Delapan: Tak Terduga

1620 Kata
“Jadi, Fandi orang yang kamu rebut taksinya waktu itu?” Dany menggembungkan pipinya kala Ara tertawa mendengar curhatan rekan kerjanya itu. Sayang sekali, ketika Dany kembali ke ruangannya sosok Fandi sudah tidak ada. Pria tinggi itu mendadak dapat panggilan untuk kembali ke kantornya. Jadi lah, ia kembali tak bisa mengucapkan kata ‘maaf’ meski sudah berniat tadi. “Yaudahlah, tenang aja. Nanti hari Rabu kamu bakal ketemu dia lagi kok, kan firma akuntansinya kerjasama dengan kita. Jadi beberapa bulan ke depan, kamu bisa ketemu dia kok. Nanti dia dan timnya, pakai ruangan kosong di sebelah.” Ara menepuk-nepuk pundak Dany menenangkan. “Jadi cewek yang bikin dia kesal tempo hari tuh, rekan kerjaku sendiri? Lucu banget deh, dunia ternyata sekecil itu. “Lucu darimana sih Mbak? Serem iya,” sahut Dany tak setuju. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. Mengistirahatkan badannya setelah menyelesaikan deretan rancangan pelaminan dan panggung. Merasa lega, karena beban pekerjaannya sedikit berkurang meski membuatnya harus pulang telat. “Aku dengar dari Wira, kamu ngajuin pinjaman ke kantor lagi. Kenapa?” Sebenarnya Dany sudah menduga ada alasan ketua timnya itu sukarela menemaninya lembur hingga semua rekan satu tim mereka pulang semua. Ketua timnya itu sangat tau, masalah apa yang sedang dihadapinya. Ia yang bergabung di tahun pertama Hello, Wedding! terbentuk membuatnya cukup dekat dengan para pendiri. Termasuk Ara. “Salah satu adik ayahku, nuntut uang yang dulu pernah Ayah pinjam untuk dibalikin. Katanya dia mau nambah buat buka usaha.” Dany tertawa getir, mengingat tingkah saudara ayahnya yang tak pernah berhenti memeras keluarganya bahkan ketika sang ayah sudah tiada. “Aku juga nggak tau sebenarnya itu beneran utang ayah, atau cuman akal-akalan mereka. Tapi daripada mereka nyentuh pendidikan adik-adikku kayak aku kemarin, ya lebih baik kubayar.” “Jadi kemarin kamu ke Bandung sekalian buat bayar?” tanya Ara, selalu dibuat terdiam akan masalah yang dihadapi rekan satu timnya itu. Ia cukup takjub Dany bisa berpegang teguh, bahwa ketiga adiknya tak boleh ikut serta bekerja selama belum menyelesaikan pendidikannya. “Ibu kamu gimana kabarnya?” “Ibu sehat kabarnya, kemarin ada acara kumpul keluarga dari pihak ayah. Aku nggak bisa biarin Ibu disalahin terus soal kematian ayah, dan hidup kita yang sekarang,” jelas Dany kini menghela napas. Ia lantas menatap ketua timnya itu dalam, seolah mencari suatu validasi di sana. “Sejauh ini, aku ngelakuin hal yang benar kan Mbak?” “Iya, kamu hebat bisa sekuat ini untuk bimbing adik kamu setelah ayahmu tiada.” Ara bergerak mengacak rambut Dany penuh sayang, lantas meraih tasnya. Ia hendak mengajak Dany untuk pulang bersama, namun terhenti ketika melihat perempuan itu hendak mengeluarkan selimut dari dalam lacinya. “Loh kamu nggak pulang?” “Kemarin tempat kosku ada kasus gitu, Mbak. Jadi untuk sementara waktu, kami penghuni kost nggak bisa masuk. Aku mau tidur di kantor rencananya.” Gerakan Dany yang hendak membuka selimut, sontak berhenti ketika Ara malah menjejalkan selimutnya kembali ke dalam laci. “Kenapa nggak bilang Mbak sih? Setidaknya kasih tau Gian atau Kayla, mereka pasti boleh aja kamu tinggal sementara sama mereka. “ Dari intonasi bicaranya, terlihat jelas Ara menahan kesal. “Nggak semua hal bisa kamu pendam sendiri Dany. Kamu bawa baju ganti kan ya?” “Bawa beberapa dari rumah di Bandung.” “Yaudah, kamu nginep di tempatku sampai kosan kamu dibuka.”Ara langsung memberikan gelengan tegas ketika Dany hendak menolak. “Aku tau kamu nyari tempat yang murah, tapi tolong habis ini pindah dari sana. Ini udah kesekian kali tempat kosmu ada kasus sampai kamu nggak bisa masuk ke sana.” “Ya Mbak, nanti aku pindah kok.” Dany meringis, meraih tasnya di bawah meja. Ia menggaruk tengkuknya, seraya memakai sepatunya asal. Mulai bergerak menyusul Ara yang sudah berjalan lebih dulu keluar kantor. Sementara itu Ara mulai mengetikkan pesan untuk seseorang. Ara: Dany nginep di tempat ku beberapa hari. Ara: Tempat kosnya ada kasus lagi Husband (Ex): Lagi? Ini udah kali ke berapa loh. Husband (Ex): Minta anaknya pindah, rawan banget daerahnya itu. Ara: Iya, paling nanti ku tanyain temen-temen. Tempat kosan murah. Ara: Mama gimana? Husband (Ex): Baik, besok ada acara. Mungkin sorenya pulang ke Bandung. Husband (Ex): Padahal besok Mama mau mampir ke tempat kamu, hahaha Ara: Bilangin Mama, maaf nggak bisa dulu Ara: Aku tau kamu lebih pintar nyari alasan daripada aku, hahaha Husband (Ex): Secara nggak langsung kamu ngejek aku tukang bohong loh. Husband (Ex): Just do whatever you want, babe. I love you Husband (Ex): [mencium dari jauh] Ara: Apaan sih? Nggak jelas hahaha Ara: Love you too~ “Sumringah banget Mbak, chat sama mantan ya?” Ledekan Dany, berhasil membuat Ara mengalihkan pandangan dari ponselnya. Ia berdeham, mengendalikan ekspresinya yang semula sumringah kembali berekpresi tenang. Mengabaikan tatapan meledek Dany yang tertuju jelas untuknya. Orang-orang berpikir Ara tidak seaneh anggota timnya yang lain. A normal one. Padahal keanehannya adalah hubungan yang sedang ia jalani. Bercerai namun lebih mesra daripada saat pernikahannya. *** “Mas udah tau, ayah bakal manfaatin kesempatan ini untuk bawa Mas balik.” Haidar menghela napas untuk kesekian kalinya, kini menghapus jejak air mata yang sempat turun dari kedua bola mata Arini. Setelah pembicaraan di ruang tengah, keempat saudaranya sepakat untuk mencari solusi. Pandu dan Maya akan mencoba membujuk kedua orang tua mereka. Namun, tetap dengan solusi terakhir. Jika orang tua mereka masih bersikeras, hanya ada dua pilihan. Haidar memenuhi permintaan sang ayah, atau ia mengenalkan seorang perempuan ke keluarganya. “Kalau Mas Idar, harus korbanin kebebasan Mas buat aku. Lebih baik nggak usah,” ucap Arini tak setuju kalau kakaknya nanti mengorbankan diri. “Aku nggak suka kalau Mas udah susah payah bebas, tapi ujungnya harus menuhin ekspetasi orang-orang lagi. Aku nggak mau.” “Mas juga nggak mau balik lagi terkekang,” balas Haidar menenangkan, kini menatap adiknya penuh keyakinan. “Sekarang kamu nggak usah mikirin apapun dulu, cukup kasih tau ke pacarmu itu untuk tunggu sebentar. Lamarannya bukan ditolak tapi ditunda, oke?” Kata-kata Haidar dibalas anggukan paham oleh Arini. “Maaf Mas, aku malah nambah beban kamu dengan minta pulang gini.” Arini memanyunkan bibirnya tak suka, benar-benar adiknya itu akan tetap menggemaskan meski usia mereka tak lagi muda. “Mas dengar, salah satu butik kamu lagi ngadain pemotretan ya? Masukkin Mas jadi salah satu fotografernya dong.” Permintaan Haidar memancing kerutan di dahi Arini, bingung akan permintaan tiba-tiba kakaknya. “Loh aku kira, Mas mau langsung balik ke Jakarta.” “Udah kelanjur izin 3 hari, daripada nganggur kan?” Haidar mengacak rambut Arini gemas. “Kapan lagi kan pakai jasa fotografer andalan WO besar tanah air?” Ucapan penuh percaya diri Haidar, sukses membuat Arini tergelak. Mengantarkan hangat ke beberapa sudut rumah mereka yang terkesan dingin. Menghidupkan kembali rumah mereka oleh gelak tawa yang sudah hilang semenjak mereka beranjak dewasa. *** “Harusnya kita datang bareng Vinka, Kay.” Keluhan Yudith untuk kesekian kalinya, membuat Kayla menolehkan badannya ke belakang. Sahabatnya itu, sibuk menghindari tanah becek yang tersisa setelah hujan dini hari tadi. Suasana pemakaman pagi itu sepi, hanya ada beberapa petugas kebersihan yang mulai bekerja dari sudut-sudut area pemakaman. Kedua tangan Yudith dan Kayla sama-sama membawa sebuket bunga matahari. Jenis bunga yang memiliki arti ‘terlalu’ cerah dan sedikit tak lazim dibawa untuk melayat. Namun, mereka sepakat kalau kepergian Erika tidak boleh diartikan dengan kesedihan. Cukup cara perginya saja yang menyedihkan, namun semua hal yang menyimbolkan dirinya haruslah tentang kebahagiaan. Setidaknya, itu hal yang bisa mereka lakukan untuk mengenang sang sahabat. Mata Kayla sedikit menyipit, menyadari tak hanya keduanya di area pemakaman pagi ini. Ada seseorang yang berdiri di salah satu makam, tak terlihat begitu jelas wajahnya karena posisinya yang membelakangi jalan masuk. Mungkin pelayat lain, pikir Kayla. Namun, ketika jarak antara mereka dan pelayat itu semakin menipis. Langkah Kayla sontak terhenti. Tangannya yang memegang buket bunga menguat, ketika menyadari pria berpakaian gelap itu berdiri di depan makam sahabatnya. Ia mengenali betul siapa pria itu. Ketika Kayla tersadar bahwa ia datang bersama Yudith, semuanya sudah terlambat. Yudith sudah bergerak maju lebih dulu, dan mencengkram kerah kemeja sang pria dengan emosi tertahan. “Mau apa lo disini?” tanya Yudith dengan nada sarat emosi. “Buat apa lo muncul di hadapan dia? Lupa lo sama ancaman dari kita?” “Dith,udah jangan ribut di sini.” Kayla bergerak cepat, melepas cengkraman Yudith dari kerah pria di depannya. Pria itu hanya bungkam, namun ia bisa melihat ada kesedihan dan rasa frustasi mendalam yang tercermin di dalam sana. “Lo beruntung hari ini Vinka nggak ikut.” “Gue,” bisik pria itu pelan, meneguk ludahnya kasar mendadak kehilangan kata-kata. “Gue cuman mau minta maaf.” “Lo sadar semuanya udah telat kan?” Jika pria itu harap, tindakan Kayla memisahkannya dari Yudith adalah tanda ia sudah memaafkan pria itu. Maka ia salah, Kayla yang paling murka melihatnya muncul di depan makam Erika. Tepat di hari kepergian sahabatnya itu. “Arsen yang ngasih tau lo tempat ini?” tanya Kayla, namun tak dijawab sama sekali oleh pria di hadapannya. Gadis itu tertawa hambar, menoleh ke arah makam Erika lantas mengambil buket bunga yang diletakkan di atasnya. Ia mengembalikannya pada pemuda itu. “Pergi, gue serius ketika bilang lo nggak boleh muncul lagi di hadapan Erika. Bahkan cuman bunga sekalipun.” “Kay.” “Pergi, atau gue yang nyeret lo,” lanjut Yudith tak kalah emosi. Pria dihadapan mereka menghela napas, menatap kembali makam Erika sebelum berjalan lesu meninggalkan mereka. Tepat, ketika pria itu pergi. Kayla berjongkok, lantas menangis tersedu-sedu. Tak peduli kalau ia akan ditanyai alasan mata sembabnya di kantor nanti. Ia tak peduli lagi, samar-samar dia juga bisa mendengar suara isak pelan yang pasti berasal dari Yudith. Hal yang paling pedih adalah, ketika kamu bertemu dengan seseorang yang membuat sahabat terbaikmu pergi. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN