan celana training hijau andalannya. “Saya sadar kalau apa yang dilakukan waktu itu salah.”
“Tidak masalah,” balas Fandi tenang, tak lagi merasa kesal. Memang ia hanya mengharapkan kata maaf dari Dany, tak ada hal lain. “Saya juga minta maaf kalau berucap kasar kemarin.”
Setelahnya hening, di antara mereka tak ada lagi yang berbicara. Dany menggaruk tengkuknya lantas terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana canggung yang mendadak menyeruak. “Kalau begitu saya kembali ke kantor ya Pak Fandi, sekali lagi saya mohon maaf.”
Fandi mengangguk, lantas memperhatikan Dany yang berjalan keluar pantri. Bersamaan dengan Bayu yang memasuki pantri dengan wajah kusut, ia sempat menyapa Dany yang melangkah terburu-buru meninggalkan pantri.
“Dih ekspresi macam apa itu?”
Sindiran Bayu, membuat Fandi meneguk kopinya sekilas lantas melayangkan tatapan tak mengerti. “Senyum lo aneh,” ujar Bayu tenang seraya mengeluarkan botol air dingin dari dalam kulkas. “Lo nggak godain karyawan gue kan?”
“Nggak, Bayu.” Fandi mengelak tenang, ia menepuk pundak Bayu sesaat sebelum beranjak kembali ke kantornya. Meninggalkan Bayu yang kini mengerutkan dahi dalam, sadar ada yang aneh.
“Dasar aneh.”
***
Arsen sadar ada yang salah ketika Yudith menelponnya pagi tadi dengan nada tak ramah. Ia tau betul kuasa macam apa yang dimiliki pria yang sempat menjadi sahabatnya di masa putih abu itu. Jadi, ia tak lagi bertanya-tanya darimana Yudith mendapatkan nomor ataupun kantornya.
Ketika sore tiba, ia menyadari kalau Yudith menahan diri untuk tidak langsung melayangkan pukulan padanya di detik pertama bertemu. Tangannya mengepal erat, dengan pandangan tajam yang membuat siapa saja refleks menjauhkan diri. Takut, pria berstatus dokter itu akan mengamuk kapan saja. Namun, bagi Arsen ia bisa melihat sedih yang tercampur aduk dalam kemarahannya. Yudith tetap sama, begitu mudah dibaca layaknya buku terbuka.
“Lo ngasih tau ‘dia’ di mana makam Erika?”
Bertahun-tahun mengenal Yudith, Arsen paham kalau pemuda itu tak pernah berbasa-basi. “Gue nggak pernah kasih tau dia di mana makam Erika, hingga detik ini,” balas Arsen penuh keyakinan.
Arsen bisa melihat, tatapan Yudith berubah sepersekian detik. Sepertinya sisa-sisa kewarasan pria itulah yang masih bisa mengontrol emosinya. Jika tidak, mungkin Arsen akan diumpati tepat di depan beberapa rekan kantornya yang lain. “Jangan
bohong.”
“Gue nggak pernah hubungin dia lagi semenjak-“
“Lalu kenapa tadi pagi Aryo datang ke makamnya?”
Pertanyaan Yudith, berhasil membuat ekspresi Arsen mengeruh. Semuanya seketika menjadi jelas, alasan kenapa Yudith menghubunginya, dan segala kemarahan yang diarahkan pada dirinya. “Kenapa dia bisa disini?”
“Gimana ceritanya gue tau? Di sini yang sepupunya itu lo, harusnya lo tau.” Yudith mengusap wajahnya kasar. “Gue mohon. Keluarganya, gue, Vinka bahkan Kayla masih belum maafin apa yang dia lakuin ke Erika. Jadi tolong minta dia jangan muncul di hadapan kita.”
Baru saja Arsen hendak membela sepupunya itu, ia kembali teringat kesalahan apa yang dibuat keluarga sepupunya itu. Masalah yang semakin memperbesar salah paham di antara ia dan sahabat-sahabatnya itu. Ia menghela napas, lantas mengangguk kecil.
“Keadaan Kayla gimana?”
Ucapan Arsen menghentikan gerakan Yudith yang hendak membuka pintu ruangannya. Yudith menoleh lantas menatap Arsen yang hanya berekspresi datar, pria itu masih sama. Begitu handal menyembunyikan semua perasaannya.
“Menurut lo gimana reaksi Kayla ketemu orang yang menjadi penyebab sahabat baiknya meninggal?” Pertanyaan sarkastik Yudith membuat Arsen terdiam. Sadar kalau Arsen memahami maksudnya, Yudith membuka pintu bersamaan dengan kakak Arsen yang hendak mengetuk pintu.
“Yudith?” bisik Candra, masih mengenali siapa sosok di depannya meski pertemuan terakhir mereka bertahun-tahun lalu. Ia melirik sang adik yang di dalam ruangan, terlihat tak baik-baik saja. “Kamu ngapain disini?”
Yudith tak menjawab, ia mengangguk kecil sebelum akhirnya keluar dari ruangan. Meninggalkan Candra yang tak mengerti, kenapa sahabat adiknya yang bertahun-tahun tak pernah muncul bahkan terdengar. Hari ini muncul, dan terlihat tidak ramah.
“Itu tadi Yudith kan?” tanya Candra bergegas menghampiri adiknya yang masih terdiam dengan mata tertutup. Seolah semua emosi yang berusaha ia tahan, sedang mencoba untuk keluar. Namun, Arsen tetap begitu ahli mengendalikan emosinya.
“Kak Candra,” bisik Arsen pelan lantas menatap kakaknya dengan pandangan datar. “Apa kakak nyembunyiin kalau Aryo pulang ke Indonesia?”
Maka tak ada yang lebih mengejutkan, dari sesuatu yang coba kau rahasiakan. Malah diketahui oleh seseorang yang coba kau tutupi kebenarannya.